
Baik Arkan maupun Lisa masih beradu mata. Namun arti dari tatapan masing-masing berbeda. Arkan dengan kebahagiaannya dan mata yang berkaca-kaca bahkan tidak mampu berucap apa pun saking bahagianya. Sedangkan Lisa dengan kesedihannya yang mendalam karena datangnya Tian juga rasa rindunya pada orang-orang yang Tian sebutkan sebelumnya. Harapannya juga sangat besar pada Arkan untuk memberikannya banyak kebahagiaan yang selama ini dia butuhkan.
"Tuan Muda, kita mau kemana?" tanya sopir pribadi Arkan membuat Arkan dan Lisa membuang muka segera.
"Ternyata dia benar-benar orang kaya sampe dipanggil Tuan Muda. Kenapa jadi mirip dengan kisah di novel-novel," batin Lisa.
Arkan cukup geram dengan sopirnya. "Terserah, Pak. Jangan banyak tanya dulu kenapa sih? Ganggu aja," jawab Arkan kesal karena sang sopir mengganggu waktu bertatapan dengan Lisa. "Melisa ... kamu benar-benar serius dengan ucapanmu?" tanya Arkan yang kembali menatap Lisa. Namun Lisa hanya mengangguk pelan tanpa menoleh kembali pada Arkan. "Alhamdulillah ... aku janji akan mengatur semuanya untukmu," lanjut Arkan.
"Tapi aku nggak mau ada resepsi. Setelah menikah aku mohon jangan ajak aku tinggal di rumahmu terlebih dahulu. Aku masih ingin tinggal di kontrakan. Juga ... aku ragu untuk mengatakan hal ini pada kedua orang tuaku. Aku anak broken home, jadi aku punya dua ibu dan dua Bapak. Bapak kandungku ada di Bangka Belitung untuk bekerja. Hanya saja aku lose kontak sejak setahun yang lalu dengan mereka semua, tapi aku nggak mau pulang untuk ...."
"Aku paham maksud kamu, tapi ridho orang tua juga penting. Kita akan minta restu sekaligus mengurus surat perceraian dan hak asuh anak kamu, gimana? Aku akan menemanimu, kamu jangan khawatir. Aku akan menerima kedua anakmu dengan senang hati. Aku juga nggak masalah kalau kamu belum mau hamil lagi, anakmu juga anakku setelah kita resmi jadi suami istri."
"Entahlah, aku takut. Biasanya laki-laki emang selalu manis sebelum menikah, tapi setelah menikah ...." Setelah itu tidak ada obrolan lagi karena Arkan fokus dengan ponselnya. Arkan tidak mau banyak bicara hanya untuk meyakinkan Lisa.
"Aku janji Melisa ... aku janji hanya akan memberikanmu kebahagiaan. Aku nggak akan pernah mempermasalahkan keturunan. Aku bahkan takut kehilanganmu sama seperti aku kehilangan dia saat melahirkan," batin Arkan.
Cukup lama berputar-putar di jalanan, Arkan pun sadar jika Lisa tidak bicara apa-apa lagi dan dia fokus dengan urusan di ponselnya. "Maaf, Melisa. Kamu mau pulang atau kemana?" tanya Arkan cukup ragu, tetapi Lisa pun menoleh dan menatap Arkan dengan senyuman manis.
"Ajak aku ketemu orang tuamu saja, Aa." Arkan langsung mengembangkan senyumnya bahkan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Siap-siap, Pak ... kita pulang," kata Arkan yang tidak tahu harus bagaimana menyikapi rasa bahagianya itu.
...***...
__ADS_1
Tiba di sebuah kawasan perumahan elit, mobil pun berhenti tepat di depan pintu utama rumah mewah dengan nuansa cet serba putih. Halaman rumah yang luas dengan beberapa tanaman unik dan ada sebuah taman kecil dengan beberapa gazebo yang unik.
Lisa tersenyum tipis. Apa yang dia pikirkan tentang Arkan ternyata benar. Dia adalah orang kaya dan Lisa hanyalah seorang yang biasa. "Sepertinya aku benar-benar akan jadi Cinderella," gumam Lisa.
"Kamu bicara apa? Aku nggak denger," tanya Arkan yang tidak mengalihkan pandangannya dari Lisa di sepanjang perjalanan.
"Nggak pa-pa. Tapi aku makin insecure kalau ternyata orang yang mengajakku menikah sekaya ini, sedangkan aku ...," jawab Lisa ragu meneruskan bicaranya.
"Kamu jangan begitu. Aku semakin nggak sabar untuk menghalalkan mu, Melisa. Aku sangat ingin memelukmu erat-erat agar kamu tahu aku menikahi mu bukan karena harta, tapi karena hati,"
"Aku ... bukan wanita ...."
"Aku yakin kamu yang terbaik untukku karena takdir yang mempertemukan kita, Melisa. Tolong ... jangan pandang apa pun selain aku. Harta hanya sebuah titipan dan bisa diambil oleh pemiliknya kapanpun," Lisa tidak menjawab karena dia melihat kedua orang tua Arkan keluar dari dalam rumah dan seperti sudah tahu kehadirannya.
"Assalamualaikum, Pak," sapa Lisa seraya menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai tanda bersalaman dengan Pak Gufron.
"Wa'alaikumsalam, Nak Lisa. Bagaimana kabarnya?" jawab Pak Gufron dengan rasa yang tidak kalah bahagia juga dari istrinya.
"Alhamdulillah, Lisa baik, Pak."
"Sudah-sudah, ayo masuk, Nak."
"Mak ... kok Lisa aja yang digandeng. Anak kandungnya dilupain,"
__ADS_1
"Kamu gandengan sama Bapak aja,"
"Sepertinya aku bakal punya saingan." Kedua orang tua Arkan terkekeh, berbeda dengan Lisa. Dia seperti orang yang merasa paling sedih sedunia. Tentu saja Lisa tidak bisa merasakan kebahagiaan yang Arkan rasakan karena lengkapnya kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Apa aku juga bisa mendapatkan kasih sayang mereka layaknya orang tuaku sendiri? Ya Allah ... apa aku egois jika aku meminta kasih sayang selain dari-Mu?" batin Lisa yang masih mempertahankan senyum manisnya pada Ibu Aisyah.
"Udah ... sama calon istri aja dianggap saingan," kata Pak Gufron memukul lengan Arkan.
Lisa dan Bu Aisyah duduk berdampingan. Berbeda dengan Arkan yang duduk terpisah di sofa single. Begitu juga dengan Pak Gufron.
"Selamat datang di gubuk kamu, Nak. Kami senang sekali akhirnya kamu bisa mampir ke rumah ini dan Emak harap kamu akan tinggal di sini selamanya sebagai menantu," kata Bu Aisyah seraya mengusap bahu Lisa. Tidak mau menanggapi, Lisa hanya tersenyum karena bingung harus menjawab apa. "Mau minum apa, Nak?" tanya Bu Aisyah lagi.
"Apa aja, Bu," jawab Lisa masih canggung.
"Mak, anaknya nggak ditawarin mau minum apa? haus juga nih," protes Arkan, tetapi langsung mendapatkan lirikan sinis dari Bu Aisyah.
"Bik Darmi ... buatkan jus mangga ya?" titah Bu Aisyah pada salah satu asisten rumah tangganya yang sedang duduk tidak jauh dari sofa ruang tamu tersebut.
"Sumuhun, Nyonya," jawab Bik Darmi segera pergi ke dapur.
"Bagaimana, Nak Lisa? Apa Nak Lisa kesini mau membicarakan masalah pernikahan?" tanya Bu Aisyah tanpa basa-basi basi lagi. "Emak seneng banget kalau memang Nak Lisa mau menikahi anak Emak satu-satunya yang nyebelin itu," ledek Bu Aisyah seraya melirik Arkan.
"Duh ... nyebelin katanya. Melisa ... Emak lagi cari perhatian kamu itu, jangan ditanggepin kalau Emak jelek-jelekin calon suamimu ini," sahut Arkan tidak terima dengan perkataan ibunya. Suasana canggung pun mulai mencair.
__ADS_1
..