
Arkan tertunduk dan terpaku cukup lama. Lisa sendiri sibuk membalas pesan yang masuk, termasuk pesan dari Umi yang ngomel tidak jelas. Melihat suaminya tetap diam, Lisa pun beranjak dari tempat tidur. "Sayang!" panggil Arkan lirih.
"Pulanglah, Aa. Aku mau mengingatkan saja kalau kamu pernah bilang akan menghidupkan cintaku yang telah mati? Bahkan saat ini aku belum jatuh cinta saja udah mau buat aku mati. Kamu harus tahu kalau Merry menculik ku saat tas aku dicopet. Untung saja saat itu aku bisa bela diri dan melarikan diri dari empat orang yang akan melecehkan aku. Aku kabur dan sembunyi lalu pinjam ponsel temen buat hubungi kamu, Aa. Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi aku juga punya bukti rekaman percakapan aku dengan Merry. Nanti aku kirim. Sekarang pulanglah," papar Lisa dan dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Arkan terkejut dengan ucapannya.
"Ba-bagaima-na ... bagaimana mungkin, Sayang?" Arkan terbata bahkan nyaris menangis.
"Kalau kamu mau menghidupkan cintaku, aku butuh ketenangan, Aa. Bukan penekanan." Lisa bersilang tangan didada.
"Sayang ... adakah pilihan lain. Aku nggak bisa pilih kamu ataupun Merry," mohon Arkan.
"Terserah kamu, Aa. Aku mohon, pergilah kalau itu pilihan sulit dan tolong antarkan anak-anak ku kesini besok kalau memang kamu masih mau memperjuangkan mereka. Seperti yang aku bilang, datanglah jika kamu butuh aku untuk sekedar meluapkan nafsumu. Aku mau ke rumah Mbak Umi, assalamu'alaikum," ucap Lisa seraya meraih tangan Arkan dan mencium punggung tangannya. Lisa tidak peduli dengan keputusan Arkan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab Arkan lirih. Arkan membiarkan istrinya pergi tanpa dan dia sendiri masih duduk disisi tempat tidur. Beberapa saat kemudian ponsel berdering tanda pesan masuk dan itu dari Lisa. Dia benar-benar mengirimkan rekaman percakapannya dengan Merry. Tangis Arkan pun pecah di kamar itu.
Hatinya hancur dan tidak percaya jika adik kesayangannya melakukan itu hanya karena butuh perhatiannya. Dalam tangisnya, Arkan menghubungi beberapa orang agar menyiapkan apartemen untuk Merry tinggal dan membatalkan rencananya menjadikan Merry asisten pribadi Arkan di kantor. Arkan juga menyusun beberapa rencana lain.
"Aku baru saja jatuh cinta setelah sepuluh tahun kepergiannya. Tapi ... tapi kenapa mempertahankan lebih sulit dari pada mendapatkan," batin Arkan masih dalam isak tangisnya.
Setelah dirasa lelah menangis, Arkan mengirimkan pesan pada Lisa untuk segera pulang, tetapi tidak mendapatkan respon bahkan hingga malam menjelang, Lisa masih belum pulang. Namun Arkan masih setia menunggu Lisa di kontrakannya.
"Ini juga rumahku, kan?" jawab Arkan dengan tersenyum manis.
"Bukan ini kontrakan aku dan aku sendiri yang membayarnya. Cepatlah pulang sebelum Merry mencarimu kesini lalu buat keributan," pinta Lisa. Arkan tidak merespon. Lisa membiarkan Arkan berbaring di atas tempat tidur. Lisa hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali dan melangkah menuju lemari untuk ganti baju.
__ADS_1
Sengaja Lisa tidak pergi ke kamar mandi dan berganti baju di depan Arkan yang sudah bisa Lisa pastikan matanya tidak teralihkan dari tubuhnya. Lisa pun melepaskan jilbab yang dia pakai dan melemparkan pada keranjang kotor lalu mulai menarik resleting gamis hitamnya dan melepaskan gamis tersebut kemudian berganti dengan daster harian.
Melihat Lisa yang seperti sengaja, Arkan langsung bangkit dan memeluknya dari belakang. "Sayang!" panggil Arkan dengan manjanya.
"Sudah aku tebak, Aa hanya butuh tubuhku bukan cintaku," ucap Lisa seraya melepaskan tangan Arkan yang memeluknya dan pergi ke kamar mandi.
"Sayang, aku mau ke rumah Emak dulu. Nanti aku kesini lagi ya?" tanya Arkan dibalik pintu kamar mandi. Namun Lisa tidak merespon.
"Kamu pikir aku percaya?" batin Lisa melirik sinis pada pintu kamar mandi.
........
__ADS_1