
Arkan baru saja selesai dengan pekerjaannya. Sejak kemarin dia tidak masuk kerja karena mengikuti Lisa. Ada banyak berkas laporan yang harus dia periksa dan selesai sesegera mungkin. Namun seberapa keras Arkan menyibukkan diri, hati dan pikirannya tetaplah pada Lisa. Entah rasa rindu atau apa, hanya saja insting Arkan memintanya untuk pergi menemui Lisa padahal sudah tengah malam.
Dia baru ingat jika dirinya belum sholat isya karena setelah makan malam, Arkan langsung masuk ke ruang kerja dan tidak beranjak sama sekali setelah itu. Selesai sholat isya, Arkan langsung sholat malam dua rakaat dan setelah itu dia menyeduh kopi sendiri di dapur karena tidak mau membangunkan dan merepotkan asisten rumah tangganya yang sedang istirahat.
Belum kopi itu habis, Arkan langsung meraih ponsel juga kunci mobil lalu menuju garasi mobil dan menyalakan mobil itu melaju menuju kontrakan Lisa. Pikirannya benar-benar tidak tenang sama sekali sebelum menuruti instingnya.
Tiba di gang arah masuk rumah Lisa, Arkan pun memarkirkan mobilnya di sisi jalan utama yang mana di sana juga banyak pedang kaki lima yang masih buka dan suasana masih cukup ramai.
Arkan pun berjalan menelusuri gang tersebut hingga tiba di sebuah pohon rindang dan menatap pintu kontrakan Lisa yang tertutup rapat.
Kontrakan Lisa memang yang paling pinggir juga dua kontrakan yang berjajar dengannya itu gelap karena menang tidak ada penghuninya. Arkan yang tidak mau terlalu jauh dari kontrakan Lisa itu kembali mendekat, tetapi tetap harus hati-hati karena baru saja ada warga yang melintas untuk ronda malam.
"Kenapa coba aku tengah malam gini liatin pintu doang," gumam Arkan dan mendengus kesal seraya menendang angin. Semakin matanya memandang pintu, Arkan melihat ada keanehan dengan jendela yang ada di sisi pintu karena sedikit terbuka. "Pasti dia lupa ngunci jendelanya. Hm ... gemes banget. Coba aja aku nakal kayak dulu, udah masuk aja tuh aku," Arkan mengambil ponselnya dan menekan nomor Lisa lalu melakukan panggilan. Sayangnya panggilan tidak terhubung karena memang ponsel Lisa lowbat dan sedang di cars. Lagi-lagi Arkan hanya mendengus kesal.
"Ngapain sih aku ini. Astaghfirullah ... harusnya aku tuh nggak kesini malem-malem. Udah kayak maling aja," Arkan pun berbalik badan. Namun belum dia beranjak, telinganya sepertinya mendengar suara minta tolong, tetapi lirih. "Apa itu dari dalam kontrakan Lisa?" Arkan kembali menajamkan pendengarannya, hanya saja suara itu tidak lagi terdengar.
...***...
"Aku udah bilangkan untuk diem, ngerti nggak sih?" bentak Tian tanpa meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Mas ... istighfar!" ucap Lisa dengan suara semampunya karena kerongkongannya terasa sakit dan bahkan nyaris tidak bisa bicara saking tertekan.
"Makanya kamu diem aja, biar aku yang bekerja. Kamu juga nggak rindu apa sama milikku ini? Udah satu tahun, Sayang, kamu pasti sangat legit dan sempit." Tian kembali menyambar mulut Lisa tanpa peduli rasa sakit akibat tamparannya. Kedua tangan Tian juga tidak tinggal diam dan terus memainkan gunung kembar milik Lisa. "Oh ... aku rasa dadamu semakin besar dan padat, Sayangku," ucap Tian yang kemudian menurunkan kepalanya ke bagian dada Lisa dan menyesap bergantian gunung kembar itu dengan penuh kenikmatan.
Rasa yang benar-benar tidak bisa diungkapkan membuat Lisa harus menumpuk kekuatan agar bisa berteriak dengan keras dan berharap ada warga yang mendengarnya. Tian masih sibuk dengan gunung kembar milik Lisa bahkan meninggalkan ****** di banyak tempat.
"Sayang ... mendesahlah. Aku rindu suara kenikmatanmu," ucap Tian menatap wajah Lisa yang tiada hentinya mengeluarkan air mata. "Jangan nangis. Aku cuma mau memberikan kenikmatan padamu. Mari kita melayang, hm?" Tian kembali mencium bibir Lisa dan memasukan lidahnya dengan begitu rakusnya. Puas di bagian mulut, Tian kembali menurutkan kepalanya ke bagian dada seraya meraba bagian inti milik Lisa.
"Ya Allah ... hamba mohon ... berikan hamba kekuatan untuk berteriak. Bismillahirrahmanirrahim," batin Lisa seraya memejamkan matanya membayangkan lafadz Allah dalam pikirannya.
"Sayang ... ayolah. Kamu harus basah supaya milikku ini masuk dengan mudah dan kamu nggak kesakitan," ucap Tian yang mulai menurunkan kain segitiga milik Lisa.
Benar saja, Tian benar-benar kembali memberikan tamparan untuk Lisa, bahkan darah segar di sudut bibirnya semakin banyak dan pipi Lisa terlihat membiru. "Brengsekk ... aku udah ngajak rujuk baik-baik, tapi kamu malah nantang dan buat aku hilang kendali. Wanita nggak tahu ...." Belum Tian menyelesaikan bicaranya, ada seseorang yang menarik paksa tangannya agar menjauh dari tubuh Lisa. Tian pun dibanting hingga membentur dinding. "Sialann ... kamu lagi?" pekik Tian tidak terima dan hendak membalas pukulan Arkan.
"Neng Lisa ... ada apa, Neng?" teriakan dari arah luar membuat Tian tidak berkutik dan segera mengambil bajunya di lantai.
"Heh! Aku akan buat lu dipukuli warga," ancam Tian seraya menunjuk wajah Arkan kemudian berlalu.
Arkan tidak memikirkan hal apa pun selain melihat Lisa yang sedang meringkuk memejamkan matanya karena ketakutan dan tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun. Arkan segera meraih selimut yang masih melipat tidak jauh dari Lisa. Arkan kemudian melebarkan selimut itu untuk segera menutupi tubuh Lisa.
__ADS_1
"Argh ... tolong ... tolong ...," teriak Lisa lagi dan membuat beberapa orang yang sedang ronda malam itu hampir mendobrak pintu itu, tetapi Tian keluar membuka pintu.
"Tolong ... ada laki-laki brengsekk di dalam sana," ucap Tian memprovokasi empat orang yang ada di depan kontrakan Lisa.
Empat orang itu segera masuk ke dalam dan mendapati Arkan sedang memeluk Lisa yang pingsan. "Dasar nggak bermoral," Arkan segera diseret keluar dan dipukuli oleh empat orang tersebut . Keributan itu menimbulkan beberapa warga sekitar bangun dan melerai para bapak-bapak yang sibuk memberikan Arkan pukulan juga tendangan.
"Ada apa ini, ada apa?" tanya Pak RT yang mendapat laporan keributan.
"Pak RT, laki-laki ini berzina dengan Neng Lisa. Kami berempat melihatnya dengan mata kepala kami sendiri," jawab salah satu dari empat orang yang memergoki Arkan memeluk Lisa.
"Apa? Kalian nggak salah nuduh. Kalian jangan menimbulkan fitnah," ujar Pak RT lagi.
"Pak RT, coba pikirkan baik-baik, ini tengah malam dan kami melihat sendiri Neng Lisa nggak pake jilbab bahkan pahanya juga kelihatan tadi. Saya yakin Neng Lisa itu udah nggak pake baju di dalam sana. Dia juga katanya janda, pasti haus belaian pria," jelas salah satu lainnya.
"Wah ... nggak bisa begini Pak RT. Kita bisa kenak azabnya kalau ada yang berzina. Pak RT harus bertindak, Pak. Mereka berdua harus menikah malam ini juga," teriak salah satu warga yang membuat malam itu semakin mencekam.
Namun Tian malah terlihat marah karena ada yang meminta Lisa dan Arkan untuk dinikahkan. Tian tidak mau ceroboh dan memilih untuk pergi karena tidak mungkin bisa menjelaskan dia yang memergoki Arkan di dalam kontrakan Lisa karena dia bukan warga di desa tersebut.
..
__ADS_1