
Di rumah dua lantai, hadiah dari orang tuanya. Kini Bintang duduk bersimpuh di atas sajadah.
Ia memutuskan untuk tetap menghafal surah Ar-Rahman dan Al Mulk, bukan karena gadis bernama Habiba. Lebih kepada Allah Ta'ala, Habiba hanya jalannya, walaupun awalnya adalah tujuannya.
Rasa kagum yang tumbuh menjadi cinta hingga ingin memiliki jiwa dan raganya, harus ia kubur jika memang mereka tak ditakdirkan bersama dalam ikatan pernikahan.
Habiba
Assalamu'alaikum Habiba
Maafkan aku, bukan karena aku tak ingin lagi memperjuangkan dirimu.
Izinkan aku memperjuangkanmu dengan caraku.
Aku tetap menghafal surah yang abah syaratkan kepadaku, maaf jika itu bukan untukmu. Aku tak mau membuatmu kecewa padaku, aku pun takut jika kelak akan kecewa karena kau bukan jodoh yang Allah pilih untukku.
Aku akan tetap menghadap abah sesuai janjiku dan sesuai kemampuanku, terimakasih melalui kamu aku lebih mengenal pemilik nyawaku.
Siapapun jodoh kita yang pasti sampai saat ini aku masih sangat mengagumi bahkan mendamba dirimu.
Pesan panjang lebar Bintang, bagaimanapun ia punya janji yang harus ia tepati.
Bukankah kata orang janji adalah hutang?
Sudah tengah malam Bintang belum jua berhenti menghafal, matanya masih segar bahkan dengan ingatannya.
Hatinya mulai merasa lega tidak lagi ngoyo memaksakan diri mendapatkan Habiba, mengaguminya saja itu sudah luar biasa.
Harapan tetap harus ada, bukan berarti memaksa melebihi dari yang kita mampu. Harapan adalah senjata untuk bertempur sesuai kenyataan, bukan hanya nafsu semata.
Habiba di seberang sana masih harus bergelut dengan tugas kuliahnya yang tertunda. Ia harus menemani Uma kajian selepas pulang kuliah.
Meraih ponselnya yang menyala tanpa adanya nada dering.
Setetes air mata jatuh tanpa permisi, pesan Bintang mengoyak rasa yang ia tutup rapat. Satu sisi ia bersyukur karena akhirnya Bintang paham maksud abah, satu sisi ia merasa sedih karena rasa itu mulai tumbuh, karena ketegasan pemuda yang tak ia kenal. "Astaghfirullahalazim rasanya sulit mengikhlaskan. Ilmu ikhlas itu sulit untuk dipelajari" Gumamnya, mengusap kasar air mata yang masih setia menemani.
**
Sekitar pukul 10 pagi Bintang sudah berada di cafenya, cafe dengan dua lantai di dekat pusat kota.
Letaknya tidak terlalu jauh dari kampus Mentari dan Habiba.
"Bang Bintang..." Panggil seorang gadis cantik, mendekat ke arah Bintang.
Tangannya langsung bergelayut manja di lengan Bintang.
"Bang Bin pagi pagi dah ngafe aja" godanya. Bintang menghela nafas panjang, menoyor pelan kepala gadis itu.
Padahal gadis itu datang bersama cowoknya loh tapi malah nempel nempel kaya anak kutu, ah dasar gak ada akhlak.
"Shanum, lepas! gak malu sama cowok lo" ujar Bintang melepas tangan Shanum.
Shanum manyun kesal, Bintang menarik bibir Shanum yang mirip bebek.
__ADS_1
"Tuh bibir gak usah di mirip miripin bebek" cibir Bintang. Eh ini cowoknya Shanum juga ikut ketawa dengan ucapan Bintang.
PLAAAK
Bintang meringis, Shanum sudah mendaratkan tangannya mesra di lengannya.
"permisi mas Bin" Mbak Dian menyela pembicaraan gak penting Bintang dan Shanum.
"Iya mbak, ada apa?" tanya Bintang.
"Ada telepon dari bu Resya" Ujar mbak Dian, Bintang langsung menuju meja yang terdapat telepon.
Shanum masih melongo mencerna yang terjadi..
"Eh eh mbak mbak" Shanum mencegah langkah mbak Dian.
"mbak bang Bintang kerja di sini?" tanya Shanum, sedangkan mbak Dian tersenyum.
"mas Bintang owner ABIN cafe mba" Jelas mbak Dian. Shanum makin melongo bahkan mungkin lupa nafas saking kagetnya.
HAP
Lagi lagi bibirnya di comot mesra, kali ini Rendra lah pelakunya. "Aku gak rela yah, ada lalat nemplok di bibir kamu" ucap Rendra kemudian menjilat jari jarinya.
Bibir Shanum sexy koq main comot comot aja dah kaya cimol abang abang kesukaan Mentari.
**
Bintang duduk di kursinya, Menata kembali berkas berkas pemasukan dan pengeluaran cafe yang sudah ia cek berulang.
Tok Tok Tok.
"Masuk mbak" Titah Bintang.
"Mas Bin, ada yang bisa di bantu?" ramah mbak Dian, Mbak Dian ini masih ngeri sama kemarahan Bintang. Tampak sangat berwibawa.
"Mbak aku nggak mau di ganggu ya, jangan terima tamu siapapun" Ucap Bintang mengingatkan. Mbak Dian mengangguk paham.
"Terimakasih mbak" imbuh Bintang, dan mbak Dian keluar melanjutkan pekerjaannya.
Bintang memejamkan matanya, menghilangkan pening yang tiba tiba menyapa.
"Gue masih belum ikhlas melepas Habiba" Gumam Bintang. Rasanya melepaskan itu sulit terlebih ia belum sempat memiliki.
"Asstaghfirullahalazim, gue ini memang bukan laki-laki yang pantas untuk bidadari seindah Habiba" kembali Bintang bermonolog, rasanya sesak sekali.
"Mintalah pada pemilik gadis itu, Allah!" kata kata mbah Hasyim kembali terngiang. Ah ia ingat akan hafalan suratannya yang terabaikan.
Kembali ia membuka ponsel pintarnya, ia mulai menghafal satu demi satu ayat ayat Allah.
Apa Bintang lupa arti ayat pertama dari Surah Ar-Rahman?
Allah yang Maha Pengasih. Apapun bisa ia dapatkan jika meminta kepadaNYA.
__ADS_1
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
DEG
Jantung Bintang seakan berlomba, semakin bergemuruh, rasanya berbeda saat ia benar benar mengagumi Habiba yang hanya seorang hamba.
Air matanya luruh tanpa ia sadari, ia terlalu sombong dengan kehidupannya.
Benarkah ia tak menikmati hidup yang Allah berikan?
Bintang kembali mengulang hafalannya kali ini ia menghafal beserta dengan artinya.
Asli Bintang merasa sangat bodoh mengabaikan kitab sucinya yang penuh ilmu dunia dan akhirat.
Adzan Dzuhur berkumandang merdu, menyentuh relung hatinya yang kosong.
Ia akan pergi ke masjid terdekat kemudian memutuskan pulang untuk menemui sang bunda.
"Assalamu'alaikum bunda..." Seru Bintang seraya melangkahkan kakinya masuk.
" Walaikumsalam, ingat pulang Bin?" jawab Bunda. " Rapi banget, sudah beli celana?" Goda bunda Sara, ia melihat perubahan dalam diri putranya.
Maksud bunda Sara itu babang Bin gak lagi pakai celana yang kaya abis kecantol kawat teralis sekolahan. Bolong bolong bin sobek sobek.
Bintang memeluk bundanya, "Bintang rindu bunda" tulus Bintang, bahkan matanya sudah memerah.
"Assalamu'alaikum" Mentari masuk, dan tak ada yang membalas salamnya.
"hemm" deheman Mentari, Bintang masih menggelayut manja memeluk bundanya.
"Bang Bintang, gak malu? aku pulang gak sendiri loh" Bintang kini berbalik menghadap adiknya, benar saja Mentari bersama Habiba yang menunduk.
"Habiba..." Bunda Sara mendekat ke arah Habiba yang berdiri tak jauh di belakang Mentari.
"Yah aku di cuekin bunda.." protes Mentari. Bintang masih berdiri di tempatnya, hanya memandang Habiba dan bunda nya yang berpelukan manja.
"Assalamu'alaikum tante" sapa Habiba setelah bunda Sara mengurai pelukannya.
"Walaikumsalam" sahut bunda dengan senyum.
"Maaf tan, aku ada tugas sama Mentari" Terang Habiba ia pun kaget kala ada Bintang, terlebih sedang bergelayut manja di pelukan bunda.
"Kalian gak janjian kan? Bintang baru saja pulang" Habiba menggeleng, masih menundukkan wajahnya.
Bintang menghembuskan nafas pelan, Harapannya malah menghampiri.
"Tari, ajak Habiba makan dulu ya" Titah bunda.
"Ayo Biba..." Tarik Mentari.
"Tapi Tar..." Habiba.
"Aku ke kamar, kamu bisa makan sama Mentari" Habiba terkejut dengan sikap Bintang, merasa ada perubahan dan entah apa itu.
__ADS_1
Mentari berkacak pinggang seolah mengusir kakaknya " Tinggalin Habiba".