Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
21. Maju atau Mundur


__ADS_3

"Biba, lo masih mikirin abang gue?" Tanya Mentari.


Kini kedua gadis cantik itu tengah duduk di tepian koridor kampus, suasananya tidak seramai biasanya.


"Habiba, jodoh gak kan kemana" Ujar Mentari lagi, sedikit menggoda Habiba.


"Justru gue takut kalau misalkan mas Bintang lulus Tar" Habiba menghela nafas panjang. Bayangan lintah masih terngiang meski hanya sekilas pandang.


"Ah cie... mas Bintang" Ini Mentari semakin usil, gak tahu kalau Habbiba lagi ragu.


"Tar... gue serius iiih" Kesal Habiba.


"Astaghfirullahalazim Tari... " Habiba malah tertawa dengan ulah Tari yang mengedip kedipkan matanya.


"Ayo ah Biba beli minum, gue hauzzz" Ini gimana obrolannya gak dilanjutkan, malah mau beli minum.


Mereka berjalan kedekat pagar depan kampus, di sana ada tukang es jus yang lumayan enak tentunya masuk kantong mahasiswa.


"Eh lo minum juga biba?" tanya Mentari saat mendengar Habiba memesan jus strawberry dengan tambahan susu.


"Buat wudhu Tar" sahut asal Habiba, bapak penjual es jus pun turut terkikik dengan jawaban gadis bercadar itu.


"MasyaAllah neng neng berdua ini lucu" bapak penjual ikut nimbrung dengan pembicaraan kedua gadis itu.


"Lah emang kan kita lucu dan imut pak" Tahu dong ini Mentari dengan wajah di bikin seimut mungkin, tinggal dibungkus plastik bawa pulang.


"Bapak pikir neng berdua berhijab ini bawaannya serius, ternyata bisa bercanda juga" ujar bapaknya lagi, Mentari sudah terkekeh dengan si bapak. Habiba masih cengar cengir di balik cadar, merasa malu juga dengan jawabannya 'Astagfirullahalazim' batinnya.


Jus strawberry dan mangga pun sudah di tangan mereka masing masing, tak lupa membayar dan tentunya mengucapkan terimakasih. Sebuah kata sederhana namun dapat memberikan efek luar biasa.


"Tar, cari tempat duduk dulu baru minum" Ujar Habiba memperingatkan.


Mentari mengangguk dan tersenyum kikuk, membuat Habiba benar benar gemas.


'Apakah abangnya semenggemaskan ini? Yaa Allah pikiran konslet. Astaghfirullah' monolog batin Habiba.


"Silakan duduk kakak ipar" ucap Mentari, gak sadar kan dia di sekitarnya banyak mahasiswi yang mendadak memperhatikan, lebih tepatnya kepo.


"Bener Biba, Tari adik ipar lo?"


"Kakaknya kan yang suka nganterin pake motor merah"


"Suka nyanyi di cafe, mukanya aja mirip Tari" celetuk mahasiswi bernama Eka, tampak sangat antusias.


"Lo suka kepoin abang gue ya? Ngaku!" Eka sudah nyengir kuda, telunjuk Mentari sudah hampir nangkring di jidatnya dan Habiba malah semakin gak jelas rasa hatinya.


"Gue suka lihat aja kalo perform bareng bandnya" jujur Eka, Mentari mendengus gemas dengan teman seangkatannya itu.


"Eh Biba kalo jadi sama ayang Bintang, gue diundang ya" Seloroh Eka, Habiba hanya mengangguk dengan senyum.

__ADS_1


"Eh buset anak orang kayanya senyumnya manis banget, walo ketutup cadar" Mentari makin gemas menatap Eka, yang di tatap malah ikutan duduk bareng.


"Eka, awas ya godain abang gue. Tuh dah ada pawangnya" Ujar Mentari sedikit mengancam, dan lihatlah yang diancam malah santai mesam mesem.


"Habiba cocoknya sama gus gus, ustadz. kalo abang lo ikhlasin aja sama gue" cerocos Eka lagi, Tari mendelik, Eka tak perduli.


Habiba masih memperhatikan interaksi kedua temannya itu, pikirannya malah mengingat gadis dengan baju minim yang memegang lengan Bintang.


Sialnya Habiba malah melihat adegan Resya yang memegang lengan Bintang, bukan di saat Bintang pergi meninggalkan Resya.


**


Saat menghindari Resya Bintang memarkirkan motornya di tepi danau pinggiran kota.


Duduk di bawah pohon ditemani buku hafalan, ponsel dan earphones. Dua hari lagi ia akan menemui abah Ahmad untuk menyetorkan hafalannya.


Gugup? sudah pasti, baru membayangkan saja sudah keringat dingin.


Diterima atau ditolak itu urusan belakangan, yang penting ia niat menikahi Habiba karena Allah Ta'ala. Itulah yang di tetapkan dalam hati, karena arahan mbah Hasyim.


Buuggghh


"Aduh!" Pekik Bintang memegangi kepala belakang.


"Eh mas maaf ya, anak saya gak sengaja" Perempuan muda dengan sopan meminta maaf pada Bintang. Seorang anak lelaki kecil di gendongannya.


"Papa papa" ucap bocah itu, Bintang di buat melongo dengan ucapannya yang malah ingin memeluk Bintang.


"Maaf ya mas, Aqil sedang rindu papanya" ucap Ibu dari anak itu, kini bocah bernama Aqil malah memeluk kaki Bintang.


Bintang mensejajarkan tingginya dengan bocah itu, mencubit gemas pipi sang bocah.


"Ini pipi atau bakpau? hemm" Bintang tersenyum, lalu menggendong bocah itu.


"Papa aku angen" ucapnya, memeluk leher Bintang.


DEG


'Dimana emang bapak nih bocah' pikir Bintang. Bocah itu terus memanggilnya papa, meski ibunya sudah memperingatkannya.


"sudah mbak, jangan dipaksa. Biarkan saja" Lembut Bintang.


Dalam waktu singkat Bintang merasakan dengkuran halus dari Aqil, nafasnya bahkan sangat terasa di lehernya.


"Sini mas, biar Aqil nya saya gendong" Bintang dengan perlahan memindahkan Aqil ke pelukan sang bunda.


"Maaf mas, merepotkan" ucapnya tulus.


"Gak masalah mba, jarang jarang juga ada anak kecil mau nempel sama saya" sahut Bintang apa adanya.

__ADS_1


"Terimakasih mas, saya permisi" Bintang mengangguk, sedikit mengulas senyum untuk sekedar menghargai.


Bintang duduk kembali dan melanjutkan niatnya menghafal, rasa sejuk dari semilir angin membuatnya sedikit mengantuk.


Tiba tiba bayangan Habiba melihatnya di sentuh Resya, membuatnya resah. Sulit sekali menghafal di saat galau begini.


Akhirnya ia memutuskan pulang, siapa tahu omelan sang bunda bisa membuat mood nya membaik.


Luar biasa ini bunda Sara, omelan saja bisa bikin mood membaik, bayangin gimana kalau nyanyi, bisa mendamaikan perang Rusia Ukraina.


Bintang melajukan motornya sedikit kencang, maklumlah sudah lama tidak balapan.


Di jam sibuk seperti ini biasanya jalanan sedikit sepi, Bisalah untuk manasin jari tangan dan kaki.


"Assalamu'alaikum bunda..." Teriak Bintang, langsung nyelonong ke dapur.


Duduk di kursi dekat dapur, ada bunda yang sedang memasak, di bantu mbok Iyem.


"Assalamu'alaikum bunda" Ulang Bintang.


"Walaikumsalam, gak jemput Tari?" Tanya bunda, nada bicara bunda santai loh ini.


"Tari naik taksi online bun" sahut Bintang.


"Mbok, aku mau bikin cokelat panas dong" Ujar Bintang pada mbok Iyem.


"Eh, ajarin aja mbok. Jangan di bikinin" Titah bunda tegas, seraya masih mengaduk aduk isi panci.


"Baik bu... Mari mas Bintang" Ucap mbok Iyem.


Bintang membawa cokelat panas itu ke kamar, baunya saja sudah membuat otaknya segar.


"Buset ini cokelat siapa yang nanem sih? baunya wangi amat" gerutu Bintang. Soal siapa yang menanam itu kayaknya gak ada hubungan sama wangi cokelatnya ya kan.


Ia membuka aplikasi pemutar Al Qur'an nya, ia ingin mendengarkan sebelum melanjutkan.


Biasanya lagu cepat sekali hafal, kini malah sulit sekali hafal.


"Emang setan ini suka ganggu" malah nyalahin makhluk makhluk tak kasat mata.


Setan ya suka ganggu, kalo suka nolong itu kan Othor. Haaissshhh!!!


"Alhamdulillah" Lirih Bintang, hafalannya sudah semakin lancar.


Pikirannya malah semakin resah, mampukah ia menjadi suami yang baik?


Habiba terlalu sempurna, bahkan gadis itu sangat menjaga diri.


"Yaa Allah Habiba benar benar kamu ya... Awas aja kalau jodoh!" Bintang masih mesam mesem asem, antara maju atau mundur.

__ADS_1


__ADS_2