Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Lamaran Rado


__ADS_3

Waktu semakin beranjak, Bintang sampai di rumah selepas Isya. Yah... Si babang masuk bersama dengan sahabatnya, Rado!


"Assalamu'alaikum..." Sapa Bintang diikuti Rado di belakangnya.


"Walaikumsalam..." Sahut Tari yang baru turun dari tangga.


"Eh... Ada bang Rado juga?" Ujar Tari kemudian, hingga Bintang dan Rado saling berpandangan sesaat. Tari target utama belum mengetahui perihal Rado datang ke rumahnya? Sabar Rado!


"Duduk dulu Do..." Ujar Bintang meminta Rado duduk di kursi ruang tamu.


"Panggil ayah dan bunda Tar..." Kini beralih pada Tari. Hingga Tari langsung bergegas menuju kamar orang tuanya.


Dan... Lihatlah wajah Rado yang tampak tegang, dengan keringat yang membasahi keningnya. Waduh!! Jangan sampai menghina AC baru bunda, bisa di tolak lamarannya kan!


"Bunda... Ayah..." Teriak Mentari dari luar kamar bunda. Sangat tidak elegan, padahal kan ada laki laki yang lagi nunggu sambil cenut cenut jantungnya.


CEKLEK


Bunda menelisik wajah putrinya yang tampak biasa biasa saja, padahal ada laki laki yang sedang menunggunya dengan cemas.


"Sudah kasih tahu Tari bun?" Bisik ayah Hendra, hingga Tari menggeleng samar dengan kelakuan kedua orang tuanya. Membuat jiwa jomblo meronta manja...


"Astaghfirullah... Lupa yah... Pantes Tari santai aja tuh..." Ayah mencubit gemas pucuk hidung bunda Sara.


"Tari.." Panggil ayah, mencegah Tari agar tidak naik ke kamarnya.


"Turut duduk di bawah!!" Tegas tanpa kata tapi...


Mentari mencebik kesal, untuk apa kan dia diminta bergabung bersama sahabat abangnya. Hah... Begitulah kira kira pemikiran Tari.


Rado berdiri menyalami ayah Hendra dan bunda Sara, di sana sudah ada Bintang dan juga sang istri, Habiba.


Habiba meminta Tari duduk disampingnya, hingga sudut pandang Rado tidak mampu menatap wajah Tari dan Habiba. Yang jelas jelas bukan mahramnya.


"Ada apa seh kak... Koq gue jadi khawatir..." Bisik Tari lemah di telinga Habiba. Sedang Habiba hanya mengangkat kedua bahunya, membiarkan Tari mendengarkan langsung dari Rado.


"Om, bunda..." Sapa Rado canggung, menyalami orang tua dari wanita yang ingin ia jadikan istrinya.


"Silakan duduk nak Rado!!" Tegas ayah Hendra, dengan raut wajah yang sama sekali tidak terbaca.


Rado kembali duduk di kursinya, ujung jemarinya saling bertaut mengurai gugup yang menyergap hatinya.


"Diminum dulu nak Rado, jangan gugup gitu..." Ujar bunda, memahami ketidaknyamanan Rado.


"Terimakasih bunda..." Lirih Rado, meraih gelas dengan sedikit bergetar. Bintang mengusap punggung Rado, sebagai sahabat ia sangat mengenal keabsurdan Rado, dan kali ini melihat laki laki yang seumuran dengannya tengah dilanda kegugupan.

__ADS_1


"Jadi gimana nak Rado, lancar pekerjaannya?" Tanya ayah Hendra mengurai raut khawatir Rado.


"Alhamdulillah om..." Sahut Rado singkat. Tak berniat menyombongkan apapun. Secara ayah dari wanita yang ingin ia lamar lebih memiliki segalanya dari pada dirinya.


"Ayah, bunda... Tari naik dulu ya..." Ia merasa malas karena menjadi patung dengan pembicaraan ayah, yang menginterogasi Rado.


'Fungsi gue apa coba? Ah... Jadi lukisan hidup gitu?' melirik Habiba yang menggeleng samar sebagai kode. Ah... Kode mata mata!


"Duduk!! Rado mau bicara dengan kamu juga" Ucap ayah Hendra lembut namun sangat tegas.


"Iya ayah... Kenapa gak chat Tari aja seh?" Kesal Tari, gagal dong dia mau nonton drama turki. Ish ish ish...


Bintang memicing setelah memberikan tabokan mesra di paha Rado, hingga mereka saling tatap. Eleuh mencurigakan!!


"Lo suka chat adek gue?" Habiba langsung mengusap lembut lengan suaminya, jangan sampai Tari yang di lamar Bintang yang ngereog.


"Habibi..." Lirih Habiba menenangkan. Sedang Rado nyengir kuda dengan wajah manisnya.


"Jarang di bales Tari, jadi mending gue nikahin kan..." Spontan Rado menutup mulutnya, hingga tatapan mereka tertuju pada Mentari yang membeo. Berasa jadi tersangka kan si Tari ini.


"Nak Rado coba bicara dengan jelas" Pinta ayah Hendra. Bagaimanapun juga Mentari adalah permata keluarganya, tak akan di lepaskan pada sembarang pria.


"Om... Bunda..." Menjeda nadanya sejenak, menghela nafas dalam namun pelan.


"Saya datang ke sini, untuk meminta Mentari jadi istri saya..." Metamorfosis mode cool yang tenang, tidak ada Rado yang slengean dan ceplas ceplos.


"Ini lagi konfirmasi, jadi bang Rado butuh jawaban kamu beserta om dan tante" Ucap Rado sangat serius tampak dewasa. Arsitek muda ini, diam diam meresahkan!


"Dan jika di terima, saya akan bawa papa ke sini. Setelah saya pulang dari luar kota" Terang Rado menatap yakin ayah Hendra.


Ayah Hendra menatap Rado datar, sedang bunda malah bergeming membiarkan Tari dan Rado dengan pemikirannya sendiri.


"Idih... Bang Rado sukanya becanda deh..." Cerorcos Tari, tak pahamkah gadis itu jika Rado lagi ketar ketir, ditambah respon Mentari yang beneran bocah. Hah... Jangan lupa bernafas!


"Apaan sih bunda..?" Tanya Mentari yang mendapat tatapan menyebalkan dari sang bunda.


"Tari..." Tegur Habiba berbisik. Padahal lagi serius loh,,, Tari malah gagal paham.


"Biarin aja kak... Kalau serius juga bakalan tahan dan memperjuangkan..." Sahut Mentari berbisik pula. Aiiihhhh alhasil Habiba menunduk seraya mengulum senyuman, sahabat sekaligus adik iparnya ini benar benar usil di saat yang tidak tepat.


Tangan kedua wanita itu yang saling menggenggam, tak luput dari perhatian Bintang. Istri dan adiknya ternyata sangat nakal. Bintang sangat merasakan posisi Rado sekarang ini, Deg deg serrrr!!


"EHEMMM..." Deheman Bintang, menyadarkan Habiba dari ulah Tari yang ingin mengerjai Rado.


"Sakit!!" Cicit Tari lirih, Habiba mencubit punggung tangannya kecil. Hingga ia dipaksa menunduk karena tatapan Bintang mengarah tepat menghunus manik matanya. Ah... Nackal!!

__ADS_1


Ayah Hendra dan bunda Sara pun melakukan hal yang sama, menatap Mentari dengan berbagai pertanyaan yang tersirat.


"Tari... Berikan jawabanmu!" Ayah Hendra tegas, gadisnya ini ternyata begitu usil. Lamaran saja ia jadikan candaan.


"Ah... Eh... Aku masih kecil ayah... Tapi terserah ayah bunda" Wajah Rado sudah masam mendengar jawaban Mentari, setidaknya ia berharap jika Mentari menerima makan kedua orang tuanya akan turut menerimanya.


Ayah menghela nafas panjang, melirik putranya agar berbicara pun, Bintang hanya menggedik sebagai jawabannya. Tari adalah adiknya, sedang Rado adalah sahabatnya. Hingga ia memilih menyerahkan semuanya pada Tari dan orang tuanya.


"Tari..." Kini bunda yang angkat bicara.


"Iya bunda..." Lirih Tari menatap ragu bunda dan ayahnya.


"Bagaimana jawaban kamu?" Kini bunda pula menunjukkan taringnya, gingsul atau taring bunda, koq muwaniss syekali??


Tari bergeming, menyalurkan kecemasan melalui remasan tangan pada Habiba. Wah... Tega banget kan nih rasa cemasnya disalurkan pada kakak iparnya.


"Rado... Apa kamu pernah ngungkapin niat kamu pada Tari langsung?" Selidik bunda Sara, hingga Rado menggeleng sebagai jawaban.


"Tari... Sekarang giliran kamu yang jawab.. Ayah dan bunda ngikut..." Eh... Tari bingung di tambah bingung dengan pernyataan ayah Hendra.


"Lah... Kan Tari ngikut keputusan ayah dan bunda" Rengek Mentari manja... Wajahnya sudah sulit di bentuk ekpresi secantik mungkin. Pasrah sudah dengan keputusan yang orang tuanya berikan.


"Tari!!" Nada bunda naik beberapa oktaf, mengingatkan.


"I iiya iya bunda..." Gagap Tari mendapati nada tinggi bunda.


"Tuh... Jawabannya iya... Setelah pulang dari luar kota langsung akad!" Ujar ayah Hendra lugas.


Ayah macam balas dendam kan itu dengan permintaan keluarga Habiba, yang langsung akad malam itu juga. Luar biasa!!


"Eh eh ayaaaah... Koq gitu seh?" Ujar Tari gusar, bahkan duduknya saja sudah tidak seanggun tadi. Dan pertanyaannya adalah Kapan Tari duduk anggun seh?


"Jangan plin plan Tari... Tadi katanya iya iya, sekarang gitu. Ayah sudah terlanjur mengiyakan barusan" Hah... Sudahlah Rado cukup mendapat 80% untuk jawaban Tari, sisanya semoga tidak akan menjadi kuda hitam.


**


Tari membanting tubuhnya di kasur empuk, ia benar benar linglung dengan keadaan tadi.


Lamar?


Menikah?


Bang Rado?


Mimpi apa kan si boneka doraemon menjadi sasaran Tari yang mendadak frustasi karena lamaran dari sahabat kakaknya.

__ADS_1


"Bang Radoooo!!" Geramnya mengepalkan kedua tangan...


__ADS_2