Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Mesum


__ADS_3

Bintang langsung di tangani dokter bahkan harus menginap di rumah sakit. Sedang para pengawal hanya luka luka ringan, secara mereka adalah orang orang terlatih dan mereka pun harus kalah jua.


"Bagaimana dok?.." Tanya Habiba memastikan.


Dokter laki laki hampir setengah baya menelisik penampilan Habiba yang tertutup. Serta beberapa pengawal mereka yang turut luka luka.


"Tenang dok.. Kami bukan penjahat apalagi t*ror*s, mereka hanya pengawal yang suami saya siapkan" Lanjut Habiba mengerti kekhawatiran sang dokter.


Bintang kagum dengan kepekaan istrinya, pengawal mereka hanya menunduk hormat bahkan suster yang turut berada di sana tak kalah terkejut dari sang dokter akan pengakuan Habiba.


"Ma maaf nyonya.." Gugup dokter.


"Tuan Bintang tidak apa apa, wajar jika ada pembuluh darah di bawah permukaan kulit yang pecah karena benturan" Terang dokter dengan wajah setengah malu.


"Tapi untuk malam ini kami sarankan menginap agar besok bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut" Imbuh dokter mengulas senyum tipis.


"Lakukan yang terbaik pula untuk pengawal saya dok" Ujar Habiba, masih setia menatap lembut sang suami yang terbaring.


"Baik nyonya.. untuk pengawal sudah kami berikan obat yang terbaik. mereka tidak mengalami luka parah" Habiba mengangguk sebagai jawaban.


"Jika begitu, kami permisi!" Ujar dokter, ngeri ngeri sedap di dalam. Ada pengawal yang badannya cukup untuk memelintir kelingkingnya.


Habiba mempersilakan pengawalnya pulang, setelah dokter itu pergi. Ia yang akan menjaga suaminya.


"Habibati.. Terimakasih ya..." Mengusap wajah Habiba dari balik cadar, berulang kali Habiba mengecup punggung tangan suaminya lembut.


"Cepet sembuh Habibi.." Ketegasannya berubah sendu kala hanya berdua dengan sang suami.


"Aku sholat dulu mas.." Ijin Habiba, mengecup kening suaminya sebelum berlalu untuk bersuci.


Setitik air mata jatuh membasahi pipi Bintang, hatinya membuncah merasa beruntung. 'Yaa Allah terimakasih sudah mengirim bidadari yang luar biasa untukku'.


Dari brankar ia hanya menyaksikan punggung Habiba yang tengah khusyuk bertemu sang Ilahi Robi.


Tok Tok Tok


Habiba cepat membalik pandangnya ke arah Bintang, lekas ia memasang kembali niqobnya.


"Sebentar..." Ujar Habiba, sedikit mempercepat gerakannya.


"Mungkin mbak Dian yang mengantar makanan" Ucap Bintang menahan pergelangan tangan Habiba.


Benar saja wanita itu adalah mbak Dian, orang kepercayaan Bintang di cafe.


"Assalamu'alaikum mbak Biba, mas Bin.." Sapanya ramah.


"Walaikumsalam mbak Dian..." Sahut Habiba tak kalah ramah. Mempersilakan mbak Dian masuk dan meletakkan beberapa kantong kresek di nakas Bintang.


"Mas Bin, koq bisa kalah seh??" Semangat mbak Dian.

__ADS_1


"Ya ampun mbak... Gue kan cucu jauhnya Cris John.." Mantap betul itu jawaban si babang.. Bisa bisanya kan bawa bawa om Cris?? Hah!!


Nampak mbak Dian berpikir, mungkin gak paham itu siapa Cris John kan?


"Jangan di dengar mbak.." Seloroh Habiba, kasihan kan itu sama kebingungan mbak Dian.


"Emang kamu kenal sayang, siapa Cris John?" Kini Bintang mengalihkan pertanyaan pada sang istri.


"Keponakannya Jackie Chan.." Sahut Habiba, semakin menambah kebingungan mbak Dian. Sudah malam di minta berpikir keras kan..


"Mas Bin, di depan ada 3 cowok berotot" Celetuk mbak Dian. Habiba saja sampai bertanya melalui lirikan matanya.


"Pengawal nyonya Pradana itu mbak.." Sahut Bintang tanpa ekspresi. Menggemaskan!


"Mas..." Habiba tak dapat melanjutkan kata katanya.


"Yang ini ganti orang Habibati.." Potong Bintang. Mbak Dian aja sampai baper, padahal gak ada adegan romantis loh itu.


"Mbak.. Dijemput gak?" Tanya Bintang kini beralih pada mbak Dian.


"Iya tadi kesini aja sama suami mas.. Tadi ngisi bensin dulu jadi gak bisa masuk" Jelas mbak Dian, ia sudah tidak terlalu canggung dengan kehadiran istri bosnya.


"Habibati... Mulai besok kamu yang urus semua ya?? bisa dibantu mbak Dian" Ucap Bintang mengalihkan atensi kedua wanita itu.


"In Sya Allah by... Nunggu kamu pulih dulu" Lembut Habiba namun terdengar sangat jelas.


Hari semakin larut dan mbak Dian pun sudah pamit pulang, pengawal yang menunggu di depan kamar rawat Bintang pun sudah Habiba minta istirahat. Tak nyaman juga kan banyak laki laki di sekitarnya.


"Sayang.. Besok pulang ya.. Gak puas nih gak meluk meluk kamu" Habiba menghela nafas lelah, suaminya sungguh luar biasa.


"Tanya dokter ya mas besok. Sekarang tidur dulu, perlu aku minta naikkan dosis obat tidurnya? hem" Bintang nyengir kuda dengan penuturan sang istri.


"Astaghfirullah by.. Aku lupa belum ngabarin bunda dan umma.." Hampir bangkit mencari ponselnya, Namun Bintang cepat menggeleng.


"Gak usah Habibati.. Sudah malam, besok kalau sudah pulang ya.." Patuh Habiba, kembali memeluk sang suami.


**


Setelah sedikit berdebat dengan dokter, akhirnya Bintang diizinkan pulang. Habiba saja sampai menggeleng bingung dengan keinginan Bintang.


"By..." Lembut Habiba, namun urung ia lakukan karena senyuman menenangkan Bintang.


"Aku pengen istirahat di rumah sama kamu.. Bosan" Sahut Bintang mengusap sayang pipi Habiba. Ya.. . Meski hanya dari niqob.


Padahal baru semalam loh, 24 jam saja belum tapi sudah ngeyel minta pulang. Sabar ya Habiba!!


"Ya Allah.. Nyaman sekali.." Nyaman kasur di kamar atau nyaman karena guling hidupnya? Eh!!


"By... Aku ambil makan dulu ya.. Minum obat!" Namun Bintang semakin mengeratkan dekapannya, hingga Habiba sulit bergerak.

__ADS_1


"Diem Habibati!! Jangan perintah aku kalau lagi meluk kamu.." Pasrah sudah Habiba, sedikit takut jika ia akan menekan luka di perut Bintang.


"Selalu sehat ya by.." Lirih Habiba menatap dalam manik mata suaminya.


Tiba tiba ia pun mengeratkan pelukannya, butiran bening jatuh membasahi pipi. Entah dari mana rasa khawatir itu hadir kembali menyeruak memenuhi benak Habiba.


"Habibati... Mau hadiah apa?" Gelengan dari Habiba membuat Bintang merasa gemas.


Pipi basah istrinya yang ternyata sedikit cengeng, "Cengeng" Desah Bintang menggoda. Sayangnya Habiba tidaklah mudah tergoda. Hahaha!!


"Kamu cepet sehat.." Hadiah yang Habiba minta.


"Eh.. koq nangis lagi seh??" Panik Bintang. Buliran bening kembali keluar dari mata indah Habiba.


"Aku marah sama kamu mas.." Ucap Habiba jujur.


"Kenapa kamu gak pernah jujur soal Panji? sampai kirim pengawal buat aku dan Mentari" imbuh Habiba mengeluarkan isi hatinya.


"Habibati.. Maaf yah.. Mas takut kamu ikut khawatir" Merubah posisi yang kini mengungkung Habiba. Itulah tandanya jika lelaki sudah sehat, termasuk babang Bin.


"Tapi aku sudah khawatir mas.." Sedikit memukul dada sang suami.


"Auw.." Pekik Bintang yang kemudian kembali berbaring di samping Habiba.


Sembarangan kan ini si babang ngerjain istrinya, sampai buat Habiba panik dan membuka kemeja Bintang.


"Mas... iiih!!" Dengan raut kesal Habiba kembali memukul lirih dada suaminya.


"Hahaahah... Ya Allah istri gue gemesin banget" Hampir saja Habiba bangkit namun langkahnya kalah cepat dengan rengkuh Bintang di pinggangnya.


"Eleuh... Bilang aja pengen lihat tubuh suamimu ini" Cicit Bintang, susah kan ini Habiba mau melanjutkan marahnya.


"Ogah... Mas Bintang belum mandi dari kemaren.." Bintang makin membawa tubuh istrinya untuk semakin lekat di atas tubuhnya.


"Mas... Nanti luka kamu kena iiih" Gemas sekali Habiba dengan polah Bintang, ia sudah khawatir dan yang di khawatirkan?? Mesum!!


"Mas..." Suara ketukan pintu menghentikan aktivitas Bintang yang menggoda Habiba.


Tok Tok Tok


"Yah... mbok Yem.. Dah On sayang.." Kasihan sekali wajah lelah Bintang.


"Di off in dulu mas.." Kekeh Habiba seraya bangkit membenarkan baju yang hampir berantakan.


"Den... Ada temen temannya.." Teriak mbok Yem, karena tidak ada jawaban dari dalam kamar.


"Iya mbok..Tunggu sebentar" Sahut Habiba setelah membukakan pintu.


"Iya mbak Biba.. Mbok ke bawah dulu" Mbok Yem mengangguk sopan.

__ADS_1


"Terimakasih mbok.." Habiba membantu suaminya untuk turun ke bawah.


"Nanti kamu naik ke kamar aja ya sayang!" Titah Bintang, merasa tak rela jika teman temannya melihat sang istri.


__ADS_2