Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Rindu


__ADS_3

Akhirnya malam ini Bintang dan Habiba menginap di rumah abah dan umma, Bintang tak ingin membawa keluar sang istri ketika sudah lewat maghrib. Biar esok mereka pulang selepas subuh, karena istrinya itu harus ngampus. Tentu jika mood nyonya baik!!


"Habiba..." Umma memulai membuka pembicaraan dengan putrinya yang masih duduk di sajadah seraya menunggu waktu isya tiba.


"Peluk... Umma" Habiba sudah membuka kedua tangannya meminta peluk sang umma. Mode manjaaaahhh!!


Senyum tipis serta gelengan samar umma membuat Habiba tersenyum malu, tapi bagaimana juga ia memang ingin memeluk ummanya itu. "Sini umma peluk. Hemmm... Si bungsu yang semakin manja ketika sudah menikah..." Kekeh umma gemas.


Sungguh nikmat luar biasa bagi abah dan umma, di karuniai anak perempuan satu satunya yang begitu luar biasa. Bukan hanya secara fisik bahkan dari berbagai aspek, akhlak, adab hingga ilmu agama yang memang cukup baik. Meskipun di luar sana banyak yang lebih baik.


"Umma... Mas Bintang belum pulang?" Tanya Habiba, entah mengapa ia semakin merindukan suaminya.


Sabar umma, harus menghela nafas pelan "apa kamu sudah sholat isya?" Tanya balik umma lembut.


"Belum umma... Kan belum masuk isya..." Habiba tersenyum hingga matanya menyipit, ia paham maksud dari pertanyaan ummanya itu.


"Umma..." Lirih Habiba... Sudah menyandarkan kepalanya nyaman di pangkuan sang umma.


"Umma... Biba kasihan loh sama mas Bintang, gak pantes banget Biba terlalu manja begini" Nyadar nih Biba... "Tapi perasaan Biba gelisah kalau mas Bintang gak di deket Biba umma..." Cicitnya lagi hingga air matanya jatuh.


Umma masih setia mengusap kepala Biba yang tertutup mukena hitam itu, tak hentinya mengulas senyum melihat tingkah putrinya ini.


"Biba... Itu tidak salah, mungkin kamu harus lebih mengontrol perasaan kamu. Suami kamu sampai tidak jadi melihat cafe, bagaimanapun, nak Bintang harus kembali mengambil alih cafenya. Ibu bosnya sedang tidak bisa berpikir. Bisa berantakan nanti kalau anak umma ini yang masih pegang" Yah... Umma... Itu air mata Biba sudah banjir lagi.


"Astaghfirullahalazim umma... Biba mengacaukan semuanya yaa.." Isaknya. Semakin merasa bersalah karena menyusahkan sang suami.


"Umma yakin... Calon anak kalian akan lebih manja ke ayahnya dari pada ke ibunya.." Goda umma semakin membuat Habiba memberengut, bukan karena kesal hanya gak terima karena dialah ibunya.


"Hehehe... Umma becanda ya bunayya... Bintang harus semakin bersabar menghadapi putri umma ini..." Kekeh umma, kapan lagi menggoda Habiba, secara dia jarang kesini. Mengajar ngaji anak anak saja sudah di gantikan ustadz dari pesantren.


"Umma..." Rengek Habiba seperti batita tantrum. Subhanallah!!


Hampir pukul 9 malam Bintang dan abah sampai rumah, tadi sempat mengikuti kajian di masjid pesantren. Ah... Bintang begitu kagum dengan Fathan, kakak iparnya itu. Fathanlah pembicaranya disana. Semua karena abah yang tiba tiba meminta Fathan menggantikannya.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Bintang, masuk perlahan ke dalam kamar. Istrinya tengah berbaring di bawah selimut.


Ia turut masuk ke dalam selimut yang sama setelah membersihkan dirinya, memeluk tubuh Habiba yang tampak lebih kurus. "Habibati..." Mengusap perut rata Habiba, hingga Habiba menggeliat.

__ADS_1


"Maaasss... Peluk!!" Membalikkan badan langsung memeluk tubuh Bintang, mengendus aroma tubuh suaminya yang selalu membuatnya lelap lebih cepat.


Yaa Allah padahal Habiba tadi tidur lama selepas zuhur hingga Ashar, dan kini ia sudah kembali terlelap bahkan semakin nyenyak saat memeluk tubuh suaminya.


"Yaa Allah, bidadari gue berubah kepribadian..." Gumam Bintang mengamati wajah damai Habiba yang sudah terlelap memeluk Bintang.


"Dede... Kayaknya dede akan manja sama daddy, tuh mommy saja manja banget" Mengecup kening dan hampir setiap inci wajah Habiba.


"Maaasss... Geli iih!" Jadi makin gemez kan si babang, mulut ngomong tapi matanya terpejam seperti kena lem kayu kan itu kelopak mata Habiba.


"Pengen cium dede, boleh?" Tanya Bintang, namun Habiba langsung menggeleng bahkan mengeratkan pelukannya. Hadeuh Biba...


"Aku cemburu..." Cicit Habiba. Lah kan masa sama calon anaknya cemburu? "Cium aku ajah" Imbuh Habiba datar.


"Hemmm... Maaasss puasa!!" Pekik Habiba seketika. Tangan Bintang sudah kelayapan kemana tauk!


"Puasa apa malam malam?" Bingung Bintang. Hingga Habiba membuka matanya dan menangkup kedua sisi wajah suaminya. Tamvan!!


"Maaasss..." Lembut banget kan Biba ini. "Langsung tutup ajah, jangan berisik. Dunia Othor lagi ramadhan soalnya" Ujar Habiba berbisik.


**


Pagi setelah subuh, Bintang dan Habiba benar benar pamit pulang. Istrinya akan masuk kuliah pagi, dan katanya rindu dengan cafe. Hemm... Baiklah ia akan mengikuti kemauan nyonya Abrisham Bintang.


"Habibati... Jaga diri yak.. Kamu dunia ku loh" Ujar Bintang khawatir. Meski hari ini Habiba begitu cerah walau wajahnya sedikit pucat.


"In Syaa Allah ya Habibi..." Habiba mengulas senyumnya. "Apa suamiku ini tidak mau sesurga bersamaku?" Eh... Habiba pertanyaanmu buat babang nyengir kuda.


"Habibati... Tentu kamu lah surgaku, bidadariku. Jika bukan karena kamu mana mungkin hidupku lebih tertata seperti sekarang?" Tulus Bintang, hingga Habiba langsung berhambur dalam pelukan nyaman sang suami.


"Mas... Itu karena Allah yang telah menunjukkan jalannya padamu" Bisik Habiba, mengusap surai Bintang lembut.


"Dan aku pun harus mengikuti jalanku ini bukan... Kamulah jalannya, bidadarinya Bintang" Membalas dengan mengecup pucuk kepala Habiba yang tertutup hijab hitam.


"Masuklah!! Jangan genit genit..." Habiba saja sampai bingung dengan ucapan sang suami. "Kamu tertutup saja mas sampai gila ngejar kamu, bayangin kamu genit? Bisa satu Indonesia melamar bidadari mas ini... Robek jantung hati mas" Ya Allah masih pagi loh itu, koq sudah pakai jurus gombalan dolar seh. Bikin ngiri tauk!!


Bintang mengecup punggung tangan Habiba, mengusap lembut pipi Habiba bahkan sorot matanya mampu Habiba tangkap jika suaminya saat ini begitu khawatir sekaligus bahagia karena kehamilan sang istri.

__ADS_1


"Dede... Jaga mommy yah... Telepon daddy kalau sudah mau pulang!" Ealah, dikira si jabang bayi pegang gadget kali didalam perut. Ada ada aja kan si babang ini.


"Daddy ngegemesin gini... Bikin mommy males kemana mana" Akhirnya Habiba mengalah, ia mengikuti sang suami. Bukan lagi abi dan umi. Iiihhh!!


"Habibati... Harus belajar serius, kan Mommy yang akan jadi sekolah anak anak kita.. Hemm kembar 3 kali yak..." Sudahlah akhir kalimat suaminya itu selalu membuatnya takjub, hingga bingung mau ngomong apa.


"Aamiiin..." Jawaban yang aman, dan semoga penuh keberkahan.


Jujur saja Habiba berjalan sedikit lemas ke dalam kelas, tubuhnya lemas meski tidak pusing dan mual. Ah... Tiba tiba ia merindukan suaminya kembali. Belum ada lima menit loh itu, sudah rindu ajah.


KLUNTING


Sebuah notif pesan masuk dalam ponselnya. YA HABIBI


*Nanti siang mas kirim makanan sehat, jangan jajan sembarangan!!*


Sampai seperti nasehat pada anak kecil, sayangnya Habiba malah semakin merindukan sang suami. Hingga ia memasukkan tangan ke balik hijab panjangnya, lalu mengusap perutnya sendiri. 'De... Please umi lagi di kampus, eh umi atau mommy yah.. Terserah bapakmu lah. Mohon kerja samanya ya sayang. Rindunya nanti ajah...' tak lupa melantunkan dzikir dan sholawat untuk obat hatinya ini. Rindu!!


"Biba..."


"Astaghfirullahalazim..." Mengusap dadanya yang kaget karena tepukan di bahunya.


"Tumben nih, temen gue kaget" Goda Eka... Aiiihhh ternyata Eka tersangkanya.


"Walaikumsalam Eka..." Eka sampai nyengir kuda, menggamit lengan Habiba yang masih mengelus perutnya.


"Assalamu'alaikum... Habiba, perut lo kenapa seh? Tadi ngomong sama siapa? Adik ipar lo mana?" Buset sudah mirip interview kerja aja nih, itu pertanyaan beruntun bergandengan tangan. Hah!!


"Eka... Lo mah bakat yah jadi wartawan!" Ujar Habiba memuji. Lumayan lah bisa mengalihkan rindunya pada sang suami.


"Gue coba aja kali yak jadi news anchor.. Biar adem gitu stay dalam gedung" Kekeh Eka, yang tiba tiba kepikiran menjadi news anchor. Absurd Eka yang tak ada obat.


"Yah... Kenapa tidak? Coba aja!" Cita citanya mirip bocil kan si Eka ini, ganti ganti kaya baju di lemari. Hah!!


Mereka menuju kelas dengan obrolan ringan, ngalor ngidul unfaedah. Hingga nampak Mentari yang sudah duduk di depan kelas dengan buku di tangannya.


"Hah... Dia pegang buku, tapi kayaknya lagi melamun deh" Pikir Eka sejalan dengan Habiba yang masih diam seraya menghampiri sang adik ipar.

__ADS_1


__ADS_2