
Selepas dari cafe, mereka langsung pulang ke rumah, hanya mampir sejenak membeli kue untuk Habiba. Lah padahal di cafe nya pun banyak cake tersedia. Namun sayangnya Habiba tak berselera. Memilih membeli di tepi jalan raya. Uuhh.. . Habiba..
"Habibati... Mas mandi dulu yah? Kamu sama mbok Yem ajah. Jangan kabur!!" Mbok Yem sampai mengulum senyum, lagian ngapain juga istrinya itu kabur.. Hah!!
"Mas... Gak makan kuenya dulu?" Tawar Habiba, menyodorkan sesuap kue. Oke lah bang Bin, langsung menerima suapan itu, dari pada mengecewakan sang istri. Toh hanya sesuap kue, bukan seloyang plus loyang loyangnya.
"Enak... Habibati, nanti lagi deh. Mas mules juga" Habiba hanya menggeleng samar, melihat polah Bintang yang langsung ngibrit ke kamar mereka.
"Hadeuh.. Mbok jadi pengen muda lagi deh kalau begini.."cicit mbok Yem, hingga Habiba mengulas senyumnya. Memicingkan matanya menggoda mbok Yem.
" Mbok.. . Nanti tolong kasih pak satpam yah..." Ujar Habiba, setelah senyam senyum gak jelas bareng mbok Yem. Mbok Yem sudah tidak merasa canggung lagi dengan istri bercadar tuan mudanya.
"Siap mbak Biba..." Aiiihhh Habiba sampai terkekeh karena mbok Yem malah ngelawak saat memberi hormat. Dan itu terlalu langka dan harus mbok Yem abadikan dalam ingatannya. Jarang jarang kan lihat Habiba cekikikan di dapur, biasanya jika hanya berdua bersama sang suami.
Mbok Yem sudah kembali bergabung bersama Habiba di dapur, Setelah mengantarkan beberapa kue untuk satpam rumah. Entah kenapa Habiba belakangan suka duduk di dapur, meski hanya menemani mbok Yem masak.
"Mbak Biba.. Gimana rasanya hamil trimester pertama?" Penasaran mbok Yem, karena ia tak pernah mendengar Habiba muntah muntah dan semacamnya.
"Gak ada rasa mbok, cuma kangen terus sama mas Bintang" Jujur Habiba, siapa tahu kan bisa dapat ilmu dari orang yang berpengalaman.
"Ya namanya juga suami, ya harus di kangenin lah mbak" Eh.. Bener juga kan mbok Yem, jangan sampai kita kangen sama laki orang. Itu berbahaya!!
"Iya seh mbok, tapi kasihan mas Bintang. Akunya jadi manja banget dan suka ngambek gak penting.. Haaah" Mbok Yem paham keresahan hati Habiba, sampai Habiba menghela nafas pelan namun panjang.
Mbok Yem mengulas senyum, mengusap lengan Habiba penuh kasih "Mungkin dedenya memang manja sama ayahnya mbak. Mbok yakin den Bintang pasti paham" Nampak sekali keresahan di sorot mata Habiba.
"Gitu ya mbok? Dulu mbok Yem gimana saat hamil?" Ya ampun mbok Yem kok malah nyengir kuda seh, kan Habiba jadi bingung mengartikannya. Ayolah mbok Yem!!
"Hehehe dulu mbok Yem parah mbak.." Ujar mbok Yem, Habiba sudah serius banget loh mendengar kelanjutan cerita mbok Yem. "Mbok malah gak mau satu kamar sama suami mbak" Kekeh mbok Yem seraya geleng geleng, mengingat kejadian hampir 35 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Beneran mbak... " Imbuh mbok Yem, melihat reaksi dari Habiba yang malah membulatkan mata indahnya.
"Hemm.. Mbok jangan ngajarin istri aku kaya gitu yak" Si babang sudah nongol aja kan. Langsung duduk di samping sang istri, nyomot kue Habiba yang masih banyak.
"Idih... Yang hamil aku yang sensi koq mas Bintang seh?" Ehm..Habiba masih mode normal guys, belum ngereog manjah.
"Kan aku yang bikin" Ya Allah babang, pakai acara di sebutin segala. Habiba dan mbok Yem kan sama sama malu loh itu. Minggir aja lah mbok, biarkan mereka cekcok mesra bin mesum. Heh!!
"Permisi den, mbak. Takut rindu suami" Eleuh eleuh si mbok Yem pakai acara di perjelas juga. Namun Habiba malah mencubit perut Bintang gemas.
Senyuman Bintang itu loh bikin Habiba sesak nafas, sampai memancang wajah sang suami tanpa berkedip. "Maa Syaa Allah mas, koq aku selalu berdebar hebat seh saat dekat suamiku ini" Hingga tangannya terulur mengusap wajah teduh sang suami.
Bintang menarik tangan Habiba, lalu mengecupnya dalam penuh makna, kembali meletakkan tangan sang istri pada satu sisi wajahnya. "Terimakasih karena selalu dan semakin menyayangi suamimu ini yang penuh kekurangan".
"Yaa Habibi... Maafkan aku yang hanya mampu meletakkan cintaku padamu di bawah Allah dan Baginda Nabi" Ah... Betapa bersyukur Bintang mendapatkan wanita seperti Habiba.
"Habibati.. Perbuatan baik apa yang pernah mas lakukan sampai Allah mengirimkan bidadari surganya untuk menjadi pendamping mas.." Maa Syaa Allah, hati Habiba berdesir hebat mendengar kata kata indah sang suami, sangat indah di telinganya.
"Istri solehah.." Bintang meletakkan tangannya di kepala Habiba, meridhoi semua yang Habiba lakukan selama itu dalam kebenaran.
"Mas ridhoi semua langkahmu, semoga keberkahan selalu menaungi istri mas ini" Habiba berhambur dengan air mata yang mulai berderai membasahi pipi.
Betapa beruntungnya ia bisa memiliki suami seperti Bintang, yang selalu berbicara positif saat yang tepat "Terimakasih yaa Habibi, semoga segala urusan suamiku ini selalu di lancarkan dan sejalan dengan ridho Illahi".
Karena seindah indahnya rencana manusia jika tidak sejalan dengan rencana yang Maha Merencana maka akan sia-sia. Betul!!
Bintang mengurai pelukan sang istri, mengusap air mata yang semakin sering ia lihat semenjak Habiba mengandung. "Maaf karena selalu membuat bidadari mas ini menangis".
"Aku menangis karena rasa syukur, Allah mengirimkan imam yang luar biasa untukku" Sekilas Bintang mengecup kedua mata Habiba, dan pucuk hidung sang istri yang sudah memerah.
__ADS_1
"Mas.. Jangan senyum senyum terus, nanti aku sulit jauh dari kamu" Lah.. Bintang saja bingung dengan makna 'jauh' yang istrinya ucapkan. "Bentar lagi maghrib mas, takut aku kangen kan" Oalah Bintang sampai terkekeh gemas, bisa bisanya istrinya ngomong kangen dengan wajah yang datar banget. Hah!!
"Ya sudah mas sholat di rumah saja sama kamu" Habiba auto menggeleng.
"Harga diri seorang laki laki itu di sholat 5 waktu nya, jamaah di masjid... Aku sudah cukup egois mas, tapi aku tidak ingin menginjak harga diri suamiku" Yaa Allah.. Adem kan kalau begini, di baca saja adem, apa lagi di lihat dan di nikmati. Icikiwiiiiirrr !!
Akhirnya Bintang berangkat ke masjid untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang laki laki, langkahnya semakin ringan setelah menjadi seorang suami dari Habiba Arwa. Oh Habiba...
Sedang Habiba juga tengah bersiap siap untuk bertemu dengan sang pemilik hidup dan hatinya. Menumpahkan segala rasa bahagia hingga resah dan kesedihannya.
Tiba tiba ia ragu menceritakan perihal Fajar yang sempat mengganggunya dan bersitegang dengan Eka dan Mentari. Bintang yang sudah berbaring pun merasakan rasa berbeda dari tatapan sang istri.
"Habibati... Sayang.. Ceritakan!!" Todong Bintang, sudah cukup hafal dengan gelagat Habiba. "Kasihan si dede kalau mommy nya stress banyak fikiran" Hah.. Habiba mengiyakan perkataan Bintang.
Pelan dan lembut Habiba menceritakan kejadian tadi pagi di kampus, sedikit membaca wajah sang suami yang menyimpan kemurkaan. Namun ia tetap melanjutkan ceritanya hingga saat laki laki bernama Fajar di seret keluar oleh mahasiswa teman satu kelasnya.
"Mas... Maaf" Bintang langsung memberikan senyuman terbaiknya, mengecup kening Habiba dalam dan lama. Ia akan bertindak demi kenyamanan istri dan adiknya.
"Habibati.. Jaga diri yah, walau ayah menempatkan beberapa anak buahnya menjaga kamu dan Mentari. Mereka hanya manusia biasa, besok mas akan langsung menghadap dekan kampus, tanpa seorang akan tahu" Habiba hanya mengangguk patuh. Suaminya ini lebih cepat menyelesaikan masalah yang ada. Bintang geto loh!!
Habiba masih bersandar nyaman, di lengan sang suami. Melingkarkan tangannya di perut Bintang. "Perut mas makin endut, gemes makin empuk" Cicit Habiba seraya mengecup pipi sang suami.
"Tandanya mas bahagia, tapi besok juga gendutan perut bidadari mas ini" Kekeh Bintang. Tangannya masih setia mengusap perut rata sang istri. Bahkan mengajak ngobrol dede yang masih mirip kecambah.
"Habibati... Mas koq kangen yah sama dede.." Ya elah babang modusnya akut banget, bilang aja pasti kan Habiba tidak akan menolak. Toh selama ini ia tidak pernah menolak. Dosa!!
"Ya udah... Mas tunggu saja sampai dede lahir" Hah.. Gemes banget kan si babang, malah di godain sang istri. Mana rela kan nunggu sampai laahiran, belum lagi nifas 40 hari. Aiiihh lama!!
"Hahaha... Maaf mas.. Guyon!" Manisnya kalau lagi gak moody, pengen di putar di jilat terus di celupin. Hemmm!!
__ADS_1
TERERERET
Yang terjadi sama mereka berdua biarlah terjadi, gak usah di intipin apalagi di pantengin. Kasihan yang jomblo hahayyyy!!