
POV HABIBA
Setelah sholat ashar di kamar, aku memilih tetap duduk di atas sajadah. Perasaan benar benar kacau campur aduk. "Astaghfirullahalazim".
"KU TERIMA TANTANGANMU HABIBA" Kata kata pemuda bernama Bintang itu benar benar membuatku tak tenang. Entahlah!
Banyak pasang mata memperhatikan Bintang, tentu saja mereka turut menatapku dengan berbagai persepsi. Biarlah, sebenarnya bukan itu inti risau di hatiku.
Bagaimana kalau Bintang benar benar datang, dan abah menyetujuinya. Memang jika jodoh tak kemana, Tapi sebagai perempuan aku merasa takut, takut jika aku salah memilih, lebih tepatnya mungkin salah memberi tantangan.
Aku percaya apa yang terjadi sudah jalan takdir Yang Maha Esa. Jika dia benar benar datang, mungkin dia benar benar serius ataukah hanya sekedar ambisi semata. Itulah yang ku takutkan, Mungkin aku harus sholat istikharah nanti malam.
Tok tok tok
Aku bahkan terkejut hanya dengan ketukan di pintu kamar. Sungguh dia mengganggu otakku, setelah mengganggu dua hariku. Yaa Allah.
"Assalamu'alaikum Habiba" Seorang wanita yang paling aku cintai, uma.
"Walaikumsalam uma, silakan masuk tidak Biba kunci" Balasku dengan beranjak membereskan alat sholatku.
CEKLEK
Uma masuk dengan senyum mengembang seperti biasa, "sholehahnya uma, kenapa tidak keluar? Tumben?" Tanya Uma duduk di tepi ranjangku. Aku mencoba tersenyum berharap mampu menutupi kegelisahan hati karena ulah seorang laki laki yang tak ku kenal. Memalukan!
"Baru beres ashar uma, apa ada yang bisa Biba bantu?" Ujarku setenang mungkin. Uma malah menggeleng dan tersenyum.
"Apa ada yang bisa Uma bantu?" Tanya balik Uma, aku malah mengernyit tak paham. "Kalau ada masalah boleh di ceritakan ke Uma" Imbuh Uma. Dan aku rasa Uma merasakan perubahan sikapku. Huh, aku lupa kalo aku tak pandai berbohong!
"Biba gak apa apa koq Uma" Kataku lembut. Harus di sertai senyum lebar mempesona.
Uma mengangguk dan hendak beranjak "Baiklah, Uma percaya solehah nya Uma mampu mengatasinya" Mengusap lembut pipiku. Ah aku jadi merasa bersalah telah membohongi Uma.
"Uma.. " Lirihku dengan menunduk sedikit ragu. "Eh... Emmm" Untuk berucap pun sulit.
"Ayo sayang, ceritakan! Bismillah" Titah Uma sangat lembut.
"Uma, maaf tadi di kampus ada pemuda yang hendak melamarku. Aku pun tidak kenal, karena baru dua kali kami bertemu" Aku masih menundukkan wajahku, ujung hijabku bahkan kusut karena jari tanganku yang tak hentinya memilin. Gugup dan takut!
__ADS_1
"Terus sayang, kapan pertama kali bertemu?" Tanya Uma kemudian. Beliau mengusap usap punggungku sayang. Nyaman sekali.
"Saat di halte Uma, ia yang membantu Biba mengambil buku buku yang terjatuh" Jujurku. Entahlah apa reaksi Uma aku tak mampu melihatnya. "Uma, bahkan ia pernah melihat wajahku, tak sengaja tali cadarku terlepas" Sungguh aku ingin mendapat solusi dari Uma.
"Owh jadi karena pemuda itu, solehahnya Uma tampak gelisah?" Ku beranikan mengangkat wajahku. Memandang wajah tua Uma yang tetap cantik, terlebih nada bicara Uma seperti sedang menggodaku.
"Uma..."
"Itu bukanlah kesengajaan, jadi tidak masalah. Anggap lah rejekinya bisa melihat wajah bidadari Uma ini" Uma malah semakin tersenyum menggodaku. Malunya..
"Banyak hukum yang mengatur soal wanita dan cadar. Uma salut, Habibanya Uma konsisten menutup wajahnya. Sedang sampai sekarang Uma pun belum melakukannya" Jelas Uma tak menghakimi.
Aku mengangguk, sedikit banyak berbicara pada Uma membuatku lebih tenang. "Uma... " Dan ucapanku menggantung.
"Assalamu'alaikum"
" Walaikumsalam" Ucapku dan Uma.
"Uma tolong bawa Habiba ke ruang tamu!" Titah Abah " Putri abah sudah besar ternyata" Ucap Abah kemudian, dan aku tidak paham dengan ucapan beliau. "Jangan terlalu lama Assalamu'alaikum" Abah langsung keluar lagi dari kamarku.
"Ayo, abah sudah menunggu" Ujar Uma memasangkan cadar ku. Sungguh aku merasa ada yang aneh dengan Uma dan Abah. 'Astaghfirullah'
" Astaghfirullah " Ucapku. Aku mampu melihat jelas siapa yang tengah duduk di hadapan abah.
"Tenangkan hatimu" Uma menggandeng lenganku, sedikit menarik karena langkahku sangat berat. "Nak Bintang sudah datang sebelum ashar, langsung menemui abah di pesantren" Glek! Ucapan Uma bener-bener membuatku terkejut.
Jadi laki laki bernama Bintang itu benar benar datang, dan menerima tantanganku. Tampaknya aku salah mengambil keputusan. Ya Allah, bantu hamba MU ini.
"Habiba, duduklah" Titah abah.
DEG DEG DEG
Sungguh aku panas dingin, jantung juga berdebar tak sebagaimana mestinya. Uma menarikku untuk duduk bersama abah, ya aku di apit uma dan abah. Bahkan Uma selalu mengusap telapak tanganku yang dingin namun berkeringat.
"Hai Habiba... Akhirnya saya sudah bertemu abah dan Uma sesuai permintaanmu" GLEK! Ucapannya benar benar... Yaa Allah jeritku dalam hati.
"Hemm" Abah menginterupsi. Semoga saja abah dan uma menolak, jika menerima. Entahlah!
__ADS_1
"Jadi nak Bintang, bisa di perjelas dan diulangi niat nak Bintang datang kemari?" Tanya Abah tegas dan jelas. Oh abah maafkan aku yang salah ambil keputusan.
"Saya kemari untuk melamar Habiba dan menjadikan istri saya" Ketegasan Bintang membuat hati ini semakin gemetar. Sesaat ku alihkan pandangan ku ke arah Bintang, tak ku sangka ia memasang wajah serius bahkan ia berani membalas tatapan Abah.
"Seperti yang sudah saya katakan di pesantren, jika abah dan Uma menyetujui maka Habiba pun akan menyetujui" Imbuh Bintang. Aku pasrah sudah. Uh!
"Benar itu Habiba?" Aku gugup sekali kala abah melemparkan pertanyaan padaku.
"Iya abah" Jawabku lirih.
Aku harap abah menolak, jujur aku tak mengenal dan tidak yakin dengan laki laki yang kini melamarku. Aku mengakui pernah terpesona pada wajahnya yang rupawan, tubuh tinggi dan tegapnya masih teringat jelas saat ia berjalan memipin langkah ku.
Sungguh aku gagal menundukan pandangan ku, bahkan aku terpesona kepada laki laki yang bukan mahram ku. 'astaghfirullah aku hanya manusia biasa'.
"Terus apa jawaban mu" Tanya abah. Dan aku tidak punya jawabannya, aku hanya akan pasrah dengan jawaban abah dan Uma.
"Aku... Aku nurut sama jawaban abah dan Uma" Jawabku tanpa berani menegakkan kepala.
"Kamu tidak akan menyesal?" Sepertinya abah benar benar ingin mendengar jawaban dari mulutmu sendiri.
Aku mengangguk "InsyaAllah bah". Jangan tanyakan kegugupanku yang mencapai ubun ubun, perutku mendadak mulas dan telapak kaki yang tertutup kaos kakipun terasa dingin.
" Habiba.. Apa kamu yakin dengan keputusan abah?" Tanya abah kemudian. Aku malah semakin gemetar dan entah apa rasanya. Meski Bintang bukan lah laki laki pertama yang melamarku, entahlah dia malah semakin membuatku tak karuan.
"Iya abah, InsyaAllah" Lirihku bahkan nada bicaraku bergetar. Biarlah aku tak perduli laki laki yang ada di hadapanku, mau dia tersenyum atau tegang, toh aku tak melihatnya. 'Iiiiih kesalnya hati. Astaghfirullahalazim "
"Nak Bintang" Ucap abah. Yaa Allah ini seperti...
"Ceritakan tentang dirimu!" Titah abah kemudian. Oke aku hanya mendengar dan gemetar. Indahnya...
"Abrisam Bintang Lawana" Ia mulai menyebut namanya sebagai awal kisah... Aku beserta Abah dan Uma hanya mendengarkan, sesekali Abah bertanya padanya.
Pandangan ku sungguh sulit dikendalikan saat ia berucap "saya hanya anak geng motor dan vokalis band amatiran" Wajahnya tenang dan tentu tampan. 'Astaghfirullah' sungguh otak dan hati sulit terkoneksi.
Aku termenung di dalam kamar, lebih tepatnya balkon kamar. Langsung menghadap taman yang berteman lampu lampu temaram yang tak terlalu terang. Mengingat ingat kejadian dari halte bus hingga tadi sore...
Dinginnya angin malam membuat ku lebih memilih ke kamar, mengambil wudhu melaksanakan sholat istikharah untuk memantapkan hati.
__ADS_1