Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
22. Tanpa Penolakan


__ADS_3

Akhirnya hari ini tiba, Bintang akan menemui abah Ahmad untuk memenuhi syarat yang diajukan.


Bintang sudah bersiap bahkan sudah melaksanakan dhuha empat rakaat, tidak ada celana bolong bolong seperti biasanya, baju kemeja koko sudah melekat kece membalut tubuhnya.


"Vokalis kita..." Ryan menyambut dengan celetukannya, membuat semua mata tertuju padanya. Sudah mirip iklan gak seh?


"Eh ngapain lo pada di sini?" Tanya Bintang yang masih menuruni anak tangga.


Teman temannya sudah berkumpul, kecuali Reno yang akan langsung ke lokasi.


Ah babang Reno!!


"Nemenin lo menghadapi kenyataan bro" Santai sekali ini Rado, teman lucknut bener kan. Sudah gugup di tambah grogi.


"Sudah sudah, kalian berangkat. Bawa mobil ayah dan Bintang" Ayah Hendra menengahi.


"Motor kalian yang knalpot bocor itu masukin garasi!" Titah ayah Hendra kemudian.


Lelaki setengah abad itu, menggeleng heran dengan kelakuan pemuda jaman sekarang. Suka bertindak sesuka jidat. Mending kalo jidatnya ada isinya, kalau kosong? Huuuh!!


Kemana bunda Sara dan Mentari?


Bunda Sara masih anteng duduk di sofa, enggan mengeluarkan amunisinya. Eh suara emas maksudnya.


Mentari ada tuh di belakang Bintang, ia akan turut mendampingi sang kakak. Bunda dan ayah tidak mendampingi, karena ada urusan mendadak katanya. Entahlah, mungkin mereka gak tega melihat putranya gagal. Mungkinkan!


"Bunda..."Bintang sudah duduk bersimpuh di hadapan sang bunda.


" Siap?" Tanya bunda mengulas senyum. Manisnya.


Bintang mengangguk, mencoba menarik sudut bibirnya. Apalah daya jantungnya terlalu berpacu.


"Siapkan mental" ujar bunda. Ini bunda nampak tidak yakin kalau bujang gantengnya bakal diterima.


Bintang memeluk haru sang bunda tersayang.


Ini sama sama berjuang loh ya, berjuang merebut dan mempertahankan hati calon mertua. Warbiyaza!


Ini di ujung pintu ada Ryan dan Brian yang sudah hampir meneteskan air mata, Mentari menutup mulutnya yang ingin meledakkan tawa.


"Motor aja gede gede, hati menye menye" cerocos Mentari, berhasil mengalihkan atensi semua orang di sana.


Ini malah Mentari yang kikuk, Bintang sudah melepas pelukannya beralih menatapnya.


Namun sesaat pandangannya beralih pada kedua teman yang saling berpegangan tangan.


"Mau nyebrang?" Tanya Bintang.


"Mau nganterin lo PeAk!" Sahut Ryan belum sadar.


"Tuh ngapain gandengan sama Brian?" Mata Bintang menunjuk arah tangan Ryan dan Brian yang masih bertaut mesra.


"Romantis lo ya pada" Celetuk Rado dengan tatapan meremehkan.


"Mandi nih gue mandi" Ryan mengibaskan tangannya, sudah mirip cacing kena garem.

__ADS_1


PLAAAK


Brian sukses melesatkan telapak tangannya ke lengan Ryan, "Gak usah over dah Yan!" Kesal Brian, memutar bola matanya malas dengan kelakuan Ryan.


Dalam hati Brian juga kesel setengah nyawa, Ia masih dengan coolnya berusaha biasa saja.


"Hangat bang" Rado yang malah meliukkan badan kaya penyanyi pantura, ditambah kedua tangan seolah berpelukkan. Keren kan si Rado ini, Ekpresif.


"STOP!!" Ayah Hendra kembali take vokal, setelah hanya menjadi penonton diantara anak muda.


"Berangkat sekarang!" Lanjutnya, mengusap pelipisnya yang berdenyut karena ulah teman teman putranya.


Bintang dan Mentari menggunakan mobil ayah, sedang ketiga trio bebek menggunakan mobil Bintang.


Selepas kepergian para anak muda, ayah mendekati sang istri yang tampak termenung.


"Ayah..." Bunda berhambur memeluk suaminya.


"Bintang sudah besar, biarkan saja memilih jalan hidupnya" Ayah Hendra menenangkan sang istri yang mulai menjatuhkan air mata.


Hati bunda tetap saja hello kitty loh.


"Bocah nakal kita sedang memperjuangkan seorang gadis" senyum tulus bercampur kesedihan menghiasi wajah ayu bunda Sara.


Ayah Hendra turut mengulas senyum, memberi kecupan hangat di kening istrinya.


"Istri ayah, yang selalu tegas dengan anak anak mudah sekali menangis" membawa kepala sang istri dalam pelukannya. mengusapnya sayang juga lembut.


**


"Biba, abah ingin bicara" abah Ahmad duduk di samping putri bungsunya.


"Iya bah, silakan!" ucap Habiba menyunggingkan senyum tipis, setipis harapanku padanya.


"Biba, apa perasaan mu pada Bintang?" Tanya abah Ahmad lembut.


"Maksud abah gimana?" Rasanya ingin sekali mengelak dari pertanyaan semacam ini.


"Apakah di hati putri abah ini, ada rasa untuk pemuda bernama Bintang?" Akhirnya abah memperjelas pertanyaannya.


Putrinya ini terlalu malu menjelaskan perasaannya sendiri.


"Maaf abah, karena Biba rasa dia laki laki bertanggungjawab" jawab Biba akhirnya.


"Semoga nanti kita dapat keputusan yang terbaik" ujar abah Ahmad.


"Abah, Bintang sudah datang" Reza mendekati abah dan adiknya.


"Jangan lupa cadarnya" ujar Reza yang kini menemani Habiba, abah sudah keluar menemui Bintang.


Reza menepuk bahu adiknya, sedikit menggoda si bungsu. Habiba malah memeluk erat sang kakak.


"Mas, Biba takut?" ujar Habiba, nadanya nampak merengek.


"Serahkan semua pada Allah, jika istikharah itu datangnya dari Allah maka jalani saja" nasihat Reza, matanya mulai berkaca adik yang selalu ia jaga kini sudah diminta seorang pemuda.

__ADS_1


"Mas..." rengekan Habiba terhenti, ketukan di pintu membuatnya melepas pelukan Reza.


"Assalamu'alaikum..." Zahra masuk dengan mengulas senyum, ada Mentari di belakangnya.


"Walaikumsalam" sahut Biba dan Reza bersamaan.


"Mas tinggal ya, kamu sama mbak Zahra dan Mentari" Reza meninggalkan ketiga wanita itu, ia dan Fathan akan turut mendampingi abah menentukan pilihan untuk sang permata keluarga. Habiba.


Zahra sudah cengar cengir menggoda Habiba, ia sangat paham perasaan adik ipar cantiknya itu.


"Hekkhemmm... " Deheman Zahra.


"Mbak iiih... Biba grogi tauk" Rengek Habiba, Mentari pun sama masih mesam mesem. Baru kali ini ia melihat sahabatnya merengek manja. Bukan Habiba banget!!!


"Kata abang, kalau di Terima bakal ngadain akad seminggu lagi" Celetuk Mentari sukses membuat Habiba mendelik.


Lihat Zahra dan Mentari yang menahan tawa karena ekspresi Habiba.


"Mbak, jangan ikutan Tari dong. Gesrek!" kata kata Habiba, malah meledakkan tawa Tari dan Zahra.


Tawa mereka bukan yang seperti knalpot bobokan loh ini, masih ada kalem kalemnya gitu.


Jujur saja Tari sangat nyaman berada di tengah keluarga Habiba, mereka sangat menghargai Tari dan Bintang yang minim ilmu agama.


DEG DEG DEG


"Mbak aku tuh lagi deg degan, gugup jadi satu, ini koq di godain mulu" Kesal Habiba yang malah memanyunkan bibir ranumnya.


"Tar, lo bener bener ya seneng ngerjain gue" Namanya juga Mentari, dengan santainya mengangkat kedua bahu.


Belum sadarkah Mentari sudah menambah kegugupan Habiba.


"Maaf kakak ipar" Mentari benar benar ingin di jadikan perkedel.


KLUNTING


Sebuah pesan masuk ke ponsel Zahra. Pesan dari Reza, suaminya tercinta dan satu satunya.


ABI


Kami lagi makan siang terlebih dahulu, nanti bawa Biba dan Tari keliling pesantren saja.


saranghaeyo cintaku


Zahra menunjukkan pesan dari Reza pada Habiba, Gadis itu mencebik geli dengan pesan dari kakaknya.


"Mas Reza demam Korea" Ketus Habiba, sebelum akhirnya terkikik. Sungguh tak pantas tampang Reza dengan pesannya. Sok imut!!


"Gak papa, yang penting hati istri bahagia. pahala!" Kilah Zahra yang memang benar.


Ketiga wanita itu terkekeh geli, ada pelajaran secara tidak langsung. Menyenangkan pasangan adalah pahala besar selama di jalan yang benar.


Akhirnya mereka bertiga menuju pesantren, mengajak Tari berkeliling. Ini adalah cara agar Habiba tidak merasa gugup berlebihan.


Sedang di ruang makan, Bintang and para konco sedang di jamu makan siang. Sebenarnya ini belum saatnya makan, hanya saja abah meminta makan bersama sebelum mendengar hafalan Bintang.

__ADS_1


Reno pun sudah bergabung disana, Iya kan urusan makan semua siap sedia tanpa penolakan.


__ADS_2