
Habiba sudah berdiri manis di hadapan sang suami. Senyumannya pun mampu terbaca jelas meski bersembunyi di balik cadar hitamnya.
"Mas... Aku belum kuat mental loh kalau ada saingan" Ucap Habiba tiba tiba setelah mengucapkan salam dan mencium punggung tangan suaminya.
"Saingan apa honey??" Tanya Bintang masih dengan ******* ***** tangan Habiba, yang ia tahan dalam genggamannya.
Habiba menghela nafasnya, suaminya ini sengaja pura pura tidak paham kan ya... Huuh Menggemaskan!
"Suamiku ini tampan paripurna, dan sedari tadi menjadi pusat perhatian para mahasiswi" Habiba benar benar mengutarakan pandangannya, hingga Bintang melepas kaca mata hitamnya.
Ah... Ada lope lope dari tatapannya.
"Mas... Senyumnya biasa aja dong..." Lirih Habiba, rasanya tak rela banyak yang turut tersihir seperti dirinya. Tanpa kata Bintang membuka pintu mobil mengambil sebuah benda dan ia pasangkan di wajahnya.
"Bagaimana hemmm?" Ya ampun suami orang bikin meleleh Othor... hihi!
"Penglihatan istri mas jeli juga..." Bintang pun menyadari, jika sedari tadi banyak mahasiswi yang memperhatikannya, terlebih ketika Habiba menghampirinya.
"Tapi maaf sayang, kalau lagi manggung gak bisa pakai masker" Habiba mengangguk, merasa bersalah juga.
"Lepas saja mas, gak papa" ujar Habiba, ia tak ingin memaksa.
"Iya nanti kalau di dalam mobil. Mas takut kamu cemburu Habibati" eh eh eh malah mengecup kening Habiba.
"Maaf sayang, suka lupa kalau di tempat umum" Untung saja dia pakai cadar loh kalau tidak banyak yang lihat wajah ayunya yang tersipu malu.
"O yaaa honey,,, mas ke ABIN cafe dulu ya... nanti kamu ke sana sama Tari, lalu kita ke rumah abah" Ujar Bintang.
"Mas kesini mau ngapain tadi?" Habiba hanya melihat mata suaminya yang menyipit.
Siap siap mendengar jawaban nyeleneh suaminya.
"Mas cuma kangen, jadi mas ke sini sebelum ke cafe..." Hati Habiba bergetar dengan pernyataan suaminya itu. Mungkin ada pesan masuk, jadi bergetar neng! eh!
"Ya hati hati mas..." Ujar Habiba, Ia bingung kala suaminya menggelengkan kepala.
"Kenapa habibi...?" Bintang kembali menyipitkan matanya.
"Kamu gak kangen sama mas, sayang?" Dramanya sungguh perlu apresiasi. Sebuah tepukan tangan atau timpukan??
"Aku tahan dulu mas, nanti di rumah baru aku luapin..." Hening sesaat setelah ucapan Habiba.
Mereka malah saling pandang, berbicara melalui sorot mata.
Tidak sadarkah mereka ada kamera ponsel yang menyorot keromantisan mereka?
Biarkan saja, yang lain hanya numpang tidur dan pipis. Abaikan!!
"Ya udah, mas ke cafe dulu ya Habibati... Mas tunggu luapan kangen yang menggebu" Ucap Bintang sengaja menggoda istrinya itu.
Rasanya pengen nguyel nguyel bibir Bintang pakai gigi gak seh...
Itu gigit Thor... nguyel nguyel tuh pakai bibir. Upss!!
Bintang membawa tangan Habiba dan mengecupnya, lalu beralih pada kening.
"Hemm..." Siapa coba yang berani ganggu keuwuan mereka.
__ADS_1
"Abang, jadi tontonan gratis tuh..." Kesal kan ini si Tari, Habiba pasti tidak bisa menolak kalau suaminya sudah dalam mode gak jelas.
"Mas... Aku masuk dulu ya..." Tak baik bukan mengumbar kemesraan di depan netijen.
"Oke Assalamu'alaikum..." Bintang masuk ke dalam mobil.
"Walaikumsalam... hati hati mas" Bintang hanya mengangguk dengan mengedipkan satu matanya.
"Tar, anter kakakmu. Jangan sampai lecet" Eleuh Mentari merotasi bola matanya, kesal dengan abangnya.
"Ayo kak Biba... Masuk!" Menyeret Habiba, Lah Eka yang terlupakan masih memandang laju mobil Bintang.
"Biarin saja si Eko, kalau sudah siuman juga bakal basah kuyup kena hujan" Habiba mengusap lengan Mentari.
"Kasihan lo sih Eka, kalau sadar sudah musim penghujan" Cicit Habiba, semoga emosi adiknya ini cepet reda.
**
Bintang masih senyum senyum kurang waras, mengingat sebucin itu dia sama Habiba.
BRAAAKK
Sebuah benda menghantam kap mesin mobil Bintang.
Lekas Bintang membanting setir mobilnya menabrak sebuah pohon pinggir jalan.
"Astaghfirullah..." Mengusap dadanya yang, berdebar kencang.
Dengan di bantu pengguna jalan lainnya Bintang keluar dari dalam mobil yang sedikit rusak di bagian depannya.
Pelaku pelemparan yang tak sempat melarikan diri pun sudah di amankan warga sekitar jalan.
"Tidak apa apa pak, sedikit nyeri di kaki" sahut Bintang. Padahal itu dahinya sedikit berdarah, lengan kirinya juga lebam.
Ia sudah di bawa ke sebuah klinik terdekat diantar supir ojol tadi.
Bahkan ada dua motor lagi yang mengikuti Bintang.
"Mas... Orang yang tadi melakukan pelemparan sudah di bawa ke kantor polisi, kebetulan tadi ada seorang Lurah dan ajudannya yang melihat" Penjelasan panjang seorang pria bertubuh gempal.
"Berarti tadi sengaja ya pak?" Pancing Bintang.
"Sepertinya seperti itu mas.." jawab bapak yang sedikit kurus.
"Pak nanti antar saya ke kantor polisi ya?" ujar Bintang pada sopir ojol bernama Dadang.
"Untuk bapak bapak saya minta nomor teleponnya, siapa tahu butuh saksi" Kini pandangan Bintang beralih pada ketiga pria dihadapannya.
"Alhamdulillah pak, Terimakasih" Tulus Bintang.
DRRRTTT
DRRRTTT
"Assalamu'alaikum Habibati..." Sahut Bintang...
"..." Habiba.
__ADS_1
"Hey... kenapa??" Bintang tahu jika Habiba tengah gelisah di ujung telepon.
"Habibati... Mas gak kenapa kenapa..." Semua orang yang menemani Bintang, memilih sedikit menjauh.
"..." Habiba.
"Kamu kuliah aja sayang. Mas lagi bareng bapak bapak" Mencoba menenangkan Habiba.
"..." Habiba.
"Habibati... Mas baik baik aja.." Bintang.
"..." Habiba.
"Ya udah datang aja ke klinik Medika... Ijin dulu. mas tunggu di sini" Akhirnya memilih jujur, ia tahu kepekaan hati seorang istri.
Beberapa saat Habiba sampai di klinik yang Bintang tunjukkan, sedikit mencari keberadaan suaminya yang tengah duduk manis menunggu obat.
"Assalamu'alaikum... Habibi" Bintang berdiri lalu mendekap tubuh istrinya.
"Walaikumsalam Ya Khumairah..." Mengusap usap punggung Habiba dengan nafas naik turun.
Itulah seorang istri, jika suaminya yang terluka maka ia yang akan menangis dan gelisah, tetapi jika dirinya yang terluka ia akan memberikan sebuah senyuman ketulusan.
"Bapak Abrisham Bintang..." Habiba yang berlalu menuju tempat pengambilan obat.
Bintang menyunggingkan senyum dengan kelakuan istrinya itu.
"Sepertinya istri anda wanita yang luar biasa" seloroh seorang bapak tua yang sedari tadi menyaksikan live keuwuan Habintang. Jadi berasa muda kembali.
"Alhamdulillah kek... Cantik luar dalam" Sahut Bintang, tak menyadari Habiba sudah mendekat ke arahnya.
Setelah berbasa-basi dengan bapak tua itu, mereka pamit menggunakan taksi online. Semua bapak bapak yang mengantarnya ke klinik sudah di persilakan pulang terlebih dulu.
"Jadi bener mobil yang tadi ada kerumunan polisi itu mobil suamiku?" Bintang hanya nyengir, sebenarnya enggan membuat istrinya itu khawatir.
"Pak ke kantor polisi terdekat dari jalan cakrawala" Titah Bintang pada supir taxi.
Sepanjang perjalanan Habiba banyak mengajukan pertanyaan, dan banyak juga Bintang hanya memberikan senyuman sebagai jawaban.
"Mas..." Bintang terkekeh dengan nada bicara istrinya yang merajuk. Meski lirih namun terdengar lebih tegas.
"Ya... Khumairah. Kita bisa kepo nanti sama pak polisi disana" ucap Bintang masih menggenggam tangan istrinya.
"Jangan merajuk habibati... Nanti kita gak jadi ke kantor polisi loh!" Habiba hanya menatap suaminya, sedikit kesal. Dia itu sudah khawatir, pengen tahu eh malah gak jadi... Sia sia kan?
"Kita ke hotel... Hahaha!" Supir taksi saja sampai menahan tawanya, gimana dengan Habiba??
"Aduh aduh... Sakit mi Amor..." Eh eh malah main mobil goyang loh itu, kasihan perut si supir loh sampai kaku, nahan buang angin karena godaan si babang.
"Aduh... sakit..." Keluarin jurus puppy eyes, mengusap usap perutnya yang di cubit mesra sang istri. Eh modus!!
"Mau aku tambah mas, hemm?? Seneng banget godain aku" Rengek Habiba, kedua tangan yang terbungkus sarung tangan itu sudah membentuk capit kepiting.
"Pak... cari hotel aja" eh!
"Mas..." Bintang sungguh tak tahu malu, itu di depan ada seorang lelaki dewasa loh.
__ADS_1
Sudah bisa di pastikan sampai tujuan si sopir taksi akan langsung pulang menemui istrinya... Mau ngapain??