Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
suara Suara Cinta Kita


__ADS_3

Bintang melajukan mobilnya ke ABIN cafe, rindu juga kan dengan cafenya itu. Sedang Habiba langsung menuju kelas.


Ada Tari yang sudah nangkring di taman depan kelas, tumben tumbenan berangkat awal.


"Assalamu'alaikum" Habiba langsung menempatkan diri di samping adik iparnya.


"Walaikumsalam Biba..." Sahut Mentari spontan.


"Upps sorry.. Kakak maksudnya" Manis sekali ini Mentari dengan tangan mengatup di depan dada.


"Biasa ajalah... " ujar Biba turut membuka buku, karena semalaman ia tak sempat membuka buku.


"Mana boleh begitu??" Ucap Mentari, niatnya ingin menggoda..


"Boleh... Tariiii..." Biarkan Mentari yang tetap memperhatikan.


"Jangan ganggu gue belajar Tar..." Langsung paham kan namanya pengantin baru, ia pun memilih untuk kembali belajar.


Jadi sebenarnya setelah pulang Tari langsung memeluk guling tanpa berganti baju, cuci mukapun tidak. Ah kasihan Mentari ini, abangnya lagi seneng seneng ma istrinya, dia kebagian lelahnya.


"Woy..." Calon gagal belajar sepertinya.


Dengan senyum di manis manisin, Eka sudah berdiri di depan Habiba dan Tari.


"Eko... Bisa gak minggir dulu. Gue belum belajar nih" Ketus Tari, sangat paham dengan kelakuan Eka, hebatnya Eka malah duduk nyempil diantara Tari dan Biba.


"MasyaAllah Ekoooo,,, lo mah..." Mentari sudah mengangkat tinjunya, berharap ia akan lupa diri.


Lumayankan peregangan otot tangan.


"Kalian lagi berantem, kok nunduk seh?" Huh, maksud pertanyaanya apa coba? Jelas loh itu dia lihat mereka berdua sedang membaca buku.


"Kita lagi belajar Ekaaa..." Ujar Habiba, berharap bocah satu ini gak bikin rusuh.


"Kalian kan pinter, ngapain belajar coba. Gue yang oon aja gak belajar..." Luar biasa, pengakuan yang hakiki!!


"Ekooo... Lo mau diem apa gue jilat...Lumer lo" Ini si Tari kayaknya lagi PMS, sayangnya Eka malah tertawa dengan ucapannya itu. Habiba saja sampai tersenyum geli melihat reaksi Mentari.


Dibalas Eka menjilat bibirnya sendiri, ngadi ngadi kan nantang Tari. Seru loh ini kalau Tari sampai khilaf.


Mentari menutup wajah Eka dengan bukunya yang tebal, "Gue gemez ya sama kelakuan lo, gue baru sempet buka buku ini..." Semakin semangat Mentari ngunyel ngunyel muka Eka, siapa tahu berubah mirip barbie.


'Gak abangnya gak adeknya sama sama bikin geleng geleng' Habiba masih asyik aja nonton kelakuan Tari dan Eka. Ia pun lupa meneruskan belajarnya. Pasrah!!


"Masuk... Dosennya lagi menuju kelas" Ucap Habiba yang bangkit menuju kelasnya, diikuti kedua kurcaci yang masih saja berdebat. Amazing!!


Quiz sudah selesai, Habiba masih duduk dalam kelas, begitupun juga dengan Mentari.


"Biba... Eh kak Biba. Udah ngabarin abang?" Habiba menggeleng, mana sempet dia ngabarin, quiz nya saja baru selesai.


"Abang kamu lagi ngafe" Jawab Habiba.


"Kabarin abang, biar gue yang anterin" Merasa jika Habiba memang belum tahu jika abangnya punya usaha cafe.


"Lama, biar aku yang telepon abang" Langsung mengambil ponselnya dan menghubungi abangnya.


Tuuutt tuuutt


"... " Bintang.


"Walaikumsalam bang, masih di cafe?" Mentari masih melirik kakak iparnya.

__ADS_1


"... " Bintang.


"Biar Tari yang anter Biba ya... Eh kakak maksudnya" Kekeh Mentari, maklum mulutnya masih belum terbiasa.


"..." Bintang.


"Iya, Tari tadi bawa mobil. Kan supirnya sudah pindah majikan" Ujar Mentari menahan senyum. Biarlah abangnya mencak mencak, toh jauh disana.


"..." Bintang.


"Iya abang, Walaikumsalam" Mentari menatap Habiba menggoda.


"Ayo, gue anter" kini giliran Habiba yang mengekor Mentari.


"Habiba.." Suara berat seorang lelaki menghentikan langkah mereka.


"Assalamu'alaikum Habiba" Habiba menunduk, bahkan memundurkan langkahnya saat laki laki itu berdiri di hadapannya.


"Walaikumsalam" Jawab Habiba, Mentari memindai wajah laki laki itu yang juga merupakan mahasiswa disana.


"Habiba... Gue Affan" Ucap laki laki yang bernama Affan.


"Boleh bicara sebentar?" Ucapnya meminta izin.


"Silakan disini saja, aku mau ke ruang administrasi" Ujar Habiba, yang kini menggandeng lengan Mentari.


Dengan tenang Affan berbicara dengan Habiba, Mentari sebagai saksinya. Sebelum akhirnya mereka meninggalkan Affan dan juga kampus.


"Tumben, bawa mobil?" Tanya Habiba, duduk nyaman samping Mentari.


"Terpaksa gue, gak ada yang jemput" Habiba menggeleng dengan alasan Mentari, padahal biasanya dia juga naik ojol.


"Tar... Biar nanti gue yang cerita sama abang lo" Mentari mengangguk paham, ia paham itu bukanlah ranahnya ikut campur.


"Eh sorry maksud gue kakak..." Memberikan senyuman menggoda.


Tak berapa lama Tari memarkirkan mobilnya di depan ABIN cafe, lalu turun bersama Habiba.


"Mas Bintang disini?" Tanya Habiba penasaran.


"Iya. Yuk masuk!!" Ajak Mentari bergandengan dengan Habiba. Karena filosofinya Truk aja gandengan ya gak seh? hehehe.


"Mbak Tari, kata mas Bin diminta tunggu sebentar" Ucap salah seorang pegawai cafe.


"Iya, makasih kak" sahut Mentari sopan.


"Mba, aku pesen minum dong yang seger. Biar abang yang bayar" Ujar Mentari, dan pelayan itu mengangguk tersenyum.


"Mas Bintang, kerja disini Tar?" Mentari hampir saja menyemburkan tawa, kurang ajar banget kan abangnya, istrinya sampai gak tahu pekerjaannya.


"Biba.. Eh kak, emang gak nanya abang itu kerja apa?" Makin melongo ini Mentari karena gelengan cepat Habiba.


"Amazing ya ini, terus nanti mau dikasih makan pasir?" Tanya Mentari menyelidik.


"Udah ngobrolnya?" Bintang sudah duduk di samping Habiba.


Habiba meraih tangan Bintang dan menciumnya Takzim.


"Assalamu'alaikum mas" Ucap Habiba, masih menunduk.


"Walaikumsalam, Kalau di hasut adik ipar gini jangan mau ya" Lembut Bintang, melirik Mentari yang terkekeh.

__ADS_1


"Iya mas" patuh Habiba.


"Permisi, silakan diminum mbak..." Ucap seorang pelayan, setelah meletakkan dua minuman di atas meja.


"Tar, nanti bilang ke bunda dan ayah ya. Sore ini abang pindahan ke rumah" Ucap Bintang.


"Yes, aku bisa belajar sama Habiba dong.. Eh kak Biba maksudnya" Girang Mentari yang hanya sesaat. Kasihan kasihan!!


"Mana bisa, abang pindah ke rumah yang dulu ayah belikan, di daerah deket sini" Mana mungkin kan pengantin baru mau di ganggu. Haaah!!


Bintang mengajak Habiba untuk berkenalan dengan para pegawainya, dari dapur hingga yang bertugas melayani.


"Perhatian ya... Perkenalkan ini Habiba, istri saya. Tolong kalian hormati dan layani saat istri saya saat kesini" Habiba terkejut dengan pengumuman Bintang.


Begitu juga dengan para pegawai cafe nya.


"Mas Bin, benaran sudah menikah? kapan?" Tanya pegawai bernama Baby.


"Patah hati dong aku ini..." ucap seorang bernama Arin penuh drama.


"Huuuuu... " Sorak yang lain bersamaan, membuat riuh sesaat.


"Hadeuh, kalian ini!" Ucap Bintang, merasakan suasana kekeluargaan.


"Ini untuk Arin... Karena sukses buat istri saya jeleous" Auto nyengir ini Arin, dapat lembaran merah selembar. Dan yang lain meronta dalam angan.


Habiba hanya mesam mesem di balik cadar, suaminya sungguh mengejutkan.


Habiba pulang bersama Bintang, dan Mentari pulang sendiri. Tubuhnya butuh istirahat tambahan.


"Assalamu'alaikum" Ucap Habiba, tampak Uma sudah pulang.


"Walaikumsalam..." Jawab Uma, melihat putri dan menantunya memasuki rumah.


"Biba, ajak suamimu makan dulu" Tutur Uma mengingatkan.


"Bintang dah makan tadi di cafe Uma" Potong Bintang, karena Biba menatapnya seolah bertanya. Semoga tetap peka ya babang...


"Ini Uma, semoga suka" Bintang memberikan dua kantong berisi makanan. Sering seringlah suap mertua biar makin disayang. uupppsss!!!


Bintang dan Habiba naik ke kamar, membereskan beberapa barang keperluan Habiba, karena sebelum maghrib mereka akan pindah ke rumah Bintang.


"Mas, jangan buat aku jantungan" Lirih Habiba karena Bintang sudah memeluknya dari belakang.


"Cadarnya dilepas dulu dong, rugi kan aku gak bisa lihat wajah kamu" Bisik Bintang tepat di samping telinga Habiba.


Langsung Habiba melepas cadarnya, tak baik menolak keinginan sang suami.


"Mas... Jadi pindah gak?" Bintang makin ngedusel dusel leher Habiba yang masih tertutup kerudung.


Bintang membalik tubuh istrinya agar saling berhadapan. Merengkuh pinggang Habiba, "Mas..." Lirih Habiba.


"Iyaa... h" Terus mendekat ke bibir ranum Habiba.


CUP


Bintang hanya mengecup sekilas bibir ranum Habiba, tak perlu terlalu lama karena belum saatnya menikmati hidangan utama.


"Takut kedengeran Uma dan abah" Ucap Bintang nakal. "Suara suara cinta kita" imbuh Bintang sedikit mend*sah.


"Mas..."

__ADS_1


"Apa sayang?"


"Kamu nackal.."


__ADS_2