Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
23. Gagal karena Kegaduhan


__ADS_3

Hari semakin siang, sebentar lagi akan masuk waktu Zuhur. Abah Ahmad masih menunda Bintang dalam memenuhi syaratnya.


Sengaja atau gimana ini si abah, perasaan sudah resah gelisah air ludah pun semakin pahit mirip empedu.


Bintang kini masih duduk bersama ke empat sahabatnya, kelima pemuda keren bin kece yang kini menunjukkan kelasnya.


Semua memakai pakaian rapi dan sopan, tak ada aksesoris berlebihan yang menempel, tak ada baju baju kurang jahitan. Tampan paripurna.


"Bin, santuy dong! Nervous banget kaya mau malam pertama" Aesthetic sekali babang Ryan kalo ngemeng. Subhanallah!


"Diem onyet, bikin ketampanan gue berkurang aja lo" Bukan babang Bin yang menjawab, melainkan Rado. Yang sedari tadi celingak celinguk nyari calon jodoh.


Mungkin bang Rado lupa, ini tuh di pondokkan putra.


"Lah situ ganteng??" Sarkas Ryan. Ketiga temannya hanya menghela nafas kasar.


Ini nih repotnya kalau bawa pasukan sangat beradab.


"Udah deh, gak enak tuh dilihat para santri. Mau gue pondokkin di mari?" Wajah Bintang yang sedikit pucat, malah berubah merah padam.


"Bin, coba deh di bikin tenang. Kasihan Habiba kan kalo lo gagal. Habintang end!" Reno si bijak mulai angkat bicara.


Abaikan saja Ryan dan Rado yang masih berisik sendiri.


"Eheeemmm" Suara deheman dari belakang mereka.


Abah menghampiri kelima pemuda itu.


"Siapa yang bersedia menjadi imam sholat?" Tanya abah meminta kesukarelaan. Siapa tahu kan ada yang senang hati menawarkan jasa imam.


DEG


Ah wajah babang Bin berubah layaknya kanebo kering. Telunjuk keempat teman lucknut nya mengarah padanya. Benar benar sahabat sejati.


Mereka semua beriringan menuju masjid pesantren.


Ayo lihat wajah Fathan dan Reza yang berdiri di barisan paling belakang, Reza hanya tersenyum dengan ulah kelima pemuda itu. Abahnya suka sekali membuat kejutan.


Fathan menghela nafas panjang, bisa bisanya adiknya mampu luluh hanya karena rupa menawan Bintang.


"Kita tidak tahu isi hati seseorang, jangan hanya menilai dari mata. Siapa tahu mereka lebih baik dari kita yang merasa menguasai ilmu agama" Ujar Reza, Fathan mengangguk enggan membantah sang kakak.


Bintang dengan rasa berdebar, mencoba tetap tenang. Melihat abah yang malah tersenyum simpul.


'Abah aku pengennya jadi imam putrimu' Batin Bintang.


"Belajar menjadi imam sholat dulu, imam dalam rumah tangga jauh lebih berat" Ucap abah.


Bintang melongo dong, ucapan abah seperti menjawab kata hatinya. Gak mungkinlah abah ini cenayang atau ahli supranatural.


"Yaa Allah, pesantren kita kedatangan para gus muda" Celetuk seorang santriwati.


Jelas ini matanya jelalatan, karena jalur ke masjid antara santriwan dan santriwati itu jauh.


"Mana mana?" timpal yang lain.


"Mau salah satu Yaa Allah" Ucap yang lainnya.


Haisssshhh benar benar menunjukkan jiwa remaja mereka. Maklum mereka juga masih belajar, termasuk belajar menjaga pandangan dari babang babang tamvan.


"Yaa Allah, anak anak uma sudah besar ya" Kelimpungan kan mereka mendengar suara uma, yang pastinya melihat aksi memikat mereka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Uma" Ucap ketiganya, meraih tangan Uma bergantian.


Di belakang uma ada Zahra, Habiba tentu bersama Mentari.


"Kalian ini suka sama abang abang gemez ya?" Zahra benar benar to the point. Wajah ketiganya tertunduk menahan malu. Uma hanya geleng geleng dengan kelakuan para santriwatinya.


Habiba menatap Mentari gemas, gadis itu malah cengar cengir menggoda Habiba.


"Damage nya bener bener kan abang gue" Bisik Mentari.


"Auwwww Biba sakittt!" Pekik Mentari, Sebuah cubitan sayang Habiba mendarat manis di perut rampingnya.


"Kalian juga cepetan ke masjid!" Titah Uma.


"Baik Uma" Jawaban kompak kedua gadis itu. Zahra malah memasang mimik gemas di belakang Uma.


"Mbak Zahra menang banyak" gumam Habiba, yang di setujui Mentari.


**


"Allahuakbar..." Takbiratul ihram pertamapun terdengar merdu sedikit bergetar.


Setelah pembacaan doa sholat selesai, abah meminta Bintang duduk di sampingnya.


"Nak Bintang apa kamu sudah siap?" Tanya abah. Bintang hanya mengangguk samar, jemarinya malah asyik memilin ujung kemejanya.


Teman teman Bintang saling berpandangan, tidak menyangka jika Bintang harus menghafal di depan para santri.


Mata Rado melihat Reno seolah bertanya, sedang Reno hanya menggedikkan kedua bahu.


"Santai saja" Ini Fathan yang buka suara, ia pun ingin tahu kualitas calon adik iparnya.


Sedang Mentari menatap Habiba tegang. Zahra bahkan sudah menggenggam tangan adik iparnya. Wajah Habiba yang tak tertutup cadar nampak memerah.


Bintang menghirup udara sebanyak banyaknya, bila perlu ia akan meminjam paru paru dari kantong doraemon.


"Saya siap" tegas Bintang. Kini malah keempat sahabatnya yang menghembuskan nafas panjang.


"a'udzu billa hi minasy syaitho nir rajim" Bintang mulai membaca Ta'awudz untuk mengawali bacaannya.


Tiba tiba wajah mbah Hasyim dan nasihatnya melintas dalam ingatannya.


"Mas Reza boleh minta air minum?" Tanya Bintang, setelah kurang lebih 15 menit melafalkan isi surah Ar-Rahman.


Babang Bin ini tersendat loh ya, tidak terlalu lancar. Cara bacanya pelan tidak seperti saat ia bernyanyi.


"Bin, habiskan" Reza menyodorkan sebotol air mineral.


"Terimakasih mas" Tulus Bintang, kemudian meminum hingga habis setengah botol.


"Haus?" Tanya Reza full senyum.


"Sangat mas. Ada manis manisnya geto" Sahut Bintang, masih dengan suara lirih.


"Nak Bintang, jika sudah siap yang kedua, silakan dilanjut" Ucap abah. Bintang mengangguk.


"Shadaqallahul-'adzim'" Kalimat yang sangat Bintang tunggu untuk di ucapkan. Akhirnya selesai juga untuk surah Al Mulk nya.


Bintang menunduk, air matanya luruh membasahi wajah tampannya.


Ke empat temannya merangsek maju memeluk Bintang. Memberi kekuatan karena ini pasti menekan mental Bintang.

__ADS_1


"Good job Bin" Ucap Reno.


"Sohib gue" sambung Ryan.


Rado dan Bryan malah turut meneteskan air mata.


"Lo yang baca gue yang engap" Kini giliran Brian yang berceloteh.


Mereka seakan tak perduli menjadi tontonan ribuan santri.


Fathan memberikan sekotak tisu, gak lucu kan kalo mereka terus menangis. Lebih gak lucu kalau ada cairan hidung yang mewarnai wajah cool mereka.


"Terimakasih atas usahanya nak Bintang" Ucap abah, mengalihkan atensi mereka yang berada dalam masjid.


Tak terkecuali untuk Habiba, Mentari dan Zahra. Ketiga wanita itu ada di shaf paling belakang, sedang Uma bersama ustadzah yang lainnya di shaf depan.


"Diterima gak ya??" Zahra mulai menggoda adik iparnya.


"Mbak..." Rengek Habiba, telapak tangan gadis itu terasa dingin.


"Kalo jodoh tidak akan kemana sayang" Zahra memeluk Habiba hangat.


Mentari masih memejamkan mata, kedua tangannya masih bertaut melepas kekhawatiran.


"Abah, maaf... Saya merasa tidak pantas untuk Habiba" Bintang semakin menunduk.


Para santri disana hanya menjadi penonton live, bukan penonton bayaran loh ini.


"Untuk apa kamu susah susah menghafal?" Tanya abah lembut.


Ini abah nyidang anak orang di depan umum, kan bisa malu kalau di tolak.


"Saya niatkan untuk menikahi Habiba karena Allah" jawab Bintang. Ia sendiri ragu dengan susunan kata kata nya.


"Bukan semata mata karena Habiba?" Tanya abah menelisik kejujuran dari sorot mata Bintang.


Mata tak pernah bohong, lain dengan lidah yang tak bertulang.


"Saya pernah melamar langsung Habiba, saya melamar melalui abah dan Uma. Dan terakhir..." Bintang belum mampu melanjutkan ucapannya.


"Yang terakhir?" Kini Reza yang gemas dengan jawaban Bintang.


"Saya meminta Habiba pada pemilik nyawanya" ucap Bintang.


DEG


Bukan hanya Habiba yang tergetar hatinya, melainkan para santriwati yang mendengar jawaban babang Bintang.


"Mau satu Yaa Allah" ucap lantang salah seorang santriwati.


"huuuuhhh" teriakan para santriwati lain.


Belum sempat abah menjawab kegaduhan malah terjadi di barisan para santriwati.


Mereka tak menyadari jika Habiba berada di sana.


Wah... Luar biasa bukan para santriwati ini. Meresahkan!


Abah menepuk bahu Bintang, kegaduhan sudah mampu teratasi tanpa perlu mengeluarkan gas air mata.


"Bawa kedua orang tuamu dan kita bicarakan tanggalnya" Ucap abah lirih, hanya di dengar Bintang.

__ADS_1


Abah memutuskan membubarkan Majelis tanpa pengumuman. Rencana beliau gagal karena kegaduhan para santriwati.


__ADS_2