
Bintang kini berada di sebuah butik milik tantenya, yang tak lain adalah ibunda Shanum.
"Gak nyangka loh si abang bakalan cepet nikah" Ujar Andriana, senyumnya mengembang.
Andriana sudah heboh memilihkan baju untuk Habiba yang telah ia kirim via ojek online.
"Tante yang simple aja lah" Ujar Bintang, tantenya ini terlalu menyayanginya.
"Bintang biarkan tante Andriana yang pilihkan" Bunda Sara menginterupsi, waktu tidak akan cukup jika mereka berdebat.
Drrrttt
Drrrttt
"Assalamu'alaikum Do" Sahut Bintang.
"..." Rado.
"Thanks Do. Muachh" Bintang ini membuat kedua wanita di hadapannya merasa geli.
"..." Rado.
"Hahaha maaf Do, kan gue sayang sama lo" Tertawanya sumbang nih babang Bin.
"..." Rado memutuskan sambungan telepon. Mungkin ia hendak muntah karena mendapat ciuman dan pernyataan sayang dari Bintang.
"Eh Walaikumsalam" Bintang geleng geleng menatap gelapnya si layar ponsel. Yang penting masa depan cerah lah yaaa!
"Bunda, Rado sudah booking abang abang kaki lima untuk prasmanan nanti malam" Jelas Bintang santai.
"Terus yang lainnya gimana Bin?" Tanya bunda Sara yang merasa cemas.
"Bintang gak tahu bun" Wajah bunda Sara merah padam mendengar jawaban Bintang.
PLAK
Ini tangan penuh kasih sayang bunda otomatis kan langsung bergerak bebas menuju lengan Bintang.
"Auw... Bunda... Ini bajunya lecek" Tante Andriana semakin pusing dengan kelakuan ibu dan anak. Sangat kompak!
Drrrttt
Drrrttt
"Calon mantu bunda" Wajah bunda berubah ceria melihat layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum sayang" Sapa bunda sangat amat lembut. Oh yaa Latif!
"..." Habiba.
"Alhamdulillah, itu dari tante Andriana. Nanti kenalan disana ya?" Ujar bunda semakin girang.
"... " Habiba.
"Oke sayangnya bunda, no tante tante" Ujar Bunda Sara.
"..." Habiba.
"Walaikumsalam sayang" Jawab bunda, kemudian menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Driana, baju yang kamu pilihkan cocok dan pas kata Habiba. Makasih banget ya" Tulus bunda Sara yang merasa sangat bahagia.
Ketidakrelaan melepas sang putra kini berubah menjadi rasa bahagia.
"Awas ya kamu nyakitin Habiba, bunda kasih makan piranha!" Keren kan ini bunda, sukses membuat abang menganga bahkan Andriana sudah terkekeh geli.
Dua karakter berbeda antara bunda Sara dan tante Andriana. Ah indahnya tante tante!
"Mbak Sara, kasian loh ini si abang ganteng. Masa iya mau di kasih makan piranha" Ucap tante Andriana.
"Eleuh kamu itu dari dulu belain Bintang mulu" Kesal bunda Sara.
"Sudahlah mbak Sara, siap siap lagi. sudah gak sabar ketemu calon mantu" Bunda Sara hanya menghela nafas panjang, lupakan saja Bintang yang malah lari ke dalam toilet.
**
"Kalian ini tidak memberitahukan Bintang?" Tanya mbah Hasyim.
"Baru tadi mbah, biar surprise" Ujar Reza, Habiba sudah di bawa Zahra dan Uma ke dalam kamarnya.
"Pantas saja ia kaget, Habiba juga baru tahu alasannya?" Mbah Hasyim menggeleng dengan kelakuan abah Ahmad dan Reza.
"Ia kami hanya melarang Habiba agar tidak menyapa mbah, jika sedang bersama Bintang" Ucap Reza terkekeh.
"Anggap saja itu tantangan untuk Bintang dan Habiba" Imbuh Reza, Benar benar kan ini mas Reza sukanya memberikan ujian diam diam.
Flashback On
Malam itu semakin larut, abah tetap harus menemui mbah Hasyim, beliau hanya pergi berdua bersama Reza.
"Reza, mundurkan mobilnya dulu" Titah abah.
"Reza, itu motornya Bintang kan?" Tanya abah menunjuk ke arah motor yang terparkir.
"Kayaknya bah, apa mbah kenal dengan Bintang?" Ujar Reza penasaran.
"Bah, itu Bintang keluar dari rumah mbah" Imbuh Reza semakin menajamkan penglihatan.
Setelah motor Bintang melaju, Mobil Reza pun memasuki halaman rumah mbah Hasyim. Cita cita detektif yang tertunda.
"Assalamu'alaikum mbah" Ucap Reza menyalami kakeknya. Disusul dengan abah Ahmad.
"Walaikumsalam, Ayo langsung ke dalam"Mbah Hasyim menepuk pundak Reza.
"Kenapa tadi parkir disana?" Tanya Mbah Hasyim. Ah ah ah ternyata sudah ketahuan dari netra senja mbah Hasyim.
"Mbah sehat?" Tanya Reza yang langsung duduk tanpa diminta.
"Alhamdulillah, istimewa" Jawab mbah Hasyim.
"MasyaAllah mbah, mirip anak sekolahan zaman now" Kekeh Reza, gaul juga mbah Hasyim kan.
"Mbah, Zaskia kemana?" Abah kini yang menanyakan keberadaan sang adik.
"Sedang mengantar Ali ke pondok" Jelas mbah Hasyim.
"Mbah ikut kami saja" Pinta abah Ahmad, merasa tak tega dengan ayahnya yang seorang diri.
"Besok besok saja, mbah besok ada acara di dekat sini" Tolak mbah Hasyim, dengan senyum meyakinkan.
__ADS_1
"Mbah tadi siapa yang naik motor gede itu?" Tanya abah menelisik.
"Itu Bintang, tadi kami bertemu di masjid" Tutur mbah Hasyim.
"Pemuda itu yang melamar Habiba mbah" Terang Reza yang tak ingin berbasa basi.
Kasihan kan ini mbah Hasyim kalau diminta mikir.
"MasyaAllah, ternyata yang Bintang perjuangkan cucu mbah yang solehah" Tutur Mbah Hasyim haru.
"Kamu yakin memberi syarat itu padanya?" Mbah Hasyim kini memandang putranya.
"Iya mbah" Jawab abah Ahmad.
"Kemungkinan kamu akan menerimanya sebagai menantu" Abah Ahmad terkejut dengan penuturan mbah Hasyim.
"Mungkin mbah, karena nak Bintang juga pernah membantuku dua kali mbah. Tapi Saya tidak bisa hanya karena balas budi menyerahkan Biba pada sembarang laki laki" Reza kini yang terbelalak kaget, mbah Hasyim hanya mengangguk dan menyimak.
"Apa Bintang mengungkit atau pernah membicarakan pertolongan yang ia berikan?" Tanya mbah Hasyim memastikan.
"Sejauh ini belum mbah" Jawab abah Ahmad.
"Berarti kamu tahu jawabannya Mad, dia lelaki seperti apa" Lugas mbah Hasyim. Abah malah diminta berpikir kan.
"Iya mbah" Singkat abah, paham.
"Bagaimana menurut mbah?" Lanjut abah Ahmad, meminta kepastian dari pandangan mbah Hasyim.
"Bagaimana menurut Habiba, cucu mbah" Ucap mbah Hasyim menanyakan keputusan Habiba.
Ini Habiba gak ikut loh mbah, atau ada hologramnya?
"Aku juga cucu mbah loh" Reza menimpali, menggoda mbah Hasyim yang mengistimewakan Habiba.
"Kamu ini suka sekali iri dengan Habiba, apa mau jadi perempuan?" Mbah Hasyim malah terkekeh dengan kelakuan Reza.
"Nak Bintang melamar Habiba tiga kali" Ujar abah Ahmad, akan panjang jika menanggapi Reza.
"Wah keren Bintang" celetuk Reza, ia tak menyangka Bintang semangat membara.
"Dari pandangan mbah, dia anak yang mau belajar. Sepertinya juga ia menyesali karena belajar menghafal demi perempuan" Jelas mbah Hasyim, mengutarakan pandangannya.
"Apa? Dia menyesal memperjuangkan Habiba? kurang ajar!! " Sepertinya mas Reza salah pendengaran, atau terlalu semangat. Entahlah!
"Reza, maksudnya nak Bintang menyesal karena menghafal ayat Allah demi seorang hamba, bukan Lillahita'ala" Nyengir kuda kan mas Reza, gemez deh!
"Astaghfirullahalazim, Reza terlalu semangat mbah. Gak rela kalau Habiba buat mainan!" Ngeles penuh kejujuran Reza.
"Tidak masalah jika bukan dari kalangan alim ulama, dari kalangan pesantren. Manusia itu wajib belajar dimanapun dan punya niat untuk belajar lebih baik, belum tentu yang mempelajari teori agama sedari kecil akan dipandang tinggi sama Allah. Lihatlah kesombongan iblis yang Allah keluarkan dari surga, hanya karena ia merasa lebih tinggi, lebih taat, lebih segalanya. Ilmu yang iblis miliki tidak disertai dengan adab, Karena dengan adab engkau akan memahami ilmu. Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu bakar" Tutur mbah Hasyim panjang kali lebar hingga membentuk segitiga. Eh!
Setelah perbincangan dengan mbah Hasyim, dan mendapat siraman rohani Abah dan Reza berpamitan pulang. Hari sudah semakin larut.
Mbah Hasyim keukeuh tak ingin turut serta, hanya menitipkan pesan agar Habiba selalu istikharah sebelum benar benar menerima pinangan Bintang.
"Mbah jangan lupa, jika bertemu Bintang dan Habiba sedang bersama, pura pura tidak kenal" Ide Reza yang luar biasa.
"Itu ujian diam diam untuk mereka berdua" Imbuh Reza penuh drama.
Flashback Off
__ADS_1