
KLUNTING
Sebuah notif pesan masuk, mengalihkan atensi Habiba dari layar laptop.
"Mentari?" Gumamnya, kemudian membuka sebuah foto yang Tari kirimkan.
'Keluarga yang hangat' pikirnya menilai foto dalam ponsel nya.
Belum lagi membalas sebuah pesan kembali masuk.
Mentari
Semoga benar ada kamu di sini
Sebuah pesan singkat, meski terkesan ambigu namun cukup untuk menerbitkan sebuah senyum.
Habiba
Hehehehe
Mentari tak lagi membalas, ia akan turut menikmati kebersamaan bersama kakaknya.
Hari semakin larut, Habiba masih duduk di depan laptopnya. Ada beberapa tugas kuliah yang tertunda.
KLUNTING
Habiba melirik ponsel disampingnya, nomor yang tak bernama namun cukup ia kenali.
+62***********
Assalamu'alaikum Bidadari Habintang
Apa benar kamu menerima lamaranku?
Habiba
Walaikumsalam
Apa mas Bintang ragu?
+62***********
Iya aku ragu
Takut jika itu membebanimu
Habiba
Jika ragu istikharah saja
Aku sudah menyerahkan semua pada yang maha Kuasa melalui abah dan uma
+62***********
Biba, nikahnya minta dipercepat saja ya
Habiba
Sudah malam, selamat istirahat
Assalamu'alaikum calon imam
Wah jingkrak jingkrak gak tuh babang Bintang, pesan calon imam saja membuatnya melayang, gimana kalau Habiba nya mengirim pesan calon ayah. Haissshh bisa nyangkut di pohon kencur.
Habiba menutup layar laptopnya, ia merasa geli sendiri dengan pesan yang ia kirimkan.
"MasyaAllah, rasanya sulit dijabarkan meski dengan rumus aljabar" gumamnya tersenyum.
"Hekkhemm" Suara Deheman membuat Habiba tersadar jika di kamarnya sedang ada penghuni lain. Yang tak lain adalah Zahra.
__ADS_1
"Mbak Zahra koq bangun?" Tanya Habiba yang masih terduduk di kursi meja belajarnya.
"Mbak mendengar nyanyian" sahut Zahra asal. Biba mengernyit seolah bertanya, ia tak mendengar suara apapun.
"Nyanyian suara hati, yang lagi jatuh cinta" Kekeh Zahra, melihat wajah Habiba yang memerah, membuatnya semakin semangat menggoda Habiba.
"Idih mbak Zahra, normal banget pendengarannya, melebihi kelelawar" Habiba mendekat dan naik ke ranjang yang sama dengan Zahra.
Zahra ini lucu, padahal kamar suaminya juga nganggur. Ia malah nangkring di kamar adik iparnya, pasti ada modus dibalik kardus.
"wah...Suaranya dari dalam dada kamu Biba" Benar benar kan penuh drama. Dengan mata terbelalak dan mulut yang menganga. Sempurna!!
"Mau telepon mas Reza lah, biar dipaksa balik ke kamar mas Reza" Ancam Biba, Zahra malah menertawakannya gemas.
"Gemes banget seh ini adek gue" Zahra makin menarik narik kedua pipi Habiba.
"Sakit tauk mbak" Rajuk Habiba,
"Mbak sudah malam, tidur iiih" Kesal Biba, kakak iparnya ini benar benar suka menggodanya.
"Ayok tidur, mbak kelonin dulu ya. Besok besok mas Bintang yang ngelonin" cerocos Zahra, membuat Habiba makin mesam mesem menahan malu.
"Yaa Allah, mbak modusin mas Reza aja, malah modusin aku" Ujar Habiba yang lengannya sudah di peluk Zahra.
"Kalau sama mas Reza, mbak yang dimodusin, hehehe" Mulai gesrek kan mbak Zahra.
Ini sudah hampir tengah malam loh ya, tetapi kedua wanita itu malah masih guyon. Ah.. . Mungkin menemani miss ukun begadang.
**
Habiba sudah rapi, begitupun juga Zahra. Bahkan kini Zahra sedang membantu Uma di dapur, meski tak pandai masak Zahra cukup lihai dalam menata makanan.
"Ning Zahra" Tutur Uma memanggil menantu satu satunya itu.
"Zahra saja Uma" Uma tersenyum, ia selalu lupa jika menantunya ini tak ingin di panggil dengan embel embel 'ning'.
"Sengaja Uma, ngejagain Habiba" Ucap Zahra, Uma tersenyum dengan kelakuan menantunya itu.
"Mbak Zahra cuma godain Biba Uma" Ucap Habiba dari belakang Uma.
"Kalian itu semalam berisik sekali, lagi lomba ngaji?" Ucap Uma, hafal betul jika Zahra dan Habiba selalu ramai jika bersama.
"Bukan Uma, Zahra hanya mengawasi Biba yang senyum senyum sendiri" Zahra terkekeh, ditambah semburat merah di pipi Habiba semakin membuatnya semangat menggoda adik iparnya. Zahra nackal!
"Astaghfirullahalazim, Uma lupa.. " Uma memandang Habiba penuh haru.
"Uma jangan menatap Habiba begitu" Rengek Habiba.
"Nanti selepas kuliah langsung pulang" Titah Uma, "Keluarga nak Bintang mau kemari menentukan tanggal" imbuh Uma.
"Iya Uma" patuh Habiba. Sedikit melirik Zahra yang masih cengar cengir, meski mulutnya diam namun mimik wajah Zahra sungguh meresahkan.
"Lusa saja Uma" celetuk Zahra. Iya kan Zahra bener bener usil binti jahil.
"Jika Bintang dan Habiba mau, daripada lirik lirikan" Nah, Uma malah ketularan Zahra.
"Nanti malam juga gak papa Uma" Abah berdiri di pintu dapur, wajah tuanya tampak segar.
"Abah dan Uma ketularan mbak Zahra, suka banget godain Biba" Ujar Habiba menahan malu.
"Biba, kamu gak ada kelas pagi?" Tanya Zahra tiba tiba, menunjukkan jam di lengan kirinya.
"Astaghfirullahalazim mbak" Pekik Habiba, menepuk jidatnya.
**
Bintang sedang mengantar Mentari ke kampus, ia juga ingin bertemu dengan calon istrinya. Ahhh manisnya!!
"Tar, Biba di kampus ada yang deketin gak?" Tanya Bintang.
__ADS_1
"Mana ada yang berani bang" Sahut Mentari. "Tari juga bingung, koq abang berani seh?" Lanjut Tari.
"Gak tauk, abang dah mentok aja ma Biba" Jawaban Bintang membuat Tari bingung.
"Maksudnya, gak bisa belok gitu?" Bintang menghembuskan nafas kesal dengan pertanyaan Tari.
"Kamu pikir ini jalan masuk gang? sampai gak bisa belok bahkan puter balik" Cerocos Bintang.
"Ya terus?" Makin kesel kan babang Bintang, adik cantiknya ini sedikit lola.
"Abang pengen nikahin dia Tari, takut di tikung orang" Jelas Bintang.
"Oooohh" Asyiknya ini Mentari malah ber oh ria.
Bintang enggan bertanya lagi, adiknya ini nampak masih mengantuk karena ia semalam pulang hingga cafe tutup.
"Bang, mau nikahnya kapan?" Tanya Mentari, yang mulai kepo. Sayangnya Bintang hanya menggeleng.
"Lah bunda gak kasih tau?" Lagi lagi Bintang hanya menggeleng sebagai jawaban.
Mobil telah terparkir di depan kampus.
"Tar, abang tunggu sini. kabarin Biba sudah masuk apa belum" Ujar Bintang, sekalian curi curi pandang pada tukang batagor.
"Hemm" sahut Mentari singkat.
Belum ia menutup pintu mobil, ia melihat Habiba yang juga baru keluar dari dalam mobil.
"Tuh anaknya" Tunjuk Tari pada Habiba.
Percayalah wajah Bintang kerlip kerlip kaya ada cahaya lilin.
"Abang saraf matanya copot? koq gak kedip kedip?" Mentari memutar bola matanya jengah, Bintang malah mengusirnya dengan telunjuk.
"Bang, bagi duit" Bisik Mentari sudah kembali duduk.
Bintang mendengus, namun tetap mengeluarkan tiga lembar uang berwarna biru.
"Alhamdulillah, bisa beli cimol depan gang" Riang Mentari, mirip othor kalau dapat duit. hehehe!
Akhirnya Mentari masuk menyusul Habiba, Ini niatnya mau nemuin Habiba malah gagal, yasudahlah!
"Mbak Zahra" Luar biasa Bintang yang tengah berdiri di depan mobil Zahra. Mirip aksi aksi heroik dalam FTV.
Zahra menggeleng lalu memilih membuka kaca jendela mobilnya.
"Hadeuh! Kalau ketabrak batal nikah loh" Bintang menepuk jidatnya, cita citanya malah terlupakan sesaat.
"Kenapa malah cengar cengir?" Heran juga kan melihat Bintang yang cuma nyengir sampai gigi kering.
"Mbak, nanti Habiba pulang sama aku ya" Mohon Bintang, Zahra hanya menggeleng.
"Mana boleh Bintang, kalian belum mahram. Ngadi ngadi kamu ya!" Akting mbak Zahra oke juga kan? Padahal tahu loh bakalan ada Mentari, adik babang Bin.
"Ya ampun mbak, kan sama Mentari juga. Sekalian aku juga mau ke sana.. Boleh ya mba?" Mohon Bintang. Zahra sudah menahan geli dalam perutnya, merasa lucu juga mengerjai Bintang.
"Ah nanti mbak kabarin. Mbak mau pulang dulu, Assalamu'alaikum" Zahra langsung tancap gas tanpa menunggu jawaban Bintang.
"Walaikumsalam mbak" Sahut Bintang lirih.
Yakin nih Zahra tengah terkekeh geli dalam mobilnya, Jiwa iseng seorang Qoriah yang masih bersarang nyaman dalam diri Zahra.
"Astaghfirullahalazim" Ucapnya Zahra.
Bintang pun segera melajukan mobilnya kembali ke rumah, entahlah akan melakukan apa di rumah nanti.
Ia hanya menuruti sang bunda yang melarangnya berlama lama di luar rumah.
Mungkin bundanya takut bang Bin jadi gelap kena sinar matahari.
__ADS_1