Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
NgeMALL


__ADS_3

'Yaa Allah... Apakah Habibiku tengah cemburu?' Tak seperti biasanya sang suami dingin kepadanya.


"Mas..." Semoga saja sentuhan lembut di bahu Bintang, mampu menghilangkan rasa kesalnya.


GREP


Semangat babang memeluk Habiba, bersembunyi nyaman di ceruk leher sang istri.


"Apakah aku punya salah?"


"Kenapa aku merasa di cuekin?"


"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapat maaf dan ridhomu yaa Habibi?"


Sederet pertanyaan Habiba, dirinya begitu resah karena sikap tak biasa dari suaminya.


"... " Hanya mampu menggeleng samar, menghirup aroma tubuh Habiba penuh kenikmatan.


"Habibi... Aku takut dengan diammu" Jujur Habiba, "Aku khawatir padamu, wahai imamku" Imbuh Habiba mengusap lembut surai kecoklatan Bintang.


"Maaf Habibati... Aku hanya cemburu" Lirih Bintang menatap manik bening sang istri.


"Kau sudah menutup seluruh tubuhmu, bahkan hanya aku yang mampu melihatnya" Hemm... Bukannya tenang Habiba semakin resah karena ucapan sang suami.


"Tapi..." Lagi lagi Bintang menjeda kalimatnya, Habiba hanya menunggu suaminya tenang, tak ingin menyela apapun.


"Pakaianmu tak mampu menyembunyikan kecantikan dan pesonamu yang terlalu kuat.. Habiba Arwa Dariya Baizan" Tampak kilau takut dari sorot netra Bintang.


CUP


Senyum mengembang diiringi senyuman Habiba, mencoba menenangkan keresahan sang suami.


"Aku mohon maafkan aku, tadi aku keluar untuk menunggumu" Bintang terkesiap dengan jawaban sang istri.


Sedewasa itukah Habiba?


Ia begitu matang dalam menghadapi kecemburuan sang suami. Semakin bisa menenangkan hatinya karena hormon kehamilan yang berubah ubah.


"Habibi, ridhoi aku dalam setiap langkahku" Ucapnya begitu lembut, jemarinya masih saja bermain nyaman di rahang sang suami.


"Maaf habibati, tak seharusnya aku cemburu, padahal ku tahu kau hanya menungguku... Aku terlalu takut kehilanganmu. Tanpa kau sadari banyak laki laki yang menginginkan dirimu" Ya ampun... Wajah babang sendu berkabut kekhawatiran.


Sekian detik mereka hanya saling memandang, menyalurkan rasa yang berbalut kasih sayang dan cinta.


"Terimakasih habibi, aku bersyukur karena Allah mengirimu menjadi imam yang ku butuhkan" Tulus Habiba mengecup pipi sang suami.


"Allah telah menetapkan namamu dalam hatiku, tidak mungkin bukan ada pemenang lain dalam hati ini. Hanya Abrisham Bintang Pradhana.." Ya ampun senyum Habiba menular pada Bintang, bahkan hatinya bagai kebun bunga yang bermekaran. Damai..


"Habibi... Mari sama sama menuju kepada NYA, dan capai RidhoNYA..." lembut selembutnya, rayuan dari hati yang mampu meluluh lantahkan gunung es sekalipun.


CUP


Tanpa basa basi Bintang menyecap ranum bibir sang istri, menyalurkan syahdu yang menyelusup menaiki puncak kasih sayang.


"Terimakasih ya Habibati... Kamu yang hamil kenapa aku yang cemburu tanpa alasan" Eh... Dari tadi kemana babang?


Paham dong sang istri sudah resah gelisah menanti senyummu yang tak kunjung terbit, jadi mendung loh bang.

__ADS_1


"Dede maafin aby yah... Jangan marah!" Hemmm... Daddy nya kemana itu dek?


"It's okey abby..." Aauuww... Manisnya Habiba yang suaranya mirip bayi tua. Heh!


"Dede... Ajak umi jalan jalan yuk" Lah.. Bang itu alisnya kendor kali yak... Naik turun kaya daster viral.


"Jalan jalan by, kemana?" Tumben banget loh Habiba semangat jalan keluar.


"Umi... Maunya kemana?" Ya Allah melting Habiba, itu suara atau bubur sum sum gula merah.. Koq lembut dan manis.


"Ngikut kemana aby pergi..." Sok romantis banget kan bu ustadzah satu ini.


"Thor... Jangan panggil ustadzah. Oke!"


**


Akhirnya Bintang membawa Habiba ke mall, sekaligus mencari kado untuk sang adik tercinta.


"Tumben nih... Istriku tercinta gak pakai sarung tangan" Hemmm.. Babang baru sadar, Padahal jemari mereka saling bertaut sedari tadi.


"Karena tanganku juga hak kamu... Hak untuk kamu genggam..." Wah... Tidak perlu dengan bahasa puitis melambungkan hati Bintang. Cukup dengan keihklasan.


Akhirnya matahari itu terbit kembali, "Tidak salah jika ayah dan bunda menyematkan nama Bintang..".


"Karena aku terlalu bercahaya..." Kumat over confidence si babang yang tak ada obat.


"Sangat bercahaya di mataku" Ahaaayy.. Kenapa juga Habiba sering ngeluarin ucapan ucapan bernada receh. Ketularan gitu?


Ya ampun, si babang masih suka mandangin Habiba seraya melangkahkan kakinya...


Aduuhh, itu bibir di balik niqob pun tak hentinya tersenyum. Ma Syaa Allah!


Dia ingat loh, baru minggu kemarin suaminya memberikan beberapa baju beserta kerudung serta niqobnya.


"Mas... Tapi minggu kemarin kan sudah banyak" Bukan bermaksud menolak, hanya tidak ingin berlebihan saja.


Ia sudah bersyukur pakaian yang ia miliki tidaklah sedikit, bahkan selalu nyaman dan sedap di pandang mata.


"Ya sudah, kalau begitu pilih lingerie saja. Semua warna yang menyala" Babang... Nakal banget seh, itu di depan karyawan toko loh. Kan malu!


"Auww.. Aduhhhh duh Habibati... KDRT ini" Wajahmu itu loh bang, mulut berucap seolah kesakitan tapi wajahmu penuh kemesuman.


"Mba... Tolong pilihkan baju yang sederhana, berwarna gelap beserta niqob yang sederhana juga. Untuk lingerie biar saya yang pilih" Geli banget loh Habiba.


Meski demikian ia bangga pada suaminya, yang hanya memancang wajahnya walau tengah memberi arahan pada pegawai toko.


Habiba tahu jika sang suami tengah berusaha keras menundukkan pandangannya. Alhamdulillah.


"Mas... Apa tidak berlebihan?" Mereka masih saja bergandengan.


"Tidak, itu nafkahku untukmu habibati. Bukankah kewajibanku?" Tanya Bintang balik, ia hanya berusaha menjadi lelaki terbaik untuk Habiba.


"..." Mengangguk samar.


"Aku tidak tahu sampai kapan kita akan bersama, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk istriku selama aku bisa. Semua sudah aku balik namakan atas namamu" Habiba membola mendengar penuturan sang suami.


Tanpa ragu dan malu Habiba berhambur dalam pelukan sang suami. Banyak rasa yang mengacau hati dan pikirannya. Nakal sekali!

__ADS_1


Hingga seorang pelayan membawa beberapa baju untuk Bintang memilihnya. Semua akan tampak indah di tubuh sang istri.


Wow... Habiba sampai sulit menelan salivanya, Bintang benar benar membeli beberapa lingerie lagi. Yang di rumah mau buat apa coba?


Hadeuh... Laki laki!!


"Terimakasih mbak..." Ucap tulus Habiba, Bintang menunggunya di depan pintu masuk, dia enggan menjadi perhatian pelayan toko dan beberapa pengunjung disana.


'Gue gak kekurangan kasih sayang koq masih pada lirik lirik. Loncat gimana kan tuh bola mata' kesal Bintang.


Ia lebih memilih masuk menghampiri sang istri di kasir, kasihan jika Habiba harus membawa banyak belanjaan.


"Habibati... Sudah? Biar mas yang bawa" Lah babang, gimana gak di perhatiin coba?


Ngomongnya aja sewit banget, di tambah perlakuannya bikin melting. Lah itu tangan ngapa bebas bener ngerangkul perut Habiba, mana di usap usap manjalita.


"Yaa Allah... Sisain satu buat aku lelaki seperti itu"


"Mau dah jadi yang kedua" Selentingan yang membuat Habiba gerah. Astaghfirullahalazim!!


Semua sudah siap di bawa, ada beberapa paper bag di tangan Bintang.


"Biar aku bantu by.." Tak kuasa Bintang menolak permintaan sang istri.


"Boleh..." Menyodorkan satu paper bag yang teringan.


"Satu tangan jangan lupa menggamit lengan suamimu ini, jangan biarkan mas merasa bersalah jika sedikit saja kamu merasa tidak aman dan nyaman.." Aiiihhh kenapa itu bibir gak cuma manis saat di jelajahi, tapi kalimat yang meluncur mengandung madu dan kurma. Manis dan menyehatkan.


Sulit rasanya Habiba membalas ucapan sang suami, semenjak menikah harus menjaga asupan glukosa, agar kadar gula terkontrol.


"Mas... Aku pengen es krim kombinasi" Rengeknya saat melewati stand ice cream.


Hemm... Gambarnya aja bikin ngiler, semoga rasanya sesuai ekspektasi yang terbayang menggoncang lidah.


"Kak... Beli dua yah, jangan yang cone!" Pinta Bintang sopan.


"Sabar ya dede..." Ia mengusap perut sang istri. Dan... Habiba bahagia dengan itu.


"Apa dede suka ice cream? Rasa apa?" Lah, lahir aja belum loh, sudah di tanya.


"Hemm.. Suka sama abinya" Jawab Habiba, seraya menunggu pesanan ice mereka.


"Permisi..." Seorang pelayan laki laki datang mengantarkan pesanan mereka.


"Selamat menikmati, semoga menambah ceria hari ini" Imbuhnya sopan, seraya tersenyum pada Bintang.


"Terimakasih..." Ucap Bintang, sedang Habiba menunduk menjaga pandangan.


Mereka menikmati ice cream yang memang enak di lidah mereka, dan ada beberapa orang yang memperhatikan cara makan Habiba tanpa membuka cadarnya sama sekali.


"Alhamdulillah mas... Terimakasih yah, ice cream nya enak sekali" Riang Habiba jujur.


"Alhamdulillah jika istri mas ini suka, mas takut jika tidak bisa memberi yang terbaik buatmu, termasuk jajan ini" Terharu Habiba dengan ucapan lirih sang suami.


"Aku Habiba Arwa Dariya Baizan bersaksi jika Abrisham Bintang Pradhana adalah lelaki terbaik yang paling baik terhadapku, tubuhku, jiwaku, batinku, sebagai istrinya" Meraih telapak tangan Bintang menciumnya takzim. Menikmati surga dari ridho sang suami.


Hemm.. Habintang sudah manis sedari tadi, di tambah makanan manis yang melewati kerongkongan.

__ADS_1


Muncullah kata kata manis dari pita suara mereka. Meresahkan para jomblo!


__ADS_2