
Bintang tengah menunggu Habiba, ia duduk bersandar di depan kap mesin mobil.
Tatapannya serius melihat benda pipih di genggaman.
"Hemm..." Tersenyum hangat, mendengar deheman dari istri tercinta.
"Sayang... Tangkap!" Seru Bintang, melempar sebuah benda ke arah Habiba.
HAP
Habiba menangkap tepat kunci mobil yang suaminya lempar.
"Maaf sayang sengaja... Uji ketangkasan" Habiba menggeleng samar dengan polah suaminya, di kira istrinya kiper bola kali yak. Hadeuh!!
"Maaf sayang..." Gak bisa marah kan ini Habiba, suaminya nyengir kuda dengan wajah sok imutnya.
Bintang masuk nyelonong ke kursi penumpang kabin depan. Habiba yang kini berada di balik kemudi.
"Mau test drive aku mas?" seloroh Habiba, sedikit melirik suaminya yang masih mode cengar cengir.
"Iya sayang, jadi besok besok bisa mas ajak balapan" Hebat kan ini, istri solehahnya di ajak balapan bukan ke majelis ta'lim.
"Mas... Aku gak tahu jalannya loh.." Ujar Habiba jujur.
"Nanti mas yang kasih arah sayang... Yang pasti jalan kamu hanya menuju hati mas" Ah bikin jedag jedug hati neng Biba bang. Adududuuuhh!!
"Sayang, buka cadarnya dong. Pengen lihat wajah kamu nih" Ujar Bintang yang membuat Habiba membuka cadarnya sebentar.
"Tenang aja sayang, ini kacanya gelap kok... Ah jadi pengen gelap gelapan kan!" Habiba sedikit terbiasa dengan ucapan suaminya yang sedikit frontal.
"Nanti malam juga gelap mas... " Sahut Habiba seraya terkekeh gemas.
Drrrttt
Drrrttt
"Bentar ya honey... Jangan cemburu" Ujar Bintang melirik istrinya seraya mengangkat telepon.
"Assalamu'alaikum..." Sapa Bintang.
"... "
"Iya, besok kali yak" Bintang.
Habiba menepikan mobilnya, ia sama sekali tak tahu arah tujuan sang suami.
Matanya menatap lurus ke depan, meski telinganya mencuri dengar obrolan Bintang.
"Lagi bareng istri gue" Bintang tersenyum pada Habiba.
Habiba merasakan ada yang berbeda dari genggaman tangan suaminya.
"... "
"Ya sudah. Besok gue kesana" Bintang.
"... "
__ADS_1
"Oke Assalamu'alaikum" Bintang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Bintang menatap wajah Habiba, tersenyum manis menggoda.
"Eh... Cadarnya koq di pakai?" Tanya Bintang yang melihat Habiba sudah kembali memasang cadarnya.
"Malu mas... Nanti ada yang lihat" Bintang menggeleng dengan jawaban istrinya.
"Baru kali ini ada orang cantik malu... " Aaaiiihh gombalan receh nya bikin pipi di balik cadar bersemu merah...
"Idiiih... Kalau mau ketawa ketawa aja sayang, mau c*pok juga boleh" Siapa tahu kan istrinya langsung mau ikutan sosor menyosor.
"Auuww..." Pekik Bintang mengusap mesra pahanya.
"Sayang kamu KDRT loh ini, sakit" Habiba mengulum senyum dengan polah suaminya.
"Sejak kapan sih suamiku ini jago drama?" Gemas Habiba yang menyerongkan duduknya, mencubit gemas kedua pipi Bintang.
"Sejak sah jadi suami kamu, Amorrr..." Jawab Bintang enteng plus wajah mesum.
"Cium sekalian ini sayang, iiih nanggung cuma di tarik tarik" Habiba semakin tak bisa menahan senyumnya, cepat ia melepas cadarnya, lalu mencium seluruh wajah suaminya... Malu!!
Bukan Bintang dong namanya jika tak mencuri kesempatan, cepat menarik tengkuk Habiba saat Habiba mengecup bibirnya.
"Alhamdulillah..." Cicit Bintang, mengusap bibir Habiba yang sedikit basah.
"Yaa Allah, bini gue merona... Belok ke hotel yuk sayang!" Lah kok malah mau ke hotel? Mobil aja masih terparkir di tepi jalan loh itu.
"Mas, mau kemana ini?" Lebih baik melanjutkan perjalanan kan, meladeni suaminya akan membuatnya salah tingkah tingkat nasional.
"Ke hotel sayang..." Sahut Bintang, yang mengecup punggung tangan istrinya mesra.
Bintang membawa tangan istrinya memegang dada kirinya, dapat Habiba rasakan degup jantung suaminya yang berdegup kencang.
"Jaga diri dan hati kamu, jika mas tidak di sampingmu" Habiba menegang dengan ucapan suaminya. Terasa dalam.
Matanya mengembun, merasakan ada yang menyayat ruang hatinya.
"Mas... Ada apa??" Lembut Habiba, yang sudah melepaskan seatbelt, menghadap penuh ke arah suaminya.
"Jangan buat aku khawatir... Habibi.. " Imbuh Habiba dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
Bintang mengulas senyum begitu menawan, berharap istrinya ini tidak khawatir tentang apa yang akan terjadi.
"Amor... Koq malah nangis sih? Besok kamu dah masuk kuliah lagi, jadi suamimu yang tampan tiada tara ini tidak bisa ada di dekatmu. Besok mas juga ada kerjaan honey" Lembut Bintang seraya menghapus jejak air mata di wajah ayu istrinya.
"Kamu bohong mas..." Habiba semakin terisak dan berhambur dalam pelukan suaminya.
Kaos yang Bintang kenakan sudah sedikit basah karena air mata Habiba.
"Mas khawatir kamu akan di dekati si Affan itu..." Habiba tak perduli, ia masih ingin berada dalam dekapan suaminya. Hatinya mengatakan jika sang suami tidak baik baik saja.
'Yaa Allah... ampuni hamba yang terlalu mengkhawatirkan takdirmu' Pilu Habiba, bagaimanapun ia adalah seorang wanita biasa.
Tok tok tok
Suara ketukan di kaca jendela, mengalihkan Atensi Bintang, seorang petugas polisi menghampiri mereka.
__ADS_1
"Sayang... pakai cadarnya!" Titah Bintang lembut, Habiba segera memasang cadarnya namun tetap dalam pelukan Bintang.
"Siang Pak... Kenapa mobilnya terparkir disini pak? Apa ada masalah?" Tanya petugas polisi bernama Adi itu.
"Maaf Pak, istri saya butuh waktu untuk mengurai kesedihannya" Jawab Bintang sopan.
"Tunggu sini" Titah pak Adi, hendak memanggil rekannya seorang polwan.
"Siang pak... Ada yang bisa saya bantu" Sopan polwan bertagname Linda.
"Maaf bu, kami sedang menyelesaikan sedikit masalah saja" Ucap Bintang, menenangkan Habiba dalam dekapannya.
Bintang mengangkat wajah Habiba, segera menyeka air mata yang membasahi cadarnya.
"Maaf Bu, bisa masuk sebentar" Ucap Bintang yang langsung menutup kaca jendela sesaat setelah polwan Linda masuk.
Bintang dan Habiba menyerahkan kartu Identitas, sesuai permintaan polwan Linda. Bahkan Habiba pun sudah membuka cadarnya dengan mata merah dan penuh jejak air mata.
Bintang menyerahkan ponsel berisi foto pernikahan mereka, paham betul ini si abang yang akan di tanya status hubungannya dengan Habiba.
"Kiyai Ahmad?" Tanya Polwan Linda penasaran, siapa pasangan di mobil ini.
"Beliau mertua saya.. " Sahut Bintang, masih terus menggenggam tangan istrinya.
Polwan Linda kembali melihat nama pada KTP Habiba. "Ustadzah Arwa?" Tidak mungkin kan putri kiyai dan seorang ustadzah berbuat asusila di tepi jalan siang hari bolong.
"Maaf saya belum pantas di panggil ustadzah" Habiba memang selalu menolak dengan panggilan itu, ilmu yang ia miliki belumlah tinggi. Masih harus banyak belajar.
Polwan Linda mengangguk paham "Maaf ning Arwa, ustadz saya permisi. Silakan lanjutkan perjalanan, semoga sakinah sampai jannah Allah" Doa tulus seorang polwan yang langsung mereka aminkan.
DEG
"Aku malu loh di panggil ustadz, sayang..." Habiba sangat merasakan apa yang suaminya rasakan, ia sendiri selalu menolak panggilan ustadzah. Ah!
"Angap saja itu adalah doa" Celetuk Habiba yang sudah mengganti cadarnya yang basah.
"Sayang... Jangan nangis lagi kaya tadi, mas takut!" Ujar Bintang, menatap sendu wajah istrinya.
"Takut apa mas?" Tanya Habiba yang masih merasakan tidak nyaman dalam hatinya. Berharap kan suaminya bakalan ngomong yang sebenernya terjadi.
"Takut baju mas basah... Tuh!" Seloroh Bintang, lalu tersenyum manis. Eh jangan lupakan bibirnya yang sudah nemplok di kening Habiba. Ah jadi pengen kan!!
"Jadi lanjut jalan gak mas?" Habiba sudah siap menyalakan mesin mobilnya.
"Lurus aja, nanti belok kiri. Honey" Jawab Bintang, sedikit tersenyum lega.
Habiba melajukan mobilnya sesuai dengan arahan Bintang.
"Habibati... Besok ke kampus bawa mobil aja ya... " Ujar Bintang, Habiba masih bergeming.
"Sayang...takutnya besok mas gak bisa jemput" Habiba mengangguk paham, sebenarnya dia malas membawa mobil ke kampus.
"Memang besok mau kemana mas?" Selidik Habiba yang tadi sempat mendengar obrolan suaminya di telepon.
"Ada kerjaan sayang, siang kerja nyari duit, malemnya ngerjain kamu... Hahaha" Sudahlah sudah, Habiba pasrah. Suaminya ini memang sangat luar biasa jika hanya berdua dengannya.
Tak berapa lama Habiba memarkirkan mobil sesuai yang Bintang tunjukkan.
__ADS_1
Bintang dan Habiba turun bersama tak ada acara buka bukaan pintu romantis.
Jari Bintang menyelusup ke dalam jemari Habiba, menggandengnya hingga masuk ke dalam "Habintang??".