
Setelah menginap dua malam di rumah bunda, Bintang dan Habiba merindukan rumah sederhana mereka.
"Habibi... Aku ambil vitamin dulu di kamar" Pamit Habiba yang hendak kembali naik ke kamar.
"Eitzz... Aku ajah, tunggu di sini ajah sekalian nunggu pengantin baru keluar kamar" Bintang sudah lebih dulu berlari meninggalkan sang istri.
Habiba mengulas senyum di balik kain cadar hitamnya, memancang bunda mertua penuh sayang.
"Terimakasih ya bunda, mengizinkan anak sebaik dan selembut mas Bintang untuk meminangku" Tulus Habiba, menggetarkan hati bunda Sara.
"Bunda yang berterimakasih, jiwa baik Bintang semakin terpancar karena menantu cantik bunda ini" Bunda Sara dan siapapun akan menyetujui jika Habiba memang cantik, bahkan di atas rata rata meski wajahnya selalu tertutup cadar.
Perhatian bunda Sara dan Habiba teralihkan oleh kedatangan Tari, yang entah mengapa wajah segar paginya tampak memerah.
"Tari, gue mau pamitan pulang" Ucap Habiba seraya berdiri.
"Besok aja seh?" Tari suka nawar kaya emak emak di pasar.
"Besok besok jangan lupa main ke rumah" Ujar Habiba, seraya melirik ke arah datangnya sang suami.
"Tiap hari juga ketemu di kampus" Manis sekali Tari yang manyun seperti bebek. "Kita belum ngegosip dah pulang aja seh? Pasti abang nih!" Lirikan sinis Tari jatuh tepat di netra Bintang.
Nasib nasib kan baru juga turun sudah kena serangan laser Mentari.
Lah, di susul Rado yang juga sama segarnya dengan sang istri. Ssssttt!! Jangan di bahas bentuk kesegarannya!!
Dan lihatlah bunda yang meski hanya diam seolah menikmati teh hijau di depannya, beliau adalah seorang ibu yang tengah memperhatikan kedua anaknya berinteraksi, di tambah menantunya.
Habiba langsung menunduk dan menjaga jarak dari Tari, karena kehadiran Rado. Itu pula yang membuat Habiba harus cepat kembali ke rumah mereka. Ia dan Rado bukanlah mahram.
"Do, gue mau pamit... Jagain Tari!" Kini Bintang yang berpamitan, sedikit memukul lengan Rado ala laki laki dan teman.
Eh... Sekarang menjadi saudara ipar!!
"Siap bos!!" Sahutnya dengan senyum cerah dan tangan yang memberi hormat layaknya upacara bendera.
"Abang balik!!" Lah.. Mentari malah nemplok ke pelukan sang abang.
Dulu saat abangnya menikah ia rela rela saja, kini saat ia sendiri memiliki suami, terasa berat berpisah dari keluarganya. Hah!!
"Peluk Rado sono, masa peluk abang terus!" Meski terdengar ketus, tangan Bintang tetap mengusap lembut kepala dan punggung Mentari.
"Kak Biba aja gak protes!" Ehm... Mulai kan ini perdebatan penuh kasih sayang antara penghuni Langit. Bintang dan Mentari.
Habiba mendekati dan memeluk ibu mertuanya, tampak jika bunda Sara menangis bahagia bercampur haru dan sedih.
"..." Tanpa kata dan terus mengusap punggung mertuanya, yang akan hidup berdua bersama sang suami.
__ADS_1
Mentari sudah jelas akan di ajak Rado ke rumahnya sendiri, yang ia desain sendiri.
"Bunda, Habiba boleh kan kalau nginep sering sering disini?" Hibur Habiba, semoga saja bunda Sara tidak terlalu merasa kehilangan.
"Harus sering sering nginep di sini!" Senyum pilu sang bunda yang harus tetap ikhlas.
Kedua buah hatinya sudah memiliki tanggung jawab masing masing dalam rumah tangga mereka, hanya doa yang mampu bunda Sara ikhtiarkan untuk saat ini.
**
"Habibi, tampaknya bunda sedih banget" Habiba memulai membuka pembicaraan selepas suaminya pulang melaksanakan sholat Dzuhur.
"Iya, mas tahu sayang" Senyum berat Bintang yang sangat terpaksa.
"Apa gak sebaiknya kita temani bunda di sana?" Kelegaan perasaan Bintang, istrinya bahkan menawarkan diri untuk menemani bundanya.
"Pikirkan lagi, habibati. Karena kebanyakan mertua perempuan tidak terlalu akur dengan menantu perempuannya. Apa tidak lebih baik menjaga jarak demi kedamaian?" Kini Habiba yang terdiam, kerena pendapat suaminya adalah fakta di dunia.
"Karena aku berkewajiban berbakti dan mengormati bunda dan ayah, serta bertanggung jawab atas perasaan istriku nantinya" Lembut Bintang menjelaskan.
Habiba meraih tangan suaminya dan menciumnya takzim, punggung serta telapak tangan yang bagai mencium hajar aswad. Maa Syaa Allah...
"Aku bersyukur karena Allah menjadikanku makmum mu mas, berterimakasih pada ayah dan bunda karena pendidikan mereka, laki laki yang kini menjadi suamiku bertindak sangat bijak" Netra Habiba bahkan sudah berkaca kaca.
CUP
"Anna uhibbuka fillah yaa Habibi..." Kata yang sering Habiba ucapkan dan Bintang sangat menyukai itu.
Bintang merangkul pundak Habiba, membawanya ke meja makan. Meski Habiba belum terlalu pandai memasak, setidaknya ia menyukai setiap masakan sederhana istrinya.
"Wah... Sepertinya enak" Riang Bintang yang menempatkan diri di kursi meja makan.
"Harusnya tidak perlu memasak, habibati" Imbuh Bintang kemudian, ia sunggu tidak tega melihat istrinya lelah.
"Aku lagi pengen makan masakan sendiri mas" Tentu Bintang mengiyakan, tak apalah yang penting istrinya tidak merasa repot.
"Dede bayi pengen makan masakan umi ya??" Lembut BIntang mengusap Perut Habiba, di sela sela makannya.
"Dede bayi ingin ikut ke cafe..." Manja Habiba mengusap lengan suaminya.
Usapan adalah jurus ampuh merayu Bintang, ia pun rindu ingin melihat aktivitas cafe.
"Boleh, asal jangan terlalu capek nantinya" Ultimatum yang wajib Habiba turuti.
"Makasih habibi" Semakin hari istrinya semakin manja dan menggemaskan.
Namun, Habiba selalu malu saat mereka akan memulai ibadah surga dunia. Itulah catatan penting yang sangat melekat di hati Bintang.
__ADS_1
"Habibati, kapan kita akan melaksanakan syukuran empat bulanan?" Habiba menepuk jidatnya, seraya nyengir menampilkan satu gigi gingsulnya.
"Astaghfirullahalazim mas, aku lupa nanya bunda... Maaf" Sial, wajah sesal Habiba lagi lagi terlihat sangat menggemaskan. Hingga tanpa sadar Bintang menarik satu pipi sang istri.
"Ih mas, sakiiiit!" Sedikit memasang wajah cemberut nan lucu.
CUP
"Sudah sembuh kan? Lagian kenapa tuh muka makin ke sini makin bikin gemes seh?" Jujur Bintang setelah mengecup pipi sang istri.
"Masih sakit mas" Semakin lucu kan Habiba ini, sakit koq malah tersenyum manis. Bikin gula darah naik ya kan??
"Ya sudah, nanti mas minta mbok Yem kemari" Lah, hubungan sama mbok Yem apa gitu?
"..." Kali ini Habiba menampilkan wajah bingung.
Habiba dan Othor sama sama bingung, hubungan sakit pipi Habiba dan mbok Yem. Apakah mbok Yem punya ramuan ajaib?
Eh... Si abang malah tersenyum tamvan, membuat jantung tidak karuan.
"Mas akan minta mbok Yem nemenin kamu di rumah, karena istri mas lagi sakit jadi mas enggan mengajak ke cafe. Istirahat ya sayang!" Hemm... Semakin manyun kan Habiba.
"Iiiihhh... Mas koq ngeselin, aku mau ikut" Jiwa remaja Habiba yang kini mengalir manja.
"Katanya sakit??" Semakin menjadi loh si babang kalau godain istrinya.
"Kan pipi mas... Astaghfirullah" Harus cepat cepat memohon ampunan Allah.
"Kan sudah mas cium tadi, belum sembuh juga?" Tanya Bintang yang menyebalkan. "Padahal biasanya bibir mas ini ada pereda nyeri alaminya" Gumam Bintang seraya menjilati bibirnya.
"Belum sembuh, masih kurang" Sahut Habiba, bisa bisanya suaminya semakin menggodanya saat ini.
Ah... Sialnya Habiba selalu menyukai candaan sang suami. Bahkan semua yang ada pada suaminya ia selalu menyukai itu. Yah, tentu saja satu yang ia tak suka dari suaminya, rokok. Haaaah!!
Sungguh rokok itu musuh ibu rumah tangga, terlebih untuk ekonomi menengah ke bawah. Semurah murahnya harga rokok bisa untuk membeli sekilo beras dan bisa untuk makan satu hari. Bayangkan??
"Habibati, biar mas yang cuci piringnya" Seperti biasa, Habiba akan menurut. Ia bahkan hanya beridiri di dekat sang suami yang tampak keren saat mencuci piring.
Laki laki saat melakukan pekerjaan rumah tangga itu akan semakin keren dan berwibawa, tapi kebanyakan yang gengsi karena harga diri. Padahal harga diri laki laki adalah bagaimana ia membahagiakan istrinya, termasuk urusan pekerjaan rumah yang jelas jelas menjadi tugas bersama. Betul??
"Mas, koq aku iri sama piring sih?" Eh... Maksudnya apa neng?
"Nanti mas mandiin kaya piring ini" Kekeh Bintang, ia semakin suka menggoda istrinya.
"Ya ampun mas, piring aja di elus elus tapi aku di godain mulu" Protes Habiba seraya menahan malu.
"Kalau mas elus elus kamu, ujung ujungnya juga basah bareng kan? Jadi gak perlu iri sama piring" Eitzz daah... Itu alisnya kenapa naik turun bang?
__ADS_1
Hadeuh!! Tentu saja Habiba akan kalah dan sulit membalas candaan Bintang yang berbau kebahagiaan surga... Beuh!!