Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Mbok Yem


__ADS_3

Habiba berhenti depan gerbang, merasa ada yang terlupa. Jelas saja bukan lupa sama suaminya, memang sengaja ia tinggalkan.


"Silakan mbak Biba, ada mbok Yem menunggu di teras" Ujar seorang satpam yang berjaga di rumah mereka.


"Eh... Astaghfirullah" Biba mengelus dadanya kaget.


"Assalamualaikum pak. Terimakasih ya" Ucap Biba langsung memasuki halaman rumahnya.


"Walaikumsalam mbak.. " Jawab satpam yang tak jadi menutup gerbang, karena Bintang tengah berlari menghampiri.


"Assalamu'alaikum..." Salam Habiba.


"Walaikumsalam Non, saya mbok Yem" Ujar mbok Yem memperkenalkan diri.


"Saya diminta den Bintang, untuk bantu bantu disini non" Jelas mbok Yem yang mengerti kebingungan Habiba.


"Mbok, panggilnya Biba saja ya? Jangan pakai non" Ujar Habiba, Mbok Yem tampak bingung harus memanggilnya gimana.


"Tapi non, gak sopan manggil majikan hanya namanya" Ucap mbok Yem.


"Ya udah panggil mba saja, mbok" Putus Habiba, dan diangguki mbok Yem.


"Mbok, duduk dulu ya. Kuncinya sama mas Bintang" Mbok Yem merasa bingung hendak duduk dimana.


"Mbok, duduk di samping aku aja sini" Pinta Habiba, dan akhirnya mbok Yem menurutinya.


"Mbok, kalau aku lagi ga sibuk. Bisa ajarin aku masak kan?" Tanya Habiba, ia tak canggung karena pernah bertemu mbok Yem sekali saat belajar dengan Mentari.


"Siap non..." Semangat mbok Yem.


"Mbok..." Mbok Yem tersenyum karena belum terbiasa.


"Assalamu'alaikum..." Bintang menyalami mbok Yem lalu Habiba.


"Walaikumsalam" Jawab mbok Yem dan Habiba serempak. Sudah mirip duetnya keong ancur.


Setelah menunjukkan kamar dan isi rumah pada mbok Yem, Bintang menyusul Habiba ke kamar.


"Assalamu'alaikum honey" Ujar Bintang, langsung masuk dalam kamar.


Tak ada jawaban, karena Biba tengah membersihkan diri.


"Ya ampun mas..." Habiba langsung membekap mulutnya sendiri. Bintang hanya tersenyum mesum.


"Kita mandi bareng ya?" Menolak pun rasanya percuma karena Bintang sudah melepas hampir semua pakaiannya.


"Maaf ya, soal yang tadi" Nampak ada kekecewaan dalam mata Habiba.


"Mas gak tauk, itu kutu beras dateng dari mana. Tiba tiba jadi bebek..." Ngomong apa coba ini, dari kutu beras hingga bebek.


"Tapi suka?" Tanya Habiba masih dalam tangkupan tangan Bintang.


"Gak lah, risih iya..." sahutnya memelas.


"Kalau aku yang di posisi kamu, kamu gimana mas?" Habiba memeluk suaminya, menyalurkan sesak dalam hati.


"Mas pasti akan lebih marah dari yang kamu lakukan hari ini" Mengurai pelukan, mencoba meyakinkan melalui senyum teduhnya.


Flashback On

__ADS_1


"Bintang..." Seorang gadis berteriak memanggil.


Habiba dan Bintang menghentikan langkah mereka, mendapati seorang gadis yang sedikit berlari menghampiri.


Gadis itu tersenyum setelah sampai di depan Habiba dan Bintang, melirik sejenak pada Habiba dan kembali memandang Bintang lekat.


Detik berikutnya Habiba harus memalingkan pandangannya, karena gadis itu langsung mencium pipi suaminya bahkan memeluk.


"Kangen... " Rengeknya dalam pelukan Bintang.


Habiba merasakan ada sesuatu yang menggigit sudut hatinya, "Ya Habibi aku tunggu di rumah ya" Ujarnya, enggan mengganggu orang yang temu kangen. huhuh!!


Lebih baik meninggalkan, semoga suaminya tersadar dari amnesia dadakannya.


"Saraf lo putus?" Sengit Bintang pada gadis itu.


"Gue kangen loh Bin" Sahutnya hampir bergelayut di lengan Bintang.


"Jangan pernah sentuh sentuh gue! Gue dah punya istri" Tanpa ba bi bu Bintang langsung pada inti pembicaraan.


"Dia tuh ga cocok buat lo Bin" Geramnya melihat Bintang pergi.


Bintang berlari pulang, istri nya sudah sangat memberikan kode dengan kalimatnya.


Masih anget angetnya, nanti di cuekin kan merugikan. Hadeuuuh!!


Flashback Off


Bintang masih duduk di tepi ranjang, melihat istrinya yang tengah sibuk mengeringkan rambut.


"Sayang..." Mulai kan ini merengek, sudah nemplok di punggung Habiba.


"Mas..." Lirih Habiba, memilih berbalik badan memandang sang suami.


Menangkup kedua pipi suaminya "Mas... Maafkan aku...".


" Hey, kenapa kamu minta maaf Amor?" Bintang ketar ketir loh, dia yang salah tapi istrinya yang meminta maaf.


"Mas, kemarin ada pemuda di kampus" Ucap Habiba, masih menebak nebak raut wajah suaminya.


"Dia minta ta'aruf" Nah sudah bisa di tebak, raut wajah Bintang menahan emosi.


"Terus, apa jawaban kamu?" Tanya Bintang.


"Mas, apa jawabanmu untuk perempuan yang tadi menciummu?" Habiba malah memberikan pertanyaan tanpa menjawab.


"Ya... Aku kasih tahu kalau aku sudah beristri" Jawab Bintang semangat, jangan sampai salah pilih jawaban. Ini perempuan loh, sebenar benarnya laki laki juga harus ngalah. Hahaha!!


"Itu juga jawaban yang aku berikan pada pemuda itu" Jawab Habiba.


"Masa iya kamu bilang, kalau sudah punya istri" Seloroh Bintang dengan wajah sedramatis mungkin.


"Auw... Ahhaaha" Enak loh itu, cubitan gemas dari Habiba.


Untung istrinya solehah, kalau kaya othor mungkin sudah benjol kena ***** botol parfum. Hah!


Tok Tok tok


"Den, ini makan siangnya sudah siap" Habiba melirik suaminya yang tampak masam.

__ADS_1


"Iya mbok, sebentar!" Lebih baik di jawabkan sama Habiba, suaminya masih mode manyun.


"Gagal kan nih. Mbok Yem gak tahu timing" Pengen ngarungin suaminya yang ngegemesin gak sih ini.


Habiba gak habis pikir, suaminya yang gagah malah lebih mirip bocah gagal jajan.


"Mas, mau makan dulu apa mau lanjut?" Ngadi ngadi pertanyaan penuh godaan dari Habiba. Bintang menatapnya menghiba, tampak sekali tidak berwibawa.


"Mau lanjut dong..." Jawabnya penuh semangat.


"Setelah makan, biar lato latonya strong!" Imbuhnya, yang mencuri ciuman dari bibir Habiba.


**


Mbok Yem memperhatikan Habiba yang tanpa cadar, itu pun disadari Bintang.


Bintang bertanya hanya dengan menaikkan kedua alisnya, sedang mbok Yem hanya mengangkat dua jempol lalu menunjuk pada Habiba. Semoga saja Habiba gak menyadari obrolan tanpa kata itu.


"Mbok... Sini duduk bareng" Ucap Habiba tiba tiba, Bintang terkikik menahan tawa. Lucu loh lihat wajah kaget mbok Yem.


"Mbok, mau tanya apa seh? Pakai isyarat geto. Kuping Biba kan panas" Mbok Yem malah bingung mau jawab apa.


"Mbak Biba koq tau, kan gak lihat" Penasaran juga kan mbok Yem.


"Bisa lah mbok, aku kan cenayang" Seloroh Habiba, membuat Bintang dan mbok Yem nyengir kuda.


Habiba membawa mbok Yem duduk bersama untuk makan siang.


"Di belakang mas Bintang ada cermin mbok..." Kini giliran Habiba yang mesam mesem dengan kelakuan suami dan mbok Yem. Serempak banget lihat ke arah cermin.


Mereka bertiga makan bersama dengan tenang, kecuali mbok Yem yang merasa canggung.


Biba membantu mbok Yem membereskan meja makan dan mencuci piring, sedang Bintang tengah menerima telepon.


"Mbok mas Bintang sukanya makan apa?" Tanya Habiba.


"Den Bintang itu semuanya di makan mba, gak pernah pesen pesen makanan" ujar mbok Yem apa adanya.


"Oh... Apa pernah bawa perempuan ke rumah mbok?" Eh Habiba bisa kepo juga ternyata.


"Perempuan banyak yang ke rumah non, ada bunga, coklat..." Mbok Yem masih serius mencuci piring, gak tahu muka Habiba yang sudah memerah.


"Tapi non, bukan den Bintang yang bawa, mereka pada datang sendiri" Imbuh mbok Yem. Melegakkan!!


"Mbok, jangan buka rahasia Bintang" Ucap Bintang, namun matanya menatap istri cantiknya.


"Kamu kepo ya, hem?" Mbok Yem harus menutup mata dengan ulah Bintang. Bisa kangen kan itu mbok Yem sama suami tercintahh.


"Mbok, tolong itu pak Udin diminta makan dulu" Ucap Habiba sambil berlalu dari dapur.


Bintang sudah menggenggam tangannya menariknya ke dalam kamar.


"Sayang, nanti pacaran yuk... Abis Isya ya!!" Habiba mengangguk, toh dia pergi dengan suaminya.


"Mas..." Ucap Habiba, matanya masih anteng dengan pemandangan di depan mata.


"Ayok lanjut..." Pasrah sudah, tidak mungkin akan menolak.


Ho o o o apa yang terjadi terjadilah!!

__ADS_1


__ADS_2