Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Khumairah


__ADS_3

Sesuai rencana, mereka akhirnya keluar selepas isya. Mengendarai motor sesuai keinginan Habiba.


Ternyata mereka hanya keluar ke cafe Bintang, pacaran yang menghasilkan bukan?


Bintang membawa Habiba ke ruangannya, mengajari istrinya tentang cafe.


"Mas..." Ada rasa tidak nyaman dalam Hati Habiba.


"Habibati... Mulai sekarang kamu harus tahu tentang usaha suamimu ini" Bintang menangkup wajah Habiba, banyak sekali pertanyaan dari tatapan Habiba.


"Sayang, apa kamu bisa nyetir?" Habiba mengangguk dengan pertanyaan suaminya.


"Bisa bawa motor?" Tanya Bintang.


"Gak mas... Berat" Jawab Habiba dengan senyum manisnya.


"Idiiih sudah bisa ngelawak..." Ujar Bintang, menoel hidung lancip Habiba.


"Mas koq aku merasa ada yang aneh" Bintang hanya menyunggingkan senyum, berharap pikiran istrinya tidak lari kemana mana, cukup lari bersamanya. Ah!!


"Sayang, jangan mikir aneh aneh!" Cicit Bintang, Hati Habiba semakin bergetar.


Tiba tiba Habiba memeluk suaminya erat, "Mas, kamu kenapa?" Habiba masih bersandar manja pada dada bidang sang suami.


Bintang mengurai pelukan Habiba, mengecup kening itu dalam, penuh cinta.


"Supaya kamu bisa handle cafe bantu mas, sayang..." Ucap Bintang meyakinkan.


"Jangan cari kebohongan dari pancaran mataku, honey..." Mulai drama kan si Bintang, bibirnya aja sudah maju 10 cm, mungkin mau diganti reseleting.


"Okey, ayo aku bantu mas" Pada akhirnya Habiba menyetujui, bagaimana juga ia harus mendukung usaha suaminya agar berkembang.


"Sayang, besok kita ke tempat yang satu lagi ya?..." Ujar Bintang, dan Habiba hanya terdiam.


"Besok kamu akan tahu" imbuh Bintang.


CUP


Mengecup bibir Habiba singkat, memberi ketenangan pada istrinya yang tampak khawatir.


Habiba meraih tangan Bintang, lalu menciumnya takzim. Kemudian meletakkan tangan itu di pipinya.


"Aku memang belum mengenal kamu secara mendalam. Tapi hati seorang istri itu peka mas, meski sulit untuk menerjemahkan. Aku harap kamu benar benar sedang dalam keadaan baik, walau perasaanku tidak merasa seperti itu" Bintang menatap lekat wajah ayu Habiba yang kini sendu.


"Sayang, mas hanya ingin memberitahu apa yang harus kamu ketahui" Ucap Bintang menenangkan.

__ADS_1


Bintang membawa beberapa berkas dalam tasnya, ia memilih duduk untuk menyaksikan live music di cafenya. Karena sepertinya perasaan istrinya sedang tidak baik baik saja.


"Mas, gak ada alkohol kan di cafe kamu?" Tanya Habiba.


"Ada sayang, beberapa botol" sahut Bintang ringan.


"Astaghfirullah mas... Kenapa kamu sediakan minuman beralkohol" Hati Habiba semakin terasa tercubit dengan pengakuan Bintang.


Bintang tersenyum dengan penuturan sang istri "Ada di kotak P3K sayang, alkoholnya". Habiba mencubit perut Bintang gemas, bisa bisanya dia membuat khawatir.


" Mas.. " Meski tertutup cadar Bintang sangat yakin jika istrinya tengah malu.


"Iya sayang, mau buru buru pulang?" Ujung ujungnya kan, malah menggoda Habiba. Padahal ia yang ingin cepet cepet ngamar. Eitzdaah!!


Habiba dan Bintang menikmati live music sejenak sebelum akhirnya beranjak pulang.


"Istri mas yang cantik ini, mau muter muter dulu gak?" Tanya Bintang, seraya memasangkan helm pada Habiba.


"Terserah mas aja, aku ngikut. Tasnya aku aja yang bawa" Sahut Habiba yang langsung diangguki Bintang.


"Tasnya enteng kok sayang, biar mas aja. Kamu meluk mas aja" Benar kan ini babang Bin yang suka modus, huhh!!


"Biar jilbab belakang aku gak terbang terbang mas" Terang Habiba. Sayangnya Bintang hanya memberi ekspresi datar.


"Makasih ya habibi atas perjuanganmu, aku juga sudah terbang terbang ini" Tanpa sadar Habiba malah memeluk suaminya, ini masih di parkiran cafe loh neng.


Bintang melajukan motornya dengan sedang, tidak jadi muter muter karena hari telah terlalu larut.


"Sayang, tolong kunci pintunya. Mas mau ke kamar mandi. Kebelet" Bintang langsung lari ke kamar mandi dapur, gak mungkin kan naik ke kamarnya, bisa ngompol di tengah tangga.


Habiba langsung naik ke kamar, ia hendak membersihkan diri. Bagaimana juga ia punya kewajiban baru sebagai istri.


Bintang tengah berbaring dengan tatapan nyalang menatap langit langit kamar. Bahkan ia tak menyadari kehadiran Habiba yang telah selesai dengan sunat dua rakaat nya.


'Yaa Allah... Lindungi suami hamba' Habiba bisa merasakan jika suaminya ini sedang tidak baik baik saja.


"Mas... Ada apa?" Lembut Habiba, Bersandar nyaman di lengan suaminya.


Bintang tersenyum, membawa Habiba dalam dekapannya. Debaran jantungnya sungguh tidak bisa dikondisikan, pikirannya terlalu bercabang.


"Anteng aja di pelukan mas, Amor... Anget" Ujar Bintang, Habiba pun segera membalas pelukannya.


**


Habiba tengah berada di dapur bersama mbok Yem, ia ingin lebih bisa belajar memasak.

__ADS_1


"Beruntung banget den Bintang, dapetin istri kaya mba Biba.. " Celetuk mbok Yem tiba tiba.


"Emangnya aku kenapa mbok?" Habibapun membalas dengan wajah keponya.


"Cantik fisiknya, cantik hatinya. solehah pula" Habiba terkekeh dengan penuturan mbok Yem, wanita itu kini sudah banyak bicara. Jadi rindu bantuin umma masak.


"Aku masih banyak belajar mbok, masak aja Biba belum lancar" Jawab Biba merendah.


Menu rumahan sederhana yang Biba dan mbok Yem sajikan. Hanya capcay baso dan sosis serta telor balado bersama kedua kakak beradik tahu dan tempe, jangan lupakan penambah nafsu makan, kerupuk!


Bintang datang dengan kaos dan celana pendek, mbok Yem sudah ijin makan bersama pak satpam.


"Wah... Harusnya jangan ke dapur honey" Ujar Bintang, setelah mencuri ciuman di bibir Habiba.


"Aku cuma bantu mas, aku kan belum bisa masak" Jujur Habiba, seraya mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Masak buat kamu hanya sunnah sayang, sebenarnya yang wajib memberi makan istri kan mas. Yang penting kamu doakan saja setiap usaha mas lancar, selalu dampingi mas saat susah dan senang. Mas minta jangan sampai mendoakan mas buruk di saat kamu marah" Habiba melihat keseriusan dari nada bicara suaminya.


'Dia yang datang dan mengaku sebagai vokalis serta suka balapan liar, Berusaha merubah dirinya melalui jalur langit.


Dia begitu banyak menyimpan keistimewaan di balik kata katanya yang frontal dan kelakuan absurdnya. Abrisham Bintang Pradhana semoga aku adalah satu satunya wanitamu' Habiba masih duduk memandang suaminya yang juga menatapnya.


"Cie... Udah jatuh cinta sama mas ya" Sulit sekali untuk Habiba menahan senyuman nya juga rasa malunya. Suaminya ini suka sekali membuatnya salah tingkah.


"Semua cintaku sudah aku berikan setelah ada Qobul dari kamu. Jadi jangan godain aku mulu" Habiba makin menunduk setelah mengucapkan semua itu.


"Iya deh... Mas godain istri tetangga aja" Seloroh Bintang, yang berhasil mengangkat wajah kesal Habiba.


"Maaaasss..." rengekan manja Habiba membuat Bintang semakin gemas.


"Hahahah..." Lolos juga gelak tawa Bintang.


"Sayang, jangan buat mas gemezzz... Mau seharian di kamar hemm?" Harap di maklum pengantin baru, masih banyak inisiatif ( Inisiatif loh bukan gaya). Uupss!!


'Semoga kita bisa menua bersama, sakinah hingga ke jannah' Doa yang terbesit, ia turut bahagia melihat suaminya tertawa begitu lepas.


Mereka makan dalam satu piring, Bintang amat antusias menyuapi istrinya, "Pahala kan sayang nyuapin istri" Habiba mengangguk, mulutnya masih terlalu penuh.


"Ih... mas modus banget" Cicit Habiba, merasa kaget karena Bintang tiba tiba mencium dan membersihkan bibirnya.


"Ada sambelnya sayang, jadi mas bersihin" Padahal ada tisu itu loh di meja, kok bersihinnya pakai bibir dan isinya sih.


"Eh sambelnya ada manis manisnya gitu" Ngiklan banget bang, kasihan itu loh pipi istrinya sudah memerah.


"Khumairah nya mas Bintang"

__ADS_1


__ADS_2