
Bintang mengusap surai hitam Habiba, mahkota yang tak bisa dilihat banyak orang.
"Mas, jangan buat aku sakit jantung" Ucap Habiba masih bersandar nyaman pada lengan Bintang.
"Hahaha, kamu pikir mas ini kolesterol jahat?" Seloroh Bintang, Habiba hanya tersenyum.
"Habibati..." Ucap Bintang lembut, kembali membawa wajah Habiba agar menatapnya.
"Ya, Habibi..." Sahut Habiba spontan. Ah manisnya!
"Boleh minta sesuatu?" Tanya Bintang dengan nada manjalita.
"Ah.. emmm ya, silakan mas" Sungguh Habiba di buat terintimidasi hanya dengan senyuman sang suami.
"Minta minyak angin..." Habiba menghembuskan nafas panjang, sedikit lega dengan permintaan suaminya.
"Aku... Minta hakku saat di rumah kita saja. Besok" Bisik Bintang, membuat desiran darah Habiba memanas. Ditambah kedipan mata Bintang, makin membuat Habiba butuh banyak oksigen yang tiba tiba menipis.
Akhirnya Habiba memilih bangkit, menuju nakas mengambil minyak angin.
Bintang kini sudah duduk di tepi ranjang pengantin yang tanpa hiasan apapun, hanya sprei saja yang baru diganti. Hehehe!
"Mas ini..." Bintang tak kunjung meraih minyak yang Habiba berikan.
"Mas..." Habiba semakin meremang kala Bintang menatapnya dalam semakin dalam. Sudah mirip kena hipnotis ini bang Romi rafael!
HAP
Cepat Bintang meraih tangan Habiba lalu menariknya, hingga terjatuh dalam pangkuannya.
DEG DEG DEG
Habiba hanya memandang wajah Bintang yang teramat dekat. Detak jantung mereka saling melengkapi membentuk melodi, mengiringi malam yang semakin beranjak.
"Sayang... aku mau nyicil" Ucapan Bintang membuat dahi Habiba berkerut dalam.
"Boleh?" Tanya Bintang memastikan.
"Nyi... Nyicil apa mas, Motor, mobil, rumah?" Polos Habiba, bukankah Bintang sudah punya semua itu?
Bintang menggeleng "nyicil kamu..." Habiba masih bingung loh, malah ditambah bingung kan. Maharnya tadi kontan tanpa hutang sama sekali.
Pipi Habiba makin merah padam, kedua telapak tangan suaminya sudah bersandar membingkai wajahnya.
"Nyicil ini..." Ucap Bintang, seraya meraba bibir ranum Habiba.
Habiba hanya diam tanpa menjawab, sedang Bintang tak butuh jawaban untuk dapat menikmati bibir sang istri.
"Bagaimana rasanya Amor?" Tanya Bintang sesaat setelah mengecup singkat bibir ranum sang istri.
"Mas..." Lagi lagi ucapan Habiba tercekat, Bintang kembali menempelkan bibirnya, sedikit lebih lama.
"Ikuti naluri kamu, sayang..." Suaranya semakin berat. Bintang semakin membuat istrinya linglung.
"Auw... mas..." rengek Habiba, bibirnya sedikit lebih perih karena gigitan Bintang yang di sengaja.
"Maaf honey, sengaja..." Kekeh Bintang mengusap bibir Habiba.
"Sini sini mas lihat... " Modus kan ini Bintang, mencari kesempatan saat bibir istrinya sedikit terbuka.
"Hemmppphhh..." Pasrah saja, tak akan mampu melawan Bintang yang sedang dalam masa penajajakan..
Nafas Habiba semakin memburu, ******* demi ******* beriringan dengan decapan kenikmatan yang suaminya berikan.
Perlahan tapi pasti, Habiba kini mulai menikmati sensasi yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.
"Ahhh... mas..." Habiba semakin resah, karena bibir suaminya telah menguasai leher putihnya.
__ADS_1
Jemari Habiba bahkan sudah menyelusup meremas rambut kecoklatan sang suami.
"Mas... Geli... ahhh" Habiba memejamkan matanya, merasa tubuhnya semakin panas karena ulah suaminya.
Bintang tersenyum melihat Habiba yang masih memejamkan mata dengan dada naik turun. Belum menyadari Bintang menjadikannya objek indah yang sayang di lewatkan.
"Mas..." Lirih Habiba.
"Cantik..." Sahut Bintang, Perlahan membawa istrinya berbaring.
Kan pegel loh di pangkuan mulu. Habiba juga merasa tidak aman karena ada benda asing yang mengenai pahanya. Alien?
Segera Habiba mengalihkan pandangan, saat Bintang lagi lagi mengintimidasi dengan tatapannya.
"Mau lagi, hemmm??" Goda Bintang.
"Mas, besok aku ada Quis!" Ujar Habiba, ia belum sempat izin pada pihak kampus.
"Amor... Look at me!" Habiba patuh.
"Minyak anginnya mana?" Ucap Bintang, tersenyum jahil. GUBRAKK!!
Siapa tahu minyak anginnya bisa ngilangin haus ya kan kan? Bisa juga ngilangin kissmark di leher Biba.
Habiba bangkit, sedikit minggir karena Bintang sangat dekat dengannya.
"Astaghfirullahalazim" Pekik Habiba tertahan, Bintang turut tersenyum melihat arah pandang istrinya.
Hampir semua kancing Baju Habiba terlepas. Hebatnya Habiba baru menyadarinya. Mungkin terlalu menikmati, upss!!
"Habibati... mana minyaknya" Sengaja banget ini si babang.
"Ini mas..." Habiba tersenyum malu, lalu kembali naik ke atas tempat tidur.
"Maunya itu dibalurin istri tersayang" Rengek Bintang, hampir ngedusel dusel leher Biba.
"Yang kenceng dikit sayang, Kalo gini mas bisa khilaf" Celetuk Bintang.
Kasihan loh ini Habiba, bisa bisa pewarna merah pipinya habis, karena sering di goda suaminya.
"Mas pakai bajunya dulu, nanti tambah masuk angin" Habiba mencoba mengingatkan, karena suaminya ini malah tidur bertelanjang dada.
"Biar bisa skin ship" Celetuk Bintang santai.
"Buruan sayang, sini kelonan ah" Cepat Bintang membawa Biba dalam pelukannya.
"Sayang, malam ini kita skip dulu yah,,, biar penasaran kan yang baca" Seloroh Bintang, semakin mengeratkan pelukannya.
Tak berapa lama Bintang benar benar tertidur, begitu juga dengan Habiba.
**
Pagi ini Habiba turun ke dapur membantu Uma, sebelum berangkat kuliah.
"Mana Uma yang mau Biba bantu?" Tanya Habiba.
"Tumben mbak Zahra belum di dapur uma?" Imbuh Habiba, mungkin rindu dengan candaan kakak iparnya itu.
"Mbak Zahra ada acara sama mas Reza" Jawab Uma.
"Biba, kamu sarapan sama suamimu dulu. Uma mau pergi sama abah. Mas Fathan sudah berangkat" Ucap Uma.
"... Uma mau kemana hayoooo" Goda Habiba.
"Biar gak ganggu pengantin baru" Sahut uma, membuat Habiba terkekeh geli.
"Mbak Zahra versi old, ini mah" Habiba memeluk umanya, sayang.
__ADS_1
Bintang sudah turun, ada abah tengah duduk di teras.
"Nak Bintang, sudah rapi. Mau kemana?" Tanya abah.
"Mau nganter Biba kuliah bah, sekalian mau lihat cafe" Jujur Bintang.
"Bah, Bintang boleh bawa Biba pindah kan?" Abah tersenyum, lalu mengangguk dengan pertanyaan menantunya.
"Itu hak kamu nak, jaga Habiba ya. Jika kamu berat mendidik nya, pulangkan ke abah, jangan sakiti dia" Tutur abah bijaksana.
"In syaa Allah bah" Jawab Bintang.
"Abah, mas, sarapan dulu" Habiba menghampiri kedua lelaki beda generasi tersebut.
"Nak Bintang sarapan dulu, abah sudah sarapan singkong tadi" Ujar abah. Abah masih santai di teras sembari menunggu Uma dan melihat beberapa santriwan berlalu lalang.
"Baik bah" Bintang bangkit, mengekor pada istrinya yang terlebih dahulu masuk.
Akhirnya mereka sarapan berdua, abah dan Uma sudah langsung berangkat.
"Wah,, kamu pinter masak" Ucap Bintang penuh senyum.
"Jangan godain deh mas, ini masakan Uma" Bintang terkekeh melihat reaksi istrinya. Ada malu malunya gitu, Menggemaskan!!
"Selesai kuliah jam berapa?" Tanya Bintang.
"Jam sebelas mas, cuma ada satu matkul" Sahut Habiba seadanya. Bintang mengangguk sambil menikmati hidangan sederhana tersebut.
"Nanti sore jadi pindah kan?" Bintang meminta kepastian Habiba.
"Aku ngikut aja mas" Sahut Habiba. Karena ia akan ikut kemanapun suaminya pergi.
Hari ini, hari pertama Habiba ke kampus dengan status barunya. Istri!!
Diantar oleh lelaki yang kini menanggung segalanya atas hidupnya.
"Amor, ijin dong buat bulan madu geto" Ucap Bintang, membuat Habiba mengingat perbuatan mereka semalam.
Lah koq othor malah gak tau seh?
"Kemungkinan sebentar lagi aku juga libur semester mas" Berharap kan suaminya bakalan paham.
"O yaaa??? Mau bulan madu kemana?" Hadeuh babang Bin, gak tau kali ya Habiba masih sering merinding disko.
"Kemana aja mas, pengennya sih di rumah aja" Bintang terkejut dengan jawaban Habiba yang hanya ingin dirumah saja.
"Alhamdulillah, kalau gitu bisa ngamar terus berhari hari" Sudah mesam mesem si babang, begitupun juga dengan Habiba.
Tak terasa mobil pun menepi di depan kampus Habiba.
"Nanti kabarin ya, mas mau ke cafe dulu" Ucap Bintang, mengecup kening Habiba kemudian.
"Pagi pagi ngafe mas?" Habiba sedikit mencurigai suaminya. Secara mana ada cafe buka pagi pagi gini.
"Iya, biar lega" Celetuknya asal dengan senyuman khasnya.
"Mas, senyuman nya di jaga" Bintang malah semakin tersenyum lebar.
"Kan buat tebar pesona honey" Habiba memalingkan wajahnya. "Ke kamu..." Imbuh Bintang.
"Aku masuk dulu mas, assalamu'alaikum" Pamit Habiba setelah mencium punggung tangan suaminya.
Meladeni Bintang bisa nyengir nyengir sendiri mirip orang waras.
"Walaikumsalam, jangan nakal" Sahut Bintang.
'Habibati, honey, Amor, sayang' Habiba benar benar melihat sosok Bintang yang sama absurdnya seperti pertama bertemu. No jaim jaim.
__ADS_1