Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Senyum Penuh Kemenangan


__ADS_3

Habiba berangkat ke kampus mengendarai mobil suaminya. Sudah titah sang maharaja jadi harus di turuti ya kan?


Selama dalam perjalanan Habiba memindai spion nya, memang ada mobil dan motor yang terus mengiringi perjalananya ke kampus. Mungkin itu maksud dari ucapan Bintang yang sempat ia curi dengar.


Ia pun tahu ada seorang laki laki yang tengah memperhatikannya semenjak turun dari mobil, Affan.


"Gak di anter abang?" Tembak Mentari setelah mensejajarkan langkahnya dengan Habiba.


"Assalamu'alaikum Tari..." Habiba langsung menggamit lengan adik iparnya itu.


"Walaikumsalam kak... Lupa!!" Manisnya Mentari saat tersenyum malu begini.


"Gak masalah kan gue panggil kakak di kampus?" Tanya Mentari, kan siapa tahu Habiba gak nyaman geto!


"Gak masalah Tar... panggil kaya biasa juga gak masalah. Serah lo! " Sahut Biba santai.


"Tumben sih abang gak nganterin?" Kepo yang mendarah daging. Secara mereka adalah pengantin baru geto loh!!


"Lagi ada kerjaan katanya, takut gak bisa jemput" Jawab Habiba apa adanya.


"Abang chat gue, suruh bantuin kelola cafe bareng lo, eh bareng kak Biba" Habiba mengangguk, meski ia baru mendengar dari Mentari. Telinganya masih terngiang pembicaraan Bintang via telepon dengan seorang yang entah siapa.


"Nanti pulang ke cafe aja apa ke rumah Tar? lama nih gak ngobrol ngobrol" Ujar Habiba, yang ingin mengorek informasi dari Mentari. Siapa tahu kan?


"Kak Biba, si Affan ngikutin kita loh dari pas kakak di parkiran" Bisik Mentari. Di tanya apa jawabnya apa. Gak nyambung!


"Hemm.. gue tauk Tar!" Melongo nih si Tari, anteng anteng geto ternyata Habiba juga memperhatikan.


"BTW gimana Tar?" Tanya Habiba lagi.


"Masih ngikutin kita Kak.." Habiba menghembuskan nafasnya kasar,


Tari sudah terlalu fokus pada laki laki bernama Affan.


"Tar... Istighfar. Jangan di lihatin mulu!" Yah Tari malah nyengir kuda.


"Gue lagi mata matain tauk kak!" Eleuh alasan!!


"Tar... Pulang kuliah ke ABIN cafe apa ke rumah?" Habiba memastikan.


"ABIN cafe aja kali yak, pengen nongki nongki" Habiba menggeleng samar, sepertinya Tari memang tidak tahu menau apa maksud Bintang.


"Emangnya abang mau kemana sih?" Itu pula pertanyaan yang belum Habiba dapatkan jawabannya.


"Nanti kita bahas di cafe aja" Mentari mengiyakan.


'Mas...' Habiba terus menguntai dzikir, hatinya sungguh resah. Seperti ada masalah besar yang suaminya hadapi saat ini.


**


Lima pria muda tengah duduk bersama di dalam sebuah ruangan, wajah wajah tegang yang sedang berusaha menyelesaikan masalah yang tak terduga.


"Lo sudah kasih pengawalan buat istri dan adek lo?" Bintang mengangguk sebagai jawabannya.


"Gue sudah ajarin Biba, beberapa tugas cafe" Ujar Bintang. Wajahnya ruwet seruwet isi otaknya.


"Gue wanti wanti Bin, jangan turun ke jalan untuk balapan. Kasihan bini lo!" Reno mulai turut menasehati. Si babang hanya mengangguk tak pasti.


"Kurangajar!! Mereka ngincer istri dan adek gue" Tatapan marah dari pancaran mata Bintang.


"Bin... Minta bantuan bokap lo aja" Usul Ryan, yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


"Setuju Bin, keselamatan bini lo dan calon bini gue yang jadi taruhannya" Celetuk Rado.


PLAAAK

__ADS_1


"Diem lo nyet!!" Enakkan itu dapat timpukkan mesra dari Bryan.


"Lo ada tersangka gak Bin??" Bintang menggeleng sembari menghisap rokoknya cemas.


Drrrttt


Drrrttt


Bintang meletakkan telunjuknya di ujung bibirnya "Sssttt... Istri gue!".


" Assalamu'alaikum..." Sahut Bintang cepat.


"..." Habiba


"Kenapa sayang?" Tanya Bintang.


"... " Habiba.


"Iya di ABIN cafe aja, yang selalu ramai orang" Bintang menepuk kepalanya, merasa sedikit keceplosan. Takut membuat istrinya cemas.


"..." Habiba.


"Iya sayang, nanti kabarin pulang ke rumah bunda apa ke pesantren. Mas jemput" ujar Bintang, Ke empat temannya hanya menjadi pendengar yang mungkin baper baper.


"..." Habiba.


"Okey... Assalamu'alaikum" Bintang menunggu hingga Habiba mematikan obrolan mereka dalam sambungan telepon.


"Gimana istri lo?" Bryan merasakan kasihan juga sama pengantin baru yang malah harus mendapat masalah.


"Mau ke ABIN cafe, bareng Tari! Tadi orang suruhan gue juga dah ngawasin mereka" Teman teman Bintang mengangguk paham.


"Bin, lebih baik kita turun tangan. Jangan terlalu percaya sama orang suruhan lo" Jelas Reno, yang gak mau kecolongan lagi.


Mereka berdiskusi, dengan banyak susunan rencana dari A sampai Z, semoga berjalan apik.


"Sudah oke kan? kita main cantik saja" Reno mengambil alih keputusan.


"Thanks yah kalian dah bantuin gue" Tulus Bintang, merasa beruntung memiliki sahabat sahabat seperti mereka. Somplak tak masalah yang penting dapat saling memahami.


"Kabarin istri lo, jangan sampai dia khawatir" Titah Ryan yang tumben somplaknya berkurang.


**


"Assalamu'alaikum..." Ucap Bintang, seraya memasuki kediaman kedua orang tuanya.


Habiba memutuskan pulang ke rumah mertuanya, sekalian memgantar Mentari pulang.


Ia pun ingin memastikan beberapa kendaraan yang mengikutinya sedari pagi, semakin bertambah ketika Tari berada dalam satu mobil dengannya.


"Walaikumsalam..." Sahut ke empat orang di ruang keluarga.


Habiba menghampiri Bintang, meraih tangannya dan menciumnya Takzim.


Bintang dengan sengaja mengecup kilas bibir Habiba di depan kedua orang tua dan juga Mentari.


"Mas... Malu!" Bisik Habiba, yang masih dapat di dengar semua anggota keluarga.


"Biar Tari iri!" Santuy banget itu kan, Gak tau apa itu jantung Tari dah lompat lompat lihat live streaming depan mata.


"Bintang, kalau mau mesra mesraan ajak Habiba ke kamar dulu!!" Titah Bunda. "Kasihan adik kamu.. JOMBLO!" Imbuh bunda melirik anak gadisnya yang hendak beranjak.


"Tari ke kamar aja, video call mas Min Ho" Kesel kan dia, masa gandengan sama cicak di dinding. Hadeuh!!


"Bintang... Temui ayah besok di kantor" Tumbenan ini ayah Hendra meminta Bintang ke kantornya. Ada apa??

__ADS_1


Habiba berdiri di balkon kamar suaminya, kamar yang baru sekali ini ia masuki.


"Seneng banget di balkon?" Habiba berbalik mengulas senyum yang sangat Bintang rindu.


"Honey... Mas kangen banget!!" Habiba menuntun Bintang masuk ke kamar sebelum suaminya benar benar memeluknya di balkon. Dan menutup pintu penghubung ke balkon kamar.


"Pakai baju dulu mas... Nanti masuk angin" Ujar Habiba yang hendak beranjak menuju lemari Bintang.


"Sayang..." Bintang menyentak tangan Habiba, dan membawanya ke dalam pelukan.


"Ada apa mas...?" Nyaman menghirup aroma tubuh sang suami.


Melingkarkan tangan pada pinggang, yang hanya terlilit handuk.


Perlahan Habiba mengangkat wajahnya mengikuti arahan Bintang. Menatap senyuman yang memabukkan.


'Ada apa di balik senyumanmu mas?' Biarlah hatinya terus bertanya tanya.


Ia turut menikmati sentuhan bibir yang membuatnya candu, sedikit membalas pagutan yang suaminya berikan.


Tok tok tok


CEKLEK


BRAAKK


"Sorry lupa!!" Teriak Mentari dari balik pintu.


"Di panggil bunda makan malam!" Teriaknya lagi lalu segera turun. Live streaming ke dua kali. 'Ahhh mending nonton doraemon'.


Habiba terkekeh melihat wajah Bintang yang terlihat kesal.


"Kita lanjut di rumah" Habiba kembali berhambur ke pelukan Bintang.


"Rasanya males beranjak kalau sudah meluk kamu mas"


"Jangan jauh jauh dari aku mas... Aku belum sanggup!" Habiba dapat merasakan debaran jantung Bintang yang tak berirama.


Selepas makan malam Bintang benar benar membawa istrinya pulang.


Bintang menaiki motornya dan Habiba mengendarai mobil.


"Sayang... Ke dapur yuk. Mas laper lagi" Rengek Bintang yang masih melingkarkan tangannya pada tubuh Habiba.


"Aku ke kamar mandi dulu ya" Lembut Habiba mengusap manja wajah suaminya.


"Gak usah pakai baju lagi sayang... Lebih indah" Biarkan saja suaminya berceloteh ria.


Habiba menyambar kerudung instan setelah ia keluar dari kamar mandi. Bintang sudah turun lebih dulu.


"Astaghfirullah mas... Kenapa gak pakai baju?" Habiba menggeleng dengan kelakuan suaminya.


"Males sayang, nanti juga di buka lagi" Ah...


"Senyum kamu mesum mas..." Ujar Habiba, memilih memanaskan makanan.


"Pengennya di mesumin istri, tapi istriku belum bisa mesum" Masih setia memandang punggung Habiba.


"Silakan mas..." Bintang menatap penuh tanya, hanya ada seporsi makanan di atas meja.


"Mas... Jangan paksa aku makan tengah malam" Ujar Habiba, ia hanya ingin menemani suaminya makan.


"Aku gak terbiasa makan tengah malam Mas... " Tetap saja membuka mulut, karena Bintang tak menarik sendok dari hadapannya.


Senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2