Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Biru biru


__ADS_3

Suasana ruang tamu rumah Bintang menjadi riuh, melihat sang tuan rumah memasuki ruangan dengan langkah sedikit pincang. Tenang hanya sedikit saja.


"Woooyyy... Yang habis gelut sampai biru biru.." Semua menatap arah datang Bintang, dengan wajah yang masih lebam. Rian kamu luar biasa!!


"Akhirnya kan si Panjul masuk penjara juga.. " Rado menimpali, ingin merapat Bintang namun di tolak tegas. Ah kasihan si abang..


"Eh.. Gue belum jompo yak!" Sungut Bintang dan langsung duduk di samping Brian.


"Bini lo kemana? Koq lo sendiri?" Bintang telah meminta sang istri kembali ke kamar setelah memapahnya menuruni anak tangga.


"Takut sawan denger suara kalian yang mirip knalpot bocor" Kekeh Bintang dalam hati namun memasang wajah sedatar papan triplek. Lah kalau papan gilesan ada gelombang gelombangnya gitu.


"Gimana ceritanya lo kalah?" Reno turut kepo, melihat sang vokalis yang cosplay jadi ranger biru.


"Kata pengawal yang ngikutin Habiba, motor anak buah Panji emang ngikuti mereka" Sahut Bintang.


"Lah kenapa gak langsung sikat?" Kesal Rado dengan gigi bergemelutuk. Gereget!


"Gak ada bukti bro.." Brian yang menimpali.


"Lah ngejar Habiba aja dia gak perlu bukti.. Langsung gaspol" Celetuk Rian yang memang suka adu otot. Maklumlah sabuk pengaman. Heh!!


"Itu buktinya tersirat bukan tersirat" Menunjuk dadanya sendiri yang tanpa sadar terlalu keras menggerakkan tangannya. Berakhir dengan ringisan kesakitan.


"Sakitnya juga tersirat guys... " Goda Reno, tumben si babang Reno becanda ya kan kan??


"Hahahaha..." Kompak mereka mencibir Bintang... Habiba hanya menggeleng dari atas tangga mendengar gelak tawa mereka.


'Sahabat yang luar biasa' batin Habiba menghangat. Setidaknya suaminya punya teman teman yang saling perduli.


"Sorry... Kemarin kalian jadi manggung di cafe gue?" Kepo Bintang, secara ia terkapar di rumah sakit. Hah!!


"Jadi dong... Lo di depak dari band" Celetuk Rado mengompori, Arsitek satu ini benar benar bensin dalam api.


"Kemarin Mentari yang jadi vokaliswati nya" Ujar Brian. Kasihan si Bintang suruh berpikir pula. Iya kalau isi otaknya gak geser dikit kan!! Dan apa itu vokaliswati bang??


"Wah ngadi ngadi kalian bawa bawa adek gue..!" Pengen mencak mencak namun sadar diri iganya tiba tiba sakit, beda sekali saat berdua dengan sang istri. Hemmm!!


"Lagian sudah terjadwal, toh adek lo boleh juga!" Reno menimpali, Bintang memang over protektif pada adik satu satunya itu. Pasrah sudah si babang Bin yang hanya menghela nafasnya pelan.


Mereka berbincang bincang hingga pada akhirnya mereka menganga karena Habiba lah yang menolong Bintang. "Iya... Jadi yang bikin tepar Panji itu istri gue. Bukan pengawal Habiba apa lagi gue" Ucap Bintang meyakinkan.


"Wah... Gue gak bisa godain ukhti ukhti kalau gitu" Rian cukup dengan pemikiran absurdnya sendiri.

__ADS_1


"Bisa di sate kita... " Dengan ekspresi menelan salivanya Rado benar benar bisa membuat teman temannya ingin muntah seketika.


"Ya ampun... Anak bunda" Heboh bunda Sara yang menerobos masuk hingga lupa mengucapkan salam.


"Auuwww... Bundaaa!!" Pekik Bintang kembali meringis. Sungguh sangat tepat sasaran kan bunda ini.


Lihat teman teman Bintang yang turut meringis, seolah merasa ngilu pada luka Bintang. Mentari saja sampai menelan salivanya kasar melihat sang abang menahan sakit. 'Bunda gue luar biasa' salut kan itu dalam hatinya.


"Assalamu'alaikum bang.. Aku ketemu kakak ipar ya diatas" Ucap Mentari yang langsung menuju kamar sang kakak. Habiba sudah menunggunya diatas.


"Gue temenin Tar.. " Goda Rado, ia lah yang paling sering menggoda Mentari.


"Gue lempar ke atas pluto!!" Hardik Bintang kesal.. "Kalau serius nikahin adik gue, mumpung bunda di sini... " Tantang Bintang.


"Oke deal!!" Seru Rado...


"Abang!! Gue mau kuliah dulu ya... " Teriak Mentari yang masih mendengar pembicaraan di ruang tamu.


"Rado... Kalau serius ketemu ayah Hendra.." Bunda turut menimpali. Rado makin girang kan cengar cengir merasa nyangkut di atas awan.


"Bintang... Gimana ceritanya berkelahi kaya anak SD?" Lah.. Kini biar mereka mendengar bunda mengeluarkan suara platinumnya..


"Bintang di hadang bunda..." Sahut Bintang, sedang teman temannya asyik menghabiskan camilan yang mbok Yem sediakan.


"Siapa orang gede gede di depan? debt collector?" Tanya bunda semakin kepo.


Biarkan bunda yang terus bertanya tanya.. Hah.. Kamu nanya? Bunda nanya?? Bertanya tanya??


"Bunda... Itu orang yang Bintang suruh ngawal Habiba dari jauh" Bunda semakin bingung berpikir.


"Karena Panji yang mukulin Bintang berniat mencelakai Mentari dan Habiba. Ia yang sudah nyimpen narkoba di tas Bintang.." Bunda menutup mulutnya seketika, ternyata putra putrinya menghadapi masalah di luar sana.


Cepat bunda menghubungi ayah Hendra.. "Bunda.." Bintang menggeleng namun bunda Sara tak perduli.


"Ini sudah urusan hukum bang.. " Tegas bunda, di setujui teman teman Bintang.


"Ayah... Tolong sediakan pengacara, untuk lebih jelas ayah datang ke rumah abang.." Sudahlah Bintang tak akan mampu berbuat apa apa, ayahnya yang akan turun tangan langsung.


Di kamar Bintang, lebih tepatnya di balkon kamar. Tempat favorit nyonya Bintang.


"Keterlaluan tauk gak!" Kesal Mentari, Habiba pun merasa bersalah. Karena baru sempat mengabari soal Bintang.


"Sorry ya.. Abang kamu gak mengizinkan" Mentari menghela nafasnya kasar, di tambah mengingat wajah tampan sang kakak yang sedikit lebam dan sobek di pelipis.

__ADS_1


"Soal pengawal itu, kakak tauk?" Habiba mengangguk, Mentari baru paham kenapa Habiba akan selalu di jemput di rumah bunda.


"Terus... Gak ngasih tauk ke gue?" Habiba semakin merasa bersalah melihat wajah merah padam adik iparnya.


"Maaf..." Lirih Habiba, baru kali ini ia melihat adiknya merajuk.


"Terus kalau gue gak telepon tadi, gak ada yang ngasih tau. Gitu??" Mentari menatap kesal Habiba, rasa kesalnya memuncak meski ia tahu itu pasti karena perintah sang abang.


Habiba memeluk Mentari, terasa sekali nafas Tari yang memburu menahan emosi. Tentu karena ulahnya dan sang suami.


"Biba.. Kalau kalian kenapa kenapa gimana coba?" Nada Mentari yang mulai bergetar, mengiris sudut hati Habiba.


"Maaf Tar.. Bagaimanapun mas Bintang punya alasan sendiri, dan aku gak bisa membantah selama itu masih dalam kondisi baik" Ujar Habiba.


"Jangan bilang kalian juga belum ngabarin keluarga di pesantren" Tebak Mentari.


"Udah tadi barusan setelah telepon kamu" Sahut Habiba, membuat Mentari sedikit lega.


"Intinya kalian keterlaluan tauk gak. Marah gue!" Sungut Mentari level akut.


Habiba mengurai pelukan, menangkup wajah cantik adik iparnya "Terimakasih.." Tulusnya. Dan Mentari tak mampu lagi menolak ketulusan sang kakak ipar.


"Tapi jika kalian begini lagi, gue akan karungin kalian" Seloroh Mentari, membuat Habiba menarik kedua sudut bibirnya.


"Ayok duduk.. Kamu sudah tinggi nanti semakin tinggi" Akhirnya Mentari menuruti kemauan Habiba. "Repot kan kalau sudah di kasih senyum begini" Habiba terkikik mendengar penuturan Tari, adik plus temannya itu memang selalu bikin ceria dan cerita.


"Berarti sikap gue di awasi sama pengawal abang dong? Sudah kaya film mafia kan gue!" Yah.. Mentari kembali pada pembahasan awal. Namun akhirnya terkekeh geli. "Pengawal itu apa gak sawan lihat tingkah gue?" Dipikir kan itu, dari tadi sibuk tantrum sih.


"Gue ke dapur ya... Ambil camilan" Ujar Habiba berlalu pamit meninggalkan Mentari di balkon. "Jangan loncat" Imbuh Habiba.


"Emang gue kodok, loncat!" Teriak Mentari gemas. Dalam hatinya bersyukur pertemanan mereka semakin dekat setelah adanya pernikahan.


"Biba.. Mau kemana?" Bunda Sara sudah hampir sampai di kamar Bintang dan Habiba.


"Bunda... Apa kabar?" Menyalami sang bunda mencium punggung tangannya takzim.


"Alhamdulillah baik... Kamu mau kemana?" Ulang bunda..


"Mau ke dapur ambil camilan bun.. Tari ada di balkon kamar bun" Bunda mengangguk lalu membiarkan sang menantu pergi ke dapur.


"Habibati..." Panggil Bintang, Habiba berjalan menunduk. Disana masih ada pengawal yang sedang makan bersama di ruang tamu. Ada yang lesehan dan ada yang di kursi. Sedang teman teman Bintang sudah pamit pulang.


"Biar aku bantu mas..." Bintang membiarkan Habiba membantunya berdiri, karena ia memang membutuhkan bantuan.

__ADS_1


"Kalian santai santai aja di sini... Di kamar deket garasi juga boleh kalian pakai" Ujar Bintang pada pengawalnya.


"Biar nanti mbok Yem yang mengantarkan camilannya ya sayang" Patuh Habiba, kembali memapah sang suami menaiki tangga.


__ADS_2