Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Drama Pagi


__ADS_3

Subuh ini Bintang sudah mulai melaksanakan sholat di masjid setelah hampir dua minggu absen. Namun kali ini ia mengajak sang istri.


Habiba tidak lantas menghampiri suaminya yng tengah berbincang dengan seorang pria sekitar 60 tahunan. Imam dari masjid dan pemuka agama daerah tempat tinggal mereka.


Bintang melambaikan tangan agar istrinya mendekat, kurang sopan rasanya jika kyai itu yang menghampiri Habiba.


"Assalamu'alaikum, by.." Meraih tangan dan menciumnya takzim. Kemudian mengatupkan kedua tangannya di depan dada, pada kyai tersebut.


Tak berapa lama ada wanita muda seumuran mereka yang turut menghampiri.


"Walaikumsalam.."Jawab mereka kompak.


Entahlah ada rasa aneh yang menyelubungi hati Habiba, sebisa mungkin menepiskan pikiran buruk yang tiba tiba menerobos masuk. 'Astaghfirullahalazim..' lafalnya berulang kali, menggantikan resah yang mendera.


" Kyai.. Perkenalkan ini istri saya Habiba.." Ucap Bintang pada sang kyai.


"Habibati... Beliau kyai Sodiq imam masjid ini" Kini beralih bahkan menggenggam erat tangan Habiba.


Kyai Sodiq dan wanita yang baru saja menghampiri, sama sama terdiam dengan penuturan Bintang.


"Habiba.." Ucap Habiba mengangguk, lalu menyalami wanita di samping Kyai Sodiq. Wajahnya sedikit berubah dengan senyum sedikit masam.


"Khadijah.. Beliau ayah saya" Jawab wanita bernama Khadijah. Iapun turut mengatupkan kedua tangannya pada Bintang. Habiba tersenyum getir, dapat ia tangkap jika Khadijah mencuri pandang pada suaminya.


"Jadi nak mas Bintang sudah menikah?" Tanya kyai, Bintang mengangguk sopan seraya merengkuh pinggang Habiba agar semakin menempel di tubuhnya. Eleuh babang meresahkan!


"Astaghfirullah maaf nak, bapak pikir masih sendiri" Ujar kyai Sodiq tak enak hati. Dari ekor matanya sangat jelas terlihat jika Khadijah masih setia menatap tangan Bintang yang memeluk mesra pinggang Habiba. Bahkan jemarinya bermain main ujung kerudung.


"Tidak apa apa kyai.." Senyum Bintang, semakin meresahkan hati Habiba dan Khadijah tentunya.


"Kami permisi dulu kyai, istri saya mulai masuk kuliah lagi hari ini" Lanjut Bintang, enggan berlama lama di sana. Terlebih ia dapat merasakan tangan Habiba yang sedikit dingin.


"Assalamu'alaikum" Salam Bintang dan Habiba, menautkan jemari mereka dalam genggaman.


"Walaikumsalam.." Jawab kyai Sodiq dan putrinya, Khadijah.


Wanita itu menelan ludah pahit, tatapannya masih setia pada pasangan suami istri yang semakin menjauh.


"Habibat..." Panggil Bintang mesra tanpa mesum. Ini masih di jalan, mana boleh mesum.


"Ya Habibi.. Ceritakan saja!" Peka sekali loh Habiba ini. Istri manapun akan peka jika terjadi sesuatu sama suaminya, hanya saja ada yang bisa mengungkapkan dan ada yang hanya memendam perasaannya.


"Jangan marah!" Ujar Bintang memastikan, dia takut melukai perasaan Habiba.


"Kamu sudah melamarnya mas? Atau dia yang melamarmu?" Nada Habiba yang sedikit bergetar mengoyak perasaan Bintang.

__ADS_1


"Kita bicarakan di rumah ya.." Berusaha bersikap setenang mungkin, tidak ingin menyakiti wanitanya itu.


Habiba langsung ke dapur untuk membantu mbok Yem, bukan karena ia lupa jika suaminya ingin membicarakan hal yang serius. Tapi, ia belum siap jika mendengar kenyataan yang tak sesuai keinginannya.


"Mbak Biba.." Panggil mbok Yem heran.


"... " Masih mengiris cabe, dan itu sudah terlalu banyak.


"Non... Ada apa?" Habiba menggeleng samar, matanya sudah mengembun menahan tangis.


"Biba siap siap dulu ya mbok, ada yang belum selesai" Memalingkan wajah dari mbok Yem, seraya membersihkan tangan.


Mbok Yem merasa aneh, tidak biasanya Habiba bersikap demikian. Biasanya akan ada obrolan atau candaan jika Habiba di dapur bersama mbok Yem.


"Habibati.." Bintang menangkup wajah Habiba yang sendu, sorot matanya memancarkan kesedihan.


"Ayok duduk dulu!" Menuntun Habiba ke sofa kamar, nampaknya mood istrinya tidak baik pagi ini. Ada cemburu dalam hatinya.


"Waktu itu kyai Sodiq melamar mas untuk putrinya...Khadijah.." Bintang merasakan tatapan istrinya yang tak baik baik saja. Bahkan Habiba sudah memalingkan wajahnya, yang sedikit menunduk.


"Percayalah, Habibimu ini hanya ingin satu ratu... " Sengaja menjeda kalimatnya, sedikit menguji kecemburuan Habiba. Siapa tahukan Habiba tidak cemburu.. Lah babang!!


"Tapi selir banyak?" Haduh!! Babang makin gemes tahu gak sih neng? Senyum dan marahnya koq sama sama mempesona.


"Maaf mas, aku belumlah menjadi wanita solehah, yang sanggup berbagi suami" Lanjut Habiba, mengoyak hati Bintang.


"Yaa Allah.. Seneng deh kalau punya istri cemburu" Ujar Bintang gemas dan menguyel uyel pipi Habiba.


"Hah... Habibati jangan termakan pikiran sendiri. Tentu saja mas ME NO LAK!!" Tersenyum tampan. "Mas sudah punya yang sempurna, menggemaskan dan pastinya tulus" Habiba seketika melayang karena lanjutan kalimat suaminya.


"Mas..." Lirih Habiba menatap dalam manik Bintang, mencari kebohongan dari sorot mata itu.


"Hemm.." Gumam Bintang masih mempertahankan senyuman mautnya.


"Kamu nakal mas.." Ucap Habiba dengan nada sekessal mungkin.


"Maaf... Mas sengaja tes kadar kecemburuan istri mas ini" Lah... Bisa masuk SKS mungkin ini yak!


"Jangan tatap mas seperti itu, sayang. Bisa bisa jantung mas copot karena tatapanmu yang membuat mas deg deg ser.." Aiiihhh.. Rayuan pulau kelapa babang benar benar membagongkan.


"Hemmm... Aku mau siap siap kuliah mas. Bisa diabetes aku!" Beranjak dari duduknya, jangan lupakan Habiba yang kemudian berbalik sekedar menyambar sesaat bibir suaminya yang tersenyum manis.


"Manis sekali.." Ucap Habiba. Lah kan.. Giliran babang yang akan diabetes karena bibirnya terlalu manis. Hiiisss!!


**

__ADS_1


Masih ada waktu 40 menit untuk memulai kelas, Bintang masih setia menggenggam tangan Habiba. Mau nyebrang bang? Itu di dalam mobil loh!


Untung saja loh kaca mobilnya gelap, jadi sedikit bebas mau lihatin sampai puas wajah istrinya. Padahal mereka sudah mementaskan drama semenjak lepas subuh, sekarang masih membuat drama di dalam mobil.


"Habibati, tegur mas kalau mas salah. Pukul saja kepala mas, jika mas lupa ingatan tentang dalamnya cinta mas" Ini gombalan atau curahan hati seh bang? Lihat saja reaksi Habiba yang masih bergeming mencerna ungkapan Bintang.


"Secinta cintanya kita sebagai manusia, tetap tidak setara dengan cintanya yang Maha Cinta" Bintang menggaruk tengkuknya, ia lupa jika istrinya itu berbeda. Tapi ia tak lupa ketulusan Habiba.


"Terimakasih ya mas.. Saranghae.." Kali ini Bintang di buat melayang dengan kelakuan Habiba, seperti bukan Habiba yang anggun dan kalem. Lama lama juga ketularan suaminya dan juga Mentari!!


"Habibati... Nanti temani mas ke rumah sakit yah.."pinta Bintang, Biarkan saja Habiba berpikir.


" Okey... "Sahut Habiba cepat. Bintang mendekatkan wajah mereka, membuka cadar Habiba sedikit.


" Habibiba, mas minta mood booster yah.." Manis sekali babang ini jika ada maunya.


"Biasanya juga gak pernah izin. Semua di tubuhku adalah hak suamiku" Yes.. Riangnya hati babang, niat langsung menikmati lembutnya bibir sang istri. Dan..


TOK TOK TOK


"KAK..!!" Suara itu, teriakan dari balik jendela itu. Ah.. Tentu saja merusak rencana indah Bintang.


"Adek gue.. Pengen di gantung di bawah pohon kencur kali tuh!" gerutu Bintang kesal.


Harus atur nafas baik baik kan Habiba, hemm yang kesal Bintang yang atur nafas koq Habiba!!


"Sabar Habibi.." lembut Habiba, mengusap sayang pipi sang suami.


Bonusnya adalah Habiba yang mendaratkan ciumannya di bibir Bintang, meski sekilas dan kurang. Dari pada tidak dapat sama sekali kan. heh!!


Senyum Habiba menyambut Mentari, yang masih setia menunggu di depan pintu mobil.


"Kak Biba, mau masuk gak? c*pokannya nanti lagi di kamar kalian" Biarkan saja Mentari kesal kan, Habiba hanya mengulas senyum di balik niqobnya.


"Hadeuh jodoh gue kemana sih.." Racau Mentari, menatap sinis sang kakak.


"Habibati... Nanti kalau Tari manyun gitu, langsung tutup mulutnya. Takut di sosor soang kan!" Ujar Bintang, turut turun menghampiri istri dan adiknya.


Tanpa basa basi Bintang memeluk Mentari sayang, Habiba hanya bersandar manis di pintu mobil.


"Bang, bayarin ojol Tari" Eh.. Tari sungguh luar biasa kan. Sudah manyun manyun, sekarang minta di bayarkan ojeknya.


"Tari gak bawa dompet" Sudahlah, Habiba sangat hafal jika adik iparnya memang sering membawa uang.


"Nanti kalau punya suami, sering kelupaan!" seloroh Bintang, mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Bang... Uang saku" Cicit Mentari.


Semangat yah Mentari yang selalu penuh drama dengan dompetnya yang sering tertinggal.


__ADS_2