Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Pernikahan Mentari


__ADS_3

Banyak pasang mata tertuju pada Habiba yang bergandengan dengan Eka. Tentu saja karena calon mempelai wanitanya belum jua keluar dari kamar.


"Umma, kenalin sahabat aku. Eka.." Habiba memperkenalkan Eka pada ummanya, "Dan Eka, ini umma, ini mbak Zahra, abah dan itu kedua kakakku, mas Reza dan mas Fathan" Habiba mengenalkan Eka hanya ada ummanya, tetapi memperkenalkan semua keluarganya pada Eka.


Mereka duduk berdampingan tentu saja Habiba ada di samping sang suami.


Sesekali Eka melirik tangan Habiba yang selalu dalam genggaman Bintang, 'Semoga Allah segera mendatangkan jodoh terbaik untukku. Aamiin' doa Eka.


Kini semua pasang mata beralih pada sang pembawa acara, setelah pembukaan, pembacaan ayat Al-Quran dan kini Rado harus bersiap menjabat tangan ayah Hendra.


Habiba dan juga Eka sudah berada di samping Mentari yang tampak tegang dari wajahnya.


"Mau di batalin??" Goda Eka menyebalkan.


PLAK


Kebiasaan kan Tari dan Eka yang suka saling mengusap kasar...


"Periiih..." Tari tak perduli, meski Eka selalu mengusap pahanya.


"Eka..." Ujar Habiba memperingati. "Ayok, lanjutkan!!" Hemm... Tari dan Eka sontak memancang Habiba gemas. Sedang Habiba hanya terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Haha heeeuuup!!" Tawa Eka harus ia hentikan sendiri dengan telapak tangannya.


"Eko... Gue grogiiii..." Kini tangan Mentari sudah asyik aja meremas pergelangan Eka. Kan sakit!!


"Saaahhh!!" Terdengar dari arah depan, dan sangat lantang mengoyak hati Tari.


"Alhamdulillah..." Habiba dan Eka memeluk Tari bersamaan.


"Tuh dah sah, tinggal gue yang jomblo" Bahagia Eka berbalut nestapa kejombloan. Kasihaaaan!!


Bunda Sara hanya memancang ketiganya dari ambang pintu. Mungkin bunda Sara masih merasa kaget jika kedua buah hatinya sold out begitu cepat. Aaahh!!


"Hekkkheemm..." Senangnya, bunda di sambut senyum ketiga wanita itu.


Eka yang baru kali ini datang ke rumah Tari disambut baik oleh sang bunda.


"Masih mau nangis, atau mau turun??" Ehm, padahal mah bunda juga berulang kali sudah mengusap bulir bening di sudut matanya.


"Ulu ulu... Pengantinnya grogi katanya" Semakin menjadi kan Eka, bisa bisa dagu Tari coak karena selalu di jawil Eka. Huuuh!!


"Kak Biba, manusia satu ini kenapa gue undang sih kemarin?" Keluh Tari manja.


"Kalian ini sayang sayangnya di kampus ajah, kasihan Rado... Cemburu!" Berdiri agar pengantinnya tidak terlalu banyak drama.


"Buruan Tari!" Ajak Eka yang juga turut berdiri.


"Grogi gue, pengen pipis!" Eleuh, kalau gak lagi hari spesial Tari mungkin Eka akan langsung SmackDown Tari di tempat.


Eka dan Habiba hanya saling bicara dalam diam.


"Pipisnya nanti aja, kalau sudah sama suami lo!" Mendelik Tari yang otaknya langsung sewa biro perjalanan pariwisata. Travelling ke yang indah indah gitu? Aiiiiihhh!!


CEKLEK

__ADS_1


Pintu kamar kembali terbuka, memasang wajah ayu bunda Sara. Gemas kesal pada putrinya yang sepertinya masih di bujuk untuk keluar.


"Kalian malah arisan!" Senyum sang bunda sungguh meresahkan.


"Tari... Keluar!!" Sebuah titah yang harus segera di kerjakan.


Waaaah!! Itu bola mata harus segera ditutup, masih saja memancang seorang pengantin dengan dua wanita cantik di kanan kirinya.


"Cieeeee....!!" Paham kan ini suara teman teman Rado yang melihat Rado berkeringat saking gugupnya.


"Suiiitt suiiittt!!" Beneran ya mirip di hutan mereka itu.


"Cium cium!!" Beuh... Tari duduk aja belum sudah cium cium aja kan.


Sepertinya mereka berniat menghancurkan mental kedua mempelai. Sayang sekali karena netra Rado benar benar tertuju pada adik dari sahabatnya.


Biarkan saja teman temannya, menggonggong, mengeong, mengembik bahkan sudah berkokok sumbang mirip ayam nelen ban dalem. Eh!!


Yang penting adalah istrinya sudah ada di hadapannya, dengan wajah tertunduk. Malu ataukah menyesal Tari ini?


"Sssttt... Rado tremor" Bisik Ryan, pada Reno.


"Laper kali!!" Lah, kenapa Bryan yang terhubung. Signal kuat Bryan!


"Berisik amat kalian, mau gue waliin nikah?" Beuh, bang Reno kalau sekali nyeletuk suka bikin jantung lompat lompat kaya kodok.


Sebising apapun mereka, biarkan saja. Acara tetap saja berjalan lancar sebagaimana mestinya.


PROK PROK PROK


"Punya kenalan petugas RSJ?" Tanya Reno pada Bintang yang hanya menggeleng samar.


"Masa cium istri saja di sorakin kaya sirkus?" Keluh Reno.


Sebagai sahabat malu loh mereka dengan kelakuan Rian dan Bryan. Sudah kaya anak PAUD nonton karnaval ogoh ogoh.


Kini Bryan berpindah ke samping Reno, hingga kini Reno berada di tengah. Ya ampun senyum Bryan bikin mules, sangat tidak sedap dipandang mata.


CUP


"Hiiiiisssshhhh!!" Pekik Reno mengusap kedua pipinya.


Menggelikan sekali kan sikap Bryan dan Ryan yang malah menciumnya bersamaan.


Lihatlah fokus Mentari saja sampai teralihkan kepada ketiga lelaki tersebut. Eka saja sampai melongo dengan polah absurd ketiga nya.


"Mereka lucu ya??... Jangan sampai naksir!" Kini tatapan Mentari beralih pada tangan yang tiba tiba menggenggamnya, lalu beralih pada wajah laki laki yang harus ia taati.


"Cantik banget..." Bisik Rado kemudian.


Hadeuh Rado, jantung Tari belum aman loh sudah di bikin semakin terdesak dengan pujianmu.


Disisi lain Eka masih berbisik dengan raut tegang nan menggemaskan Tari. "Hemm.. Jadi pengen nikah..." Sampai Habiba memandang ke arahnya.


Ya ampun Eka itu bisikan hati merembes ke telinga Habiba. "Pilih yang terbaik!" Sahut Habiba yang benar benar berbisik.

__ADS_1


Jemari Habiba lembut menggenggam punggung tangan sang suami, menguatkan hati Bintang jika adik satu satunya, kesayangannya sudah menjadi istri sahabatnya.


Tatapan keduanya bertemu, hingga Habiba tersenyum mengusap sudut netra Bintang yang basah air mata.


Entahlah, Bintang berdiri setelah mendapatkan anggukan kepala dari sang istri, mengusap lembut pucuk kepala Habiba sesaat.


Kasihan kan Eka yang terbawa perasaan karena sahabatnya menikah, dan perlakuan manis sejoli di sampingnya, memporak-porandakan jiwa kejombloan yang belum menemukan tempat ternyaman untuk berlabuh.


Huuuuuhhh... Sepertinya episode ini Eka harus banyak menahan sabar karena kejombloannya.


"Abang..." Kini Mentari memeluk sang kakak hangat.


"Adik abang, sudah gede ternyata..." Benar benar Bintang tak mampu menahan haru karena pernikahan Mentari.


Rado memancang kakak iparnya sedikit kesal, belum puas loh itu mengecup kening Tari. Bintang main serobot ajah, sekarang memeluk erat istrinya pula. Uuuh!


Sama halnya dengan sang bunda yang turut menitikan bulir kristal, begitu bahagia dengan persaudaraan anak anaknya meski selalu banyak drama saat kedua nya bertemu.


"Bintang!!" Tegur ayah Hendra.


Acara belum selesai loh itu, Bintang sudah maju aja ke depan memeluk sang adik.


"Baiklah ayaaaaah..." Dengan langkah berat melepas pelukan sang adik.


Lebih baik memeluk sang istri kan, melepaskan haru karena pernikahan sang adik tercinta.


"Euuumm... Manisnya habibi aku" Bisik Habiba menerbitkan lengkungan senyum di wajah tampan Bintang.


"Ayo bulan madu" Maklumlah semenjak menikah mereka belum pernah pergi berbulan madu.


Mungkin double Honeymoon dengan sang adik itu adalah ide yang sangat baik. Bolehlah bolehlah!


"Boleh..." Sahut Habiba dengan senyum manis di balik cadar.


"Ampun dah istri siapa ini koq manis banget senyumnya.." Yaelah... Sepertinya mereka melupakan sesuatu.


"Hekkheeemm!!" Interupsi abah berhasil menghentikan polah anak bungsu dan menantunya.


Habiba menunduk malu, sedang Bintang cengar cengir. Hingga umma turut mengulum senyum, bisa bisanya anak dan mantunya berisik sendiri.


"Kalian berisik sekali, menjengkelkan jiwa seorang jomblo..." Eh, ucapan Eka suka tepat sasaran menggoda Habiba.


"Suka khilaf..." Sahut Habiba setelah semua kembali fokus ke depan.


"Hemm... Ustadzah khilaf terus kalau lagi sama suaminya" Cibir Eka full senyum meresahkan.


'Astaghfirullahalazim...' sadar diri kan Habiba, jika sudah terlalu berisik karena ingin menghibur sang suami yang tampak sedih.


HAP


Santai sekali Bintang merengkuh pinggang sang istri, tidak lupa telapak tangannya yang setia mengusap usap perut Habiba yang terjangkau tangan.


"Anak abi dan umi lagi lihat tante Tari ya... Cantik kan?" Tanya Bintang lirih. "Kan adik abi jadi cantik" Ya ampun babang tanya sendiri di jawab sendiri.


Tak salah jika aku semakin nyaman hidup denganmu, kau adalah lelaki penyayang pada keluargamu dan mampu membedakan cintamu padaku dan cintamu untuk keluargamu. Terimakasih...

__ADS_1


Habiba Arwa


__ADS_2