Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Masalah Rumah Tangga


__ADS_3

Bintang masih memancang istrinya yang baru saja menyelesaikan makan, dengan gaya anggun nan hati hati.


"Apa mau nambah, habibati?" Jangan sampai istrinya itu masih merasakan lapar. Ia akan merasa berdosa.


Dari balik cadarnya dapat Bintang lihat jika Habiba tengah tersenyum malu malu.


"Mas pesankan, mau yang lain??"


Menggemaskan sekali ini Habiba yang mengangguk malu malu mau.


"Aku mau harumanis, habibi" Makanan yang Bintang sangat tidak menyetujui.


"Boleh, tapi sedikit saja. Jangan di habiskan, tidak sehat" Beuh... Bintang sudah seperti ahli gizi sekarang.


"..." Mengangguk mengiyakan, ia begitu menginginkan makan harumanis.


Habiba begitu menikmati keluar bersama sang suami, dulu jangankan keluar malam dengan laki laki, dengan teman teman pun jarang. Hanya ke perpustakaan kota atau ke toko buku.


Tak butuh waktu lama Bintang sudah mendapat harumanis untuk sang istri, warna merah muda begitu menggiurkan.


"Terimakasih habibi" Ucapnya riang, persis seperti anak anak.


Sifat kekanak kanakan yang Habiba tutup dengan sebuah kedewasaan sungguh sangat mengagumkan, hingga jarang sekali wanita itu menunjukkan amarahnya.


"Mau jus?" Tawar Bintang, Habiba nampak menimbang lalu menggeleng.


"Nanti aja di cafe, habibi. Jus di cafe suamiku yang terbaik" Pujinya menyipitkan mata menggoda.


Bintang menjawil pipi yang tertutup cadar itu, tanpa mereka sadari banyak mata memancang iri.


"Habibi, aku masih lapar" Ucap Habiba menunduk.


Sadar dong ia baru menyelesaikan sepiring ketoprak beberapa saat lalu. Tapi, ia sadar saat ini ada satu perut yang harus ia penuhi gizinya juga.


"Mau nyari keliling atau mas bawakan ke sini?" Sungguh, Habiba begitu terharu dengan perhatian suaminya.


"Ah, lama! Mas cium nih!" Celetuk Bintang melukis rona merah di wajah ayu Habiba.


Sudah Habiba bayangkan jika suaminya nekad menciumnya, maka banyak pasang mata yang akan menjadikan mereka sebagai pusat perhatian.


"Oouucchh!!" Lebay kan si abang ini, jemari Habiba tidaklah senakal itu.


"Apa boleh di bungkus dan makan di cafe?" Ucapnya sedikit ragu.


"..." Bergeming seolah menimang keinginan sang istri.


"Ke cafe tidak boleh bawa makanan dari luar, sayang!" Hemm... Si babang ini menggoda ataukah serius dengan ucapannya?


Habiba hanya bergeming, tanpa sadar menggamit lengan suaminya posesif, dengan sorot mata memohon.


"Baiklah! Kali ini mas mengalah, mas bisa di pecat jika tidak menurut pada owner!" Itu tangan di kondisikan bang, memanfaatkan Habiba yang sudah menempel.


Kini gantian Habiba yang menarik manja pergelangan sang suami. Ah... Senangnya Bintang mendapat Keposesifan sang istri.

__ADS_1


"Besok gue bercadar"


"Lo gak mandang gue disini?"


Terdengar suara remaja lelaki yang tampak menegur si gadis. Bintang dan Habiba masih berlaku tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Besok keluar pakai masker, habibi" Cerocos Habiba.


Panas sekali telinganya karena sedari kehadirannya ke cafe banyak pasang mata dan mulut yang kepo dan sangat perhatian kepada Bintang.


"Aku cemburu mas..." Aku Habiba.


Apalah Habiba, wanita akhir zaman yang berusaha menjadi lebih baik. Sayyidah Aisyah yang notabene istri Baginda Rasulullah SAW dan wanita cerdas saja pernah cemburu di hadapan tamu sang Rasul.


Bintang kini yang merengkuh pinggang sang istri, berjalan beriringan menyusuri gerobak pedagang kaki lima yang berjajar di dekat area masjid Raya.


"Mas..." Habiba berhenti dan menunjuk dengan ekor matanya.


"Mau??" Tanya Bintang seperti menanyakan pada seorang bocah.


"..." Anggukan menggemaskan yang Bintang lihat.


Haah... Hari ini istrinya memang sangat menggemaskan, sering mengungkapkan kecemburuan dan menggunakan kode kode mata saja.


"Gemez loh mas, sama istri mas ini!" Jujur Bintang seraya menjawil dagu


"Auuwww... Baper gue!" Masih ada aja celetukkan dari gadis muda di sekitar mereka.


Ih... Saking romantisnya mereka gak sadar, ada beberapa gadis usia SMP yang terus memperhatikan mereka.


"Oke! Selepas ini kita langsung ke cafe" Putus Bintang, genggaman tangan Habiba terasa lebih erat dari sebelumnya.


"Hemm... Besok pakai masker!" Bintang tersenyum simpul, sepertinya istrinya memang harus sering sering cemburu.


Akhirnya makanan jatuh pada nasi goreng seafood, di tambah ayam goreng tepung crispy ala ala benua Amerika.


"Jangan lupa nanti makan buah dan jus nya" Peringatan Bintang seraya menggenggam tangan sang istri posesif.


"Maaf mas, aku lagi suka makanan gerobak" Tak enak hati kan Habiba, secara di tempat suaminya pun menyediakan nasi goreng.


"Hemm... Mas rugi ini" Godanya mengulum senyum, ia terlalu kenyang melihat Habiba yang makan begitu lahap. Tak seperti biasanya.


"Mas..." Rajuknya lirih.


Kini mereka mendapat perhatian dari anggota band yang perform. Tentu saja Habiba hanya menunduk, tanpa menatap lekat wajah wajah pemain band tersebut.


"Apa kamu kenal pemain band di depan?" Selidik Bintang tak yakin.


Habiba mengangkat kepalanya, menatap sesaat para anggota band yang memang mungkin tengah memperhatikan dirinya dan sang suami. Mungkin!


"Mereka baru kan disini mas?" Habiba harus memastikan. Jangan sampai su'udzon pada orang lain, terlebih orang yang bekerja pada mereka.


"Ya, baru satu minggu" Warta Bintang, berpura pura menikmati musik yang mereka bawakan.

__ADS_1


Hati Bintang sedikit resah karena tatapan tak nyaman sang vokalis.


Apakah Bintang iri?


Tentu saja bukan itu jawabannya, hanya saja sebagai sesama lelaki, ia tahu dan paham arti tatapan itu.


Pandangannya beralih pada sang istri yang sudah menghabiskan hampir satu porsi nasi goreng gerobak.


"Aaaaa mas..." Bintang menerima suapan nasi goreng dengan ayam crispy di atasnya.


Mengusap kepala istrinya yang semakin manja, bahkan tak sungkan menunjukkan perhatiaannya di depan umum dalam batas normal.


"Makasih Habibati..." Ucapnya tulus, setelah tadi sempat menolak di awal awal sang istri baru membukanya.


Bintang sedikit mengecap ngecap rasa nasi goreng yang lumayan menurut lidahnya, dengan harga jauh lebih terjangkau dari harga di cafenya.


"Emmm, nasi gorengnya manis banget" Ujarnya membuat Habiba mengernyit bingung. Biasanya selera lidahnya dengan sang suami mirip mirip sedikit.


"Tapi menurutku enak mas, pas" Bintang hampir saja tergelak, istrinya begitu ekspresif dengan menirukan gaya iklan di TV. Menyatukan ujung jempol dan jari telunjuk lalu menciumnya di bibir, Lezatooo!


"Karena apa yang kamu berikan selalu mengandung madu, habibati" Aiiihh, babang benar benar bikin nasi goreng di mulut Habiba kalah nikmat dengan senyuman sang suami.


"..." Habiba tak menanggapi gombalan Bintang, ia kembali menyuapkan ayam crispy itu ke mulut suaminya, sedikit memaksa.


Habiba harus menetralkan detak jantungnya yang selalu saja ambyar karena ulah sang suami.


Debaran itu masih sama, masih terasa getarannya hingga melemahkan sendi dan logika Habiba.


"Mas pikir, saat ini pipi habibati mas sudah mirip tomat masak. Merah meronah!" Beruntung Habiba menggunakan cadar, hingga orang lain selain sang suami tak akan tahu betapa ia melting dan sangat salting.


Nakal Bintang langsung mendapat cubitan di paha dari sang istri, "KDRT habibati..." Ujarnya mencebikkan bibir.


"Dede, abi koq nakal banget yah. Bikin umi salting" Adu Habiba pada perutnya yang sedikit membuncit.


"Gak papa salting, asal jangan sinting" Ya ampun si abang malah cekikan, harus segera sadar karena pengunjung cafe semakin ramai.


"Sinting karena terlalu bahagia mencintaimu, habibi!" Habiba benar benar mancing sang suami, Bintang saja semakin terkekeh karena ucapan sang istri.


Wah! Dalam hati niat menggombal, malah ia sendiri yang semakin melayang karena usapan lembut Bintang di pipi yang tertutup cadar.


Benar seperti dugaan Bintang, selepas perform, anggota band yang terdiri dari 5 personil itu menghampiri meja mereka.


"Hemmm!!" Dehem Bintang, menyadarkan salah seorang dari mereka yang begitu lekat memancang Habiba.


"Habibi, aku duduk di kasir saja yah!" Izin Habiba sedikit berbisik. Dan langsung mendapat anggukan sang suami.


Habiba memilih duduk di kasir, tak masalah berdekatan dengan gadis yang selalu memancang ke arah suaminya.


Memantau apa yang akan di diskusikan oleh para anggota band kepada suaminya itu.


"Mbak Habiba mau minum?" Tawar Ari sopan, ia tahu jika Habiba datang tidak membawa serta jusnya.


"Saya mau jus strawberry saja kak, banyakin susu yah!" Ari lekas membuatkan jus permintaan Habiba.

__ADS_1


Sedang Habiba duduk bersebelahan dengan kasir yang tampak tak nyaman. Sesekali Habiba harus bersikap egois, karena ini masalah rumah tangganya.


__ADS_2