
Habiba sudah menunggu sang suami di meja makan, sudah ada umma disana. Ia gagal tidur siang di pelukan si babang. Padahal masih pengen manja manja.
"Ya bunayya..." Lembut Umma, sedari tadi ia memperhatikan putri bungsunya yang tampak gelisah.
"Umma..." Rengek Habiba, kembali duduk bersama sang umma.
"..." Menunggu putrinya siap bercerita, dengan senyum masih mengembang.
"Umma... Koq mas Bintang belum pulang juga seh dari masjid?" Ya ampun Habiba... Umma sampai mengulum senyum dengan nada manjamu itu.
"Sabar ya sayang, mas Bintang kamu itu ke masjid bareng abah dan mas Fathan" Mengusap punggung Habiba, Namun Habiba malah cemberut masam.
"Kuasai diri, jangan sampai hormon kehamilan membuat Habibanya umma ini menjadi cepat marah" Habiba memeluk umma manja, tergugu di pelukan sang umma. Maa Syaa Allah..
"Astaghfirullah umma... Maaf Biba juga gak tahu. Biba gak suka kalau mas Bintang jauh dari Habiba" Sabar umma, menghadapi putrinya yang sedang mode labil.
"Assalamu'alaikum..." Suara yang sangat Habiba rindukan, melepas pelukan umma dan langsung berlari memeluk suaminya.
"Habiba... Jangan lari!" Ya kan... Umma dan Habiba sampai lupa membalas salam, bahkan abah dan Fathan bingung dengan kelakuan Habiba.
"Walaikumsalam..." Umma lirih ketika sudah sampai di depan abah dan Fathan.
Abah dan Fathan saling pandang, lalu beralih pada umma yang dituntut menjelaskan perihal yang terjadi.
Mereka masih menjadi penonton romansa Habintang di depan mata, bagaimana tidak, Habiba malah melingkarkan tangannya erat di perut Bintang.
"Mas... Gendong..." Hemm... Manis sekali kan, kasihan Fathan si single loh itu. Matanya ternoda drama romantis di depan mata.
Senang hati Bintang mengangkat tubuh Biba seperti koala, "Maaf abah, mungkin bawaan calon bayi... Alhamdulillah sudah ada di rahim Habiba" Ujar Bintang dengan menahan bobot sang istri.
"Alhamdulillah..." Seru abah dan Fathan secara bersamaan, lalu sujud syukur sebagai tanda terimakasih pada Allah yang kuasa.
"Sayang... Dah makan?" Tanya Bintang. Abah, umma dan mas Fathan sudah lebih dulu ke meja makan.
"Biar aku yang nyuapin mas yah..." Lebih baik mengangguk, toh ia juga tak malu harus makan di suapi di depan keluarga istrinya. Hah...!!
"Baiklah, tapi nasinya normal saja..." Ucap Bintang. Takut loh kalau ia di paksa menghabiskan makanan yang melebihi kapasitas perutnya.
"Aaa...." Bintang jadi mengingat bunda yang selalu menyuapi dirinya dan Mentari disaat mereka kecil, dari piring yang sama. 'Meringankan cucian piring' begitulah kira kira perkataan bunda Sara.
"Terimakasih... Habibati" Abah dan ummi tersenyum, melihat betapa putrinya begitu manja saat ini. Oh... Sungguh diluar dugaan.
__ADS_1
Sedang Fathan masih memilih diam, sesekali memperhatikan. Ada rasa yang menggelitik perasaannya, menyaksikan live romantic. Kasihan...!!
"Mas... Pangku!" Ampun dah Habiba ini, ngidam model apa sih? Koq jadi absurd begitu?
"Sini sayang..." Memundurkan kursinya hingga memberikan ruang pada istrinya agar dapat duduk di pangkuan.
Umi dan abah saling pandang, seolah mengingat sesuatu dari tingkah putrinya itu yang tengah hamil muda.
"Umi... Kelakuannya mirip umi pas hamil Fathan dulu" Lah... Fathan yang sedikit mendengar bisikan abah, langsung mengalihkan pandangan.
"... " Abah mengedipkan mata agar Fathan tak menanyakan apapun pada saat ini.
"Bagaimana habibati... Enak?" Habiba mengangguk riang, sudah mirip anak kecil dapat hadiah. Dan Othor jika dapat cuan. Aiiiihhhh!!
"Umi... Bolehkan aku nambah?" Beralih pada umi yang juga mengangguk sebagai jawabannya.
"Mau mas suapin lagi?" Tanya tulus babang Bin, sedang abah, umi dan Fathan sudah menghabiskan makanan mereka.
"Apa mau aku suapin lagi mas?" Labil Habiba, di tanya malah nanya balik.
"Sedikit saja. Mas sudah kenyang, tapi suapan istri mas ada manis manisnya gitu" Ucap Bintang, hingga Habiba malah langsung mengalungkan tangannya di leher Bintang.
"Bintang, Habiba... Umi, abah dan mas Fathan mau ke kamar dulu" Malu umi melihat polah sang anak. Ehm... Padahal sama saat umi dulu mengandung Fathan. Umi... Umi...
Bintang masih menyuapi sang istri, dan sesekali menerima suapan dari Habiba. Tak masalah perutnya kekenyangan, walau memang ada anjuran berhenti makan sebelum kenyang. Namun, kali ini ia ingin melihat mood istrinya membaik. Akan ia bicarakan nanti, in syaa Allah istrinya akan memahami.
Habiba menutup semua pintu dan jendela kamarnya, melepas jilbab yang menutupi surai panjangnya. "Yaa Allah gerah banget saat ini" Bintang saja sampai mengernyit bingung, padahal semilir anginnya tadi sangat mampu membuat orang masuk angin.
Melirik AC pun di setel di pengaturan paling dingin, sudahlah biarkan saja Habiba yang masih labil dan belum bisa mengontrol mood di kehamilannya.
"Habibati... Mas kekenyangan loh ini..." Mengusap perutnya seraya bersandar di sofa kamar Habiba.
Lah... Bintang langsung bangkit karena melihat Habiba yang malah menangis, tadi pas baru sampai saja nenanginnya bikin kelimpungan. Ah!!
"Habibati... Kenapa hemmm??" Membawa Habiba dalam dekapannya... Mengusap surai panjang dan legam Habiba. Wangi shampoo menguar mengusik penciuman Bintang.
"Hiiikksss hiikkkss... Kenapa gak nolak pas aku suapin?" Semakin tergugu, entahlah ia sendiri tak tahu, padahal suaminya sama sekali tidak berbuat salah.
"Maaf... Sayang... Mas suka sekali disuapin sama bidadari mas ini. Mana mungkin mas bisa menolak!" Mengecup pucuk kepala sang istri berkali kali.
'Yaa Allah berat juga yah jadi perempuan' monolog Bintang, ternyata harus lebih bersabar menghadapi sang istri saat ini.
__ADS_1
Beralih menangkup kedua pipi Habiba, memancang netra indah sang istri yang kini basah karena air mata.
"Afwan ya habibi..." Lirih Habiba menunduk, perasaannya sungguh sulit terkendali saat ini.
"Mas yang minta maaf yah... Belum bisa menjaga perasaan bidadari mas ini.." Tak rela air mata istrinya jatuh begitu saja.
"..." Kembali berhambur memeluk tubuh laki laki yang akan ia rajakan saat ini.
"Habibati..." Lebih baik membalas pelukan Habiba dan terdiam sesaat. Bagaimana pun kondisi istrinya sedang labil, akal sehatnya tengah kalah dengan perasaannya sendiri.
Tok tok tok
Perlahan Bintang bangkit, namun Habiba masih nyaman menjadikannya guling sofa. Yah karena Habiba memang tidur nyaman memeluk Bintang di sofa . Bahkan ia akan mengeratkan pelukannya saat terasa ada pergerakan dari suaminya. Enak ya neng, tapi abang pegel neng. Iiih!!
"Masuk!!" Ucap Bintang terpaksa, takut jikalau ada yang penting.
"Assalamu'alaikum..." Ucap abah, setelah pintu terbuka. Ia tak menyangka jika ternyata menantunya itu benar benar kesulitan hingga tak mampu bangkit untuk membukakan pintu.
"Walaikumsalam abah... Maaf..." Ujar Bintang sedikit lirih. Abah menggerakan tangannya agar Bintang tak bangkit dari posisinya saat ini.
Sungguh Bintang merasa tidak enak, pemandangannya saat ini bukanlah hal yang pantas untuk di perlihatkan. Meski mereka telah halal dan sah sah saja.
"Maafkan putri abah..." Bintang mengulas senyumnya tulus, tidak ada yang perlu dimaafkan bukan. Semua tentang bidadarinya itu kini memang menjadi tanggungjawab nya.
"Abah... Habiba begini karena tengah berjuang menjaga calon buah hati kami. Mohon doanya abah..." Kini giliran abah yang tersenyum tulus, mengangguk puas karena jawaban sang menantu.
"Sabar nak... Dulu umma juga seperti itu saat mengandung Fathan. Tapi saat mengandung Habiba umma tampak lebih kuat dan jutek" Aku abah seraya terkekeh mengingat romansanya bersama sang istri. Ah... Abah so sweet!!
"In Syaa Allah abah..." Sahut Bintang singkat. Bingung juga dengan Habiba yang malah ngusel ngusel ke leher disaat yang tidak tepat. Kan malu!!
Abah benar benar tidak menyangka jika putri kecilnya kini sudah dewasa, bahkan terlihat manja dengan suaminya. "Abah keluar dulu... Nanti tolong nasehati Habiba agar bisa menahan manjanya di tempat umum" Tutur abah, hingga wajah Bintang bersemu merah.
"Sabar ya..." Imbuh abah lalu keluar dari kamar sang putri.
Bintang memancang wajah istrinya yang masih terlelap itu, sepertinya tidurnya begitu damai dan tenang.
"Bahagia ya habibati... Maafkan kekurangan suamimu ini" Mengecup kening Habiba sayang.
"Terimakasih sudah mau menerima aku, bahkan anak aku tengah merubah kebiasaanmu" Imbuhnya, betapa bersyukur istrinya itu begitu sabar sesekali tegas menghadapinya kemarin.
"Bintang mencintaimu Habiba"
__ADS_1