
Semua keluarga sudah pulang, hanya ada Habiba dan dua pengawal yang menunggu di luar ruangan. Habibapun telah selesai melaksanakan sholat isya dan sunah.
"Habibati..." Panggil Bintang lirih,
"Ya habibi... " Sahut Habiba seraya mendekati sang suami. Menggenggam telapak tangan Bintang penuh kasih. "Mau minum?" Tanya Habiba lembut.
"Habibati... Maaf yah.. Aku membahayakan keselamatan kamu. Aku tidak bisa menjagamu" Sesal Bintang, namun Habiba hanya memberikan senyum simpul menutupi nyeri yang mencubit sudut hatinya.
"By... Tugas kita hanya menjalani, serahkan semua pada Allah yang maha di atas segala maha.. " Bintang merasa tenang dengan jawaban sang istri.
"Makasih ya.. Ingatkan suamimu ini yang masih harus banyak belajar" Membawa tangan Habiba ke bibirnya, mengecupnya berulang ulang.
"Kita sama sama belajar ya by.. Belajar seumur hidup, sehidup sesurga" Habiba mengusap pipi suaminya sayang.
"Pulang yukk... " Rengek Bintang. Lupakah dia baru tadi siang dapat tausyiah seluas lapangan golf. Habiba gemas sendiri, menjawil hidung mancung Bintang.
"Aku gak mau kena amuk lagi mas.." Sahut Habiba nyengir melihat Bintang melipat wajah tampannya. "Alhamdulillah mereka semua sangat perduli dengan kita by... " Imbuh Habiba sangat menghangatkan sudut hati Bintang. Istrinya ini lebih dewasa dari umurnya.
"Sini naik.. Pengen peluk" Titah Bintang manja. Lekas Habiba naik tidur menyamping memeluk Bintang.
Anggap saja kamar sendiri di rumah kan, hemm!! Hingga menjelang pagi tangan Habiba masih memeluk mesra si babang, seolah takut jika suaminya akan pergi meninggalkannya.
**
Masih terlalu pagi bunda Sara datang ke rumah sakit, membawa banyak makanan untuk anak dan menantunya dan beberapa pengawal yang masih Bintang sewa.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum.." Bunda Sara masuk di sambut hangat sang menantu.
"Walaikumsalam bunda... Maaf ya, Biba masih membersihkan tubuh mas Bintang" Ujar Habiba, bunda Sara hanya mengangguk dan langsung duduk di sofa kamar.
"Bunda... Abang malu" Bunda menghela nafas kasar, padahal sedari lahir juga bundanya yang memgurus. Bunda... Babang kan sudah gede, sudah berumah tangga pula.
"Iya deh... Yang sudah punya istri.. " Bunda bisa aja kan, bukan hanya Bintang yang semakin malu, tapi juga Habiba yang tersipu di balik cadar.
"O yaaa Biba, kapan kita ke optik?" Sepasang suami istri itu merasa bingung dengan pertanyaan sang bunda.
"Iya nanti kalau mas Bintang sudah keluar rumah sakit Biba temenin bunda.." Sahut Biba lembut, seperti biasanya.
__ADS_1
"Iya kamu harus ikut, karena bunda mau beli kaca mata buat kamu.." Kening Biba berkerut masih tak paham, sedang Bintang mengerti arti senyuman sang bunda.
"Bunda mau kamu sadar itu bayi gede kamu sudah sangat menjengkelkan.." Bunda dan Habiba sama sama mengulum senyum, menatap Bintang yang memcebikkan bibirnya.. Ah.. Pengen di s*sor gitu!!
Perasaan anaknya si babang deh, tapi kesayangannya tetap saja Habiba kan. Sabar aja ya bang, tabahkan hatimu!!
**
Akhirnya setelah semua pemeriksaan beres, dan beberapa hari tidur manis di atas brankar rumah sakit kini Bintang sudah nyaman tidur memeluk guling hidupnya. Babang sudah jingkrak jingkrak bisa sampai di kamarnya bersama Habiba.
"Ya ampun... Berasa jadi pengantin baru tadi kan ini..." Paham betul itu si Habiba sama mulut Bintang, sukanya nyeletuk sesuka hati.
"Masih baru mas... Baru dua bulan!!" Sahut Habiba, eh sekarang sudah pintar mengimbangi candaan sang suami.
Bintang bangkit dengan sedikit menahan nyeri di bekas lukanya, duduk menjadi penonton sang istri yang tengah sibuk memasukkan baju bajunya dalam lemari. Hemm di kira lomba menata ruang kali yak!!
HAP
Bintang mendekap sang istri dari belakang, bukan Habiba tidak tahu langkah suaminya, aiihh ia pun rindu dengan pelukan hangat Bintang yang sesuka hati.
"Lepas ya, hijabnya" Harus mengangguk pasrah, ada banyak rindu dari kerlip mata Bintang.
"Mas..." Rengek Habiba sedikit manjalita.
"Hemmm..." Gumam Bintang sekenanya, bibirnya masih nyaman disana.
"Boleh aku menyelesaikan urusan baju ini, kasihan mereka kedinginan belum masuk lemari" Eh.. Dikira Bintang bocah apa ya, harus pakai bahasa perumpamaan sederhana. Sayangnya kan Bintang melebihi dari bocah, bahkan ia sudah menggeleng samar. Tentu saja melarang karena ia tengah melepas rindu.
"Habibati..." Hah.. Hembusan nafas Bintang membuatnya meremang, bahkan Bintang sudah membalikkan tubuh sang istri berhadapan dengannya.
"Mas..." Sialnya Habiba tidak bisa menolak tatapan Bintang yang sepertinya sangat menginginkannya. Bahkan senyum tipis suaminya seolah menariknya semakin mendekat, padahal mereka sudah sangat dekat kan.
"Mas..." Lirih Habiba, Bintang benar benar menikmati bibir lembut Habiba yang kini sedikit pucat.
"Kangen banget sama istri mas yang solehah ini..." Ujar Bintang mencubit gemas pipi Habiba. Kening Habiba berkerut bingung, meski Bintang di rumah sakit tapi mereka selalu bersama, bahkan Habiba kembali mengambil cuti untuk bisa menjaga suaminya. Bisa telat wisuda kan itu.
"Habibi... Mulai sekarang terbuka ya sama aku... Meski niatnya baik, tapi caranya juga harus mengikuti bukan" Ucap Habiba setelah menetralkan perasaan dan tubuhnya yang menginginkan lebih dari sentuhan suaminya. Eh eh eh!!
"Siap nyonya!!" Habiba tergelak karena Bintang memberinya hormat layaknya upacara bendera.
__ADS_1
CUP
Habiba mengecup bibir Bintang sekilas, ya hanya sekilas takut khilaf kan masih penyembuhan, walau tidak ada larangan.
"Komandan gue.. Manis banget!!" Habiba berlalu menuju pintu kamar, membiarkan suaminya melongo di tempat. "Aku ambilkan makan dulu, lalu minum obat. Perintah nyonya!" Lanjut Habiba sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu.
Di sofa kamar Bintang terkekeh sendiri, ah.. Habiba melupakan hijabnya yang tadi Bintang lepas. Hiissshhh!! Bintang memilih berlari menuruni tangga, mencari istrinya di dapur.
"Mas... Kamu hyperactive yah..." Cicit Habiba gemas.. Suaminya tak menghiraukan larangan dokter. Dan ia tersadar saat melirik tangan Bintang yang menyodorkan hijabnya.
"Maaf mas.. Aku tadi lari ke jemuran, ambil hijab yang sudah kering.." Imbuh Habiba merasa bersalah.
"Sayang... Kamu buat mas jantungan karena kerudungmu" Aku Bintang memasang wajah semelas mungkin.
"Cukup aku yang jantungan karena gombalan kamu.." Sahut Habiba santai. Mbok Yem saja panas dingin mendengar obrolan sepasang suami istri itu, ya meski sudah terbiasa.
"Ya ampun, aden, mbak Biba... Bikin mbok merinding.." Gak paham apa perasaan mbok Yem yang jauh dari belahan jiwa.
**
Bintang memilih makan di depan TV, tetap saja Habiba yang malah di suapin, hah.. Si abang bikin Othor ngiri kan.
"Mas... Ayo minum obatnya.." Habiba sudah menyodorkan obat plus minumannya, namun Bintang malah menggeleng manja. Ih.. Gak malu umur.
"Eh... Nanti kita kena tausyiah dari para sesepuh mas.." Seloroh Habiba seraya tersenyum, mengingat dirinya dan Bintang yang mendapatkan nasihat panjang kali lebar kali tinggi dari para orang tua.
"Kamu dulu yang minum obatnya... Baru mas.." Sabar ya Habiba, suamimu masih gesrek otaknya karena kena pukulan Panji.
Habiba menatap kesal suaminya, "Iya nanti aku minum obat KB" Sahutnya menyulut api.
"Eh.. Ngadi ngadi kamu yak... Mau mas seret ke kamar... Hemmm??" Habiba terkekeh dengan ekspresi Bintang, dia yang eror kan malah nyalahin istrinya.
"Ayok minum obatnya sekarang... Kamu yang sakit aku yang di suruh minum.. Subhanallah suamiku yang soleh.." Gemas Habiba nguyel nguyel wajah Bintang yang belum sepenuhnya tpulih.
Bintang terbahak karena pikirannya sendiri, dia yang mancing dia juga yang kelabakan.
"Uhibbuki Fillah Habibati... " Lah sebelum nelen obat yang pahit menggigit kan manisin dulu sama bibir sang istri... Modus nikmat bukan!
"Hehe... Aku lihat di g**gle.. " Aku Bintang, indahnya malah ia mendapat kecupan manja di seluruh wajahnya.
__ADS_1
"Yaa Allah menang banyak kan gue!" Cicit Bintang membalas pelukan Habiba.