
Habiba dan Tari sudah selesai kelas, mereka duduk sebentar sebelum memasuki kelas selanjutnya.
"Tar lihat" Habiba menunjukkan sebuah pesan dari Zahra, yang baru sempat ia buka.
Mba Zahra
Assalamu'alaikum calon pengantin
Nanti pulang di antar calon imam ya!
Harus bertiga sama Mentari
"Eleuh seneng aja pulang bareng bang Bintang" seloroh Mentari.
"Masuk kelas ah, capek gue digodain mulu" Habibapun meninggalkan Mentari, yang masih senyum senyum.
"Kakak ipar gue, gede ambek" Habiba memicingkan matanya, Tetapi Mentari malah mencubit gemas pipinya yang tertutup cadar.
"Ya ampun, semaleman sama mbak Zahra. Sekarang sama kamu" Kasihan sekali Habiba yang menjadi objek candaan.
"Besok juga sama bang Bintang" Bisik Mentari lalu secepat kilat kabur dari hadapan Habiba.
Habiba tak mampu menahan senyumnya, tiba tiba saja sosok lelaki yang kini menjadi calon suaminya, hadir di pelupuk mata.
Segera ia berjalan menunduk untuk menghindari tatapan para mahasiswa.
Akan sangat memalukan bukan, jika ia ketahuan senyum senyum sendiri tanpa ada hal yang jelas.
"Biba... Buruan tuh..." Teriak Mentari seraya menunjuk dosen laki laki yang kini menuju kelas mereka.
Segera Habiba mengangkat gamisnya sedikit, untuk memudahkannya mengejar kelas.
'Mas, kamu harus tanggung jawab loh bikin otakku konslet. Astaghfirullahalazim' Batin Habiba.
"Biba, kamu mau aku panggilin psikiater?" Habiba menatap Mentari tak percaya.
"Tuh senyum senyum sambil jalan, kesandung cowok repot dah" Lanjut Mentari mengedipkan matanya.
"Itu keselek Tari, bukan kesandung" Celetuk Habiba dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Sebenarnya mereka ingin menertawakan diri sendiri, sayang harus mereka tahan karena langkah dosen sudah memasuki ruangan.
**
Bintang langsung menuju kampus Mentari, ia akan menjemput Tari dan juga Habiba.
Tepat mobil sampai, kedua gadis itu pun sampai.
"Assalamu'alaikum bang Bintang" Sapa Mentari, Habiba hanya menunduk kan pandangan.
Antara malu dan menjaga pandangan, begitulah kira kira.
"Walaikumsalam.. Ayo buru masuk, sudah di tunggu" Ujar Bintang, yang sama sekali tak turun dari dalam mobil.
Seperti biasa dia akan bertindak sebagai supir dari kedua gadis itu.
"Tar, abang mau bicara sama Habiba. Kamu diem aja, anteng anteng tutup telinga dan mulut" Ujar Bintang, setelah beberapa menit mobil melaju.
"Sip bang, asal jangan lupa uang tutup mulut dan telinga" Sahut Mentari menyebalkan.
"Abang serius Tar, awas kalau berisik, abang turunin" Ancam Bintang tak serius.
Buat apa ngancam kalau tidak serius. Rugi!
"Iya abangku sayang" sahut Mentari dengan nada menggemaskan. Sukses membuat Habiba mesam mesem di balik cadar.
__ADS_1
"Biba, aku mau tanya sekali lagi" Ucap Bintang.
"Kamu beneran Terima lamaranku? Aku tidak ingin memaksa jika kamu tidak siap" Imbuh Bintang memastikan.
"In sya Allah aku terima, dan tidak terpaksa" Koq ini malah Mentari yang nyengar nyengir.
"Jika mas Bintang ragu, silakan dibatalkan" Habiba sedikit menggertak, Bintang dan Mentari sama sama terkejut dengan pernyataan Habiba.
Jika benar di batalkan apa gak nangis si neng Habiba?
"Eitttzzz jangan ngadi ngadi Biba, Bila perlu malam ini langsung akad" Reflek Bintang menantang.
"Hahahaha" Akhirnya jebol juga kan pertahanan Tari, suara tawanya mengiringi perbincangan calon pengantin.
"Tar..." Peringatan Bintang cukup mengintimidasi.
"Uppps! sorry..." sontak ia menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Habiba hanya menggeleng melihat kedua kakak beradik itu, Ah!! Jadi rindu mas Reza dan mas Fathan.
"Mau mahar apa?" Eh eh eh ini kenapa Mentari yang semangat perjuangan??
"Biba, jawab dong" Desak Tari, Habiba masih bergeming.
Jiwa perempuan kan, pengennya ditanya langsung sama calon imam. Co cweeet!!
"Kenapa?" Bisik Tari, ternyata kali ini Tari peka dengan kode Habiba.
"Sakit tauk Biba..." Tangan Habiba sudah mendarat di paha Tari. Gemas sekali ini Habiba dengan mulut lemes Tari.
"Abang gak peka!!" Cerocos Mentari.
Bintang membuang nafas kasar, adiknya ini benar benar berakhlak mulia. Alhamdulillah!!!
"Hekkhemmm... Biba kamu mau mahar apa?" Tak ada salahnya kan mengikuti saran Tari.
"Kalau kamu maunya apa?" Desak Bintang.
"Belum kepikiran mas" Jujur Habiba.
"Ya sudah, nanti mikirin aku ajah" Rayuan pulau kelapa mulai berselancar manjah.
"Gombal mukiyo" Cibir Tari, sejak kapan abangnya ganjen begini.
"Apa kamu tidak punya permintaan?" Tanya Bintang, sedikit mencuri pandang melalui rear vision mirror.
Sudahlah biarkan saja si Tari jadi patung hidup.
"Permintaan?" Tanya balik Habiba.
"Iya" Sahut cepat Bintang.
"Permintaan pada umumnya saja, sama sama belajar membawa rumah tangga yang SAMARA" jelas Habiba.
Eh lihat Mentari yang terharu dengan pernyataan Habiba, gadis itu bahkan memeluk calon kakak ipar hangat.
"Abang aja belum Tar, kenapa kamu duluan?" Astaghfirullah, mulut siapa coba ini. Kasian Habiba kan mukanya sudah mirip bumbu cimol pedas.
"Yeee abang, kalo ngemeng suka pas. Nanti Tari aduin ke bunda, biar dikawinin malam ini" Tak habis pikir kan ini si Tari, dengan ucapan abangnya.
"Biba, koq lo mau terima abang gue? Sengklek gitu" Celetuk Tari, kenapa abangnya yang badboy malah diterima dengan tangan terbuka.
"Biba, jangan senyum senyum gitu" Makin gemas nih Tari.
"Ayo turun, sudah sampai" Ajak Habiba pada Tari.
__ADS_1
"huuuhhh Biba gak asek" Kesal Mentari, yang segera menyusul Habiba.
Mereka masuk ke rumah, dimana sudah ada dua keluarga yang berkumpul.
"Jadi, Bintang Habiba kapan kalian siap?" Tanya ayah Hendra, setelah keduanya duduk nyaman.
"Hemm.. " Suara deheman abah menginterupsi, bukannya menjawab Bintang dan Habiba malah saling mengunci pandangan.
"Maaf bah" Ucap Bintang, sedang Habiba langsung menundukkan pandangan.
"Nanti malam saja selepas isya" Usul seorang lelaki tua yang baru kembali bergabung.
Semua orang disana tersenyum geli melihat ekspresi Habiba dan Bintang.
"Mbah Hasyim..." Bintang segera berdiri menghampiri, mencium takzim tangan tua itu.
"Jaga cucu mbah baik baik, jika kamu menyakiti Habiba. Mbah yang akan menghukumu" Ujar mbah Hasyim tegas dengan nada sepuhnya.
"Iya Habiba cucu mbah" Jelas mbah Hasyim yang melihat kebingungan di wajah Bintang.
"Siap akad nanti malam?" Tantang mbah Hasyim.
"Saya ngikut Habiba saja mbah" Jawab Bintang, jika menuruti ego sih detik ini juga boleh. Hehehe
"Bagaimana Biba?" Kini mbah Hasyim beralih pada Habiba.
"Ah emm terserah uma dan abah" gugup Habiba. Sungguh di luar ekspektasi.
'Semoga abah dan uma setuju' monolog Bintang.
Ayah Hendra dan Bunda saling memandang sedikit ragu, Mereka hanya membawa seserahan lamaran seadanya.
"Bagaimana Uma?" Tanya Abah. Reza dan Fathan hanya diam, jika mbah Hasyim sudah berpendapat.
Mereka sangat menghormati kakek, sekaligus guru mereka.
"Maaf Apa tidak terlalu cepat mbah? kami belum ada persiapan berarti" Ucap ayah Hendra sedikit memotong pembicaraan.
"Hanya akad, untuk resepsi itu bisa kalian bicarakan. Untuk surat menyurat besok Reza dan Zahra yang akan mengurus" Jawab mbah Hasyim.
"Kalau bunda seh setuju saja, supaya Bintang juga lebih bertanggungjawab" Ujar bunda Sara, nampak ia sangat menyukai gadis bercadar itu.
'Yes' Bintang girang banget nih kan, sudah dapat dua dukungan.
"Bagaimana Habiba apa kamu bersedia?" Uma yang kali ini menanyakan langsung pada putrinya.
"Uma..." lirih Habiba, risau kan nikah dadakan gini.
"Abah dan Uma meminta persetujuan kamu, karena kamu yang akan menjalani" Abah menatap putri bungsunya tegas, meski sorot netra tuanya ada rasa takut kehilangan.
"Bagaimana menurut abah dan uma?" Solehahnya Habiba, ia lebih menuruti perkataan kedua orang tuanya.
"Kalau abah tentu saja bersedia. Fathan, Reza, Zahra gimana pendapat kalian?" Ketiga orang tersebut memandang abah hormat.
"Reza" Sergah abah.
"Reza setuju bah" Jawab Reza yang memang menyukai pembawaan Bintang.
"Em Zahra sih yes bah" Zahra ini memang luar biasa. Sempat sempatnya menirukan juri audisi menyanyi. Huuuhh!!
"Fathan?" Kini beralih pada Fathan yang belum memberikan jawaban.
"Fathan, terserah Biba saja bah" Sudah kan ini, nikah saja voting!!
"Tunggu dulu, aku punya pertanyaan untuk mbah Hasyim dan Habiba" Ujar Bintang.
__ADS_1
"Biba, turunkan pandanganmu" Bisik uma, putrinya ini mulai nakal.
"Maaf uma, gak sengaja" sahut Habiba lirih.