Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Pengalaman Pertama


__ADS_3

Tepat sebelum Maghrib, mereka telah sampai di rumah Bintang. Rumah sederhana berlantai dua.


"Masih kepikiran uma?" Tanya Bintang menelisik raut wajah Habiba yang sedikit mendung.


"Bukan mas... In syaa Allah uma dan abah ikhlas kok" Harus ikhlas ketika anak perempuan di bawa suami.


"Mas... Kita maghrib dulu ya" Pinta Habiba, Bintang mengangguk paham.


Bagaimanapun Biba terbiasa bersama keluarganya, tidak sepertinya yang jarang pulang ke rumah.


Bintang bertindak sebagai imam, meski masih memperbaiki diri ia pun harus menunjukan jika adalah laki laki bertanggung jawab. 0


"Sayang... Kok nangis sih?" Biba menggeleng samar memberikan senyum hangat pada suaminya.


"Mas salah apa hemm?" Menatap lekat wajah Biba dengan jejak air mata.


"Aku hanya terharu mas..." Bintang semakin memperdalam tatapannya tanpa ingin bertanya.


"Aku gak nyangka mas, sudah menjadi seorang istri. Bahkan kita kenal pun tidak ada satu bulan" Jujur Habiba masih merasakan perubahan dalam hidupnya.


Babang Bin, sudah mesam mesem asem. Menggoda sang istri itu lebih baik kan, sudah dapat pahala dapat enaknya... Haiisssh!!


CUP


"Nanti jadi istri yang sesungguhnya yaa..." Mantap kan ini si babang, sudah dapat anggukan, dapat senyuman pula.


"Hadeuh cantik banget istri gue..." Celetuknya semakin membuat Habiba malu.


"Mas, besok aku cuti dua hari" Semangat dong ini, istrinya libur dua hari bisa gaspol!!


"Kita makan dulu yuk... Buat tenaga cuti dua hari" Ini maksudnya bakalan gak makan gitu selama dua hari?


Habiba memanaskan makanan yang mereka beli tadi, ia memang tidak terlalu pandai memasak, hanya sebisanya saja.


"Mas... Bahaya ih" Rengek Habiba, Bukannya kenyang, makanan akan berantakan.


"Pengen meluk... honey" Masih mengendus leher Habiba yang memang telah berubah warna...


"Kalau tumpah gimana?" Harus sabar kan ini Habiba menghadapi suami absurdnya.


"Tetep makan dong... Kamu.. " Aiihhh itu mulut kalau ngemeng suka bikin deg deg ser.


"Mas... Cafe itu..." Bintang tersenyum lalu memotong ucapan Habiba.


"Itu cafe aku, Amor..." Sungguh merasa bidadarinya itu sangat menggemaskan.


"Maaf ya,, baru cerita" Merasa bersalah telah membohongi Habiba, lain dengan Habiba yang merasa bersyukur. Setidaknya suaminya pun memikirkan masa depan.


Habiba membereskan alat solatnya dan Bintang, setelah Isya dan sunat dua rakaat spesial.


"Sayang... Koq masih grogi sama aku?" Telisik Bintang melihat Habiba yang menunduk.


"Mas... Seneng banget godain aku" Gugup Habiba yang masih memilin ujung bajunya.


"Mas boleh godain istri tetangga gitu?" Habiba menatap Bintang sesaat lalu memalingkan wajannya.

__ADS_1


Gemez juga kan sama si babang, kalo godain bikin nyeri hate...


"Habibati... Are you ready?" Lirih Bintang, menangkup wajah ayu sang istri yang selalu memerah.


"Mas... Jangan godain istri tetangga. Cukup goda istri kamu aja" Ucap Habiba yang membuat Bintang memanas.


"Ini lagi usaha menggoda istri sendiri, sayang orangnya masih nunduk..." Biba kembali mengangkat wajahnya, nampak suaminya kini tengah tersenyum merekah.


DEG


Bintang hanya memperhatikan Habiba yang mulai membuka kancing piyamanya. Mengikat asal rambutnya ke atas "Izinkan aku memenuhi kewajibanku padamu mas".


Bintang kembali menangkup pipi sang istri, mengecup bibir pink itu sesaat.


"heeessshhh..." Kata kata ajaib yang semakin melecut semangat Bintang.


Hingga akhirnya Habintang bersatu dalam peluh yang sama, kenikmatan yang sama dan rasa yang sama.


"Maaf... Sakit ya?" Merengkuh tubuh polos istrinya, mengecup kening penuh peluh itu. Habiba hanya mengangguk, membalas pelukan Bintang.


"Perih mas..." Lirih Habiba, merasakan keanehan pada daerah inti.


"Maaf yah, nanti kamu balas mas. Biar perihnya cepet hilang" Cara yang patut untuk ditiru. hihihi!!


**


"Ya Allah..." Rintih Habiba kala hendak beranjak. Rasa perih dan sakit benar adanya, bukan isapan jempol semata.


Bintang meringis, melihat istrinya menahan sakit.


"Astaghfirullahalazim mas... Selimutnya" Bintang semakin nyengir kuda, sedikit modus melihat tubuh polos istrinya yang tersingkap.


"Maaf Amor... Maklumlah pengalaman pertama" Seloroh Bintang dan sukses membuat hati Habiba berbunga bunga.


Seorang perempuan pun akan merasa bahagia jika pasangannya sama sama menjaga diri.


"Kenapa senyum senyum? Pengen mas cip*k? " sabar ya Habiba, suamimu emang selalu frontal kalau ngemeng.


"Mandi bareng yaa..." Imbuh Bintang, yang sukses menerbitkan senyum di wajah Habiba.


"Boleh, asal jangan aneh aneh. Sebentar lagi masuk subuh soalnya" Lebih baik langsung diangguki dari pada melewatkan kesempatan emas. Eleuh eleuh modus!!


"Mas..."


"Hemm..."


Bintang kembali menyerang bibir Habiba, menyesapnya penuh kenikmatan. Tangannya semakin menjadi menyusuri lekuk tubuh kekasih halalnya.


"Maaf Habibati, Lato lato mas nakal" Lirih Bintang, bagaimana bisa mengibaratkan sebagai lato lato.


"Terimakasih mas, sudah membantuku memenuhi kewajibanku" Menatap suaminya yang masih setia dengan rona bahagia di wajahnya.


**


"Sayang... Lari pagi yuk. Apa mau lanjut kelonan?" Habiba sudah menggeleng dengan pertanyaan suaminya.

__ADS_1


"Boleh mas..." Jawab Habiba, ia pun ingin mengenal lingkungan barunya.


"Asyiiikk..." Girang dong ini babang Bin, jawaban yang sangat di tunggu tunggu.


"Aku ganti baju bentar mas.." Ujar Habiba menuju lemari mencari baju olahraganya.


"Sayang, gak perlu ganti baju nanti juga mas acak acak" Eleuh pemikiran nyeleneh dari mana coba.


"Koq di acak acak mas?" Tanya Biba pura pura tak mengerti.


"Katanya mau kelonan?" Gemes gak tuh lihat bibir Bintang yang mengerucut.


CUP


Melayang ini sih babang Bintang, mendapat kecupan singkat dari Habiba.


"Maaf Habibi, Aku pikir tadi ngajak lari pagi.. " Jago juga kan Habiba meluluhkan hati si babang.


"Everything for you honey..." Habiba semakin mesam mesem dengan tingkah suaminya.


'Meresahkan banget kamu mas, bikin orang linglung' batin Habiba, merasakan rasa yang tulus dari sorot mata suaminya.


"Mas.. Aku turun dulu ya, mau masak nasi sebelum berangkat" Pamit Habiba, yang langsung mendapat anggukan dari Bintang.


Bintang turun ke dapur sesaat setelah Habiba selesai menaruh nasi dalam rice cooker.


"Sudah siap Amor?" Tanya Bintang yang di angguki Habiba.


"Ayo berangkat" Bintang menggenggam jemari Habiba erat. Sayangnya Biba hanya bergeming.


"Kenapa sayang?" Bintang hanya melihat Habiba yang menatap lurus.


Apa mungkin Habiba kesambet penunggu rumah, karena jarang digunakan? Ah!!


"Maaf ya Habibi, bisa ganti celananya dulu?" Kini giliran Bintang yang menatapnya lurus meminta penjelasan.


"Aku gak mau aurat suamiku dilihat banyak pasang mata, terlebih mereka yang bukan mahram" Semoga saja suami tampannya itu tidak tersinggung dengan nasihatnya.


Bintang menggunakan kaos oblong, juga celana pendek diatas lutut.


"Gue suka gaya lo..." Lagi lagi Habiba di buat melongo dengan tingkah dan perkataan suaminya yang langsung kabur ke kamar, setelah mencuri ciuman di bibirnya.


Di jalan banyak pasang mata yang menyaksikan sepasang suami istri itu tengah berlari lari kecil.


"Kamu suka olah raga, sayang? " Bintang melirik istrinya.


"Dulu mas, waktu masih di pesantren" Sahut Habiba, yang juga melirik Bintang sekilas.


"Kalau mau lihat... Lihat aja sayang. Gak usah malu malu" Ujar Bintang menggoda.


"Bintang..." Jelas bukan Habiba yang hanya memanggil nama.


Mereka mengalihkan atensi pada sumber suara. Detik berikutnya Habiba mengalihkan pandangan dan memilih melanjutkan larinya.


"Ya habibi aku tunggu di rumah ya!!" Biarlah dengan tanggapan suaminya dan seorang yang bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2