
Selepas Ashar, Habiba dan Bintang telah sampai di Habintang cafe. Mereka telah melaksanakan sholat ashar di masjid dekat cafe.
Karena jarangnya Habiba menginjakkan kakinya ke Habintang cafe, hingga beberapa karyawan tidaklah mengenalnya.
Hancur sudah hati mereka melihat si bos menggandeng posesif tangan sang istri yang bersarung tangan hitam.
"Patah hati gue..." Celetuk seorang pegawai cafe yang duduk di meja kasir. Eh.. Kursi meja kasir maksudnya!
"Sssstttt!!" Seorang bartender mengingatkannya.
Meski Bintang masih muda, ia tetaplah pemilik cafe tempat mereka mencari nafkah dan Bintang sudah sangat bijaksana dan toleran pada para karyawan. Hingga mereka berkewajiban menghormatinya sebagai bos mereka.
"Itu istrinya bos!" Warta si bartender.
Oke. Bartender disini yang meracik kopi dan kawan kawan, bukan minuman berbau alkohol!
"Bercadar?" Tanya si kasir sedikit terkejut.
"Hemm... Selera bos tinggi, gak kaleng kaleng" Sahutnya.
"Wah... Bisa di tikung gak?" Masih keukeuh dengan pikiran anehnya.
TUK
Kan... Akhirnya kesabaran si bartender terkikis sudah, hingga bar spoon mendarat di jidat si kasir. Meski lirih namun itu merusak moodnya.
"Mau jadi pelakor? Cafe ini atas nama istrinya, mbak Habiba" Terangnya semakin keras memperingatkan.
"Hehehe... Guyon loh aku, ojo serius ngono (Becanda loh aku, jangan serius begitu)" Masih ngeles kaya menghindari truk di jalur pantura. Iiih!
"..." Memilih meracik minuman pesanan pelanggan. Temannya itu terlalu suka membuat hal hal aneh di luar nalar.
Di dalam ruangan Bintang yang tidak terlalu luas, Habiba memperhatikan suaminya begitu berwibawa saat tengah serius.
Pantulan sinar laptop yang mengenai wajah Bintang, menjadi objek penting yang sangat menarik. Ah... Suami siapa meresahkan banget.
"Hemm... Apa habibimu ini terlalu tampan hingga suka banget curi curi foto?" Senyum Bintang seraya memergoki aksi Habiba yang tengah membidikkan kamera ponselnya.
"Yang lebih tampan banyak, ya Habibi. Tapi, hanya kamu yang menarik dan halal untuk aku kagumi dan puja" Ealah... Itu bahasa seperti tengah menggoda di telinga Bintang.
"Berarti selama ini, istriku yang solehah suka memperhatikan laki laki lain?" Bintang sudah bersidekap dada, seperti menghakimi sang istri.
"..." Gugup Habiba meski ia tak melakukan apa yang suaminya tuduhkan.
"Hahahaha..." Gelak tawa yang sangat menyebalkan.
"Habibi..." Rengeknya manja, suaminya semakin agresif menggodanya.
"Cieee, gugup yah?"
"Aku gak mau suamiku ini salah paham" Penjelasan yang semakin membuat Bintang terkekeh.
"Terlebih, kasir baru itu terus memperhatikan suamiku" Beuh... Berujung pada sebuah kecemburuan Habiba.
Bintang menautkan alisnya, ternyata Habiba mendengar apa yang kasir itu katakan. "Alhamdulillah...".
Tentu saja Habiba hanya tersenyum menanggapi ucapan sang suami.
__ADS_1
" Kenapa gak tanya?" Berharap di kepoin sang istri, yang hanya memilih tersenyum sebagai jawaban.
"Hemm... Nanti suamiku ini semakin menggoda, aku malas jika harus ke dokter jantung!" Ya ampun Habiba, menjawab sendiri seraya tersipu malu malu.
"Hahahaha..." Habiba benar benar membuat Bintang tertawa lepas hingga liar. Beuh... Maksudnya sulit di masukkin kandang gitu? Aahhh!!
"Mas... Iiihhh!!" Jantung Habiba sangat tidak aman, bahkan mungkin kadar gula darahnya sudah merangkak naik naik ke puncak gunung.
Eh... Kini Bintang malah berpindah duduk ke sofa, tepat di samping sang istri. Nyaman sekali merebahkan kepala di pangkuan Habiba.
Hemm.. Lihatlah wajahnya yang berhadapan dengan perut buncit sang istri. Ada cinta mereka yang turut menyaksikan keromantisan sore ini.
"Assalamu'alaikum dede..." Sapa Bintang seraya menikmati sisiran jemari sang istri.
"Jagain umi ya sayang, jika abi tidak ada"
DEG
"Habibi..." Cicit Habiba resah.
Ia selalu egois, dan terlalu takut akan perpisahan dengan suaminya.
"Eh... Kenapa sedih sayang?" Perih loh itu rambut Bintang yang Habiba remas karena menahan rasa hati.
"Aku salah bicara?" Segera bangkit dan mendekap tubuh Habiba yang hanya diam terpaku.
Bintang merasakan Habiba membalas pelukannya erat, istrinya memang begitu sensitif semenjak mengandung.
"Maaf mas... Aku belumlah siap jika berpisah denganmu" Aku Habiba jujur, lebih baik ia mengatakan apa yang ia rasakan saat ini.
"Bahasa kamu menyiratkan seolah kita akan berpisah. Meski aku tahu itu pasti akan terjadi... Hikss!" Bintang mengakui jika iapun takut akan perpisahan itu.
"Maaf ya habibati, maksud mas jika mas tengah bekerja dan kita sedang tidak bersama" Kilahnya menghibur.
"Mas pun tidak akan siap berpisah dengan bidadari mas ini, bisa pilu berkepanjangan hati mas" Iyuuuuhhh... Masih sempat mengucapkan kata gombal, demi mengembalikan mood sang istri.
Suasana hening semakin terasa, Habiba masih terlalu nyaman memeluk tubuh bidang Bintang, bahkan kali ini ia tak perduli dengan ketukan di pintu ruangan suaminya.
Tok tok tok
"Permisi mas Bintang..." Seorang pria muda memasuki ruangan itu.
Tentu saja Habiba masih menenggelamkan kepalanya di dada Bintang, untuk menutupi wajahnya yang tanpa cadar.
"Iya Ri... Tolong kamu menghadap ke sana ya" Huuuhh... Baru kali ini bawahan bicara dengan atasan dengan cara Memunggungi.
"Baik mas..." Patuh karyawan bernama Ari.
"Sudah Ri, langsung ke meja saya saja!" Lagi lagi Ari patuh, mungkin istri si pemilik cafe tengah selesai memasang cadarnya.
Meski Habiba mendengar pembicaraan Bintang dan Ari, Habiba tetap bergeming di tempatnya dengan wajah yang menunduk.
Jangan sampai jejak air matanya menjadi pertanyaan dan bahan gosip di seantero cafe. Harga diri dan nama baik suaminya itu hal utama untuk seorang istri.
Bintang mempercepat pembicaraan dengan Ari, ia kembali duduk bersebelahan dengan Habiba yang masih setia mengusap perutnya.
"Abi iri loh, umi gak usap usap!" Seloroh Bintang.
__ADS_1
Memang Bintang bernasib begitu baik, Habiba merentangkan kedua tangannya meminta sang suami kembali memeluk tubuhnya. Lebih tepatnya memeluk hatinya yang sedikit risau. Astaghfirullahalazim...
CUP
"Bidadari mas yang solehah..." Pujinya menguyel uyel pipi Habiba.
"Alhamdulillah..." Beuh!! Menang banyak si babang, Habiba tengah mode manja.
Sebelum adzan Maghrib berkumandang, Bintang dan Habiba beriringan ke masjid terdekat.
Bintang tidak pernah mengizinkan istrinya di luar pas jam Maghrib. Pamali, itulah yang ia dengar.
"Mas..." Panggilan Habiba mengalihkan atensi Bintang.
Dapat Bintang lihat istrinya menunjuk sebuah gerobak makanan di luar pelataran masjid.
"Oke! Nanti kita ke sana!" Wah... Harus di tiru loh lelaki seperti ini. Peka dan sangat perhatian, untuk fisik itu hanya bonus semata.
Mereka menuju tempat wudhu yang berbeda, dan melaksanakan sholat sesuai shaf masing masing.
Habiba tetap menggunakan cadarnya, karena tidak ada kain pembatas antara shaf laki laki dan perempuan.
Biarkan saja mereka yang menggunjing, berdesas desus karena Habiba tetap bercadar saat sholat. (Mohon maaf, ini sesuai yang Othor paham).
Senyum Habiba mengembang, mendapati suaminya tengah tersenyum manis menyambutnya. Namun, ada getir dalam hatinya.
Banyak gadis gadis muda yang turut berisik karena senyuman Bintang. Dan itu mengganggu Habiba.
"Habibati..." Inisiatif Bintang yang langsung mengecup kening Habiba setelah Habiba mencium punggung tangannya takzim.
"Yah... Mas ganteng sudah punya pawang!" Celetuk seorang gadis.
"Sudah meresahkanku dengan senyumannya, eh malah...!" Netranya saja yang pecicilan turut mencuri senyuman Bintang.
"Sssttt... Kalian ini, aku juga sedih" Bintang langsung mengajak sang istri keluar dari area masjid.
Menjaga perasaan Habiba adalah tanggung jawab nya karena sudah di pastikan Habiba akan cemburu, meski dalam tahap wajar.
"Kenapa mas? Takut aku cemburu?" Selidik Habiba.
"Memang ada yang patut membuatmu cemburu?" Hemm... Bintang malah memberikan pertanyaan balik untuk Habiba.
"Jangan pura pura gak denger mas!" Paham kan Bintang, meski nada sang istri lembut, tetap saja ia menuntut penjelasan.
"Denger apa sayang??" Beuh... Semakin meresahkan si abang ini.
Anak anak gadis yang tadi saja masih memeperhatikan mereka, sekarang Bintang malah merangkum kedua sisi wajah Habiba mesra. Iiiissshhh!
"Haaah... Mas, kamu ini bikin mereka panas" Ujar Habiba yang malah mengusap manja dada Bintang.
"Baperrrr gueee!!" Berani sekali salah satu dari mereka berteriak demikian.
Apa Bintang perduli?
Tentu perduli, karena menyangkut hati dan perasaan bidadarinya. Lah!!
"Tuh kan mas, mereka baper karena kamu"
__ADS_1
"Ouch..." Sengaja sekali Bintang, padahal istrinya hanya menyentuh sedikit baju yang menutupi perutnya. Sama sekali tidak melancarkan jurus cubitan kepiting.
Masih dengan merengkuh pinggang Habiba, mereka terus berjalan menyusuri pedagang kaki lima, sesuai keinginan Habiba. Yang entah menginginkan apa!