
Aura berbeda Habiba sangat kentara di netra Bintang, selepas pulang dari cafe, istrinya terus saja diam, meski masih menanggapi saat di ajak berbicara.
Ada apa denganmu ya Habiba?
HAP
Memeluk hangat tubuh sang istri dari belakang, mengirup wangi aroma shampoo di rambut panjang Habiba.
"Mas..." lembut, namun tak sampai ke hati Bintang.
"Hm.. Mas gak akan lepasin karena istri mas tengah merajuk. Marah" Kemudian berulang kali mengecup pucuk kepala Habiba.
"..." Masih cantik dengan posisinya.
"Kenapa hmm? Mas ada salah?" cecar Bintang. Tak biasanya sang istri terdiam seperti itu.
"..." masih setia menutup mulutnya, namun ada buliran cristal jatuh mengenai tangan Bintang.
Segera Bintang membalik tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya. Benar saja Habiba tengah menangis, dan kini menunduk.
"Maaf yah, mas salah.." Ucapnya menenangkan.
"Gak mas, mas gak salah. Aku saja yang cemburu berlebihan" Bintang menarik sudut bibirnya, pengakuan istrinya melambungkan hati, menebarkan benih benih bunga warna warni.
"Hm?? Cemburu?" Anggukan itu yang masih Habiba berikan, Gemas Bintang mencubit kedua pipi sang istri.
"Mas bersihkan wajahnya" Tidak hanya membersihkan, Bintang pun mengecup kedua mata Habiba beralih ke setiap inci wajah cantik itu.
"Maaf..." Lirih Habiba, sangat merasa tidak pantas memasang kecemburuan di saat suaminya tidak berbuat kesalahan.
"Sudah mas maafkan" Ucapnya beriringan dengan sebuah senyum, hangat menenangkan.
Habiba berhambur cepat dalam dekapan sang suami, lebih tepatnya menubruk memeluk Bintang.
"Hahaha... Kita bisa jatuh sayang!" Kekeh Bintang menggoda.
"Iiih mas, sukanya..." Tak mampu melanjutkan kalimatnya, Semakin mengeratkan pelukan pada tubuh gagah Bintang.
"Hangat banget mas, kalau meluk kamu...Ouuccchh... hehehe maaaas!!" Nakal kan Bintang yang menggigit kecil telinga Habiba. Di tambah Bintang yang semakin mengeratkan pelukannya, kan jadinya Habiba pasrah saja. Toh ia juga menikmati. Eh!
Hening. Hanya netra mereka yang berbicara menyalurkan rasa hati. Menyelam bersama deru nafas yang menghangatkan.
"Aku cemburu..." Aku Habiba manja.
"Mas tauk, kan tadi dah di kasih tauk!" Menjawil hidung kecil sang istri.
"Ngambeknya lamaan dikit, biar mas susah bujuknya..." Habiba tersenyum malu, suaminya memang suka aneh aneh.
"Aku butuh ridho kamu, habibi" jawab Habiba kembali berhambur memeluk tubuh tegap sang suami.
"Mas meridhoi setiap langkah kamu, usaha kamu, nafas kamu setiap apapun dari dirimu dan hati serta pikiranmu" Ademnya hati mendengar penuturan manis seorang suami.
**
"Bang..." ucap Tari kesal, sudah berulang kali memanggil suaminya, namun Rado hanya bergeming.
'Ngeselin akut loh laki gue, manten baru di diemin' batin Tari yang masih ngedumel menanggapi perlakuan Rado.
Tari memilih duduk di meja Rias di kamar mereka. Tempat yang nyaman dan Rado hari ini menyebalkan.
"Ayok ikut!" Ajak Rado sudah membuka pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Ayok!!" Ucapnya bersidekap dada di ambang pintu.
Mentari mengesah panjang dengan kelakuan si Rado, bisa bisanya ia di cuekin tanpa sebab.
"Buruan Mentari..." Ulang Rado masih dengan nada ketusnya.
Dengan terpaksa Mentari mengikuti langkah sang suami, hingga menuruni tangga dan berakhir di pintu yang menuju kolam renang kecil.
"Baaang..." Ucapnya tertahan, seketika menutup mulutnya yang masih menganga.
Wah... Jangan sampai kolamnya luber karena liur Mentari. Fiyuuuh.
Rado hanya berdiri mengulas senyum, memancang wajah istrinya yang tampak terkejut dengan netra yang masih membola.
PLAK PLAK PLAK
"Bang Radooo..." Pekik Tari selepas memberi pelajaran Rado.
"Sakit... baby.." Protes Rado, sungguh perih pukulan Mentari di lengannya.
"Kamu jahat yah..." Horor juga Rado yang melihat wajah murka Tari. "Dari pagi aku di cuekin, sekarang di kasih kejutan..." Lah, bukannya bahagia, Tari malah protes ketika di beri kejutan.
"Tapi suka kan??" Tanya Rado sudah full senyum ala badboy.
BUGH
ADUUUHH... Sabar Rado, Tari malah memukul perut sang suami. Meski bukan dengan tenaga ala karateka, itu sudah cukup membuat Rado meringis nyeri.
"Aku gak suka di cuekin dari pagi..." Eh, air mata Tari luruh dan kini memeluk tubuh tinggi Rado.
"Terimakasih yah kejutannya, dan jangan cuekin aku lagi. Kamu mau istri kamu yang cantik ini sesak nafas??" Masih saja melayangkan protes manjanya.
Mentari mengurai pelukan, lalu memancang wajah rupawan Rado, "Modus" Semburnya cepat.
Sudahlah, Rado langsung menggendong istrinya bak karung beras. Akan banyak drama jika menunggu istrinya selesai ngereog.
"Oouuuccchh" Pekikan Tari yang sia sia.
Tubuhnya sudah teleportasi ke sebuah meja di dekat kolam dan duduk nyaman di sana.
Wangi mawar yang memang mengusik indra penciuman, lilin lilin yang menambah kesan romantis malam itu dan tentunya orang spesial di sisi. Eh, di hadapannya tengah tersenyum penuh ketulusan.
"Apa suka?" Nadanya tidak romantis, dan itu tidaklah masalah. Ah, yang penting perlakuannya. Cieeee.
"Banget... Terimakasih Sayang.." Ucap Tari tulus.
"Tapi, sayang..." Hendak protes namun mikir seribu kali. Akhirnya Mentari menggeleng, dan tatapan Rado terus menelisik.
Hening. Hanya tatapan mereka yang merangkai kata hingga kalimat. Jemari di atas meja yang saling bertautan, membisikkan kata kata cinta.
"Apa boleh di makan??" Rado mengangguk mengiyakan.
"Yakin??" Tanya Mentari kemudian, dan Rado pun kembali mengangguk sebagai jawaban.
'Ya ampun, laki siapa seh koq adem banget, cuma ngangguk ngangguk... Masuk Tim Yes ini' Gerutu batin Tari.
Biasanya Rado adalah orang yang paling berisik, dan suka menggoda gadis gadis. Tapi, lihatlah ia sekarang hanya ngangguk ngangguk, jinak.
"Apa tidak mau gitu, setel lagu romantis. Kita dansa..." Malam ini Tari banyak tanya, juga banyak protes.
"Hmm..." Ngeselin loh pakai acara mikir. "Nanti saja di ranjang..." Celetukan Rado yang super sukses membuat rona merah di wajah istrinya.
__ADS_1
GLEK
Teringat Mentari betapa ia begitu terlena dengan setiap sentuhan sang suami. Memabukan meski tak mengandung alkohol.
"Ayok makan dulu, baby..." Merasa imut loh, selalu di panggil baby. Asal jangan baby shark du du du du. Ah...
KREEEK
Gengsi kan Tari, entah ada apa di dalam makanannya itu.
"Gak enak??" Wajah datar Rado, semakin membuatnya malu. Ia merasa ceroboh dan tidak elegan saat dinner romantis.
'Ingat Tari, ini suamimu, bukan bang Bintang. Jadi, elegan sedikit' Terus saja mensugesti diri sendiri.
"Ada cacingnya bang..." Menarik sebuah benda dari dalam mulutnya.
"Iiih... koq cacingnya keras, gak kenyel kenyel..." Ucap Tari bergidik dengan pikirannya sendiri.
Jika benar itu cacing... HUWEEEK...
"Kamu pernah makan cacing, Tari??" Tahan Rado, harus banyak istighfar memang menghadapi makhluk ajaib nan cantik seperti istrimu.
"Koq bang Rado senyum senyum..." Masih sempet loh melayangkan protes yang ke sekian kalinya. Rekorrrr!
"Gak... Mana ada, baby??" Eh, sudah jelas masih saja gak ngaku.
"Iiih... Bang Rado mah..." Jurus jitu kebanyakan cewek, manyun dan ngambek.
"Coba cek lagi, cacing apa bukan??" Enggan sekali menuruti permintaan Rado, ia merasa geli. Tapi...
Perlahan Tari menyingkap benda tersebut dan ia kembali terbelalak dengan kenyataan dan fakta yang ada.
"Banag Radooo..."
"Iya baby..." Sahut Rado menirukan gaya manja Tari.
"Iiih ngeselin..." Namun senyumannya begitu lebar. Detik berikutnya Tari menitikan air mata.
Panik Rado yang langsung berpindah posisi, jongkok di samping kursi sang istri.
"Koq malah nangis??" Auto linglung Rado, tadi Tari tersenyum selebar garis pantai, sekarang malah menangis dan hampir terisak.
Semakin bingung, kala Tari mengalihkan pandangan dan memeluk leher kokohnya.
"Makasih... hiks hikss" Suara sengau Tari mendominasi telinga Rado. "Indah banget kalungnya..." Imbuh Tari.
Benda panjang yang Tari gigit, bukanlah cacing. Melainkan kalung polos.
"SSSSH..." Tari merinding mendengar ******* sang suami.
Rado memancangnya datar, merasakan gelenyar kala istrinya begitu nakal mengulum telinganya.
"Ayo lanjutkan makan, sayang..." Waspada Mentari, ia yang memancing, ia juga yang menggigit umpannya. hiiisssh.
KREEEK
Kali ini Tari tak lagi melepeh makanannya, ia melihat benda apa yang ia gigit.
Kembali netranya terbelalak dengan bend di tangannya.
"Kamu menyebalkan..."
__ADS_1