Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Double Manten


__ADS_3

Rasanya tiada bosan memancang wajah istrinya. Wajah itu, senyum itu, tubuh itu pasti akan berubah dan menua. Tapi apakah mereka akan menua bersama?


'Semoga Allah menyatukan kita kembali di jannahnya.. Aamiin' memeluk Habiba yang masih memasang jilbabnya.


Harum tubuh itu, yang selalu membuat Bintang candu. Dan perlakuan hangat suaminya yang selalu menumbuhkan rindu di setiap waktunya.


"Yaa Habibi... Nanti aku jadi rindu loh kalau di kampus" Kebiasaan baru Habiba semenjak ada janin dalam perutnya. Merengek manjalita!


"Maasss..." Habiba memanjangkan kata. Bintang sama sekali tak merubah posisinya, sedang hijab Habiba belum terpasang sempurna.


Detak jantung suaminya bahkan sangat terasa di bahu Habiba. 'Astaghfirullah, yaa Allah' bisiknya dalam hati.


"Uhibbuki fillah yaa Habibati..." Bisik Bintang, bahkan ada desiran aneh dalam aliran darah Habiba. Nada itu terasa sangat berbeda. Astaghfirullah!


Habiba berusaha membalikkan badan menghadap suaminya, namun Bintang menahannya.


"Tetaplah begini habibati, mas ingin memelukmu" Pinta Bintang begitu lembut. Yah... Bintang selalu lembut dengan istrinya ini. Ah... Jadi iri!


"... " Patuh dan tetap terdiam menikmati dekapan hangat suaminya.


Dapat Habiba lihat, ada rasa sedih di wajah suaminya. Bayang maya di cermin menangkap nyata bayangan sendu sang suami.


"Habibi... Apakah aku punya salah? Aku minta maaf..." Ucap Habiba, merasa pelayanannya tidaklah sempurna. Karena suaminya lah yang sering melayaninya bak ratu.


"..." Menggeleng samar, masih menghirup dalam dalam aroma tubuh sang istri.


"Habibi punya masalah?" Merasakan aneh dari dekapan dan sentuhan sang suami. Ada apa?


"Habibati... Aku takut kehilanganmu, takut jauh darimu..." Melonggarkan pelukannya hingga Habiba mampu berbalik dan memancang wajah rupawan suaminya. Mendung menggelayuti wajahnya!


Habiba menangkup kedua sisi wajah Bintang, mengusap lembut dengan ibu jarinya. Maa Syaa Allah.


CUP


Hanya sekilas mengecup bibir suaminya, tersenyum indah dengan sorot mata teduh.


"Habibi... Maafkan kalau aku berkata seperti ini" Ucapnya lirih.


"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Untuk saat ini, akupun tidak pernah siap berpisah dari habibiku ini" Menjeda hingga Bintang kembali memeluknya.


"Habibi... Jangan letakkan cintamu padaku di atas cinta Rabb mu dan Rasulmu... Aku hanya hambanya yang penuh dosa" Bintang kini yang menangis dalam pelukan sang istri.


"Semoga Allah memisahkan kita, karena kita usai menjalani tugas di dunia ini. Dan Allah akan persatukan kita di jannahnya. Aamiiin" Lanjut Habiba.

__ADS_1


Dalam hati sungguh ingin pula menyalurkan kesedihan yang tiba tiba mendera hatinya. Tampaknya suaminya tengah butuh dorongan mental. Entah apa yang Bintang rasakan kini, biarlah tenang terlebih dahulu.


Jangan jangan dulu, janganlah di ganggu. Eh!


**


Semenjak keluar rumah, Bintang terus saja menggenggam jemari istrinya. Sedang Habiba selalu mengulas senyum menguatkan. Meski hatinya pun rapuh.


"Habibi... Apa kita pulang saja?" Tanya nya begitu lembut.


"Habibati ku ini kan mau kuliah, istriku harus cerdas, karena anak anak akan belajar dari mommy nya yang hebat ini" Lagi lagi Habiba mengulas senyum terbaiknya, tak ingin meruntuhkan harapan Bintang.


"Iya... Tentu. Karena daddy nya adalah laki laki yang bijaksana dan bertanggungjawab. Serta penuh kasih dan lembut. Maa Syaa Allah!" Begitulah Habiba seperti wanita pada umumnya, ia akan membalas begitu banyak pujian ketika dirinya dipuji. Oooh...


'Yaa Allah, mudahkan setiap langkah kami. Dan berilah kami selalu petunjukmu. Tiada yang lebih mengetahui selain Engkau Yaa Allah' berpasrah adalah cara terbaik setelah doa dan usaha.


Kini tangan Bintang berada di atas perut sang istri. Ada nyawa di dalam sana, amanah yang harus mereka didik dengan cara yang sempurna.


"Habibati... Apa anakku merepotkanmu?" Padahal itu juga anak Habiba loh yak.


"Alhamdulillah. Sepertinya anak kita sangat manja sama daddy nya. Sampai sampai mommy nya harus selalu menahan rindu setiap detik dan denyut jantungnya" Mengecup kening Bintang dalam.


"Dede, lapor daddy kalau ada yang nakalin mommy... Damage mommy meresahkan!" Habiba sampai terkekeh mendengar penuturan Bintang.


Bisa bisanya si babang ngajarin calon anaknya begitu. Posesif dan cemburu. Aaahh!!


"Maka Allah yang akan langsung menghukum daddy, sayang" Habiba tidak suka dengan penuturan suaminya.


Habiba langsung mengecup bibir Bintang meski terhalang niqobnya. Hatinya tidak akan rela jika imamnya ini terluka.


"Astaghfirullahalazim habibi... Azab Allah itu sangat pedih" Ooh... Babang kamu malah membuat istrimu menangis.


"Ucapan adalah doa ya Habibi... Tolong berkatalah yang Allah ridhoi" Khawatir Habiba, meski hatinya selalu mendoakan yang terbaik buat suaminya.


Bintang mengulas senyum, melepas kembali niqob Habiba yang sudah basah karena air mata.


"Justru itu mas gak mau macam macam di luar sana, karena mas takut. Mas sudah begitu bersyukur akan hadirnya bidadari di hidup mas..." Menatap lembut Habiba yang masih berkaca-kaca.


"Mas mau Sakinah mawaddah warrohmah sama bidadari mas ini" Mengecup kedua mata Habiba yang sudah basah.


**


Habiba pulang sedikit sore, dia tak jadi menyusul suaminya di cafe. Ia langsung ikut Mentari pulang ke rumah bunda.

__ADS_1


"Yaa Allah sayang, sudah lama di kamar Tari?" Langsung memeluk menantunya itu penuh kasih. Mengusap wajah Habiba yang tak tertutup niqob.


"Belum bunda, tadi bunda tidak ada jadi aku ke kamar Tari" Jujur Habiba.


"Istirahat saja di kamar kamu sayang, nanti nginep yah" Ujar bunda. Ia begitu senang jika anak dan mantunya nginep di rumah.


Habiba mengangguk patuh "iya bunda...".


" Tar... Di coba bajunya..." Langsung nodong Tari, bahkan Tari saja baru membuka pintu kamar mandi.


"Baju apa bunda?" Habiba hanya menggedikkan bahu, kala sorot mata Tari memancarkan sebuah pertanyaan.


"Nanti di pakai, pas Rado dan papinya ke sini" Ah... Masa malam lamarannya sendiri ia lupa.


"Gak langsung todong nikah bunda?" Ngadi ngadi kan Habiba menggoda Tari. Mau tragedi pernikahannya kembali terjadi pada Tari kah?


"Wah... Kalau itu seh terserah Rado. Jika dia langsung siap. Why not" Bunda memasang wajah datar.


"Nanti resepsinya bareng sama kamu dan Bintang... Hemat di undangan" Kekeh bunda.


Bunda memang selalu menang!


"Bagaimana Tar, kamu setuju? Biar nanti langsung urus resepsi buat kalian. Double manten!" Eh bunda... Bahasa nya boleh di copy kah?


"Buat Tari dan bang Rado saja bund" Kilah Habiba, dulu saja sudah cukup menurutnya.


"Nanti bunda bicarakan sama ayah dan Bintang" Tari dan Habiba hanya saling pandang setelah bunda kembali keluar.


Senyum Habiba mengembang, begitu anggun Mentari dengan gaun panjang itu.


"Maa Syaa Allah adek gue... Warbiyazah" Puji Habiba seraya membantu Tari merapikan gaunnya.


"Kak... Gue takut, ogah ah di todong nikah kaya kalian" Risau Tari, godaan Habiba benar benar mengusik pikirannya.


"..." Masih senyum senyum. Mengingat betapa ia juga di dera gugup luar biasa saat itu. Tapi lihatlah, sudah ada nyawa yang bersemayam di rahimnya. Alhamdulillah...


"Jangan mesam mesem gitu kak Biba..." Semakin gugup dan liar aja kan tuh pikiran Tari. Jangan sampai keluarganya akan aneh aneh di lamaran ini.


"Kalau memang sudah waktunya, gak mungkin bisa di maju atau mundurkan" Mengusap lengan adik iparnya penuh sayang.


Tari terduduk lemas di tepi ranjangnya, dia belum siap menyandang gelar istri.


"Aaarrrggghhh..." Geramnya lirih. Masih waras kan, jika suaranya sampai bawah bisa di geprek bunda dan dijadikan menu hidangan malam ini. Oooowww!!

__ADS_1


Habibapun sudah siap dengan gaun yang bunda Sara pilihkan. Warna yang senada dengan baju Bintang.


Biarkan saja Tari yang mau ngereog atau paduan suara sambil salto.


__ADS_2