Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Siap Punya Baby??


__ADS_3

Habintang duduk berhadapan dengan seorang polisi yang tadi menerima laporan dari seorang lurah.


"Pak Bintang, kemungkinan itu memang disengaja" ujar polisi bernama Lambang.


Habiba menatap dari samping wajah suaminya, semoga ia bisa menemukan kejujuran dari Bintang.


"Habibati... Tidak usah terlalu difikirkan" Menatap lembut istrinya yang tampak sangat khawatir.


"Saya ingin bertemu orangnya pak.." Pinta Bintang.


"Mari pak!" pak Lambang pun menyetujui.


"Mas.. aku ikut!" berharap bisa tahu wajah seorang yang hendak melukai suaminya.


"Mi Amor.. Tunggu di sini.." tegas Bintang, menangkup wajah Habiba lembut.


"Tapi mas.. a.." Bintang menggeleng samar, hingga Habiba tidak lagi ingin mendebat suaminya.


Habiba menunggu beberapa saat hingga Bintang dan pak polisi Lambang kembali.


Perbincangan serius suaminya dengan pak Lambang, berubah hening dan penuh senyum kala mendekati Habiba.


"Mas.."


"Jangan khawatir, sudah di tangani pihak berwajib" potong Bintang menenangkan.


"Pak Bintang benar bu, tidak perlu cemas. Semua bisa terjadi di jalan raya" Imbuh pak Lambang menguatkan pernyataan Bintang.


Habiba mengangguk paham, pikirannya paham namun tidak dengan hatinya, entah mengapa!


Bintang selalu menggenggam tangan Habiba semenjak keluar dari kantor polisi.


"Sayang... langsung ke pesantren aja ya!" Ucap Bintang, Habiba menggeleng lemah.


"Maaf mas, kita pulang saja ya.. Aku dah kabarin umma kalau gak jadi ke sana" Habiba hanya tersenyum melihat raut bingung di wajah suaminya.


"Kamu butuh istirahat mas.." imbuh Habiba.


"Hahaha... Ini hanya luka mini sayang..." Di pikir martabak kali ya mini.


"Tapikan khawatir aku gak mini mas" Aiiihh kena gombalan Habiba kan tuh.


"Eh... Bidadari Abrisham Bintang sudah bisa gombalan dolar ini!" Sok imut dong ini kalau ngemeng. Biar makin di sayang.


"Receh mas.." Sanggah Habiba.


"Karena yang ngegombal bidadari jadinya mahal" Eleuh eleuh.. . bukannya Habiba yang awalnya ngegombal, koq malah jadi baper sendiri.


Sesuai permintaan Habiba, mereka langsung kembali ke rumah. Sudah ada mobil ayah Hendra dan Mentari disana.


"Sayang..." Lembut Bintang dengan sorot mata penuh tanya.


"Oh.. maaf ya Habibi.. Tadi kan Tari lihat aku ijin" Bintang mengusap puncak kepala Habiba yang tertutup hijab hitam.


'Perasaan kamu sungguh tajam habibati' mengulas senyum, membawa Habiba masuk ke rumah mereka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..." Salam Habintang.


"Walaikumsalam..." Bunda Sara langsung mendekat pada anak dan menantunya.


"Eh bunda bunda... tidak perlu risau. Bintang okey koq" Sudah kepedan, senyum mengembang yang berubah menjadi masam.


PLAK


"Sakit bunda..." rengek Bintang, Habiba memilih duduk bersama ayah Hendra dan Mentari.


"Cih... Katanya oke, tapi ngejerit" bunda Sara benar benar menjatuhkan Bintang di depan istrinya.


"Biarkan saja sayang, ibu dan anak lagi temu kangen" Ujar ayah Hendra terkekeh.


"Bukan temu kangen ayah, itu mah karena bunda pengen melampiaskan emosi ke abang" celetuk Mentari, yang membuat Habiba tersenyum.


"Ayah, sudah lama?" Tanya Habiba, merasa tidak enak sudah di tunggu.


"Baru aja... satu jam yang lalu" Eh Habiba tersenyum kikuk.


"Maaf ayah, kenapa gak kasih kabar? tadi Biba dan mas Bintang ke kantor polisi dulu" jujur Habiba.


"Mbok Yem!!" Teriak Mentari mengagetkan semua yang disana, termasuk Bintang dan bunda Sara yang sudah bergabung.


"Kenapa non??" Mbok Yem sampai tergopoh gopoh mendengar teriakan Mentari.


"Sini mbok... duduk samping aku" Tuh kan mbok Yem sampai shock.


"Tuh lihat, ayah sama bunda. Abang sama kak Biba.. Lah mbok sama aku" GUBRAK!! Eh, maksudnya Mentari pengen pasangan gitu?


**


Seraya menunggu Bintang yang tengah ke masjid, Habiba memilih membuka mushaf di ruang keluarga.


"Astaghfirullah..." Mengusap dadanya yang bergemuruh.


Tiba tiba mengingat kejadian siang tadi di kantor polisi, dan pembicaraan Bintang yang beberapa waktu kemarin sempat ia dengar.


"Ya Allah, dia begitu lembut saat bersamaku. Dan satu sisi ia sangat menakutkan..." Gumam Habiba.


"Semoga dia lebih baik dari yang nampak, dan tidak lebih buruk dari yang pernah hadir di pikiranku... " Lirihnya..


"Aku jealous loh..." Habiba tergagap mendengar suara suaminya, bahkan kini pipi mereka saling menempel karena suaminya membungkuk di belakang sofa.


"Astaghfirullahalazim mas.. Ngagetin!!" Kembali mengusap dadanya yang semakin berdebar.


"Maaf ya Habibati.. Mikirin apa hemm?" Lembut Bintang, mengecup pipi istrinya berulang kali..


"Mas... Koq gak salam seh?" Bintang mengernyit lalu tersenyum.


"Ehm... Jadi bidadari mas ini beneran lagi melamun?" Yah si neng malah salah tingkah.. Babang sudah salam neng, neng aja terlalu asyik melamun.


"Eh... emmm Walaikumsalam mas.." Ucap Habiba pada akhirnya, kan kan bingung sendiri.


"Mas...!!" Pekik Habiba, tubuhnya melayang dalam gendongan sang suami.

__ADS_1


"Turun mas... Aku dah siapin makanan" Bintang akhirnya membawa kembali Habiba ke ruang makan..


Seperti biasa Bintang hanya akan menggunakan satu piring. Dan Habiba akan duduk manis sambil mengunyah.


"Mbok...Jangan ke ruang makan.. takut pengen..!" Habiba sampai menutup wajahnya karena malu, bisa bisanya suaminya berteriak melarang mbok Yem masuk. Luar Biasa!!


"Siap den!" suara mbok Yem terdengar, mungkin saat ini mbok Yem sedang malu karena halu dari kejauhan. Ehm!!


"Habibati... Makan yang banyak biar cepet.." Sengaja menggantung kalimatnya, tebakannya tentu saja benar, Habibanya mengernyitkan dahi bingung.


"Cepet ada Bintang juniornya.." Imbuh Bintang, Habiba tersenyum bahkan memeluk suaminya dari samping.


"Aammiin.." Sahutnya cepat.


"Gak papa kan kalau sambil kuliah?" Bagaimanapun istrinya masih sangat muda, tidak ingin mengecewakan kedua mertuanya. Terlebih Habiba memilih kampus umum bukan Universitas di pesantren.


"Kenapa mas.. ?" Merasa khawatir karena suaminya hanya mengunci pandangan mereka.


"Lagi bayangin, kalau perempuan cantik kaya bidadari.." Menoel dagu istrinya yang makin tersipu malu.


"Pengennya mirip kamu mas..." Biar kalau kamu kerja dan aku rindu, aku bisa pandangin mereka.


"aaa..." Habiba kembali membuka mulutnya, sebelum suaminya mengeluarkan kata kata yang membuatnya terbang ke atas genteng.


Durasi makan terasa singkat, meski hampir 50 menit mereka menghabiskan seporsi berdua. Bebas kan fall in love sama pasangan halal, makanan sudah adem juga terasa anget anget!!


Habiba keluar dari kamar mandi dengan wajah basah, seperti biasa ia akan melakukan sunah sebelum tidur.


Bintang tengah mengurus pekerjaan dari laptopnya, tampak sangat serius dengan mimik wajah yang sulit diartikan.


"Sini..." Menepuk kasur sampingnya duduk..


Habiba duduk bersandar di kepala ranjang, Bintang sudah merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Menyembunyikan wajahnya pada perut Habiba.


"Kalau ada yang mau di ceritakan aku mau koq dengerin.." Buka Habiba, suaminya ini malah asyik memainkan apa yang bisa ia mainkan. Huh!!


"Mas pengen manja manjaan aja sama kamu.. Kalau di luar kamu yang mas manja, dan jika di kamar mas yang akan manja.." Kekeh Bintang dengan ucapannya sendiri.


"Tiap hari juga begini mas.." Ucap Habiba enteng..


"Hemm..." dehem Bintang


CUP


"Afwan ya Habibi.." seraya mencium kecil pucuk hidung suaminya.


"Kiss dulu.. baru speak.." Menunjuk bibirnya sendiri.


"Mi carinho ini senengnya ngiklan.." lalu mendekat ke bibir suaminya.


Hening malam kini berhiaskan suara suara decapan yang mereka ciptakan. Ah!!


"Sayang... Siapkan kalau punya baby.. ?" Ealah itu mukanya biasa aja bang..


Habiba mengangguk dengan semburat merah di pipinya "Asalkan kamu selalu di sampingku, saling mengingatkan meski suatu saat ada kelelahan dalam hubungan ini".

__ADS_1


__ADS_2