Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Merubah Hidupku


__ADS_3

Sungguh aku tidak ingin menggantikan mu dengan keindahan yang lainnya. Kau selalu membuatku tenang dengan caramu. Bidadari surgaku.


...Abrisham Bintang Pradhana📌...


"Yaa Allah... Habibi ku ini Maa Syaa Allah" Sambut pagi Bintang dengan pujian terbaik sang istri.


"..." Membawa sang istri dalam dekapannya.


"Kenapa gak bangunin aku ya habibi?" Manja Habiba masuk ke dalam ceruk leher si babang.


"Hemmm... Bidadari mas ini tampak lelah. Terimakasih atas malam malam yang indah, habibati..." Aiiihhh, koq Othor yang deg deg serrr...


CUP


Mengecup pucuk kepala sang istri yang masih menenggelamkan wajahnya, malu beradu dengan rasa haru yang menyelimuti.


"Mas siapkan air panas ya..." Habiba langsung mengangguk meski belum jua melepas pelukannya.


Bintang tersenyum, istrinya sungguh semakin menggemaskan setelah hamil dan Bintang menyukai itu.


"Mau diulang, biar nanti bisa mandi bareng" Eeeeh... Semakin indahkah semburat merah di wajah Habiba, hingga Bintang suka sekali menggoda.


"Maass... Jangan godain aku mulu ah. Malu!


Dan jangan juga godain wanita lain" Gemesin kan ini bumil yang mode cemburu.


"Ya sudah, mas godain dede saja" Bintang beralih berhadapan dengan perut Habiba yang tampak sedikit berisi.


Lihatlah tangan Habiba yang sudah sangat nyaman mengusap surai kecoklatan sang suami.


Hatinya berdesir hebat dengan perlakuan lembut Bintang, tak ingin menghilangkan momen seperti ini.


"Assalamu'alaikum dede... Koq daddy kangen lagi ya" Hemm... Modus akut Bintang.


"Jaga mommy yah, jika daddy jauh dari kalian" Inilah kata kata yang mengganggu rasa Habiba. Seolah akan ada perpisahan yang semakin dekat.


'Aku masih ingin menjalankan ibadah panjang ini bersama suamiku Ya Allah' Getir hati Habiba hingga tak terasa buliran bening turun tanpa permisi.


"Lah kan... Dede harus kuat yah, mommy suka sekali menangis, hati mommy terlalu lembut" Ujar Bintang berbicara pada calon anaknya, meski netranya terus memancang wajah Ayu Habiba dengan jejak air mata.


Kabur kemana tuh air mata hingga meninggalkan jejak di wajah ayu Habiba.


"Dede... Aby selalu godain umi, boleh umi cium?" Protes Habiba di sela kesedihan yang dengan kurang ajarnya menyusup ke hati.


"Boleh umi..." Lucu Bintang menirukan suara bayi. Ouwww gemezzz!


Hemm... Senang hati Bintang menyodorkan wajahnya, berharap kan istrinya akan mencium di tempat favorit. Iih!


Lembut Habiba mengusap wajah Bintang, memancang netra bermanik coklat pekat suaminya.


CUP


Habiba hanya mengecup dalam kening si babang. "Lindungi dan jaga suami hamba yaa Allah, ku serahkan segala bentuk penjagaan dan perlindungan untuknya kepada MU.. Aamiin".


"Apakah Allah akan mencelakai ku, jika doa istriku saja mampu menembus Arsy?" Lelaki normal mana yang tidak akan terharu dan bahagia beristrikan wanita solehah yang penuh kelembutan dan ucapan baik seperti Habiba.

__ADS_1


"Mas... Boleh aku mandi sekarang?" Tanya Habiba pada akhirnya, bisa panjang jika menuruti hati bercengkrama dengan sang suami.


"Astaghfirullah... Tuh bukti jika kamu mengambil alih duniaku" Eh... Koq jawabannya gak nyambung bang?


"Aku jadi lupa gak siapin air hangat..." Lucu sekali si babang dengan menggaruk tengkuknya, bahkan wajah gantengnya berubah sendu.


Cup


Habiba lagi lagi mencium pucuk hidung Bintang.


"Mas, jangan buat aku gemas. Aku bisa isi sendiri" Lah... Tangan Habiba juga tak mau kalah mencubit mesra pipi Bintang yang mulai chubby.


Uuuuhh... Yang hamil Habiba kenapa yang gemukan si babang.


"Bahagia Thor... Jangan berisik!"


HEP


"Masss.." Ngadi ngadi kan Bintang main bopong ajah.


"Biar mas gendong ke kamar mandi" Pintanya tanpa bisa Habiba tolak.


'Sikap kamu lah yang membuatku sulit jika suatu saat Allah memisahkan kita ya habibi' menikmati saja berada dalam gendongan sang suami.


"Gak usah mikir aneh aneh sayang!" Lah dengarkan babang dengan isi hati sang istri?


"Aku cuma mikirin habibiku ini" Hemm.. Genitnya Habiba dengan mengerlingkan satu matanya, nakal.


"Mas... Aku gak nyaman di panggil mommy" Bintang tersenyum dengan penuturan lugu sang istri.


"Yes... Umi Habiba cintanya Bintang" Aaah babang!


Nurut sekali Habiba ini yang hanya menunggu suaminya menyiapkan air panas untuknya mandi.


"Mas... Koq ikutan buka baju" Setahu Habiba suaminya sudah mandi.


"Mau jagain UMI dan dede" Ya elah, modus yang nyata.


Akhirnya mereka menikmati waktu sebelum subuh dengan berendam di bathtub berdua.


"Mas... Maaf kamu dengar suara tahrim masjid memanggil kamu?" Lirih Habiba takut sekali menyinggung hati suaminya.


Jika boleh egois Habiba pun masih amat ingin berdua dengan suaminya, menorehkan cinta yang indah antara mereka.


Dan Habiba tahu tidak ada yang mencintainya selain Allah, dan tidak boleh ada cinta di hatinya melebihi cinta kepada Rabb nya. Maa Syaa Allah.


"Ah iya... Mas juga mendengar nyanyian cinta dari setiap gerakan dan ucapanmu" Sabar Habiba jangan sampai melting dan larut bersama air dalam bathtub.


"Ayo mas bantu, kita mandi!" Ucap Bintang membantu istri tercintanya.


Selesai mandi berdua Bintang sudah gagah dengan koko berwarna minta dan sarung hitamnya. Semua tentu saja pilihan sang istri.


"Habibati, kamu gak takut dandanin mas ganteng gini? Nanti di lirik cewek loh!" Godaan macam apa lagi si babang ini.


Ya ampun kenapa istrinya malah mengulas senyum simpul?

__ADS_1


"Hemm... Gapapa mas jika mereka hanya melirik kamu, yang penting suamiku ini tidak melirik cewe lain di luar sana. Semoga Allah menetapkan hatimu untuk terus berkomitmen menjalankan ibadah bersamaku" Lah... Sulitkan jika ustadzah Arwa sudah mengeluarkan kalimatnya.


'Tentu saja aku takut mas sebagai wanita biasa, tapi harga dirimu sebagai laki laki di hadapan Allah itulah yang utama' harus tetap mempertahankan senyumnya, jangan sampai melow marsmellow nya terbaca sang suami.


CUP


"Oke habibati, mas berangkat dulu yak.." Ucapnya seraya menangkup kedua pipi sang istri.


"Ya Allah mas, suka banget ngebatalin wudhu aku.." Meski nadanya merajuk, tidak dengan senyum di bibirnya. Dasar perempuan!


"Ya begitulah, assalamu'alaikum" Ucap Bintang setelah sang istri mencium punggung tangannya takzim.


"Walaikumsalam ya Habibi... Fii amanillah" Sahut Habiba, mengantar Bintang dari balik pintu kamarnya.


Di jalan Bintang bertemu dengan teman masa SMA nya, mereka sama berjalan menuju masjid.


"Assalamu'alaikum Abrisham..." Sapanya.


"Walaikumsalam Farid" Sahut Bintang kepada Farid.


"Dari mana aja baru kelihatan" Ujar Farid, ia jarang sekali melihat Bintang ke masjid.


"Lagi nginep ajah di rumah bunda" Jawab Bintang seadanya.


"Lah... Biasanya dimana?" Tanya Farid penasaran. Padahal Farid sendiri sebenarnya baru pulang terbang. Oh.. Pilot muda.


"Ya di rumah gue lah, bareng istri Rid. Lo gak terbang?"


Cengo' Farid, ia tak mendengar jika teman SMA nya telah menikah.


"Gue gak denger lo udah merried Bin.." Ujarnya memastikan.


"Sudah setengah tahun lah, lo gimana?" Tanya Bintang balik.


"Gue belum ada rencana bro, masih sibuk kerja gak sempet nyari... Heheh" Kekeh Farid di akhir kalimat.


Mereka kembali berjalan bersama saat pulang, tak sengaja netra Farid menangkap sosok wanita bercadar di depan rumah Bintang.


Yah... Habiba menunggu suaminya pulang, karena ini sudah hampir jam 6 dan Bintang belum juga pulang.


"Bin... Itu siapa?" Tanya Farid to the point.


"Istri gue..." Oh.. Sungguh tak percaya jika Bintang mendapatkan wanita bercadar. Seperti diluar ekspektasi nya.


"Serius lo Bin? Dapet dimana? Gue mau satu" Bukannya menjawab Bintang menutup mata Farid agar tak terus menatap istrinya.


Habiba langsung masuk saat mendapatkan kode dari Bintang.


"Lepas Bin..." Kesal Farid.


"Yah... Ilang kan" Imbuh Farid, dan kini memancang Bintang dengan tatapan kepo menuntut penjelasan.


"Gak usah pantengin istri gue gitu Rid!" Peringatan Bintang tegas.


"Maaf Bin... Gue cuma gak percaya sama penglihatan gue" Jujur Farid.

__ADS_1


Bintang paham, ia pun bersyukur Allah mengirim Habiba untuk merubah hidupnya.


__ADS_2