
Bunda dan Mentari memutuskan keluar dari kamar Habiba dan Bintang. Merasa tidak sopan loh, secara pemilik kamar tidak ada di tempat.
"Eh... Abang..." Tari yang sudah membuka pintu kamar, langsung membantu Habiba memapah Bintang.
"Makasih... Cantik!!" Mentari mencebik kesal dengan ucapan Bintang, selalu saja membuatnya patuh.
Kedua sahabat sekaligus saudara ipar itu mendudukkan Bintang di ranjang, untung saja ranjang mereka rapi dan bersih... Coba kan kalau tadi jadi kan... Eh!!
"Bunda... Tolong rayu mas Bintang agar kembali mau di rawat. Dokter belum memgizinkannys pulang" Bintang meringis dengan penuturan sang istri.
"No bunda... Nanti abang gak bisa tidur" Bintang menyela sang bunda yang hampir membuka mulutnya.
"Nanti biar bunda minta dokternya nambah obat tidur buat kamu..." Mentari terkekeh lirih, bundanya memang selalu bisa membuat sang abang bungkam sejuta kalimat. Seribu kata saja pusing kan si Othor. Uupps!!
Bintang mencebik lucu, wajahnya sangat berbeda jika sang bunda sudah membuka suaranya. Patuh solehnya bunda kan!!
"Abang sama Habiba keterlaluan tau gak? Kenapa gak ada yang kabarin" Mentari masih kesal dengan pasangan suami istri di hadapannya. Tanduknya saja masih bercabang!
"Cantiknya abang suka makin manis kalau marah!" Goda Bintang yang nampaknya tidak berhasil kali ini.
Tok tok tok
Ada mbok Yem dari balik pintu yang terbuka, "permisi buk, non Tari, mbak Biba, den Bintang" Langsung masuk meletakkan camilan dan minuman di meja rias Habiba.
"Terimakasih mbok... Jangan lupa makan dan istirahat" Inilah yang membuat mbok Yem nyaman berada di rumah bersama istri majikannya.
"Siap mbak" Sudut hati bunda Sara menghangat, tanpa Habiba dan Bintang sadari bunda selalu memantau sikap anak dan menantunya melalui mbok Yem.
"Jangan lupa update status mbok..." Cicit Mentari, mbok Yem paham maksud dari nona mudanya itu. Dia sering melapor sikap anak dan menantu dari keluarga Pradhana.
Sedang Bintang dan Habiba saling pandang tak paham. Biarlah!!
Habiba dan Bintang Hati hati kalian dalam pantauan...
Mbok Yem keluar dan bunda menatap tajam anak dan menantunya itu, masih memilih kata yang tepat agar mantunya tidak sawan akan suara indahnya. Hemmm!
"Habiba... Bintang... Kalian memang suami istri, tapi kami adalah keluarga kalian. Untung saja kalian baik baik saja, jika kalian dalam keadaan terburuk bagaimana? Bunda paham kalian tidak ingin menyusahkan kami. Tapi... Saat kami tahu siang tadi, apa kami tidak khawatir?" Bintang dan Habiba menundukkan kepala merasa bersalah.
"Pengawal kalian saja sampai kalah bukan? Untung Habiba punya ilmu bela diri, jika tidak?? Hargai perasaan khawatir kami sebagai orang tua. Paham kalian? Ini berlaku juga untuk kamu Mnetari!" Lanjut bunda Sara, nadanya tegas. Jarang sekali kan beliau mengeluarkan nasihat yang sangat serius seperti sekarang. Tari saja sampai merinding di tambah namanya turut terseret.
__ADS_1
"Maaf bunda..." Cicit Habiba memeluk bunda mertuanya.
"Auuwww bunda..." Niat hati ingin turut memeluk bunda dan istrinya, sayang iganya kembali sakit karena pergerakan yang tiba tiba.
PLAAAKK
Sebuah pukulan manja mendarat di tulang kering Bintang, sudah sakit di tambah linu di kaki.
"Rawat inap di rumah sakit!!" Titah bunda tegas. "Habiba dan mbok Yem tidur di rumah bunda, kalau di pesantren kasihan para santriwati bisa kesurupan lihat pengawal kalian itu" Imbuh bunda sedikit kesal.
Habiba mengedipkan matanya ke arah Bintang agar tidak membantah apapun, "baik bunda" Pasrah Bintang karena istrinya juga mendukung sang bunda.
"Bunda maaf yah!" Tulus Habiba, bunda Sara tersenyum mengecup kening menantunya yang tertutup hijab. "Makasih bunda..." Habiba kembali masuk dalam pelukan hangat sang bunda.
Bintang sudah di papah turun oleh dua orang pengawalnya, sedang Habiba di bantu Tari menyiapkan perlengkapan Bintang.
"Tar... Makasih ya... Jangan ngambek lagi!" Ujar Habiba seraya memasukkan pakaian Bintang ke dalam tas.
"Hemmm..." Gumam Tari sebagai jawaban.
"Tar... Maafin gue..." Habiba paham akan kekhawatiran mereka, mungkin jika ia punya anak pun akan sama seperti bunda Sara.
"Maafin gue..." Habiba sedikit mengangkat wajahnya menatap mata Mentari yang mengurai pelukannya. Terdengar hembusan nafas resah dari Mentari.
"Gue gak marah... Lo ngerti gak seh Biba, kalau kami itu khawatir! Nyawa kalian sama pentingnya loh!!" Habiba mengangguk kemudian kembali memeluk Mentari yang lebih tinggi darinya.
"Ayok buruan kak... Kita di tunggu bunda dan yang lain" Ingat Mentari menerbitkan senyum di wajah ayu Habiba.
"Terimakasih ya adik ipar gue yang pemaaf..." Akhirnya Mentari menjawil gemas pipi Habiba yang tampak sedikit pucat.
**
Saat tiba di rumah sakit, sudah ada ayah Hendra disana. Bahkan kamar rawat inap pun sudah di booking.
"Assalamu'alaikum..." Suara Umma dan mbak Zahra menginterupsi. Mereka datang disaat yang tepat kan.
"Walaikumsalam..." Jawaban serempak mereka.
"Nak Bintang... Maaf umma tidak tahu jika..." Bintang tersenyum hangat, ibu mertuanya sangat baik dan lembut. Bersyukurlah semua itu menurun pada istri solehahnya.
__ADS_1
"Maaf umma, kami baru sempat memberikan kabar.." Gak ingin di amuk lagi kan itu, sudah cukup tadi dapat amukan dari bunda Sara.
Umma mengangguk mencoba memahami, lalu turut bersama yang lain masuk ke dalam kamar Bintang.
"Mas... Aku keluar sebentar yah, ada yang mau mbak Zahra bicarakan!" Bisik Habiba, kemudian keluar ruangan setelah berpamitan juga pa ayah, bunda tentu saja ummanya.
Zahra tersenyum, mempersilakan adik iparnya duduk di sampingnya dan juga Mentari. -Habiba pun sudah mulai menabak topik apa yang akan di bicarakan istri dari kakaknya itu.
"Biba... Apa kabar?" Hangat sekali Zahra memeluk Habiba, bahkan senyumnya tak pudar sedari awal kedatangannya bersama umma.
"Alhamdulillah mbak... Koq cuma berdua sama umma?" Jawab dan tanya Habiba.
"Mas Reza mendapingi abah kajian, sedang Fathan mengajar" Jujur Zahra, menelisik sorot mata Habiba yang sedikit sayu.
"Gimana rasanya jadi pendekar?" Eh... Koq malah pertanyaan itu yang Zahra lontarkan, diluar ekspektasi kardus ekpedisi kan itu.
"Alhamdulillah mbak... Berguna juga apa yang selalu di ajarkan. Mungkin jika suamiku tidak terkapar, aku tidak akan pernah melakukan itu" Jawab Habiba apa adanya. Zahra dan mentari mengangguk. Meski Tari belum buka suara.
"Mbak yakin sama kemampuan kamu..."Ingin melanjutkan kalimatnya, tapi penjelasan Habiba sedikit membuatnya mengerti akan situasi mereka.
" Lain kali beri kami kabar..." Imbuh Zahra, Habiba mengangguk paham. Untung saja mbak Zahra tidak memberikan tausyiah yang panjang...
"Maaf mbak... Kami baik baik saja" Ujar Habiba. Zahra menggeleng samar meatap intens adik iparnya itu.
"Kalau baik baik saja, suamimu tidak akan di rawat" Habiba benar benar merasa tertampar berkali kali. Ia hanya menunduk memilih ujung cadarnya.
Di dalam kamar Bintang, ayah Hendra terus memegang sayang ponselnya. Jemarinya turut sibuk mendial nomor nomor orang yang menangani kasus putranya.
"Bintang... Kamu salah langkah kali ini!" Ujar ayah Hendra, yang memang kesal dengan putranya.
"Kamu membahayakan istri dan adikmu. Paham!!" Imbuh ayah Hendra, tak perduli jika ada besannya di ruangan yang sama.
"Maaf yah..." Lirih Bintang.
Ayah Hendra membuang nafasnya lelah "Andai anak buah ayah tidak melihat aksi teman Panji menaruh obat itu di tas kamu dan merekamnya sebagai bukti, kamu pasti sedang menikmati hari hari kamu di penjara. Meski kamu tidak bersalah! Jangankan untuk menikahi Habiba, bertemu saja tidak mungkin bukan!!" Panjang dan luas penjabaran ayah Hendra, Bintang hanya diam di brankar rumah sakit.
"Terimakasih ayah..." Tulus Bintang. Sekarang ia menyadari kenakalannya selama ini.
"Ini peringatan ayah untuk terakhir kalinya. Ingat kamu sudah punya tanggung jawab besar!!" Bintang semakin terdiam dengan peringatan keras penuh petuah dari sang ayah. Ya meski ayahnya memang selalu keras terhadapnya.
__ADS_1