Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Cintaku Bukanlah Keegoisan


__ADS_3

Kuliah hari ini terasa begitu lama bagi Habiba, tiba tiba rindu menyeruak menelusup hatinya.


'Yaa Allah.. Lindungi suamiku, aku rindu sekali, aku hadiahkan Al-Fatihah ini untuknya..' rindu itu meresahkan hati Habiba.


"Kak Biba.. Kenapa?' si calon pengantin belum juga izin cuti menikah.


" Gak papa, hanya kepikiran mas Bintang. Pesan aku pun sama sekali belum di buka" Jemarinya yang tertutup sarung tangan hitam saling memilin.


"Enak yah yang punya pasangan, ada yang di kangenin.." Seloroh Eka.


PLAK


Tarilah pelakunya hingga membuat Eka meringis, mengusap lembut lengannya.


"Sssttt..." Tanpa suara Tari memperingati Eka.


"Abang, lagi di Habintang cafe.." Cicit Tari menenangkan. Meski ia sendiri tidak tahu kemana abangnya berada.


Tari menggamit tangan Habiba, mencoba menenangkan itulah cara yang ia punya saat ini.


"Langsung pulang ke rumah bunda aja, toh semua sudah ada di mobil abang kan?" Habiba mengangguk sebagai jawaban.


Debaran resah jantungnya sungguh sulit Habiba kendalikan.


"Eko besok jangan lupa ke rumah gue!" Mengingatkan pada Eka.


"Siap!!" Sahut Eka semangat!


Tumben loh mereka akur dan sedikit ribut. Malu kan Tari, sudah mau jadi istri orang masih suka ribut.


Tentu saja kehadiran Habiba di sambut bunda Sara penuh semangat.


Bunda mengurai pelukan setelah memeluk menantunya cukup lama.


"Makan dulu nanti istirahat.." Titah bunda Sara.


"Baik bunda... Biba makan di kamar saja, boleh?" Bunda tentu memahami, disana banyak laki laki yang sedang menyelesaikan dekorasi pernikahan.


"Boleh sayang, biar mbok Yem yang antarkan" Lembut bunda mengusap pipi Habiba dari balik cadar.


"Biba langsung bawa sendiri aja bunda. Biba masih kuat koq.." Bunda Sara menjawil hidung menantunya gemas.


Semakin lama Biba semakin hangat dari pandangan bunda. Sudah tidak lagi secanggung dulu.


Habiba tidaklah masuk ke dalam kamarnya melainkan ke kamar Mentari. Ia akan makan di sana bersama adik iparnya itu.


"Makan yang banyak, biar ponakan gue sehat!" Seloroh Mentari, melihat Habiba tampak tak selera makan.


"Pengen di suapin mas Bintang.." Mengusap perutnya yang sudah tampak menonjol.


"..." Mentari memutar bola matanya malas. Ngidam nya kakak ipar memang selalu ingin dekat dengan suaminya.


'Lah kalau gue ngidam, gimana?' lah.. Ia malah mikirin hal yang belum terjadi.


"Walaikumsalam bang... Dimana?" Suara Mentari menyentak lamunan Habiba.


"Di cafe.. Kenapa?" Sahut Bintang dari ujung sana.


"Kak Biba di sini, sulit makan pengen di suapin abang katanya" Habiba hanya tersenyum melihat Tari yang mengedipkan satu matanya. Nackal!


"Oke... Sebentar lagi abang selesai" Bintang terdengar antusias.


"Bang, bawain cokelat panas, terus pempek yang di ujung komplek" Ambil kesempatan Mentari ini.


"Iya... Assalamu'alaikum" Seketika Bintang mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Mentari.

__ADS_1


"Walaikumsalam.. Sudah kak!" Habiba hanya tersenyum.


Bahagia mendapat perhatian kecil dari Mentari. Perdulinya tampak berbeda, terasa tulus dan nyata.


"Makasih..." Setidaknya Habiba tahu jika suaminya baik baik saja.


'Tapi kenapa pesanku tidak di buka?' pikirnya lalu mencari ponselnya dalam tas.


"Segitunya rindu sama suami?" Goda Mentari.


"Gue numpang tidur di kasur lo ya Tar" Izin Habiba langsung merebahkan tubuhnya.


"Makanannya di makan dulu kali" Tawar Mentari, kasihan sekali itu makanan masih di nakas samping ranjang.


"Gue capek banget, nunggu mas Bintang ajah" Tak lagi ada obrolan diantara mereka.


Mentari memilih merapikan pakaian yang akan ia bawa ke rumah Rado. Membiarkan Habiba yang sudah masuk ke alam mimpi.


Hampir dua jam Habiba tertidur di kamar Mentari, merasakan ada yang mengusap usap perutnya. Nyaman.


"Habibi..." Sangat hafal dengan sentuhan itu. Aroma tubuh suaminya yang sangat ia sukai.


"Hemm... " Gumam Bintang menggoda, wajahnya begitu dekat dengan wajah sang istri.


Terukir jelas senyum Habiba, wajah Bintang benar benar merubah moodnya.


"Habibi, aku laper..." Rengeknya mengusap pipi sang suami.


"Aku rindu... " Genit Bintang, merasakan suhu tubuh istrinya yang sedikit demam.


"Kita pindah kamar Habibi.." Menyadari jika mereka berada di kamar Mentari.


Mentari langsung pindah ke kamar tamu semenjak abangnya datang. Bisa ngiler sebelum waktunya jika ia bertahan di kamarnya.


HAP


"Habibati... Tunggu sebentar, aku ambilkan makanan. Nanti langsung ke dokter kandungan" Habiba hanya mengangguk patuh.


Membiarkan suaminya keluar mengambilkan makanan. "Yaa Allah... Aku lelah sekali" Mengadukan sekecil apapun masalah pada sang Maha Pencipta.


"Bintang..." Panggil bunda Sara, heran sekali melihat putranya yang kembali membawa nampan ke kamar.


"Buat Biba bunda, tadi gak jadi makan katanya pengen di suapin suami gantengnya" Tidaklah salah ucapan Bintang, hanya membuat bundanya sedikit kesal dengan akhir kalimat Bintang.


Babang kan gak salah bun, emang ganteng koq! Heheh..


"Bunda, nanti Bintang izin bawa Biba ke dokter kandungan" Ucap Bintang serius.


"Bintang, kamu kasih makan gak menantu bunda? Kenapa badannya semakin kurus?" Ya ampun bunda, itu pertanyaannya menohok sekali.


"Astaghfirullah bunda ku sayang, kalau makan saja harus Bintang suapin. Bintang kan laki laki paling baik di dunia.. " Bangga sekali Bintang ini, menyebalkan.


"Sudah sana suapin Biba dulu! Awas aja kalau menantu bunda dan calon cucu bunda kenapa kenapa. Kamu bunda rebus jadi kaldu!" Eitz dah bunda benar benar kejam ternyata.


CUP


"Bunda ini menggemaskan seperti Bintang.. Hahaha" Seloroh Bintang setelah berhasil mengecup pipi sang bunda.


Kabuurrrr!!


Harus cepat melangkah kabur membawa nampan berisi makanan dan minuman.


Menyelamatkan diri dari belaian ala banteng sang bunda itu lebih di utamakan saat ini. Ahhh!!


"Ya ampun habibi.. Kenapa ngos ngosan gitu?" Naik tangga sedikit tidak mungkin selelah itu bukan? Naik istri juga dia strong strong aja. Iiisssttt...

__ADS_1


"Di kejar bidadari sayang.." Sahut Bintang seraya meletakkan nampan di nakas.


"Jangan cemburu, di kejar bunda" Gak mungkin bunda main kejar kejaran dengan putranya. Pikir Habiba.


"Kamu ngegemesin banget sih habibi" Cubitan di pipi yang sangat Bintang sukai.


CUP


Hadeuh.. Kenapa juga harus cium punggung tangan Habiba, memancang dalam netra teduh istri tercinta.


"Mas... Koq kamu mirip gas udara, suka buat aku melayang layang" Entah dari mana Habiba mendapat kata kata yang meluncur bebas dari bibirnya.


"Isian balon karakter anak anak gitu?" Sungut manja Bintang yang menggemaskan!


"Huum..." Anggukan Habiba mengiyakan!


Eh.. Tangan babang mulai nakal yah kelayapan dari perut naik ke puncak gunung. Huuuhh!!


"Kamu itu seperti lautan, semakin di selami semakin indah dan menakjubkan. Banyak harta karunnya juga.." Melongo Habiba, sudah semangat di jatuhkan kalimat terakhir sang suami.


"Tambah kaya kamu mas..." Ketus Habiba, mempouckan bibirnya sexy.


CUP


Tanpa buang waktu dan kesempatan meraup bibir yang sedang cemberut itu.


"Heummmp..." Habis nafas Habiba karena polah Bintang...


"Maaf... Sayang bibirnya dianggurin!" Sulit kan untuk marah ke suaminya ini, laki laki yang selalu penuh kejutan.


"Yaa Allah.. Bolehkan... " Habiba menjeda ucapannya tanpa ekspresi.


Lihatlah Bintang yang masih dengan senyum menawannya menanti kalimat lanjutan sang istri.


"Aku minta di suapin suamiku yang tampan ini?" Laper loh Habiba, menanti suapan dari suaminya.


Hadeuh... Babang terlalu banyak menggoda Habiba hingga lupa menyuapi sang istri yang setia menunggu.


"Maaf habibati... Kamu sih mancing mancing mas mulu. Kayak ngajakin mainan bareng di bawah selimut!" Sudahlah... Lebih baik menikmati suapan demi suapan dari Bintang.


Mode mesum gini akan panjang kali lebar jika Habiba turut menimpali.


"Habibi... Mandi bareng yuk!" Ajak Habiba yang tentu saja langsung Bintang kabulkan.


Momen langka yang sang istri minta, harus segera di rekam indah dalam memorinya.


"Terimakasih..." Desah Bintang, menyandarkan dagu di atas bahu sang istri.


"Mas... Tangannya jangan sampai aku minta lebih dari ini" Habiba menutup mulutnya yang keceplosan.


Ooohhh angin surga yang menerpa Bintang sungguh sangat menyejukkan.


"Minta lebih sangat di perbolehkan, maksa mas juga sangat amat ikhlas lahir batin" Sering seringlah modusin istri untuk ibadah bersama.


Tatapan Habiba begitu dalam dan lembut, bahkan mampu menembus titik terdalam hati Bintang.


Merangkum wajah sang suami yang sangat mempesona di bawah guyuran shower, dengan rambut yang menutupi keningnya.


"Ijinkan aku menjadi pel*cur mu mas.. Hanya untukmu.." Lirih Habiba mengecup bibir suaminya lembut tanpa menuntut.


Keduanya pun tak tahu jika air mata bahagia mereka samar tertutup air yang turut membasahi aroma kasih sayang yang semakin besar.


Jika kematian memisahkan kita, tunggulah aku di surgaNYA. Bukan karena aku menginginkan kepergianmu terlebih dahulu, hanya saja aku tak ingin kau terluka karena kepergianku.


Jika aku yang Allah panggil dahulu, semoga DIA menyiapkan wanita penggantiku, yang jauh lebih indah dari bidadari surga untukmu.

__ADS_1


Cintaku padamu bukanlah sebuah keegoisan...


...🌹Habiba Arwa Dariya Baizhan🌹...


__ADS_2