
Di ruang keluarga, sudah duduk Abah, Uma, Reza bersama Zahra, Fathan juga tokoh utama Habiba.
Abah akan membahas apa yang ia bisikan pada Bintang.
"Dimulai saja bah, Fathan ada kelas mengajar setengah jam lagi" Usul Fathan, yang sangat penasaran.
"Habiba, persiapkan dirimu. Belajar lebih untuk menjadi istri yang solehah" Habiba hanya mengangguk, ia dan yang ada di sana sudah tahu jawaban abah untuk Bintang.
"Abah menerima lamaran nak Bintang, meski hari ini nak Bintang gagal. Abah dan Uma akan tetap menerima" Lembut Uma, Kini Habiba menatap umanya dengan ribuan tanya. Begitu juga kedua kakak dan kakak iparnya.
"Nak Bintang pernah menolong abah dua kali. Yang pertama ketika abah dan Fathan di kepung oleh anak anak berandal" Ucap Abah, Fathan mulai mengingat kejadian hampir setahun yang lalu.
"Terus bah" Zahra mulai naik kadar keponya.
"Yang kedua, setelah ia datang kemari melamarmu secara langsung pada abah dan Uma. Di saat waktu malam hari ban mobil abah bocor selepas dari luar kota" Jelas abah.
"Abah yakin, kamu ingat soal itu Habiba" Imbuh abah dengan senyum di wajah tuanya.
"Iya bah, Biba ingat. Abah pernah menceritakan pada Biba. Hanya saja Biba tidak menyangka jika itu mas Bintang" Ujar Habiba, hatinya berdesir mendengar penjelasan abah.
'Yaa Allah, semoga dia adalah yang terbaik untuk hamba' Batin Biba penuh harap.
"Bah, lebih cepat lebih baik" Ucap Reza menginterupsi.
"Iya, kita tunggu keluarga Bintang datang kemari besok, Biba persiapkan dirimu" Tutur abah lembut, memerintah namun tak menekan.
"Dan... Fathan, abah tunggu kamu mengajak abah dan Uma melamar seorang gadis" Abah kini beralih pada putra keduanya.
Semua tersenyum dengan ucapan abah, sedang Fathan hanya cengar cengir.
"In sya Allah abah, doakan saja" Ucap Fathan, meski ia sedang berpikir, siapa gadis yang mau menikah dengannya.
Silakan itu mas Fathan masih free. Gus muda berusia 24 tahun, hanya saja ia dan Reza lebih nyaman dengan panggilan 'Mas'.
Bahkan di luar sana jarang sekali yang tahu jika ia dan Reza adalah seorang putra kiyai besar.
Habiba naik ke atas menuju kamarnya, ia akan melaksanakan Ashar di kamar seperti biasa.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum..." ucap seorang dari balik pintu kamar.
"Walaikumsalam... Masuk mbak" Sahut Habiba.
Zahra dengan senyum mengembang melangkah masuk, kemudian duduk di tepi ranjang Habiba.
"Mau godain aku ya mbak?" Todong Habiba pada Zahra. Gadis itu sudah sangat hafal dengan kelakuan kakak iparnya.
"Waduh... ketahuan nih" Ujar Zahra yang malah melepas hijabnya.
"Sudah lega sekarang?" Serius Zahra, Habiba hanya tersenyum samar tanpa menjawab.
__ADS_1
"Mbak tidur disini ya Biba, mas Reza hendak menyelesaikan tugasnya" Ucap Zahra.
"Mbak mau tidur? ini waktu ashar mbak. Bukannya gak baik tidur selepas ashar?" Ujar Habiba merasa heran dengan tindakan Zahra.
Zahra menghembuskan nafas kasar, "Nanti malam Biba sayang. Mbak mau numpang mandi di kamar mandi calon pengantin" Sahut Zahra, yang nyelonong masuk dalam kamar mandi.
"Okey, saranghaeyo cintaku" goda Habiba, menirukan gaya mas Reza.
Habiba kembali duduk di depan meja rias, mematut diri di depan cermin.
'Yaa Allah, pantaskah aku menjadi pendampingnya? Ampuni hamba, jika hati ini mulai mendambanya' batin Habiba.
Sungguh Allah sang Maha Cinta, pemilik cinta tiada tara.
Tak ada yang tahu kapan rasa itu hadir, menetap bahkan bersemi, itulah yang Habiba rasakan. Ini rasa hati dengan banyak kupu kupu beserta taman bunga, seribu warna pelangi menghias birunya angkasa. Ah Terlalu indah hingga sulit di ukir melalui sentuhan kata, karena tak ada kata yang mampu melukisnya. Hiiiisssh!!
**
Bunda menatap wajah Bintang penuh tanya, ayah Hendra hanya turut menerka nerka.
Teman teman Bintang juga Mentari, hanya diam dengan ekspresi yang entah apa.
"Bunda, Ayah..." Bintang sengaja menjeda kalimatnya.
"Maaf abang, mau merepotkan ayah dan bunda" ada yang janggal dengan pendengaran bunda.
Ini jantung bunda mulai berdebar, jika putranya menyebutkan diri 'abang' maka ini adalah menyangkut hatinya.
"Ayah dan Bunda di minta abah ke sana untuk menentukan tanggal" Ujar Bintang.
JEDDERRRR
Bukan karena tersambar petir, tapi lebih ke berita gembira, fantastis dan bombastis!!
"Horeeeee!!!" Pekik keempat sahabat koplaknya.
Eh mereka juga menanti loh jawaban Bintang, karena Bintang ingin memberitahukan pada ayah bundanya juga. Biar hemat suara maksudnya.
"Selamat bro"
"Jadi juga Habintang"
"Selamat"
Ucap mereka seolah berebutan, Bunda menitikkan air matanya. Ayah memasang wajah datar meski di hatinya teramat bangga.
"Tau mau di Terima tadi ikut yah" Seloroh bunda Sara. Bintang dan semua yang ada disana menatap bunda horor.
Yaa ampun padahal bunda sudah cantik loh, kenapa horor gitu?
"Bunda hanya takut, jika Bintang gagal. Terus ngamuk ngamuk disana" Ayah Hendra menimpali dengan santainya.
__ADS_1
Auto melongo sambil kedip kedip mata kan semua yang mendengar. Luar biyaza!!!
"Terus kapan kita kesana?" Tanya bunda, ia ngeri juga melihat raut Bintang yang tampak kecewa.
"Bintang minjem papa mamanya Reno aja bun" Bunda dan ayah saling pandang, benarkah Bintang benar benar marah?
Bisa gitu ya pinjem orang tua? Mirip Othor kalo dipanggil guru BK. Uuuppss!!
"Iya sekalian minta buat biaya nikah ke papanya Reno. Pak Adrian kontraktor Sultan tuh" Lihat kan semua mata tertuju pada Reno, bunda Sara jitu sekali. Ah!
"Bisa hemat ini om Hendra" Celetuk Ryan yang diangguki ayah Hendra.
"Nanti aku bantu buat beli shampo" Seloroh Rado.
"Buat seserahan?" Akhirnya Mentari turut berkomentar.
"Lah buat seserahan mah cuma satu botol. Besok bang Rado belikan satu kardus, yang rencengan" Sahut Rado ngasal, meski wajahnya serius.
"Mau jualan?" Ini yang kepancing bukan Bintang, melainkan Mentari yang masih tak nyambung. Ah susah signal ini Mentari!!
"Buat nyetok di kamar itu Tari, biar kaga beli ke warung terdekat" Benar benar ini Rado, mengotori otak Mentari yang tidak terlalu jernih.
"Tar, naik kamar. Jangan lama lama bareng virus. Komputer aja eror apa lagi kamu" Titah Bintang.
"BUAHAAHAHA" Brian dan Ryan puas sekali melihat wajah Rado yang cengo' dengan ucapan Bintang.
Pura pura gak paham kan ya ini bang Rado dengan ucapan Bintang!
"Sudah sudah kalian ini selalu gaduh" Ayah Hendra mencoba menengahi.
"Tari naik ke kamar!" Titah ayah Hendra kemudian.
"Tukang gaduh" Gerutu Tari sambil berlalu menuju kamarnya.
Percakapan mereka terhenti sejenak saat mbok Iyem datang membawa camilan.
Berasa jadi artis kan mbok Iyem, Dan kemana mbok Iyem sedari tadi? Obrolan mereka sudah hampir habis, camilan baru saja di sajikan.
"Silakan" Ujar mbok Iyem sopan.
"Terimakasih mbok Yem" Kompak keempat sahabat Bintang. Bahkan suara jawaban bunda tenggelam, ngambang pun tidak.
Memang ya, kaum pemburu isi perut ini suka meresahkan. Hadeuh!!
"Bintang...Kabari Habiba, besok siang selepas zuhur kami akan ke sana" Tegas ayah Hendra.
Beliau harus segera mengambil keputusan, sebelum rumahnya gaduh dengan celotehan kelima bayi bayi besar.
"Kalian, tolong bantu Bintang mencari catering, WO dan serba serbinya. Ayah yakin tanggal pernikahannya tidak akan jauh, melihat siapa orang tua Habiba" Ayah mulai dengan jiwa kepemimpinannya.
"SIAP LAKSANAKAN!!" Luar biasa betul sahabat Bintang ini. Sudah mirip tentara gadungan dengan mulut penuh berisi camilan. Astaghfirullahalazim!!
__ADS_1