Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Resah


__ADS_3

Apakah ada rencana mengganggu Mentari? Hah... Tampaknya ia sedang tidak baik baik saja saat ini. YAh... Ia pasti sedang memikirkan calon suaminya, Rado!!


"Assalamu'alaikum..." Ealah Habiba dan Eka saling pandang, Mentari masih saja bergeming, tak ada respon sedikitpun. Koma kah?


"Assalamu'alaikum Tar..." Sentuhan tangan Habiba menyadarkannya, helaan nafas panjang Tari menandakan jika ia banyak pikiran saat ini.


"Lo kaya orang mau di paksa kawin aja Tar..." Celetukan yang mengena banget dari Eka, hingga Mentari mencebik dan menunduk lesu. "Eh... Tar, lo beneran di suruh kawin nih?" Kepo Eka yang sepertinya mampu menebak ekspresi Tari. Good job Eka!!


"Hemmm..." Hanya gumaman yang Tari berikan. Bangkit lalu masuk ke dalam kelas. Dan apa arti gumaman itu, biarlah hanya Tari dan Allah yang tahu.


"Kenapa tuh adik ipar lo?" Habiba menggedikkan bahunya. Ia tak punya hak untuk menjelaskan pada Eka, sebelum Tari mengijinkannya maka ia tak akan menjelaskannya.


"Yuk masuk!!" Habiba menggamit lengan Eka, semoga saja kepo akutnya tak akan kumat saat ini. Bisa bisa Tari ngereog hari ini karena harus menjawab ke kepoan Eka.


Astagfirullahalazim... Habiba sampai menunduk, ada seorang laki laki berdiri tepat di hadapannya dan Eka saat ini. Mengganggu!!


"Apaan sih Jar ngalangin orang lewat tauk gak seh?" Sinis Eka, namun Fajar kembali mengikuti langkah kaki Habiba.


"Maaf..." Lirih Habiba. Eka sudah memancang sinis wajah Fajar, sepertinya ada sesuatu yang aneh dari laki laki bernama Fajar itu.


"Diem Eka, gue mau kenalan sama temen lo..." Menyodorkan tangan berharap Habiba akan menerima jabatan tangannya. Sayangnya Habiba hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada. Bahkan tangannya Habiba sudah rapat tertutup sarung tangan.


"Lah... Temen gue dah punya suami" Ketus Eka membela Habiba, ia tahu sahabatnya ini tak akan mengangkat kepalanya. Bukan karena takut, tapi untuk menjaga pandangan dari lawan jenis.


Seringai tipis Fajar sungguh sangat menyebalkan di mata Eka. Bahkan banyak mahasiswa yang kini tengah menonton drama yang Fajar buat. iiih!! "Tapi kan gue cuma mau kenalan" Ngeyel banget si Fajar ini kan pengen kena timpuk kursi kali yak... Atau pengen di keroyok rame rame? Ide bagus!!


"Maaf... Saya sudah bersuami" Ujar Habiba pada akhirnya, ia tak ingin ada keributan di dalam kelas, terlebih itu karena dirinya.


"Gue tahu..." Lah... Ngadi ngadi nih bocah, tahu sudah bersuami kan tapi koq malah maksa minta kenalan.


"Lo tahu ngapain maksa..." Sarkas Eka mulai hilang kendali. Kakinya saja sudah maju, mungkin mau pasang kuda kuda.


"Ya namanya juga usaha..." Astaghfirullah, enteng banget yah tuh mulut kalau ngemeng. Sudah ganti oli kali yak, jadi tarikannya enteng... Hah!!


"Wah wah wah... Lo pengen di hajar rupanya ya Jar..." Geram sekali ini si Eka, hampir saja satu kakinya kembali maju. Untung tangan Habiba cepat menariknya lagi. Bisa bisa tambah rusuh kan!!

__ADS_1


"Maaf Fajar... Kita sama sama sudah tahu nama, saya rasa itu cukup. Dan maaf sekali lagi karena saya wanita yang sudah bersuami, tidak pantas dekat dengan laki laki lain" Ujar Habiba menengahi.


"Kamu tegas juga yah... Gue jadi semakin penasaran. Mungkin saja suami lo cuma penasaran" Ya ampun si Fajar kalau ngomong mengandung bensin kan tuh, kena api langsung kebakar.


PLAK


Sebuah tamparan mendarat di wajah Fajar, bukan dari Eka apalagi Habiba. Yah... Mentariah si pelaku. Geram sekali ia sedari tadi melihat polah dan kata kata Fajar. Sekalian kan tuh muka Fajar jadi pelampiasan emosi Mentari.


"Lo punya kuping kan? Budek? Habiba ini sudah punya suami!!" Mentari masih menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan siapa suami Habiba. Abangnya lah siapa lagi!!


"Terus masalahnya dimana hah?" Fajar sudah menampilkan wajah devilnya, sangat menjengkelkan!! "Apa urusan sama lo?" Tari tak kalah sengit menatap wajah Fajar yang kurang ajar itu.


"Wah... Kagak ada adab lo yah.. Percuma tiap hari ke kampus, otak masih kaya anak TK" Cibir Tari sengit. Habiba dan Eka saja sudah menahan Tari agar tidak berlebih. Yah... Meski Eka berniat nyemplungin Fajar ke gunung merapi.


Fajar sudah mengangkat tangannya dan hampir mengenai Mentari, jika saja tidak ada tangan lain yang menahannya.


"Fajar.. Tolong hormati kami sebagai perempuan. Kamu juga di lahirkan dari perempuan kan?" Habiba yang menepis tangan Fajar dengan buku di tangannya.


"Fajar... Keluar lo, bikin rusuh ajah!!" Ujar seorang mahasiswi yang ada di kelas itu. Ulah Fajar benar benar merusak konsentrasi mereka. Konsentrasi ngobrol sebelum dosen masuk maksudnya.


Beberapa mahasiswa menghampiri Fajar dan menyeretnya keluar kelas, kesal sekali ada laki laki modelan begitu. Gak pernah di upgrade apa gimana itu akhlaknya... Hah!!


"Perut aman?" Habiba mengangguk seraya menyipitkan matanya. Sedari tadi ia tak lepas berdoa dan berdzikir agar semua aman terkendali. Hatinya sungguh resah saat ini.


"Apa perlu gue aduin ke abang? Atau ke ayah biar di urus anak buah ayah?" Tanya Mentari memastikan, bahkan ia melupakan pernikahannya dengan Rado. Dasar Tari!!


"Nanti biar aku ngomong ke mas Bintang sendiri. Kamu berdoa ajah untuk pernikahanmu" Lah... Habiba malah mengingatkan lagi. Kan Tari jadi sendu!!


"Hah... Lo mau kawin?" Ini ngapa kali si Eka berkoar koar penuh semangat. Kaya jadi pembicara demo mahasiswa di gedung DPR. HIIIISSSHHH!!


Untung saja kegaduhan yang hampir kembali tercipta teredam dengan kehadiran dosen, jika mulut Eka sudah meledak bisa bisa Tari yang akan pusing karena pertanyaan teman temannya.


Akhirnya kuliah pun selesai, nampaknya Eka juga lupa jika ia akan menginterogasi Tari soal pernikahannya. Huh... Eka kamu harus sering baca biar ingatannya kuat!!


Dalam perjalanan Tari dan Habiba berpisah, Bintang sudah menunggu sang istri di depan. Malas sekali ia jika harus masuk parkiran. Senyum merekah Bintang menyambutnya, lupakan si babang gak pakai masker dan itu kacamatanya masih nangkring ajah. Meresahkan.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum habibi..." Habiba meraih tangan suaminya dan menciumnya takzim. Bahkan Bintang pun mencium punggung tangan Habiba yang tertutup sarung tangan hitam itu.


"Walaikumsalam... Habibati... Tambah cantik aja seh?" Habiba mundur karena Bintang hendak mencium keningnya. Hemm... Masih malu terlebih itu di tempat umum.


"Maaf lupa... Habis kangen..." Cicit Bintang, janji makanan sehatnya saja Bintang lupa. "Oh iya... Dede nurut kan?" Tanya Bintang seceria mungkin, melihat sorot mata istrinya yang begitu sendu.


"Alhamdulillah mas... Cuma..." Panik Bintang langsung membukakan pintu mobil untuk sang istri. Ia akan membicarakan di dalam mobil saja.


Mobil melaju dari sana, hingga Bintang kembali membuka pembicaraannya "habibati... Tadi cuma apa?" Resah loh itu, takut sang istri kenapa kenapa.


"Aku kangen banget sama habibi ku ini... Pengen deket mulu mas" Rengek Habiba manjalita. Ia sangat merindukan suaminya ini.


"Yang kangen mommy atau dede nih?" Iiihh... Usil kan si babang, malah senyam senyum gitu bikin diabetes.


"Uminya lah..." Sahut Habiba Ketus, Bintang saja sampai tergelak. Setelah hamil istrinya ini jadi suka ketus. Dan itu tidak masalah.


"Iya deh... Umi jadi galak yah dan itu bikin gemezzz!" Mengusap pipi Habiba lembut.


"Maaf mas... Apa nada bicaraku galak banget sama kamu?" Bintang harus bersabar, mood istrinya benar benar susah di tebak, bisa naik dan anjlok secara tiba tiba. Mirip pasar saham!


"Sayang... Bukan gitu maksud mas. Mas hanya bercanda" Lembut Bintang. "Maaf yah... Terimakasih sudah mau mengandung anak mas" Imbuh Bintang, yang kini menggenggam erat tangan Habiba.


Ya ampun cadar Habiba sudah basah, kenapa air mata itu mudah sekali terjatuh saat ini. Huh... Semenjak hamil ia lebih cengeng dan lebih sensitif. Bintang sampai harus menepikan mobilnya padahal sebentar lagi sudah sampai cafe.


"Habibati... Maafin mas yah..." Menangkup kedua pipi sang istri, tak menyangka jika mengandung bisa merubah seseorang.


"Maaf mas... Aku masih sulit mengendalikan perasaanku..." Aku Habiba, pada saat ini logikanya benar benar terkalahkan.


Bintang mengulas senyum jahil menjawil hidung Habiba yang sudah Bintang buka cadarnya. "Bersabarlah habibati... Dede hanya ingin bermanja dengan daddynya" Alisnya itu loh bang, kenapa main naik turun gitu seh? Kan menakutkan.


"Mas..." Rengekan Habiba terdengar sangat menggoda. "Aku gak rela yah... Kalau sayang kamu terbagi" Lanjut Habiba, sejak kapan istrinya itu menampilkan wajah marah. Dan itu terlihat sexy dan imut.


"Hahahaha... Istri mas ini menggemaskan sekali seh..." Beralih mencubit pipi Habiba. "Tidak akan pernah terbagi habibati... Untuk kamu tetap 100 % sebagai seorang suami, dan untuk anak juga 100% sebagai daddynya" Lanjut Bintang hingga Habiba langsung mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Maaf mas... Masa iya aku cemburu sama anak sendiri" Sesalnya, sulit sekali mengendalikan emosi saat ini. Bintang mengangguk disertai senyuman khasnya yang membuat Habiba semakin betah berlama-lama lama menatap sang suami.

__ADS_1


"Mas... Jangan pernah senyum jika di depan wanita lain... Aku gak rela" Aaaaa... Ini yang Bintang tunggu tunggu, keposesifan istrinya dengan wajah cemburu yang sangat cute. Ah... Habiba!!


"Maaaasss..." Resah Habiba karena suaminya malah semakin menggodanya, semakin melebarkan senyumannya. Aiiihh Habiba... Kalian kan lagi di dalam mobil berdua, mana mungkin kan ada yang melihat senyuman si babang. Huh!!


__ADS_2