Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Rado Bau Asem


__ADS_3

Hemm... Nyamannya Habiba yang bersandar di bahu kokoh sang suami. Mereka masih ada di kursi dekat ruang makan rumah ayah Hendra.


Bunda masih menahan kepulangan mereka selepas acara pernikahan Tari dan Rado usai.


"Silakan den, mbak Biba..." Suara familiar mbok Yem, yang menyajikan minuman dan salad buah kesukaan Habiba.


Bumil memang harus banyak makan buah, biar semakin sehat untuk ibu dan janin.


"Makasih ya mbok Yem, Biba ngerepotin ya" Nyengir Habiba dari balik cadarnya, dan mbok Yem sudah paham hal itu.


"Sama sama mbak, sudah tugas mbok Yem, mbak" Sopan mbok Yem seperti biasa.


Mbok Yem berlalu meninggalkan suami istri yang masih bersantai itu.


Terus dimana keberadaan pengantin baru?


Mereka masih asyik di kamar dengan fotografer yang mengabadikan momen penting itu.


Eitzzz... Jangan nakal pikirannya loh, maksudnya foto foto di kamar pengantin ala ala. Bukan foto foto nyeleneh si majalah telinga panjang.


"Habibati, nanti pulang yuk!" Bujuk Bintang, hingga Habiba mengulum senyum seraya mengunyah saladnya.


"Aku ngikut aja mas, kalau ayah dan bunda ngijinin" Eh, Bintang sampai lupa jika ia diminta menginap semalam lagi.


"Mas..." Panggil Habiba sedikit kikuk.


"Ya, Habibati..." Seperti biasa Bintang begitu lembut menghadapi sang istri.


"Ke kamar yuk mas, aku capek!" Betis dan pinggang Habiba terasa nyeri dan sedikit linu.


"Oke, biar mas gendong" Sontak Habiba menggeleng untuk menolak.


"Kenapa?" Gemasnya Bintang melihat sang istri yang malah menyipitkan matanya.


"Aku takut jatuh!" Jujur sekali Habiba, gak lucu kan jika di tengah tangga mereka berdua terjatuh karena Bintang merasa berat mengangkat tubuhnya.


Bisa berbahaya untuk mereka berdua dan si calon jabang bayi.


"Hahaha..." Menjengkelkan sekali gelak tawa si babang Bin ini. "Jadi, istri mas takut di jatuhkan di tangga gitu?" Lanjut Bintang membuat Habiba kini membenamkan wajah di dada Bintang.


Bintang mengusap pucuk kepala yang tertutup hijab itu, mengeratkan pelukan di tubuh kurus sang istri.


"Habibati, apa dede bayinya begitu doyan makan?" Eh!


Habiba mengangkat kepalanya memancang wajah bingung sang suami. Lah, sebenarnya mereka sama sama bingung.


"Iya, kamu makan saja sudah over dosis. Tapi badannya gak gemuk kaya ibu hamil yang lainnya. Apa perlu mas bawa ke dokter gizi, atau makannya perlu di tambah porsinya?" Khawatir Bintang, kesehatan istrinya itu yang utama saat ini.


"... " Terdiam memancang wajah tamvan sang suami yang kini lebih chubby.


"Maaf habibati, maksud mas... Mas takut jika~~" Sulit melanjutkan kalimatnya.


"Aku paham mas, tidak perlu sungkan seperti itu" Sergah Habiba mengusap dada bidang sang suami, sedikit menusuk nusuk dengan telunjuk.


"Bukankah kemarin dokter Naima bilang, kondisiku baik baik saja dan semua normal" Ah... Bintang lupa jika kemarin sore ia sudah membawa Habiba periksa kandungan.


Saking bucin dan khawatir dengan istrinya Bintang sampai melupakan hal penting seperti itu.


"Kamar yuk mas!" Ajak Habiba kemudian, kini Bintang hanya menggaruk kepalanya. Lagi lagi ia lupa jika niat mereka adalah naik ke kamar karena Habiba merasa lelah.

__ADS_1


Kedua pasang mata itu saling pandang sesaat, tepat ketika Bintang dan Habiba dekat di ujung tangga teratas, seorang fotografer keluar dari kamar Mentari.


"Mas..." Cegah Habiba, paham betul apa yang ada di pikiran Bintang. Tentu pikiran usil pada sang adik dan sahabatnya.


"Hehehe..." Beuh! Manis sekali senyumnya bang. "Mas gak akan nakal koq habibati" Imbuhnya berujar.


Oh... Tentu saja Habiba tidak akan mempercayai begitu saja, sudah jelas tertangkap niat usil sang suami.


"Auuuuwww!!" Pekik Bintang, mengusap bekas cubitan di perutnya.


"Mas ini kan usil kalau sama Mentari, iiiihhh!" Lah... Bintang yang di tuduh usil tapi Bintang juga yang mendapat cubitan mesra di pipinya.


CUP


"Nakal yah..." Tanpa ancang ancang Bintang mengangkat tubuh sang istri, mengecup keningnya yang tertutup kain niqob.


Reflek Habiba melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Bintang. "Mas.. " Desisnya memanjakan telinga Bintang. Sungguh Habiba benar benar takut terjatuh.


"Mas..." Tubuhnya sudah berbaring nyaman di kasur empuk, dengan Bintang yang masih tersenyum mesum.


"Maa Syaa Allah istri mas memang super beutiful" Ucapnya genit hingga Habiba terkikik geli.


Bermesraan adalah cara terbaik menyalurkan rasa cinta agar semakin mengalir deras.


**


Mari kita beralih ke kamar sebelah, lebih tepatnya kamar pengantin baru yang masih wangi mawar, dan lilin aromaterapi.


Wah... Sudah siap siap mau mencari pesugihan jalur hitam nih si pengantin baru. Ngepet!


"Ya ampun bang Rado..." Pekik Tari menutup matanya dengan jemari yang merenggang.


Yaelah Rado yang somplak, memang sebelas duabelas dengan sang abang, Bintang. Suka menambahi rasa panas di tengah gerah yang ada.


"Hemm..." Gumam Rado yang kini sudah duduk di samping Tari. "Kamu gak gerah? Gak mau ganti?" Tanya Rado yang harus menekan kuat nervous yang menelusup hatinya.


"Iiih bang Rado, pakai baju dulu sana!" Usir Tari mengibaskan tangannya.


HAP


Kesempatan kan meraih tangan Tari, membawanya dan menciumnya sedikit lama.


'Jantung gue sangat tidak sehat jika gini terus. Lagian bang Rado apaan sih? Masa dia yang nyium punggung tangan gue...' desis pikiran nakal Tari.


"Haha, deg deg an ya?" Tanya Rado penuh selidik. "Sama dong!" Beuh...


Beuh... Makin tidak aman kan jantung si Tari, telapak tangannya saja sudah mendarat nyaman di dada bidang Rado.


"Bang Rado perlu ke dokter?" Polos Tari merasa jantung suaminya yang berdetak sangat kencang.


"..." Mengangguk sebagai jawaban, memancang wajah Tari yang masih sedikit tertunduk.


"Ya sudah, biar Tari ganti baju dulu. Nanti ke dokter!" Ujar Tari kemudian, mencoba melepaskan genggaman tangan Rado.


"Hemm... Aku butuh dokter cinta!" Hiiissshhh abang arsitek yang slengean kini melancarkan rayuan mautnya.


"Psikiater?" Eh... Pura pura ataukah kepolosan Tari yang serius?


Ayolah... Tari tidaklah sepolos itu!!

__ADS_1


DEG DEG DEG


Rese kan nih si Rado memporak-porandakan perasaan Tari dan mematikan logikanya secara mendadak.


Perlahan Rado mengangkat dagu sang istri, menghadap wajahnya. Namun Tari masih memejamkan matanya tanpa melihat Rado dengan wajah memerah.


"Wah... Nampaknya istri kecilku ini siap untuk di cium" Seringai Rado yang manis. "Hahahaha..." Ngeselin sekali kan Rado yang tergelak melihat netra Tari yang langsung membola.


"Iiiihhh... Bang Rado ngeselin!" Sungut Tari dengan bibir mengerucut lucu.


"Masih siang, jangan mancing aku dengan bibir sexy kamu... Baby!" Semakin ngadi ngadi si arsitek satu ini.


Mentari yang biasanya jago ngeles kaya guru private saja, lidahnya kaku menjawab gombalan Rado.


'Ya ampun pengen kabur gue, tapi nanti bunda bisa bernyanyi ceria memberi tausyiah' Eh belum habis pikirannya mencerna situasi, ia merasakan benda kenyal nan lembut menyentuh bibirnya.


"Manis kan?" Pertanyaan receh yang sukses membuat Tari tergagap. "Nemu di meja, kamu suka marshmello?" Imbuh Rado turut memakan marshmello milik Tari.


Tari memancang suaminya kesal 'gue pikir tadi bibir bang Rado... Iiishhh otak!'.


"Cie... Mikirin yang aneh aneh ya?" Goda Rado, menjawil hidung Tari yang sangat mirip dengan milik Bintang. Namanya juga kakak adik!


"Eh!! Iya mikirin koq aku bisa nikah sama bang Rado!!" Bodo amat dengan Rado yang terus saja menggodanya.


Bahkan kini Rado tengah terkekeh geli melihat tanduk Tari yang mulai bertunas.


Pisang kali Tor bertunas!!


CUP


Blusssshiiing wajah ayu Tari yang masih dengan tata rias pengantin sederhananya. Untung kan masih pakai make up, jadi bisa ngumpetin si semburat merah yang sudah pasti melukis malu wajah Tari.


"Baru di pipi loh itu, baby!" Celetuk Rado santai.


"Baby baby... Aku ini girl!" Sungut Tari bersidekap dada.


Menyelamatkan jantungnya saat ini adalah jalan yang terbaik. Wajah Rado sungguh memenuhi netranya, karena saking dekatnya.


"Bentar lagi juga sudah gak girl koq..." Kan kan kan Rado makin menjadi, tersenyum smirk mencuri ciuman di pipi sang istri.


"Iiiiiihhh... Bang Radooooo!! Heummmpp..." Niat hati ingin nampol tuh mulut suaminya yang rese.


Apalah daya Rado sudah mencuri bibir Tari dan menikmatinya dengan tenang, meski jantungnya berdentam hebat.


"Hooosshhh hoossshhh..." Deru nafas Tari yang sangat menggoda.


Nafas ngos ngosan saja menggoda, bagaimana kalau nafas yang berbaur dengan pertukaran keringat dan cinta... Suuuuttt SKIP!!


Rado mengusap bibir basah Tari yang basah karena ulahnya "Lebih manis dari marshmello, lebih kenyal dan lebih lembut juga".


PLAK


Bayaran yang harus Rado terima dan itu tidaklah menyakitkan bahkan Kini ia sudah mendekap tubuh Tari dalam pelukannya.


"Bang Rado bau asem!!" Ejek Tari berusaha melepaskan pelukan Rado.


Sayang seribu sayang itu hanya sia sia, Rado semakin mendekapnya dan mencium puncak kepala Tari bertubi tubi.


"Auuuuwwww!!" Pekik Rado penuh semangat.

__ADS_1


__ADS_2