Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Kalah Jurus


__ADS_3

Dalam hati Bintang selalu memohon ampunan, meski satu sisi ia sangat bersyukur karena Habiba tengah mengandung anaknya.


"Maaf yah habibati... Mas membuat kamu berubah..." Seraya menatap intens Habiba yang sudah berbaring nyaman di ranjang mereka.


Sepatu dan cadar sudah Bintang buka, hingga Bintang puas sekali menikmati wajah ayu nan pucat Habiba nya itu. Oh.. Habiba!!


Selepas membersihkan diri, ia di sambut senyuman Habiba. Yah... Senyuman yang hanya menjadi miliknya, Abrisham Bintang. Hemm!!


"Habibati... Bagaimana boboknya?" Duduk dengan satu kaki menopang tubuhnya. Menatap sayang Habiba yang masih tersenyum begitu manja.


"Aku berat ya habibi?" Tanya Habiba lembut mengusap pipi suaminya. Tampak segar dengan rambut basah acak acakan.


"Hemmm.. Berat banget amoorrr!" Ya ampun menggemaskan sekali ekspresi babang. Jadi pengen gigit kan bibirnya yang berlipat seperti itu.


"Maaf yah Habibi, aku menyusahkan mu lagi" Eh... Bintang menangkap kesedihan di raut wajah Habiba yang kini sendu.


"Menyusahkan mas kalau wajah ayu istri mas ini sedih. Jadi, tersenyumlah supaya tenaga mas pulih lagi karena senyuman mu" Yah... Bukannya tersenyum, Habiba malah meneteskan air matanya.


Hadeuh!! Bintang malah merebahkan kepalanya di pangkuan Habiba, dengan satu tangan melingkari perut sang istri.


"Dede, mommy cengeng sekali yah. Nanti kalau mommy nangis lagi, kita cium bareng bareng... Oke!" Nampaknya usaha babang ini beralih menorehkan senyum di bibir ranum Habiba.


Penuh kelembutan Habiba mengusap, lebih tepatnya mengacak rambut suaminya yang memang acak acakan. Betapa bersyukur bisa bersama laki laki ini, sama sama belajar berjalan menuju jannah.


"Habibi nya Habiba, tolong ambilkan sisir. Biar aku rapikan rambutnya" Eh.. Bintang menggeleng, masih terlalu nyaman dalam pangkuan sang istri. Oooh!


"Pakai jari jari aja habibati.." Rengeknya manjaaah.


"Kurang rapi habibi.." Kini Habiba beralih pada pipi suaminya yang sedikit menggembung. Eh, chubby maksudnya.


"Yaa Allah.. Saking bahagia punya istri solehah bonus cuwantix, mas makin berisi ya sayang. Hemm.. Kamu yang hamil mas yang melar" Habiba saja sampai tertawa mendengar penuturan suaminya.


"Alhamdulillah.. Jika kamu bahagia mas. Aku takut jika pelayanan ku kurang bahkan tidak layak untukmu. Tegur aku dan beri tahukan itu padaku, ya Habibi. Semoga aku bisa memperbaiki pelayananku padamu" Mau kurang bagaiamana, cara bicaranya saja lembut, menenangkan tidak menghakimi.


Bintang bangkit, menuju meja rias sang istri. Di ambilnya sisir yang Habiba minta.


"Habibati.. Tolong rapikan rambut mas.." Pinta Bintang langsung duduk bersila di bawah kaki Habiba. Dengan senang hati Habiba menyambut dan menyisiri suaminya.


"Habibati..." Ya ampun kelembutan babang menggetarkan hati Habiba.


"Umi dan Abah sungguh luar biasa dalam mendidik Habiba mas ini. Mas itu malu loh, kebaikan apa yang mas lakukan hingga Allah mengirimkan salah satu bidadari surganya untuk menjadi pendamping mas" Tanpa sadar bulir bening menari manja menyusuri pipi Habiba.


Bintang bangkit dan duduk di samping sang istri, membawanya ke dalam dekapannya. Habiba langsung memeluk erat tubuh suaminya itu. Ada rasa membuncah menggelitik sanubarinya.


"Berbahagialah... Kasihan calon anak kita, nanti ia turut bersedih" Bintang harus bersabar, jika istrinya tengah mode baper begini. Lah... Padahal babang sendiri yang membuat Habiba baper.

__ADS_1


"Aku terlalu bahagia mas, habibi ku ini sungguh sangat bertanggung jawab. Sama seperti saat awal kedatangannya melamarku" Habiba mengangkat wajahnya, lalu mengecup sekilas bibir suaminya.


"Eh... Koq cuma sebentar. Lamaan dong!" Eh... Godaan si babang benar benar yah, harus kuat hati menahan rona merah yang selalu saja hadir tanpa diminta.


Habiba kembali memejamkan mata, menikmati setiap kecupan Bintang di seluruh wajahnya, tanpa terkecuali. Ia tidak pernah sanggup menatap netra suaminya yang selalu penuh kehangatan kasih sayang.


"Habibati... Mas siapin air hangat dulu, sudah mau maghrib!" Bintang masuk ke dalam kamar mandi, menyiapkan air untuk mandi sang istri.


Sedang Habiba menyiapkan baju koko serta sarung untuk suaminya pakai ke masjid.


"Yaa Allah, berkahi semua yang suami hamba kerjakan" Seraya menciumi pakaian sang suami.


"Aamiin..." Sahut Bintang memeluk istrinya dari belakang.


"Maass geli iih" Bintang semakin semangat ngusel masuk ceruk leher Habiba.


"Tapi mas suka.." Pasrah sudah Habiba, ia tak lagi membantah meski tubuhnya sudah mirip cacing yang menggeliat karena air garam. Iiih!


"Astaghfirullah..." Bintang langsung melepaskan pelukannya.


'Alhamdulillah' batin Habiba lega. Kemudian memancang wajah suaminya yang nyengir kuda.


"Mandi habibati... Mau maghrib. Hampir saja mas khilaf" Cicit Bintang, lalu menarik satu pipi istrinya.


Lihat saja Habiba yang mesam mesem dengan polah si babang.


"Kan cuma di kamar, nyenengin kamu" Mulai kan, senengnya loh menggoda goda manjah.


Habiba mengangguk dengan senyum pucatnya itu, "makasih habibi" Lah.. Habiba malah ikut ikutan si babang, main s*sor meny*sor.


"Seneng deh kalau di giniin.." Eh.. Habiba sampai merinding melihat alis suaminya yang naik turun kayak om om dimsum di TV TV.


"Assalamu'alaikum mas... Suara tahrim masjid sudah manggil manggil tuh" Habiba mencium takzim tangan suaminya sebelum berangkat ke masjid.


"Eh... Ngusir ini ceritanya? Walaikumsalam habibati" Sahut Bintang gemas sekali dengan sang istri.


CUP


"Aku mandi ya suami tersayang... Fii amanilah" Langsung kabur ke kamar mandi setelah mencuri ciuman di pipi sang suami. Nackal Habiba!


"Mandinya jangan kelamaan, segayung ajah" Ujar Bintang seraya keluar pintu kamar.


"Assalamu'alaikum" Imbuhnya benar benar berangkat ke masjid.


Selepas isya, Habiba masih duduk bersimpuh di atas sajadahnya seraya menunggu suaminya pulang.

__ADS_1


Tangannya masih saja mengusap perut ratanya itu, dengan hati dan lidah yang masih melafazkan dzikir.


"Walaikumsalam..." Sahut Habiba setelah mendengar salam dari sang suami.


Bergegas ia membuka kunci pintu kamar, menyambut Bintang dengan senyum terbaiknya.


HAP


Lalu di tangkap. Eh!


Habiba langsung memeluk erat tubuh imamnya itu, hingga Bintang harus pasang kuda kuda agar tak terhuyung karena serangan sang istri.


"Maaasss..." Pekik Habiba, suaminya malah mengangkat tubuhnya seperti koala.


"Hemm... Manja sekali mommy ini, dan saya suka saya suka" Mendudukkan istrinya di pangkuan.


Kenapa Habiba malah mencebik kesal dengan perlakuan suaminya. Bahkan menghindar saat Bintang hendak menciumnya.


"Kenapa habibati...?" Panik gak panik gak? Panik banget lah si babang, mana pernah istri solehahnya itu menghindar? Uuuhh!


"Aku cemburu mas..." Rajuknya manja, masih membuang muka dan pandangan. Mata nya saja sudah berkaca kaca, membuat babang berpikir ekstra.


"Kamu ngikutin gaya perempuan lain *saya suka saya suka*" Eh... Ingin terbahak sebenarnya, namun ia memilih menahan. Luar biasa sekali bumil satu ini.


"Astaghfirullahalazim.. Maaf yah habibati, mas salah" Aku Bintang, memasang wajah sesedih mungkin.


'Yaa Allah, padahal itu film kepala gundul, animasi loh itu' jerit babang dalam hati.


"Maafin mas ya habibati..." Membawa tubuh Habiba di atas tubuhnya.


"Maaasss..." Kesal kesal senang ini Habiba, wajahnya basah karena Bintang tak kunjung mengakhiri kecupan di seluruh wajahnya.


"Hahahaha..." Istri solehah mas ini luar biasa yah. "Sabar ya habibati, dede bayinya suka bermanja manja" Imbuh Bintang mendekap erat Habiba yang masih lengkap dengan mukena nya.


"Mas... Aku laper lagi" Merusak suasana kan ini Habiba.


Tunggu tunggu, laper lagi? Maksudnya?


Dengan perlahan Habiba turun dari tubuh suaminya, melepas mukena dan kembali memasang jilbab dan niqobnya.


Bintang mengikuti tanpa mengganti bajunya, istrinya semakin lahap namun tubuhnya malah sedikit kurus semenjak hamil.


"Makannya sedikit sedikit sayang, nanti kekenyangan gak bisa tidur" Ujar Bintang memperingati, toples roti kering di kamar saja hanya tinggal seperempat. Oooh!!


"Iya aku gangguin suamiku ini kalau aku gak bisa tidur" Bintang suka sekali dengan manjanya sang istri. Bikin ngangenin!!

__ADS_1


"Dengan senang hati nyonya, yang penting enak enak... Hahaha" Niat hati ingin manja dan menggoda suaminya, malah ia sendiri yang tersipu malu.


Oh... Habiba kalah jurus!


__ADS_2