
Habiba masih mematut diri depan cermin, merasa ada yang aneh dalam dirinya. Antara percaya dan tidak percaya bahwa dirinya akan dipinang.
"Apa kamu siap?" Tanya Habiba pada pantulan diri dalam cermin.
"Yaa Allah..." Suaranya tertahan, banyak rasa yang bercampur menjadi pelangi.
"Assalamu'alaikum" Uma langsung masuk karena pintu terbuka separuh.
"Uma..." Lirih Habiba langsung memeluk Uma.
"Kenapa? Apa terlalu cepat?" Tanya Uma, wajah Habiba sudah memerah.
"Entahlah Uma, Biba gak tahu" Jujur Habiba.
"Mungkin ini sudah jalannya, keputusan kedua belah pihak sudah ditentukan" Tutur lembut Uma, Habiba semakin mendekap erat tubuh wanita hebatnya.
"Apa Uma Ridho?" Tanya Habiba yang kini sudah terisak.
"Jelas saja Uma ridho, melihat putri Uma tersenyum dan khawatir dalam waktu bersamaan" Mengurai pelukan Habiba, mengusap air mata putri bungsunya.
"Berusahalah menjadi yang terbaik dalam melayani suamimu. Harapkan imbalan dari Allah bukan dari suamimu" Habiba mengangguk, sudah sedari kecil di ajarkan pola berumah tangga. Kini dia akan langsung praktik tanpa coba coba. EITZZZ!!
"Uma... Biba gugup" Nampak sangat kentara kegugupan di wajah cantiknya.
"Uma juga dulu gugup..." Ujar Uma menyunggingkan senyum.
Berharap kegugupan Habiba sedikit mereda.
"Ambil wudhu, sebentar lagi Maghrib. Jaga wudhu itu sampai isya" Titah uma.
"Kenapa uma kan nanti Biba bisa wudhu lagi" Habiba suka menggoda atau pura pura ingat.
Uma menjawil hidung putrinya "Karena putri Uma mau akad selepas isya. Kasihan dong mbak mbak yang make up... Gugup" dan Habiba hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Paham? jadi kamu bisa melaksanakan isya tepat waktu" Uma melanjutkan karena Habiba malah kembali memeluknya.
"Ya ampun sepertinya nak Bintang salah pilih, mau menikahi anak kecil" Uma sudah ketularan menantu cantiknya, suka sekali menggoda Habiba.
"Uma... diajarin mbak Zahra ya?" Habiba menyipitkan matanya, merasa gemas dengan sikap umanya ini.
"Koq mbak di bawa bawa seh?" Ini yang di omongin udah nangkring di pintu kamar calon pengantin.
"Uma... Koq ghibahin aku seh" Rengek Zahra bergelayut di lengan sang mertua.
Habiba sudah terkekeh karena ekspresi Zahra yang penuh drama.
"Maa sya Allah ini anak perempuan Uma satu lagi, suka sekali menggoda adiknya" Uma membalas dengan memeluk menantu cantiknya, Habiba turut memeluk umanya bahagia.
"Biba, awas ya masih manja manja sama mas Reza" Ancam Zahra berkacak pinggang.
__ADS_1
"Itu kan mas aku wleeek" Habiba malah menjulurkan lidahnya. Mereka berdua menggemaskan ternyata.
"Lah kalau kamu bisa mesra mesraan sama mas Reza, kalo mbak kan gak bisa balas mesra mesraan sama Bintang" ini Zahra ngadi ngadi kan ya, di depan mertua loh itu.
"Mbak Zahra awas ya macem macem sama mas Bintangku" Eitzz Habiba langsung membekap mulutnya.
'Astaghfirullahalazim berani banget nih mulut' ya kan neng Habiba langsung merutuki mulutnya yang berselancar bebas. Mulai gesrek kan ketularan kakak iparnya.
Zahra sudah cengar cengir sambil kedip kedip, Uma bahkan tak habis pikir dengan kelakuan Habiba.
"Mas Bintangku Uma..." Goda Zahra menoel dagu Habiba.
"Hahahah" sudahlah pecah juga tawa Zahra, ia tak tahan melihat wajah merah padam Habiba.
"Sudah sudah Zahra, ayo kita Maghrib dulu" Ujar Uma, Zahra masih mesam mesem asem.
Jangan ditanya Habiba yang masih menunduk menahan malu karena ulahnya sendiri.
"Kamu ini suka sekali menggoda Biba" Ucap Uma, masih menarik Zahra yang terus menggoda Habiba.
"Uma kan tahu aku sama seperti Biba tidak punya saudari" Zahra malah memeluk lengan mertuanya manja.
"Biba juga sebenarnya lucu Uma, apalagi jika sedang bersama adiknya Bintang..." Ucap Zahra mengingat tingkah kedua gadis itu.
"Kenapa Zahra?" Ini Uma penasaran dong dengan pergaulan anak muda jaman now.
"Gesrek itu Uma mereka berdua" Raut wajah Uma berubah dong ini, mendengar perkataan menantunya.
Untung saja Uma gak minta penjelasan akar, pangkat dua, sin cos tan. Alhamdulillah!!
**
Habiba masih duduk di depan meja riasnya, ada dua kakak kakak MUA yang sedang merias tipis wajahnya.
Hebat juga ini bunda Sara mendapat MUA nganggur, yang bisa langsung menyanggupi.
"Calon suaminya ganteng gak ning Habiba?" Tanya seorang MUA muda.
"Husss... Kamu itu. Rugi kan ning Habiba cantik gini kalo calon suaminya biasa biasa saja" Sahut kakak MUA yang mungkin lebih senior.
"Panggilnya Biba saja, tidak usah pakai 'ning', kurang nyaman" Kedua MUA itu mengangguk dengan permintaan Habiba.
Akhirnya Habiba berbincang ringan dengan kedua MUA yang juga harus fokus meriasnya.
"Alhamdulillah" semua sudah selesai tepat bersamaan dengan kumandang adzan Isya.
Habiba melaksanakan sholat Isya dengan gaun pengantinnya yang sederhana.
Riasan wajah sudah sangat tampak luar biasa, meski akan tertutup cadar.
__ADS_1
Hijab sederhana menjuntai panjang, di tambah sarung tangan bermotif hena melengkapi cantik lahiriah yang Allah titipkan.
Setitik kristal bening jatuh membasahi pipi kala ia mengangkat kedua tangannya.
Ada rasa haru, sedih, takut juga bahagia yang memang hendak ia adukan pada sang pemilik hati Illahi Robby.
Waktu semakin beranjak, bahkan keluarga Bintang sudah berada di rumah Habiba. Tepatnya pelataran Pesantren yang terhubung ke halaman rumah. Tempat yang sudah rapi tertutup kanopi, karena biasa digunakan untuk pengajian akbar.
Lumayan kan ini bisa hemat biaya sewa menyewa gedung.
Bintang sudah duduk di depan pak penghulu dan abah, beserta kedua saksi.
Sedang Habiba berada di dalam rumah bersama Uma dan Mentari.
Akhirnya masuk ke acara inti, yaitu akad nikah. Setelah rangkaian acara dari pembukaan, sambutan hingga pembacaan ayat Al-Quran yang dilantunkan Zahra.
"Kamu sudah siap nak Bintang?" Tanya abah tegas, sebagai wali nikah Habiba.
"Insya Allah bah Siap!" Sedikit menatap abah sebagai tanda kesanggupan.
Akhirnya abah membaca ijab yang di jawab tegas serta tuntas melalui Qabul yang Bintang lafalkan.
"Saaaahhh" Menggema sudah suara lantang mereka yang menyaksikan ijab qobul singkat itu.
"Alhamdulillah" Seru semua yang hadir, terutama keempat sahabat Bintang yang sangat vokal tentunya.
Penambah keseruan, keramaian dimanapun mereka berada. The Gaduh team!
Netra kedua ibu calon pengantin mulai berembun haru biru, melepas anak anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi, untuk melengkapi ibadah pada sang Khaliq.
Habiba sudah berdiri berhadapan dengan sang suami. Masih menarik ulur tangannya karena ragu untuk menjabat tangan Bintang.
Sudah sah loh itu Biba, koq tarik ulur kaya layangan Othor. Menggemaskan!
Bintang dan yang menyaksikan hanya menahan tawa dengan tingkah Habiba, Gadis itu selalu menjaga diri untuk tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram.
"Biba, cium tangan suamimu!" Titah mbah Hasyim yang duduk di barisan depan.
Akhirnya Habiba benar benar menjabat bahkan mencium takzim punggung tangan Bintang.
Segera Habiba mengangkat wajahnya, kala telunjuk Bintang menggelitik di area telapak tangannya. Nackal!
Bisa bisanya loh sih babang ini, acara sakral malah main gelitik gelitik mesra.
Seketika Habiba merasa merinding saat Bintang meletakkan telapak tangan kanan di atas kepalanya.
"Allahumma inni as aluka khairahaa wa khaira maa jabaltahaa 'alaihi, wa a'udzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa 'alaihi"
Belum hilang rasa haru Biba yang membuncah, kini ia dikagetkan dengan Bintang yang mengecup keningnya dalam.
__ADS_1
Lemes dah neng Biba, makin sulit merenda kata hingga berbentuk kalimat untuk mengungkapkan rasa jiwa.
"Cantik... Alhamdulillah Sah" Bisik Bintang mesra.