
Pasangan pengantin baru yang masih duduk menikmati teh hijau hangat.
Habiba menatap lekat lelaki yang kini memenuhi hatinya. Seulas senyum yang Bintang torehkan, membuat Habiba langsung tertunduk malu.
"Yaa Allah, istri gue masih malu malu.. " Semburat merah melukis apik wajah cantiknya.
"Mas..." Lirih Habiba.
"Iyaahh Habibati... " Habiba semakin menunduk dengan suara Bintang yang sedikit mend*sah. Ah... Nackal!!
"Emmm... Aku mau tanya" Ujar Habiba.
"Boleh... Silakan mau tanya, mau manja manja, mau brutal..." Terlihat betul Bintang mengulum senyum.
"Brutal di ranj*ng honey..." Bisik Bintang seraya terkekeh. Tuh kan Habiba jadi inget kegiatan mereka di balik selimut...
Untung saja wajahnya tertutup cadar, jika tidak... Sudah pasti wajah malunya akan menambah energi sang suami untuk menggodanya.
"Buka sayang!!" Titah Bintang menyodorkan amplop besar coklat.
Tanpa bertanya Habiba langsung membuka, ia tak ingin di goda berlebihan oleh suaminya. Masih sayang jantung ya neng!!
"Maa Syaa Allah mas..." Habiba menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pandangannya lurus menilik wajah tampan sang suami.
"Ini resto kamu mas?" Habiba benar benar terkejut, jika suaminya tidak hanya memiliki satu usaha.
"Punya kamu, mulai sekarang belajar ya... Bukan karena mas tidak ingin menafkahi kamu sayang..." Habiba mampu menangkap air muka suami yang sedikit keruh.
Habiba mendekat dan menangkup wajah suaminya, dengan wajah bersih meski bibir yang sedikit gelap karena suka dengan asap rokok.
"Mas... Ada apa.. hemm??" Bintang tersenyum, dengan sorot mata Habiba yang menampakkan keresahan.
'Yaa Allah bertemu dengan wanita ini membuat hidupku lebih indah, ada bunda yang luar biasa, Mentari, adik perempuan yang amat ku sayangi. Kini engkau hadirkan bidadari sebagai pelengkap ibadahku' Tanpa terasa setitik butir kristal membasahi sudut mata Bintang.
"Mas..." Lirih Habiba dengan nada yang mulai gemetar. Perasaan khawatir itu kembali menyergapnya.
Bintang tetap bergeming, hanya memandang lurus wanitanya.
"Mas... " Usapan lembut pada pipinya sedikit membuatnya tersadar.
Bintang memindahkan kedua tangan istrinya untuk melingkar di pinggang, kini ia membuka cadar Habiba dan berganti menangkup kedua pipi istrinya.
"Terimakasih sudah menerima mas, kamu membuat mas jatuh cinta sejatuh jatuhnya sayang" Mengecup lama bibir Habiba, sedikit mel*matnya penuh kelembutan.
Bahkan air mata Bintang masih terus mengalir mengiringi ciuman itu, Habiba mengeratkan pelukannya ada rasa tidak nyaman dalam hatinya.
Habiba membalas permainan bibir suaminya, membiarkan suaminya menyalurkan perasaannya melalui sentuhan bibir mereka.
Kini Habintang sudah ada di kamar mereka, Habiba memutuskan membawa pulang suaminya yang tampak tidak baik baik saja.
__ADS_1
"Minum dulu mas..." Habiba meletakkan nampan berisi dua gelas air putih, Bintang membalas dengan senyuman hangat seperti biasanya.
Bintang meraih gelas dari tangan Habiba, "Kamu dulu yang minum ya, baru mas" Ujar Bintang.
Habiba turut menggenggam tangan suaminya, menuntun tangan itu untuk menyuapkan seteguk air untuknya.
Netranya masih memindai wajah suaminya yang menyimpan rahasia di balik senyuman.
"Biar aku yang suapin mas..." Bintang mengangguk membiarkan istrinya menyuapkan minumnya dari gelas yang sama.
"Mas... Tatapan kamu buat aku khawatir" cicit Habiba, Bintang hanya menoel hidungnya gemas.
"Dan semakin menatapmu, semakin mas jatuh cinta..." Seketika Habiba mengecup singkat bibir suaminya.
"Jangan terlalu di umbar mas, takut kamu bosan dan aku tidak siap untuk itu.. " Ah... Habiba mulai pinter kan buat babang jadi bunga dandelion. Melayang layang!
Habiba kembali mengecup bibir suaminya singkat dan tidak sesingkat yang ia pikirkan.
Bintang segera menahan tengkuknya bahkan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Mas..." lirih Habiba dengan nafas memburu setelah ciuman Bintang merambat turun.
"Mas... Tahan sebentar" Gumaman Habiba dan Bintang tak terlalu perduli.
"Mas..." Ucapan Habiba terhenti kala adzan Ashar berkumandang.
"Allahuakbar Allahuakbar..." Bintang menghentikan kegiatannya, merebahkan diri di samping Habiba.
Hadeuh... Hampir On..
CUP
"Ayo wudhu..." Tarik Bintang setelah kembali mencuri ciuman di bibir istrinya.
'Bini gue bener bener nagih... Mau di lihat dari mana juga AMAZING!! Bikin gue jadi mesum terus hahaha' biarkan saja dengan monolognya toh Habiba tak mendengar... Betul??
Akhirnya mereka ashar berjama'ah, sebelum kembali dengan rencana yang gagal. Ish ish ish!!
Habiba masih bersandar manja di atas dada bidang suaminya, yang tidak terlalu berotot namun sedikit berisi, terasa pas dengan tubuhnya yang sedikit mungil.
CUP CUP CUP
Sedari tadi Bintang tak henti hentinya mengecup puncak kepala sang istri.
"Rambut aku basah mas, jangan di cium terus..." Sengaja apa gimana ini Habiba mancing dengan nada rengekan seperti itu.
"Biarin..." cuek banget kan dan gak perduli.
"Ya udah mas bikin semakin basah karena keringat dan kerja keras kita..." Pasrah saja kan jika sudah begini?
__ADS_1
**
Pagi ini Habiba sudah turun ke dapur, membantu mbok Yem, terlebih ia mulai ngampus lagi.
"Mbak Biba, berangkat jam berapa nanti?" Tanya mbok Yem, sama perhatiannya seperti pada Bintang.
"Nanti jam 7 mbok. Aku ambil kelas pagi mbok. Males kalau siang!" Jawab Habiba yang masih menggoreng kerupuk.
"Ya udah mbak, biar mbok Yem yang nata di meja" ujar mbok Yem, mengingat ini sudah jam 6.
"Tinggal dikit mbok. nanggung!" Sahut Habiba yang menyelesaikan gorengan terakhirnya.
"Mbok.. Aku siap siap dulu, sekalian manggil mas Bintang" Habiba berlalu pergi dari dapur.
"BR*NGS*K!!" Umpatan Bintang yang menghentikan laju kaki Habiba, ia memilih menunggu di depan pintu kamar, suaminya sedang menerima telepon di balkon.
"Terus lo diem aja gitu?" Nada Bintang yang datar namun penuh penekanan.
"Iya... Nanti gue kesana"
"Awasi dia, jangan sampai dia berhasil mendekati Habiba" Titahnya, membuat Habiba bertanya tanya.
"Iya, jangan sampai Habiba dan Mentari tau kalau mereka sedang di jaga ketat. Ingat keselamatan istri dan adek gue harus jadi prioritas utama" Habiba merinding mendengar nada bicara Bintang yang tampak penuh kewibawaan.
"Assalamu'alaikum" Bintang mematikan sambungan telepon.
Sedikit mengatur nafas, agar Habiba tak curiga. Sayangnya Habiba mendengar sebagian percakapannya.
"Mas... Sarapan yuk. Aku mau siap siap nih" Ujar Habiba sedikit mendekati suaminya di balkon.
Bintang menghampiri Habiba dengan wajah tenang namun tidak dengan pancaran matanya yang penuh kekhawatiran. Habiba tahu itu!
"Bawa mobil ya honey, atau mas cariin sopir?" Ucap Bintang lembut, membawa Habiba dalam dekapannya.
"Mas... Lepas dulu" Bintang pun mengurai pelukannya sedikit, dan kembali memeluknya.
"Mas... Aku boleh berangkat ke kampus?" Tanya Habiba sedikit manja, ia akan menutupi kekhawatirannya sementara.
"Boleh dong, biar ustadzah Arwa ini semakin pintar ilmu dunia dan akhiratnya" Habiba mengecup pipi suaminya yang tepat di atas kepalanya.
"Hemm... Kalau boleh, jangan di peluk terus mas, nanti aku gak jadi ngempus menuntut ilmu... Nanti malah berakhir di bawah selimut yang sama" Bintang terkekeh membenarkan ucapan istrinya.
"Mas, aku nyetir sendiri saja tidak usah di carikan sopir" Bintang mengangguk.
"Mas tunggu di bawah ya, Amor. Jangan dandan menor. Bawa cadar cadangan" Habiba tersenyum manja, mendengar nasihat sang suami, sebelum suaminya menghilang di balik pintu.
Dada Habiba terasa sesak, mendengar pembicaraan suaminya sangat membuatnya khawatir.
"Yaa Allah aku memohon perlindunganmu" Lirih Habiba sambil terus mengusap usap dadanya.
__ADS_1
'Siapa kamu mas?'