Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Pujangga


__ADS_3

Kurang lebih sudah sebulan semenjak kejadian pelemparan di mobil Bintang. Motif sebenarnya sudah Bintang ketahui, meski ia sembunyikan dari sang istri dan keluarga.


"Bin, jadi mereka beneran main kasar?" Ujar Reno tak habis pikir.


"Hemm... Mungkin ia pikir mobil gue di bawa Habiba" Tebakan Bintang, Reno mengangguk paham.


"Ekstra jagain bini lo mah..." Saran Reno.


Iya mereka hanya berdua, Reno sengaja menemui Bintang di ABIN cafe.


"Panji beneran gila, dia kan sudah kalah balapan berbulan bulan yang lalu" Tidak habis pikir dengan si Panji.


Siapa Panji? Rival Bintang dalam balapan motor.


"Tapi lo sekarang gak pernah balapan kan?" Selidik Reno.


"Gak minat gue, semenjak ketemu Habiba" jujur Bintang, dia memang minatnya cuma sama Habiba seorang.


"Panji and the genk itu yang naruh itu obat haram ke tas gue" Nampak kesal, mengepalakan tangan mengingat kejadian lalu.


"Hebat lo sampai gak keciduk polisi" Masih sedikit bingung dengan yang terjadi sama Bintang.


"Bintaaaanngg..." Memanjangkan kata, seraya menaikturunkan alisnya.


"Lebih baik lo kasih tahu Habiba deh..." Saran Reno, berharap rumah tangga sahabatnya ini langgeng.


"Niatnya seh... Tapi takut dia khawatir" Sahut Bintang bingung.


"Rencana lo apa sekarang?" Reno semakin serius menunjukkan keseriusan dalam urusan Panji.


"Pengen ngejebak dia, itupun jika ia bergerak lebih dulu" Renopun mengangguk sebagai tanggapan.


"Gue mau pulang ke rumah bunda, lo mau ikut apa gimana?" ujar Bintang, menata kembali benda yang harus ia bawa pulang.


"Ogah ah, iya kali gue jadi buntut lo. Gue mau ngurus proyek... Besok ada jadwal di Habintang resto kah?" sahut Reno seraya berdiri.


Mereka keluar bersama, Bintang menuju motornya sedang Reno masuk ke dalam mobil hitamnya. Maklumlah kontraktor muda tampan banyak cuan si bang Reno ini.


Bintang mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, ia akan bertemu istrinya di rumah bunda Sara.


Bintang sampai di rumah bunda, sebelum Habiba dan Mentari.


"Bunda..." Langsung memeluk sang bunda, pelukan terhangat tentu saja masih pada pelukan bundanya.


"Nanti Habiba cemburu..." ujar bunda Sara, menepuk nepuk punggung Bintang.


"Hahaha, kalau Habiba cemburu, aku akan marah sama Habiba bunda... Ini kan bunda aku yang paling cantik" Tulus Bintang, apa iya dia akan marah sama Habiba?

__ADS_1


Eh bunda Sara malah senyum senyum, melihat siapa yang tengah berdiri anteng di hadapan mereka.


Habiba dan Mentari masih setia melihat pelukan teletubbies bunda Sara dan Bintang.


"Kalau Habiba marah gimana?" Tanya bunda penuh selidik. Babang Bin hati hati loh dalam menjawab.


"Gak mungkin bundaaaa, bidadarinya Bintang kan lembut kaya kulit bayi..." Sahut Bintang yakin dan mantap.


Mentari dan Habiba hanya menjadi penonton dalam diam, dan hanya Bintang yang tidak menyadari keberadaan adik dan istrinya.


"Gimana cucu bunda sudah ada hilalnya?" Tanya bunda sedikit melirik Habiba, yang dilirik hanya menundukan kepala. Malu guys!


"Tenang aja bunda, tiap hari di gaspol" cicit Bintang, gak lihat itu wajah Habiba sudah semakin memerah. Eleuh kalau ngomong suka bener!


Dan Mentari sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan, semoga saja kan ketawanya gak nyembur di saat yang tepat. Hiiisshhh!!


"Assalamu'alaikum..." Salam Habiba pada akhirnya, harus segera di putus obrolan absurd suami dan mertuanya.


"Walaikumsalam..." Bunda dan Bintang menjawab bersamaan.


"Hahahah... Abang abang, kasihan itu kak Biba sampai menahan malu karena jawaban abang ke bunda..." Ujar Mentari yang sudah tak tahan.


Habiba menghampiri suami dan bundanya, menyalami dan mencium takzim punggung tangan mereka bergantian.


"Bunda..." Bintang menatap bunda yang hanya menggedikkan bahu...


"Tari..." Kini tatapan Bintang beralih pada Mentari, sedikit menunjuk Habiba dengan ekor matanya.


"Hemm... Kita lihat dan dengar semuanya abang..." Kekeh Mentari lagi. Andai tak malu Habiba pun sungguh ingin meledakkan tawa atas kelakuan suami dan ibu mertuanya. Kekompakkan yang hakiki bukan!!


"Jadi ceritanya... Bunda, Biba dan Tari ngerjain aku?" Ya sudah, pasang wajah kesal dan gemes aja bang, nanti juga dapat obatnya di kamar. Eh!!


"Kamu itu bang, kalo urusan rumah tangga dan ranjang jangan asal ngejeplak, meski itu sama bunda... Paham!!" Tegas bunda Sara di akhir kalimat.


"Bunda... Maaf.. " Rengek Bintang sok imut. Habiba saja sampai geli melihat kelakuan suaminya itu.


"Sayang, kalau suamimu itu ngerengek manja begini, suapin cuka aja yak..." Asem dong bunda, mata babang saja sudah merem melek ngebayangin cuka yang masuk mulut kan... Hueeekkk...


"Iya bunda, jika bunda mengijinkan..." Sahut Habiba tanpa melihat suaminya yang memicingkan matanya.


"Tari ke kamar lah... Masih di bawah umur soalnya..." Dari pada ikutan gak waras kan dengan kelakuan abang dan bundanya, di tambah kakak iparnya yang turut menimpali. Luar biasa!!


"Bunda ijinkan sayang, kalau suami kamu macam macam. Biar bunda yang buat dia jadi semacem. Tongseng mungkin!" Eh bunda, kejam kali itu. Tapi enak juga kan tongseng... Nyam nyam nyam!


Bintang menggenggam tangan Habiba membawanya ke kamar mereka.


"Bunda... Permisi" Ucap Habiba, Bunda Sara hanya mengangguk penuh senyum. Bingung loh itu dengan kelakuan anak lelakinya.

__ADS_1


"Kelakuan anak dan ayah sama aja... huh" Bunda lagi nostalgia saat jadi manten anyar, tuh sampai senyum senyum gak jelas.


"Awas sawan bunda!!" Tuh kan dapat teriakan semangat dari atas tangga.


"Ayok masuk!!" Kini tatapannya beralih tegas pada Habiba seraya menarik Habiba masuk ke kamar.


"By... Marah?" Tanya Habiba, takut jika becandaan dia dan bunda Sara di salah artikan.


"Iya.. Habibi kamu ini lagi marah! Paham?" Jahatnya kan si babang, dalam hati menahan tawa karena ulahnya sendiri.


"Maaf by.." Sesal Habiba, tak berani mengangkat wajahnya.


CUP


"Habibi kamu mana mungkin bisa marah hanya karena becandaan kamu dan bunda... hemm" Lah enteng banget kan senyum Bintang terbit, gak tahu kali kalau istrinya sedang menahan tangisnya...


"Ya ampun by..." rengek Habiba berhambur dalam pelukan sang suami.


"Jangan diulangi, aku takut..."


"Hemm... Gak janji! Kalau kamu nakal ya..." Goda Bintang menjadi.


"Eh eh koq malah nangis, kamu mau mas di kutuk malaikat karena istri mas yang cantik ini meneteskan air surga?" Lebih baik masuk dan bersandar nyaman dalam dada bidang suaminya yang semakin berisi dan liat.


"Aku yang akan mengutuk malaikat kalau mereka berani mengutuk suamiku ini..." ujar Habiba nyaman dalam hangatnya tubuh sang suami.


"Pulang yukk..." Ajak Bintang. Padahal mereka belum lama loh di rumah bunda.


"Ayok sayang, bunda paham koq, kan bunda pengen cucu..." Imbuh Bintang dan berhasil melukis semburat merah di wajah Habiba.


"Maaf ya by, aku...heummpp" Bintang membungkam cepat bibir Habiba.


"Kenapa seh bibir kamu makin hari makin manis, makin kenyel. Bikin nagih!" Sedikit kebal seh dari godaan babang, Tapi tetep aja bunganya bermekaran..


"Kenapa seh senengnya bikin kuncup jadi mekar?" Lah kan Habiba ini, tanya sendiri kok salting sendiri.


"Ayok pulang... Takut Mentari denger nada nada cinta kita..." Eh Habiba benar benar di buat mengingat memori kesenengan mereka berdua.


"Kamu itu ya by, bikin aku..."


"Gak usah malu, habibi kamu ini suka koq.."


"Iiihhh kamu mah..." Makin merengek kan itu si Habiba. Jantungnya benar benar diajak senam karena ucapan Bintang.


"Cie... Malu malu mau..." Kesempatan membuat istrinya semakin merona.Ah!!


"Ya Allah, Khumairah gue luar biasa indah... Nikmat mana yang aku dustakan?" Menangkup kedua pipi Habiba, menatapnya dalam penuh doa akan kebaikan sang bidadari.

__ADS_1


"Habibati.. Kamu harus bahagia, mas akan berusaha semampu mas membahagiakan kamu. Ratunya mas Bintang" Habiba saja sampai tak sanggup berkata kata, dari mana suaminya bisa menjadi pujangga setiap detiknya.


__ADS_2