
"Bunda... Abang dan Habiba mau pulang ya..." Ucap Bintang, kembali menggelayut manja memeluk sang bunda.
"Kamu gak malu ada Habiba... Hemm?" Pengen loh itu si bunda memberikan tepukan mesra ke tubuh putranya. Sayang malu ada mantu solehahnya.
"Lah... Jatah Habiba nanti di rumah bunda..." Kikik Bintang melirik Habiba dengan senyum manja. Abaikan saja Habiba yang sedang menahan malu.
"Habiba sabar ya... Jangan lupa pesan bunda. Kasih cuka..." Rajin banget si bunda mengingatkan.
"Maksud bunda kasih cium?" Bunda Sara merotasi bola matanya malas.
"Bunda masih heran sama Habiba, Kenapa mau sama kamu..." Atur setelan wajah sebingung mungkin.
"Bunda... Berdoa saja Habiba selalu khilaf kan..." Habiba benar benar gemas dengan suaminya.
"Habiba, simpan nomor bunda dan ayah kan?" Bintang sudah waspada dengan pertanyaan bunda Sara.
"Simpan bunda..." Jawab Habiba apa adanya. Seraya menelisik wajah suaminya yang sedikit menyimpan kekhawatiran.
"Bagus... Jadi kalau anak bunda ini nakal kamu bisa langsung hubungi bunda..." Benar kan feeling Bintang. Bundanya ini emang luar biasa.
"Eleuh bunda... Bintang mau bawa istri Bintang balik ah... Bisa terkontaminasi sama bunda... Takut sadar dari khilaf" Kekeh Bintang seraya berpamitan ulang pada bundanya. Begitu juga Habiba.
Sepanjang perjalanan menggunakan motor, Habiba memeluk suaminya erat. Entah dari mana rasa rindu itu menyeruak tiba tiba.
"By... Sepertinya ada yang mengikuti kita" Ucap Habiba, Bintang pun menganggukkan kepalanya.
Tidak ingin membuat istrinya khawatir namun keadaannya memaksa Habiba untuk turut waspada.
"Berdoa ya sayang..." Teriak Bintang lembut, sedikit menambah laju motornya.
Dan pada akhirnya Bintang di paksa berhenti oleh beberapa motor yang menghadangnya.
"Sial!!!" Gumamnya.
Tak beberapa lama tiga motor turut berhenti di belakang motor Bintang.
"Terimakasih mas, sudah menjagaku melalui bodyguardmu" Tulus Habiba yang akhirnya harus mengakui.
"Nanti kita bicarakan di rumah ya??" Lembut Habiba melanjutkan, Bintang tersenyum simpul menenangkan.
"Woy!!" Teriak seorang dari arah depan mereka.
"Dia Panji yang menjebak Habibimu ini" Lirih Bintang. "Kamu menepi ya..." Titah Bintang mengecup kening Habiba sekilas.
"Mau lo apa seh Panji??" Tanya Bintang setenang mungkin.
"Lawan gue balapan SE KA RANG!" Ujar Panji penuh kemarahan.
"Ogah!! Terakhir aja lo kalah, curang lagi!" Tolak Bintang, sungguh setelah bertemu gadis yang kini menjadi istrinya, ia tak minat lagi balapan liar.
Beberapa pria yang selama ini mengawasi Habiba, maju mendampingi Bintang. Biarkan saja mereka kalah jumlah yang penting membela diri.
"Salah satu tetap berada sekitar istri gue!" Titah Bintang sedikit berbisik.
__ADS_1
"Siap bang!" Salah satu dari mereka mundur mendampingi Habiba, masih tetap jaga jarak aman.
"Lo mau pilih balapan atau istri lo HAH??" Ujar Panji semakin mendekat. Sok nantang sampean!!
"Hadeuh Panji... Jelas gue milih istri gue. B*go di ternak!" Cibir Bintang, hatinya mulai khawatir karena istrinya akan melihat sisi gelapnya.
Akhirnya Panji benar benar maju menyerang Bintang, ia bertekad membalas dendam pada Bintang.
"Kamvret emang nih bocah satu!" Gerutu Bintang, mau tidak mau meladeni serangan Panji. Sayang juga kan jika wajah tampannya bonyok bonyok.
"Ya Allah... Habibi..." Teriak Habiba hendak maju membantu Bintang yang terjatuh.
Ya Habiba tahu jika suaminya itu lebih unggul memacu gas motor ketimbang adu jotos.
"Maaf non, jangan maju. Bahaya" Sopan seorang pengawal yang menghalangi Habiba.
"Tolong bantu mas Bintang..." Panik Habiba, siapa wanita yang akan rela melihat suaminya terluka.
"Lo kalah, anak buah lo kalah dan istri lo gue bawa..." Ancam Panji menyeringai.
"B*ngs*at lo Panji... Jangan sentuh istri gue" Memaksa berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Non, jangan mendekat. Panji sangat kurangajar!!" Peringatan pengawal Habiba.
"Bantu saya melawan mereka" Pinta Habiba, seraya melangkah maju mendekati suaminya.
PROK PROK PROK
Panji turut bertepuk tangan, melihat Habiba benar benar maju menolong suaminya.
"Harusnya kamu jangan mendekat..." Lembut Bintang berada dalam padahal Habiba.
"Ya Habibi... Izinkan aku yang melawan Panji..." Bintang terkesiap dengan permintaan Habiba. Sorot mata Habiba sungguh membiusnya.
"Habibi..." Bintang menggeleng samar, sedikit mengulas senyum menutupi gemuruh hatinya.
"Keselamatan kamu adalah tanggungjawab mas..."Sedikit saja kulit Habiba tergores maka ia akan sangat merasa bersalah.
" Tapi, kebahagiaan aku di kamu... Habibi..." Lupakan Panji yang masih jadi penonton, beberapa anak buah mereka masih saling adu jotos.
"Waktu kalian habis! Istri lo bakal hangatin ranjang gue!" Habiba dapat melihat jelas wajah Bintang menegang, disertai gigi bergemelutuk saling mencengkeram.
"Sabar mas... Jangan kepancing" Tatapan Bintang benar benar menakutkan, amarah sudah mulai memuncak.
"Sedikit saja lo berani mikirin negatif istri gue, maka lo akan tinggal nama..." Habiba sudah tidak tahu harus menenangkan suaminya dengan apa. Meski sudut hatinya merasa hangat, sedalam itu Bintang membelanya.
"Jaga istri gue!" Titah Bintang pada seorang pengawal yang selalu mengikuti Habiba selama ini.
"Siap bang!" Jawabnya tegas dan mantap.
Dengan resah Habiba terus melantunkan doa dalam hati, berusaha tenang menghadapi suaminya yang terbakar emosi.
BUUGGHHH
__ADS_1
Panji mendapatkan bogeman mentah dari Bintang, tepat di sudut mata kanannya.
"Hahahah..." Panji tertawa sumbang dan menjengkelkan.
Segera Panji bangkit, hingga kedua pria muda itu kembali saling adu jotos.
"Mas..." Habiba pun berlari kembali mendekati Bintang. Kini Habiba yang berdiri menantang Panji.
"Berhenti di situ!" Tegas Habiba pada seorang pengawalnya.
"Hahaha... Buka dong penutup wajah lo... Secantik apa seh sampai M*nyet satu ini membela lo hemm..." Nada sinis Panji, sayangnya Bintang hanya mampu mendengar tanpa mampu bangkit.
PLAAAKK
Sebuah tamparan keras mengenai tangan Panji yang hendak menarik niqobnya.
"Beuh... Berani juga..." Panji makin berulah, dan Habiba tak membiarkan hal itu terjadi.
BUUUGGHHH
Panji terpelanting mencium aspal jalanan, sebuah tendangan tepat mengenai ulu hati, dada, hingga rahang kokohnya.
Bintang dan beberapa pengawal turut menganga melihat aksi Habiba.
Tidak ada yang menyangka jika wanita yang selalu berpakaian tertutup itu mampu melumpuhkan seorang Panji.
Beberapa teman Panji lari terbirit birit mendengar sirine polisi yang mendekat, sayangnya Panji tak dapat melarikan diri bersama mereka. Kasihan!!
"Tolong carikan taksi!" Titah Habiba pada seorang pengawalnya.
"Sayang..." Lirih Bintang, masih sedikit terkejut dengan adegan ala Bruce Lee yang Habiba praktekkan.
"Apa suamiku ini lupa, kalau istrinya hidup di pesantren? Dan di sana diajarkan cara membela diri? hemm!!" Sahut Habiba yang melihat keterkejutan suaminya.
"Maaf ya... Mas kamu ini tidak bisa ngejagain kamu..." Sesal Bintang.
"Tapi bahagia aku sama kamu mas..." Baper kan bang Bintang?
"Ayo mas, kita ke rumah sakit" Timpal Habiba, suaminya ini mendadak menggunakan mode haru.
Dalam perjalanan ke rumah ssakit, Bintang hanya bergelayut manja di pundak sang istri.
"Apa ada yang mau suamiku ini ceritakan?" Habiba memecaha keheningan Bintang, menahan rasa sakit di wajah hingga kakinya.
"Dia Panji, mas selalu kalah kalau urusan gelut. Tapi mas selalu menang kalau balapan" Masih bisalah menyombongkan diri sedikit.
"Maaf sayang, ga maksud sombong. Itulah kenyataannya" Takut ini loh si babang, istrinya sudah mode garang karena ucapan sombongnya.
Gak mau jadi Panji kan yang terkapar, di tambah kondisinya yang luka luka. Hah!!
"Karena dia kamu marah marah di balkon?" Bintang semakin terkesiap, tak mengira jika istrinya itu mendengar.
"Kamu pintar akting ya sayang?" Sahut Bintang gak nyambung.
__ADS_1
"Aku juga sudah hafal orang orang yang kamu suruh ngejagain aku dan Mentari" Habiba semakin gemas dengan respon Bintang, sampai tanpa sadar menekan pipi memar Bintang.