
"Habiba Pradhana... " Panggil seorang suster, Bintang sudah memesan nomor antrian untuk dirinya dan Habiba.
"Mas... Koq aku seh?" Tanya Habiba tak paham.
"..." Menarik Habiba masuk ke ruangan dokter...
DEG DEG DEG
Jantung Habiba berdentam hebat, ini adalah dokter kandungan. Kenapa dia baru menyadari? Ia memahami situasi Bintang yang sangat menginginkan buah hati.
"Kita hanya konsultasi habibati..." Merangkul pundak Habiba, menyalurkan sebuah ketenangan.
"Silakan duduk Bintang... Mbak Habiba..." Sapa dokter muda nan menawan.
"Terimakasih dokter Naima... Ini Habiba istriku satu satunya dan yang tercinta" Ujar Bintang pada dokter yang Bintang sebut Naima.
"Habibati... Dokter Naima ini, kakak kelas mas semasa sekolah dulu, masih nyari jodoh tapi sekolah belum selesai juga" Cicit Bintang, sedikit mengusik kenyamanan Habiba.
"Apaan sih Bin... Gue belum resmi jadi dokter nih!" Ujar Naima, gemes banget sama cowok di depannya. Andai saja tidak ada istrinya sudah Naima gundulin mungkin alis Bintang.
"Mbak Habiba... Mari langsung cek.." Habiba hanya menurut saja, ia tidak paham dengan istilah kedokteran. Maklumlah jurusannya itu ke hati Bintang bukan kedokteran. Eh!
Bintang hanya memperhatikan Naima melakukan tugasnya, dibantu seorang suster.
"Apa yang membuat kamu menemui ku?" Tanya Naima seraya memeriksa Habiba.
"Hehehe... Pengen konsultasi dok.. " Jawab Bintang santai, matanya tetap saja mengawasi Habiba.
"Oyaaaa..?? Sepertinya kamu terlalu mencintai istrimu Bin... Istrimu saja tidak sadar jika dia hamil, dan kamu yang menyadarinya..." Habiba menatap dokter muda itu tak percaya.
"Alhamdulillah..." Bintang meneteskan air mata bahagianya, ternyata feeling nya benar.
Cadar Habiba saja sudah basah, bulir bening itu mengalir tanpa permisi. Biarkan saja dokter Naima dan suster pendamping itu baper dengan air mata mereka. Aiiihhh nackal!!
Dalam perjalanan pulang, Habiba masih memancang wajah suaminya yang kini sudah mengambil alih kemudi.
"Tanya aja habibati..." Senyum manis Bintang sekilas melirik Habiba.
"Mas... Kamu ngeselin..." Rengek Habiba memantik gelak tawa sang suami.
"Tapi cinta kan??" Lah lah babang malah melukis semburat merah di wajah Habiba.
"..." Memfungsikan jemarinya mencubit paha Bintang. Gemas kesal sayang cinta jadi satu, pelangi dalam rumah tangga Habintang...
"Kita nginep tempat bunda ya... Rado mau datang katanya lamar Tari" Habiba membola dengan pernyataan Bintang.
__ADS_1
"Jadi bang Rado serius itu? Aku pikir cuma becandaan..." Jujur Habiba tak percaya.
"Sepertinya seperti itu sayang. Kita lihat ekspresi Tari aja nanti..." Habiba mengangguk, turut senang dengan kabar ini.
Di perjalanan BIntang memutar musik secara random, mendadak menjadikan kabin kemudi menjadi ajang konser tunggal. Penontonnya? Ah... Tentu saja sang istri, yang merona karena lagu lagu yang Bintang alunkan.
'Aku berharap kamulah yang selalu meratukanku, seperti yang selama ini kamu lakukan. Namun aku tidak ingin kamu menjadi seorang raja, cukuplah aku yang merajakanmu.
Mas... Aku sungguh tidak sanggup membagi perhatianmu dengan wanita lain, terimakasih sudah menemani hari hatiku berbulan bulan ini. genggam erat jemariku hingga sampai ke jannah Allah... Amiiin'
"Habibati... Ayok turun... Suamimu ini tidak akan pindah ke lain hati koq" Habiba tersadar karena usapan lembut Bintang. Pikirannya meracau entah kemana.
"Ya Allah... Maaf mas... Kamu mengalihkan duniaku sih!" Biasanya Habiba kan yang di buat baper. Kini Bintang yang gemas dengan ucapan sang istri.
"Hahaha... Ini yang membuat mas bawa kamu ke dokter kandungan... Kamu jadi lebay kaya mas" Mengecup kedua mata Habiba.
"Mikirin apa, sampai air mata kamu banjir koq gak berasa.. Hemm!!" Melting Habiba, suaminya begitu lembut dan senyum tampannya itu begitu tulus.
"... " Memeluk sang suami erat.
"Kayaknya baby kangen deh sama Daddy... Mommy nya merajuk mulu seh.." Seloroh Bintang... Habiba tidak peeduli masih menghirup aroma tubuh suaminya.
"Ganti niqobnya yak... Kasihanilah suamimu ini, bisa bisa mas di mutilasi bunda kalau tahu menantu kesayangannya ini menangis" Hah... Habiba malah mengceup bibir Bintang lama dan dalam.
"Ya bunaya... Abby mu ini benar benar membuat umi jatuh cinta sejatuh jatuhnya..." Menarik gemas kedua pipi suaminya itu...
Lah lah satu mommy daddy, satu abi umi... Biarlah dede yang menentukan.
Bunda Sara tersenyum melihat kehadiran Habiba, ke babang senyum juga dong bun, kan kasihan di cuekin...
"Sayang... Apa kabar? Maaf bunda belum bisa main ke rumah" Habiba menyambut pelukan hangat sang bunda mertua.
"Alhamdulillah bunda... Ayah dan Tari dimana bun?" Jawab Habiba lembut, tidak ada yang berubah.
"Bintang gak di peluk bun?" Potong Bintang sebelum bunda menjawab.
"Udah dari rumah sakitnya?" Tanya bunda teringat cerita Mentari tadi. "Tapi bunda lihat kamu baik baik ajah" Imbuh bunda memicing, melihat Bintang mesam mesem asem.
"Auuwww... Sayaaaang..." Pekik Bintang mengusap perutnya yang pasti memerah karena ciuman jemari Habiba.
"Bunda... Mas Bintang ngeselin banget" Bunda merasakan ada yang aneh dengan anak mantunya itu, terkesan lebih manja dan terbuka.
"Tinggal kamu getok pakai ulekan cabe..." Sudahlah babang lebih baik memilih diam kan di antara dua wanita luar biasa di hadapanmu...
"Jangan bunda... Nanti dede bayi dalam perut Biba bisa ngamuk kalau abinya di getok..." Sukses Habiba membuat sang bunda mertua membelalakan matanya.
__ADS_1
Memeluk kembali Habiba dan menangkup pipi Habiba saat ini, memberikan dukungan agar sabar menghadapi kehamilannya. Bintang memilih pergi dari acara peluk pelukan ala teletubbies itu.
"Sayang... Mas di kamar Tari..." Teriak Bintang dari ujung tangga. Sepertinya menggoda adiknya akan lebih seru, walau ujungnya kena omelan bunda.
"Mas Bintang tiba tiba ajak Biba ke rumah sakit bun, dan ternyata ke dokter kandungan" Ujar Habiba saat duduk berdua di meja dapur dengan bunda.
"Alhamdulillah sayang, meski nackal Bintang itu selalu peka dengan perubahan orang di sekitarnya" Aku bunda Sara.
"Apa ada rasa mual gitu sayang?" Habiba menggeleng, dengan pertanyaan sang bunda.
"Habiba merasa baik baik aja bunda... Kata mas Bintang seh, Biba lebih manja dan galak gitu" Menunduk malu dengan ucapannya sendiri.
"Kadang juga Biba tiba tiba kesel hati, cemburu. Tadi sama dokter Naima yang kakak kelas mas Bintang saja Biba cemburu" Imbuh Biba, merasa nyaman bicara dengan bundanya itu.
"Wajar sayang, mungkin lebih di kontrol saja. Kadang kondisi suamimu kalau lelah, banyak kerjaan kan pasti jadi sensitif, jangan sampai merusak rumah tangga kalian" Biba terkesiap, membenarkan ucapan bunda mertuanya.
CEKLEK
"Mas..." Rengek Habiba langsung memeluk tubuh Bintang. Dan tanpa basa basi Bintang langsung membalas pelukan sang istri.
"Mas suka deh kalau kamu manja begini..." Lirih Bintang, mengecup rambut Habiba yang basah.
"Mas... Jangan mandi yak! Aku suka baunya" Lah ngadi ngadi nih Habiba, seneng ya suaminya bau asem... Mending kalau asem manis, asem kan kecut.. Ih!!
"Mas mau maghrib ke masjid sayang, masa gak mandi? Kasihan dong yang lain pingsan" Seloroh Bintang, ia menyadari emosi dan perasaan Habiba sedang labil karena hormon kehamilannya.
"Mau ketemu Khadijah?" Lah... Koq bisa bisanya bawa bawa Khadijah?
"Cie.. Dede.. Jangan buat mommy terlalu cemburu yak.. Bisa bisa Daddy di kamarin terus... Hahaha..." Habiba masih nyaman bersandar di dada Bintang. Memeluk tubuh sang suami yang semakin berisi.
Sedikit terpaksa Habiba membiarkan Bintang mandi, memilih menyiapkan perlengkapan suaminya. Baju koko, celana pendek, sarung dan tentu saja kopyah hitam. Hah... Pantas saja kan banyak yang kepincut jika ke masjid, mirip gus muda ganteng gitu! Aiiihhh resah Habiba.
Gamis longgar berwarna toska, senada dengan niqobnya. Habiba menuruni anak tangga, sudah ada bunda, ayah dan Mentari.
"Habiba sini..." ayah Hendra menepuk kursi di sebelahnya.
"Assalamu'alaikum yah..." seraya menyalami tangan ayah Hendra.
"Selamat ya... Terimakasih sudah mau mengandung cucu ayah" Tiba tiba Habiba berhambur dalam pelukan ayah mertuanya, tidak seperti biasanya yang hanya menyalami, karena merasa canggung.
Bunda Sara mengangguk samar sebagai kode pada suaminya.
"Wah... ponakan gue..." Riang Mentari.
"Tar... kalau ada yang ngelamar, siap gak?" Eh... Tari melongo dengan pertanyaan bunda.
__ADS_1