
Suasana sarapan pagi ini di rumah bunda Sara lebih terasa hangat, ada Bintang dan juga Habiba. Tidak seperti abang dan kakak iparnya, Mentari hanya sesekali mengukir senyum. Itupun terpaksa.
"Yang sudah di llamar koq cemberut seh?" Bunda Sara koq buka pernyataan seperti itu seh? Kan Tari jadi makin manyun.
"Jangan di goda bund... Kasihan kan Rado lagi di luar kota" Lah... Ayah kenapa malah semakin membuat wajah putrinya mirip tomat busuk.
"... " Habiba dan Bintang hanya menilik wajah Tari yang diwiru, mirip kain batik yang digunakan pengantin Jawa.
"Haaahhh..." Helaan nafas berat Tari, terdengar menyedihkan di telinga Tari sendiri.
"Ayah, bunda... Di batalin aja... Yak yak..." Ayo Tari pasang wajah sedramatis mungkin senista dan seaniaya mungkin. Bila perlu nangis gulung gulung di atas meja makan.
"Tapi sudah di jawab kan ke Rado. Lagian ia sudah telepon papinya loh..." Ujar ayah Hendra setenang mungkin menghadapi Tari yang bisa cosplay jadi ogoh ogoh.
Mendingan jadi kabogoh kan dari pada ogoh ogoh Tar!
"Abaaaang... Bantuiiiiinnn..." Kini mengalihkan tatapannya pada kakak satu satunya itu. Berharap banget kan bisa bantu membatalkan gitu.
"... " Melirik ayah, bunda juga Habiba secara bergantian. Bintang pun tidak tahu harus bagaiamana.
"Kak.. Biba..." Habiba kena juga kan gilirannya, Mentari sudah memancangnya penuh permohonan.
"Nanti kita bicarakan setelah makan ya..." Senyum hangat Habiba yang tak mampu Tari tolak.
"Aku sudah selesai makan, nanti kakak susulin aku ke kamar" Ujar Mentari berlalu dari meja makan. Padahal makanan dipiringnya saja masih tersisa banyak.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum Tar..." Biba benar benar menepati janjinya, sebelum pulang ke pondok ia akan bicara berdua dengan sahabat plus adik iparnya itu.
Biba masuk karena memang kamar Tari tak di kunci, namun tak ada jawaban dari dalam. Huh... Lagi nangkring di atas balkon kamar, dengan pintu penghubung balkon dan kamar yang tertutup.
SREEETTT
Perlahan menggeser pintu penghubung, duduk menunggu Tari yang masih dengan pikirannya sendiri.
"Sudah siap cerita?" Tanya Habiba lembut.
"Gue belum siap menikah... Biba..." Sudah mode curhatan pada seorang sahabat.
"Hemm... Alasannya?" Mencoba tersenyum seraya menyelami pikiran adik iparnya.
"Ragu sama bang Rado?" Tanya Habiba kemudian.
"Entahlah... Gue takut, bang Rado memang selalu baik sama gue, tapi..." Habiba tersenyum, menelisik wajah Mentari.
"Coba istikharah lagi, sebelum bang Rado datang bersama orang tuanya. Jikapun sampai kamu menolak sesuai istikharah kamu, sampaikan dengan cara yang beradab" Nasihat singkat Habiba.
"Hai para pemuda, barang siapa di antara kamu telah sanggup untuk kawin maka hendaklah ia kawin. Maka, kawin itu menghalangi pandangan (kepada yang dilarang oleh agama) dan lebih menjaga ********. Dan, barang siapa tidak sanggup, hendaklah ia berpuasa karena sesungguhnya puasa itu merupakan perisai baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)"
__ADS_1
"Bang Rado dan kamu sama sama saling menyukai bukan? Dari pada zina mata dan hati. Why not? Aku rasa keputusan bang Rado untuk segera menikahimu itu jalan yang terbaik. Kamu itu adik dan juga sahabatku, aku ingin kamu mendapat yang terbaik. Tari" Yah kan tausyiah ustadzah Arwa sudah Tari dengarkan. Paham gak itu?
"Tapi..." Ragu Mentari.
"... " Masih menunggu kelanjutan keluhan Tari.
"Mintalah dengan kesungguhan hati kamu, laki laki terbaik yang mampu membawa kita kaum hawa ini ke jannah NYA. Menjadi barisan dari Sayidina Fatimah Az zahra" Seulas lengkungan senyum Habiba, terasa begitu tulus dan menenangkan.
"Biba..." Memeluk Habiba erat.
"Tar... Aku sesek nih... Kasihan loh sama calon ponakan kamu ini" Gemas Habiba, adik iparnya yang biasa bar bar berubah mirip kucing anggora. Meooowww!!
"Hemmm... Apa rasanya hamil?" Tanya Tari. Biasalah kaum perempuan bisa merubah topik sesuka hatinya, sesuai moodnya.
"Alhamdulillah lagi banyak manja, dan cemburu gak jelas" Sahut Habiba apa adanya.
Habiba masih menemani Tari dalam kamarnya, sudah tak lagi murung. Hanya obrolan absurd mereka yang menemani pagi itu. Lupakah Habiba jika ia akan pulang ke pesantren pagi ini?
**
Umma menyambut kedatangan anak dan menantunya, bahkan ketika mobil baru saja memasuki pekarangan rumah sang kyai.
Hadeuh!! Itu santriwati kenapa heboh sih melihat babang Bintang turun dari mobil?
"Iyalah, secara Othor jarang bikin latar di pesantren" Eh!!
Cepat Bintang merengkuh tubuh Habiba, "Hemm... Suamimu ini meresahkan!" Bisiknya, Niat sekali menggoda Habiba.
"Walaikumsalam... Masuklah!! Lihatlah para santriwati yang tengah berkumpul memperhatikan nak Bintang" Ujar Umma, dan hati Habiba panas terbakar cemburu.
"Biba naik dulu ya umma, rindu kamar..." Jelas terlihat loh jika Habiba tengah merasa tak nyaman.
"..." Menatap punggung Habiba yang menjauh.
"Nak Bintang, istrimu kenapa?" Tanya umma khawatir, menantunya ini malah mengulas senyum tampan.
"Hehe umma maaf... Bawaan bayi, jadi cemburu nya luar biasa, lagi suka ngambek" Jujur Bintang, terlebih tadi para santriwati jelas jelas mengangumi Bintang.
"Alhamdulillah... Jadi Habiba..." Bintang langsung mengangguk, sebagai jawaban. Umma tampak bahagia mendengar berita tersebut.
"Sudah sana susul Habiba, karena dia bukan tipe anak yang tidak mudah marah" Ujar umma menasehati.
"Baik umma" Bintang langsung naik ke kamar Habiba, sesuai perintah umma.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum sayang..." Perlahan Bintang membuka pintu kamar Habiba. Hanya terdengar isakan dari dalam kamar.
GREP
__ADS_1
Bintang memeluk Habiba dari belakang, merasa bersalah karena sempat menggodanya.
"Gak usah peluk..." Lirih Habiba, berusaha melepaskan pelukan sang suami. Tentu saja Bintang tidak akan melepaskan pelukannya.
"Mi Amor... Maaf ya... Mas hanya bercanda" Bujuknya meletakkan dagu di atas bahu Habiba.
"Habibinya Habiba kan juga tadi langsung memeluk tubuhmu dari samping, supaya mereka tahu. Jika Bintang untuk Habiba... " Ah... Si babang kan bingung ngerayunya. Karena Habiba biasanya bisa bermain dengan logika, namun sekarang menggunakan seribu persen perasaannya. GASWAT!!
"Udah bosen sama aku?" Tanya Habiba terisak, turut menyayat hati Bintang.
"Ya ampun sayang, nangisnya di pelukan mas aja yah... Jangan membelakangi habibimu ini" Harus semakin lembut, berpindah duduk bersimpuh di depan sang istri.
Mengusap pelan wajah Habiba yang basah, cepat Habiba memalingkan wajahnya dan menahan tangan sang suami.
"Dede... Tolongin daddy yah... Mommy ngambek..." Beralih mengusap perut rata sang istri.
"Maaas..." Rengek Habiba manja, dan babang suka itu. Aiiihhh!!
"Habibati... Iam so sorry..." Memegangi kedua telinga dengan menyilangkan tangan. Kena strap kan ini bang?
CUP
Mengecup mata basah Habiba, dan setiap inci wajah sang istri yang memang sedikit pucat.
"Ustadzah Arwa, maafkan kebodohan suamimu ini" Lengkungan senyum tercetak begitu tulus menghiasi wajah cantik ibu hamil.
"Maa Syaa Allah... Cantiknya koq ga ada racun seh?" Menangkup kedua pipi Habiba, memancangnya penuh kasih.
GREP
Habiba sudah masuk dalam dekapan tubuh Bintang nyaman, kembali menumpahkan kesedihan dengan bersandar di dada bidang sang suami.
"Maafin mas ya... Habibati!! Mintakan ampun agar malaikat tidak mengutuk mas karena jatuhnya air mata bidadari surga Abrisham Bintang" Manisnya... Ya ampun madu hutan aja kalah jauh.
"Maaf mas... Aku gak tahu kenapa aku secemburu itu..." Jujur Habiba enggan melepaskan pelukan Bintang.
"Ya bagus dong! Berarti kamu sayang sama suami tampanmu ini" Ehm... Percaya diri yang tidak patut di tiru pemirsah!
"Mas..." Sama sekali enggan menggeserkan kepalanya.
"Doakan mas sabar, karena yang cemburu dua soalnya..." Habiba mengernyit bingung dengan ucapan sang suami. Siapa yang cemburu kira kira?
"Dede...jangan mancing cemburu mommy, mancing biar mommy selalu cium cium daddy..." Kekeh Bintang, ia suka jika Habiba agresif.
CUP
Benar saja Habiba mengecup sudut bibir Bintang, "hemm... Kenapa gak di pas in sayang, sukanya mojok mojok deh" Protes Bintang.
"Maaf mas.. Kamu suka kelepasan, bentar lagi Dzuhur" Eh... Habiba koq suka tepat sasaran. Babang saja hanya mampu terkekeh tanpa ingin membalas perkataan sang istri.
__ADS_1
Bintang harus menahan sabar juga pegal di tangannya, sang istri hanya mau bersandar di dadanya dengan menjadikan lengan Bintang sebagai bantalannya.