Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Menundukkan Tanpa Harus Memgalahkan


__ADS_3

Tak hanya Mentari dan Eka yang seakan terpana, beberapa pengunjung cafe pun turut memperhatikan kehadiran Habiba dan Bintang. Bintang selalu menggenggam jemari sang istri sepanjang jalan.


Ombak gamis Habiba yang bergerak manja seiring langkah Habiba, menambah kesan anggun dan sexy tanpa harus membuka aurat. Maa Syaa Allah!!


"Cantik banget sih istri gue!" Bisik Bintang, dapat dilihat mata Habiba yang menyipit menunjukkan jika ia tersenyum dengan ucapan sang suami.


"Karena istrinya Bintang... " Sahut Habiba yang reflek bergelayut di lengan suaminya. Dan Bintang sangat menyukai sikap manja istrinya ini.


CUP


Tari menggeleng samar dengan kelakuan sang kakak, yang tanpa ragu langsung mengecup puncak kepala Habiba setelah Habiba duduk bergabung bersamanya dan Eka.


"Eits bang... Gak usah cium Tari! Dikira Tari istri kedua bang" Eka terkekeh dengan ucapan Tari, Habiba saja menundukkan kepala menahan tawa karena polah suami dan adik iparnya itu.


"Hemm.. Adik abang udah gede yak, mau nikah sih yaaa" Makin menjadi kan si Bintang ini, tadi romantis sama Habiba, sekarang usil ke sang adik. calon ayah idaman..


"Abaaang..." Rona merah di pipi Mentari, semakin membuat Bintang semangat menggoda adiknya itu.


"Yaa sayaaang .. " Sahut Bintang memanjangkan kata. Manis sekali, jika tidak tahu mungkin mereka akan mengira jika Bintang dan Tari bukanlah kakak beradik.


"Baaang... Jangan gangguin aaaaahhhh!!" Kesal Mentari, bibirnya saja sudah mencebik dan itu tampak lucu.


"Habibati... Tinggal ya, tolong jagain calon pengantin!" Habiba mengangguk seraya memberikan jempolnya.


Akhirnya Bintang masuk ke ruangannya, ada beberapa pekerjaan yang belum selesai, di tambah ia melarang istrinya untuk membantu. Sedang Tari yang mengurusi laporan keuangan malah masih santai bersama Eka dan Habiba.


"Biba... Lo gak cemburu gitu dengan kelakuan suami lo?" Tanya Eka menyelidik.


PLAK


"Gue adiknya Ekooo, masa iya Habiba cemburu!" Eka hanya mengusap lengannya, Tari ini suka bar bar.


"Yah... Tentu saja cemburu!" Eka dan Tari sama sama terpaku dengan jawaban Habiba, tidak menyangka loh, Habiba akan menjawab demikian.


"Tapi, Tari adalah salah satu tanggung jawab mas Bintang. Tidak sepantasnya aku meletakkan kecemburuan itu bersama ego" Lanjut Habiba, tapi mereka berdua masih saja melongo. Gak paham!!


"Karena mendidik dan memperhatikan saudara perempuan adalah tanggung jawab anak laki laki, selain orang tua. Mana mungkin aku akan marah di saat suamiku tengah menjalankan tanggung jawabnya. Toh selama ini mas Bintang selalu mengutamakan ku, meratukanku" Eka dan Tari mengangguk bersamaan.


Pantas saja Bintang semakin bucin setelah menikah dengan Habiba, sikapnya yang lembut, tutur katanya yang halus bahkan pembawaannya yang tenang mampu menaklukan sisi liar seorang Bintang. Menundukkan tanpa harus mengalahkan apalagi menyakiti!!


"Waaaahh jadi pengen punya saudara laki laki gue" Celetuk Eka. Maklumlah anak tunggal, berharap kan punya adik DWI, TRI, CATUR, PANCA.. Eh, malah di absen semua.

__ADS_1


"Menikah saja!" Sahut Habiba, gemas sekali dengan Eka yang sebelas dua belas dengan Mentari.


"Belum nemu jodoh ustadzah.." Eka malah meletakkan tangannya di atas kepala, seolah mencari seseorang.


"Emang udah nyari?" Tanya Tari seraya menikmati cappucino nya..


Eka menggeleng sebagai jawaban "siapa tahu kan datang sendiri kaya Habiba gitu?" Ealah.. Bener juga kan si Eka. Seratus buat Eka!!


"Ada yang mau?" Cibir Tari penuh candaan. Oooh Tari!


"Lah.. Itu yang patut di pertanyakan" Kekeh Eka dengan jawabannya sendiri. Tari dan Habiba saja sampai terkikik geli, di tambah ekspresi Eka yang begitu menghayati.


Habiba memilih masuk ke ruangan suaminya, tiba tiba saja ia kembali merindukan ayah dari calon anaknya. Ngidam rindu itu namanya neng...


Pegawai mengangguk hormat ketika Habiba melewati mereka, hanya mengangguk sebagai bentuk sapaan tidak sampai menunduk hormat layaknya ratu kerajaan. Yaaah.. Cukup ratu di istana hati seorang Bintang.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum.." Padahal pintu itu terbuka lebar, terlebih ada mbak Dian di dalam ruangan.


"Walaikumsalam... Habibati" Jawab Bintang penuh senyuman.


Habiba memilih duduk di sofa, membiarkan saja suaminya menyelesaikan dulu pekerjaannya. Serindu rindunya ia harus bersabar, karena ada tanggung jawab yang harus di tunaikan.


"Rindu daddy ya??" Bintang mendekati Habiba yang malah sibuk dengan ponselnya.


"Maaasss..." Binatang pun sangat merindukan rengekan Habiba ini, istrinya belum juga janturan hari ini.


"Habibati... Jangan ngusel ngusel leher mas.. Keringetan ini!" Dan Habiba tak perduli, ia masih saja menghirup aroma parfum Bintang yang bercampur keringat. Eleuh Habiba!!


"Gak tahu mas.. Aku suka aja sama aroma kamu. Wangi!" Pasrahnya Bintang juga kalau selalu di usel usel juga bakal kesetrum, terlebih sapuan nafas sang istri yang membelai manja kulit lehernya.


Bintang mengangkat wajah istrinya yang masih bersandar manja di ceruk lehernya, bisa khilaf loh itu. Memancang wajah Habiba dengan senyumnya, "kamu nackal Habibati.." Menjawil mesra dagu istrinya itu.


Wadidauww lucunya Habiba yang malah memajukan bibir peach nya itu, tentu saja Bintang menyambut penuh suka cita. Paham sekali jika istrinya menjadi agresif semenjak hamil. Dan itu menguntungkan Bintang. Hehehe!!


"Dede... Buatlah mommy selalu agresif begini" Berbicara di depan perut rata istrinya, mengusapnya lembut penuh cinta. Aiiihhh hati Habiba yang malah berdesir hebat. Perlakuan suaminya ini terlalu manis, tak menunjukkan kegarangan seperti saat ada di atas aspal.


DRRRTTT


DRRRTTT

__ADS_1


Panggilan di ponsel Bintang mengalihkan atensi mereka yang tengah berbincang ria dengan si calon buah hati. "Hemmm... Tunggu daddy, angkat telepon dulu" Mengecup perut Habiba.


"Siap daddy.." Bintang malah mencubit pipi istrinya, gemas sekali dengan suara anak kecil yang Habiba tirukan.


"Assalamu'alaikum Do.." Jawab Bintang, sudah kembali duduk di sebelah sang istri.


"..." Rado.


"Iya, besok Do?" Mulut dan telinganya fokus pada pembicaraan dengan Rado, tangan dan matanya fokus pada sang istri. Memainkan pipi istrinya yang tampak tirus.


"..." Rado.


"Iyaaa.. Nanti gue kabarin ke bunda" Habiba tak perduli, ia hanya ingin memeluk tubuh Bintang saat ini. Pelukannya sangat menenangkan dan menghilangkan keresahan yang ada.


"..." Rado.


"Walaikumsalam Do. Hati hati lo!" Bintang langsung mematikan sambungan teleponnya, tanpa menunggu jawaban dari seberang sana. Kebiasaan!!


Rado pun tidak akan marah juga, rugi lah kalau sampai marah. Bisa bisa lamarannya pulang tanpa membawa pengantin.. Hihihi kejam!!


"Habibati..." Panggil Bintang lembut, istrinya sepertinya malah tertidur dalam pelukannya.


Benar dugaan Bintang, istrinya tak menjawab apapun bahkan nafasnya terdengar sangat teratur. Bumil yang menakjubkan, perubahan yang sangat luar biasa di kehamilan Habiba ini.


Tari lekas menemui abangnya di ruangan, menggeleng lucu saat melihat kakak iparnya mLah tertidur begitu nyenyak dengan posisi memeluk sang suami.


"Yaa Allah... Orang hamil koq semaunya sendiri" Kekeh Tari, seraya mengambil kunci mobil abangnya di atas meja kerja.


"Tar.. Tolong pasangin cadar Habiba" Tari kembali tersenyum, sekaligus takjub melihat wajah ayu kakak iparnya itu. Meski ia sering melihatnya saat ngobrol berdua dengan Habiba.


Beberapa menit setelah kepergian Tari, Bintang menyusul dengan menggendong Habiba, biarlah orang yang melihat dan menilai.


Tari sudah berdiri di samping pintu penumpang kabin depan, bak supir kerajaan. Hehe!! "Silakan masuk tuan putri Habiba" Percuma juga, Habiba sudah nyenyak bahkan sudah mimpi sampai ke tanah suci.


Yaaa... Tari diminta Bintang untuk memarkirkan mobil hingga ke depan pintu cafe, "Terimakasih ya adik abang yang cantik" Ucap Bintang setelah mengecup kening adiknya.


"Ya den Bintang..." Eh... Tari malah mirip mbok Yem.


"Pulangnya naik taksi aja, jangan berduaan sama Rado! Assalamu'alaikum" Bintang masuk dan melajukan mobilnya.


Eh.. Eh Tari itu pipi kenapa koq bersemu pink pink gimana gitu? Hayooo mikirin siapa??

__ADS_1


__ADS_2