Memenuhi Jalan Takdir Bintang

Memenuhi Jalan Takdir Bintang
Love Is Habiba


__ADS_3

Ya ampun, babang pagi ini sampai harus mengantar Habiba ke depan kelas. Ada Tari juga yang menghampiri abangnya itu. Sengaja sekali Mentari memeluk sang kakak, dan Bintang pun mengecup kening Tari dalam.


Biarkan saja mereka yang menyaksikan kejadian itu, lalu Tari memilih berdiri di samping Habiba menggamit lengan Habiba.


"Kalian masuk lah!" Titah Bintang lirih. "Assalamu'alaikum.." Ucapnya setelah Habiba dan adiknya menyalami dan mencium tangannya.


Ya kali mirip istri tua dan istri muda yang akur gitu. Bikin yang gagal paham akan baper sendiri.


"Lo liatin apa seh Eko?" Eka masih baper dengan kejadian pagi ini, oh pagi yang indah bukan!!


"Habiba mau deh jadi madu lo.." Celetuk Eka, langsung mendapat toyoran, dari Tari tentunya! Hah.. Eka ngajak gelut kayaknya.


"Habiba ngijinin juga abang gue gak mau sama lo" Auto dapat cubitan dari kakak ipar kan si Tari ini. Kasihaaaan!!


"Tar... Lo sama Habiba satu suami apa gimana?" Tanya seorang teman kelas mereka. Kepo loh mereka itu, terlebih Habiba dan Tari begitu dekat. Yah.. Namanya juga konco kentel!!


Lah.. Tari sudah pasang ekspresi datarnya namun tetap terlihat menawan "Habiba kakak ipar gue. Jadi jangan gangguin Habiba, ganggu gue ajah" Hemm.. Ujung kalimat yang membagongkan dari seorang Mentari. Haaah!


"Tar.." Lirih Habiba ketika mereka sudah duduk di kelas. "Aku mau ngomong, jangan tersinggung" Masih sangat hati hati Habiba ini.


"Ngomong aja kak, kaya sama siapa ajah" Ujar Mentari santai. Memancang wajah Habiba yang tampak serius.


"Tar.. Maaf.. Kamu sudah di khitbah oleh seorang pria, jadi tolong jaga ucapan. Jangan menantang kaum adam untuk mendekatimu" Lembut sekali Habiba ini, Eka saja merasa beruntung, karena akhir akhir ini dekat dengan wanita bercadar itu.


"Ucapan yang mana yah kak?" Hemm.. Dasar Tari!!


"Ucapan yang, jangan ganggu Habiba ganggu gue ajah" Timpal Eka, gemas juga kan sama Mentari.


"Astaghfirullahalazim maaf kak Biba.." Habiba hanya mengulas senyum tipis, sepertinya adik iparnya ini mudah untuk di nasehati.


Yah..Habiba masih di mode dewasanya guys, lain jika hanya berdua dengan si babang, mode bocil manja banyak maunya. Habiba juga manusia biasa, jadi harap maklum.


"Khitbah??" Lola Eka, yang baru menyadari pembicaraan kedua temannya itu. "Tar, gantengan mana sama abang lo?" Tanya Eka antusias. Eh eh eh Eka, ada istrinya itu loh di depan kamu.


Lah, siapa calonnya gak penting kan. Yang penting tampangnya. Eka Eka!!


"Ekkaaa... Awas yah!!" Ampun ustadzah. Dasar Eka yang malah cengar cengir. Mentari pun sama, yang hanya mengulum senyum merasa lucu dengan polah kakak iparnya.


"Tampak sekali Habiba cemburu Tar" Pasrah Habiba, yang kini malah menjadi bahan candaan kedua temannya itu.

__ADS_1


**


Kehadiran Bintang di ruang dekan di sambut baik, ia mewakili istri dan adiknya karena bersitegang dengan seorang mahasiswa yang awalnya mengganggu Habiba.


"Baik Pak Bintang, kami akan telusuri kejadian itu. Kita cek dari CCTV" Ucap pak Rahman selaku Dekan kampus.


Bintang duduk bersebelahan dengan pak Rahman. Untung saja semua juga terhubung ke jaringan kampus, jadi bisa langsung di buka.


"Itu pak, seorang mahasiswa yang di seret keluar dari ruang kelas yang kemarin Habiba tempati" Ucap Bintang menunjuk.


"Baik Pak, kami akan telusuri lebih lanjut" Ujar pak Rahman.


"Tolong kasih hukuman saja, tidak perlu sampai DO, bagaimanapun juga ia butuh bekal untuk masa depannya" Ya Allah bijak sekali kan si babang Bin ini.


Setelah menyelesaikan masalah Habiba dan juga Mentari, Bintang langsung pergi ke Habintang cafe yang mulai beroperasi, beberapa saat lalu.


Huuhhh... Biasanya Habiba yang akan mengurus, tapi kini Bintang yang kembali mengurus cafenya. Kesehatan istri dan calon anaknya itu lebih utama.


Habibati


Urusan dengan Fajar sudah aku selesaikan. Kalian belajar saja baik baik.


Ya ampun chat saja bikin Habiba senyum senyum. Lah kan... Habiba malah mendadak kangen lagi. Memilih mengusap perutnyaa seraya menunggu Tari yang tengah membeli minuman.


"Perut lo kenapa sih? Di usapin dari kemarin?" Peka banget si Eka, yang melihat pergerakan Habiba di balik khimar panjangnya.


"Anak gue kangen bapaknya" Jujur Habiba, hingga Eka membola kemudian memeluk Habiba.


"Selamat yah..." Tulus Eka, meski suka menggoda Habiba soal sang suami, Eka tidaklah serius. "Emak nya yang kangen itu mah.." Imbuh Eka setelah mengurai pelukannya.


"Hemm.." Gumam Habiba seraya mengangguk samar. Dalam hati Eka merasa kagum dengan wanita di depannya itu, meski tertutup secara fisik, ia tidak membatasi pertemanan sesama perempuan. Tentu sangat membatasi interaksi dengan lawan jenis. Harus itu!


Tari datang membawa tiga minuman, "kak... Gue ikut ke cafe ya?" Ujar Mentari seraya menyeruput es bobanya.


"Lah... Bukannya tiap hari kamu ke cafe, kan yang urus laporan keuangan kamu" Sahut Habiba.


"Tadi pagi di anter ayah kak, jadi gak bawa mobil. Motornya kempes!" Hemm.. Kasihan sekali Mentari ini, motor kesayangannya belum juga di benerin. Males banget kan dorong sampai ujung komplek cari tukang tambal ban. Huh!!


"Bareng gue aja Tar, naik motor tapi, boleh kan Biba gue kesana? Siapa tahu kan ada kerja part time!" Habiba mengangguk namun Tari mencebik.

__ADS_1


"Duit bokap lo mau di kemanain? Anak tunggal juga. Habisin ajah" Wah teman solehah kan si Tari ini, bisa bisanya menunjukkan jalan yang terlampau benar. Eh!!


"Lah itukan duit bokap gue, bukan duit gue Tar" Cerocos Eka, Habiba masih senyum senyum mendengar perdebatan kedua temannya. Huh... Sudah biasa!!


"Kalian ini ribut mulu, tapi saling sayang dan perhatian!" Kini kedua gadis itu yang di buat melongo dengan ucapan Habiba. "Cara kalian ini memang luar biasa, yang penting tidak saling merendahkan. Oke!!" Imbuh Habiba, hingga matanya tampak menyipit karena tersenyum.


"Siap ustadzah.." Kompak sekali Tari dan Eka, sampai Habiba saja terkekeh gemaz.


Habiba sudah di dalam mobil bersama habibinya. Mentari memilih ikut naik motor bersama Eka. Kasihan kan Eka sendirian, mentang mentang jomblo.


"Gue gak nyangka loh, ternyata Habiba kakak ipar lo Tar!" Ujar Eka masih tetap konsentrasi dengan motornya.


"Gue aja gak ngira, ternyata yang ngerubah abang gue ya Habiba. Abang gue ngejar Habiba dan ternyata Habiba temen kelas gue. Dari situ gue semakin dekat dengan Biba" Eka mengangguk. Lah emangnya paham si Eka itu? Huusss.. Yo ndak tahu!!


"Lo berhijab juga karena Habiba?" Lanjut Eka dengan kepo yang tinggi.


"Ya, karena Biba kan tinggal di pesantren, masa iya gue kesana dengan rambut coklat gue. Akhirnya gue tetep pakai hijab deh sampai sekarang" Eh.. Tumben loh mereka gak ngegas saat ngobrol.


"Cantikan pakai kerudung sih lo. Jadi gak lenje dengan rambut lo itu" Ucap Eka, entah memuji atau mencibir. Biarlah suka suka Eka.


"Gue mah di apain juga cantik Ekoooo" Kesal Tari, pengen nimpuk kepala Eka takut mereka jatuh dari motor, gak di timpuk koq ngayel ke ati ( ngeselin hati).


"Iya percaya percaya.." Teriak Eka pada akhirnya.


Didalam mobil, Habiba masih saja mengusap usap perutnya. Semua tak luput dari perhatian sang suami.


"Ayo kita dokter..." Habiba menggeleng, suaminya ini suka sekali mengajaknya ke dokter.


"Belum waktunya yaa Habibi, vitamin dari dokternya aja masih banyak di rumah" Jelas Habiba hingga Bintang terkekeh.


"Daddy juga mau loh di usap usapin begitu" Rengek Bintang menirukan gaya manja sang istri. Uuuhh babang nackal!!


Habiba mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi Bintang, hingga Bintang meraih tangan itu dan mengecupnya.


"Mas..." Bintang hanya mengulas senyum, dan kembali mengecup punggung tangan sang istri.


Gak tahukah si babang, kalau jantung Habiba selalu gak normal, saat di perlakukan manis seperti itu.


Love is Habiba 🌹

__ADS_1


__ADS_2